
Jika di kamar Anugrah suasana tampak canggung lain halnya di kamar Iskandar. Pria itu sedang berbalas pesan dengan Dita hingga tidak terasa sudah tengah malam.
“Aku tidur dulu, ya!” balas Anugrah mengakhiri balasan pesan dari Dita.
“Okay, good night dan jangan mimpikan aku.”
“Em,”
Ari sedari tadi mengintip sahabat till jannah ikut penasaran karena baru kali ini ia melihat Iskandar begitu berbeda. Bahkan dengan Aisyah sekalipun, ia tidak pernah sampai berbalas pesan panjang sampai lupa waktu.
“Siapa sih, Is? Jangan bilang calon istrimu.”
“Complicated.” Ari mencibir lalu kembali mencoba menutup mata walaupun sulit. Ia terus gelisah sepanjang sore hingga malam ini.
“Ada apa?” tanya Iskandar ikut penasaran.”
“Jangan bilang tidak ada. Aku tahu kamu lagi memikirkan sesuatu.” Ari menatap sahabatnya lekat, “Anggi mau dijodohkan.”
“Alhamdulillah, lalu?”
“Dia tidak mau karena sudah menyukai orang lain. Dia meminta bantuanku untuk membatalkan perjodohan ini.” Iskandar masih menatap manik hitam temannya.
“Kamu tahu sendiri aku tidak berani membantah orang tuaku.”
“Adikmu sudah melihat foto calon suaminya?” Ari mengangguk. “Dia sudah menaruh hati padamu dan meminta bantuanku untuk menyampaikan permintaannya padamu.” Iskandar mengernyit heran.
“Permintaan apa?”
Ari menatap temannya ragu, “Anggi menyukaimu. Dia minta kamu melamarnya.” Bola mata Iskandar membulat sempurna.
“Bagaimana bisa?”
“Dia sudah menyukaimu dari dulu dan semakin menaruh hati padamu saat melihatmu pulang dari Mesir. Saat itu dia tidak berani mengatakannya. Dia juga berpikir saat itu kamu pasti berlum berniat bekeluarga. Tapi saat Mama mengatakan jika akan menjodohkannya dengan anak temannya, dia langsung menolak dan meminta bantuanku supaya mengatakan ini padamu. Maaf, Is. Aku tidak bermaksud membebanimu. Aku hanya meyampaikan amanahnya saja.”
“Apa dia tahu aku sudah memiliki calon istri?”
“Belum, aku baru tahu masalah perjodohan ini tadi sore. Dia langsung menghubungiku saat Mama mengatakan tentang rencana perjodohan ini.”
“Begini saja, mungkin lebih baik kalau aku bertemu langsung dengannya. Berikan nomernya, aku mau mengajaknya bertemu. Anggi masih labil, dia harus kita beritahu baik-baik.” Ari mengangguk setuju lalu menyodorkan nomer ponsel ke tangan Iskandar.
“Aku akan menghubunginya besok saat di kampus.”
“Bagaimana hubunganmu dengan Aisyah? Aku tidak pernah mendengarmu berderita tentang dia lagi?”
“Dia sedang sibuk mengurus skripsinya.” ucap Iskandar.
Keesokan harinya…
Kepanikan melanda kamar rumah Bapak Wicaksono di pagi hari. Cut dan Rendra panik saat menemukan kursi roda di kamar Wulan tanpa pemiliknya.
“Apa mungki?” tanya Cut lalu melihat sang suami.
“Di kamar Anugrah.”
“Tidak mungkin, Non-“ Ucapan Bibik terhenti saat kedua suami istri mengendap-ngendap menuju kamar sang putra,
“Ada apa, Bik.” Tanya Kak Julie.
“Biasa, Mbak. Perkara suami istri. Kerap terjadi di sini. Mbak gak perlu heran.” Si Bibik tersenyum lalu kembali menyusul kamar sang anak. Rendra sang ahli di medan perang mencoba memutar gagang pintu ternyata-
“Dikunci, Ma.” bisik Rendra.
Rendra tidak mau kalah, “Kita cek CCTV!” bisik Rendra lalu menuju ruang tengah. Rendra mengetik sesuatu di ponselnya lalu terlihatlah di layar televisi. Cut, Bibik menutup mulut tidak percaya dengan apa yang mereka tonton. Kak Julie hanya menggeleng pelan kepalanya melihat tingakah satu keluarga yang menurutnya aneh. Rendra tersenyum kecil seraya menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Sudah, jangan ada yang bertanya. Bersikap biasa saja, oke!” mereka kompak mengangguk seraya tersenyum penuh arti.
Suasana rumah kembali seperti semula, Rendra beserta Cut mengajak Kak Julie, Ibu Murni dan Pak Fahri untuk menjemput Iskandar di kampus lalu mengajak mereka mengunjungi kebun apel milik Bapak Wicaksono. Udara perkebunan sangat bagus untuk kesehatan Ibu Murni dan Pak Fahri yang sudah sepuh.
“Assalamualaikum, Pa.”
“Walaikumsalam,” jawab Rendra melalui saluran telepon.
“Maaf, Pa. Aku tidak bisa ikut. Ada jadwal bimbingan hari ini dan aku benar-benar lupa.”
“Hem, baiklah. Sampaikan permintaan maafku sama Kakek dan Nenek ya!”
“Mereka bilang maafmu baru diterima setelah kamu membawa calon istrimu.” Goda Rendra.
“Insya Allah, aku akan membawanya kalau dia sudah punya waktu.”
Terdengar ketukan dari luar ruangan Iskandar. Ia segera mengakhiri panggilannya.
“Masuk!”
Seorang gadis bercadar masuk ke ruangan Iskandar. Sekilas tatapan keduanya bertemu. Pintu ruangan dibiarkan terbuka. “Assalamualaikum,” ucap Anggi lembut.
“Walaikumsalam, duduklah!”
Ya, gadis bercadar itu adalah Anggi, adik dari Ari. Tadi pagi, Iskandar mengirim pesan pada Anggi untuk mengajaknya bertemu di kampus.
“Apa kabar?” tanya Iskandar dengan seutas senyum.
“Tidak baik, Kak. Kak Ari pasti sudah cerita tentang pejodohan itu kan?” Iskandar tersenyum lalu mengangguk pelan.
“Apa Ari sudah mengatakan jika saya sudah mengkhitbah seorang muslimah?” Anggia mengangkat dagunya lalu menatap manik Iskandar. Ada rasa kecewa menjalar dari hatinya.
“Kakak tidak pernah menyukaiku? Apa kurangnya aku di mata Kakak?”
Iskandar menghela nafasnya, “Kamu itu sempurna sebagai seorang adik untukku. Hanya sebatas itu, Kakak tidak bisa menjadi lebih dari itu. Kakak ini tidak sesempurna yang kamu bayangkan. Kakak tidak mau kamu kecewa setelah nanti kita menikah dan kamu baru menyadari jika harapanmu tidak sesuai kenyataan.”
“Anggi, Kakak dan yang lainnya sayang sama kamu sebagai adik. Kami memiliki batasan tersendiri dengan adik perempuan dari sahabat kami. Sayang kami padamu hanya sebatas menghormatimu sebagai adik dan membantu mengawasimu dari jauh jika kamu berbuat salah.”
“Tapi aku tidak mau dijodohkan, Kak. Tolong bantu aku!”
“Apa kamu sudah melihat calon suamimu?” Anggi menggeleng pelan.
“Lalu bagaimana kamu akan menyukainya jika melihatnya saja belum.”
“Aku tidak berniat, Kak.”
“Begini saja, bagaimana kalau Kakak menemanimu melihat siapa laki-laki itu? Siapa tahu kamu akan menyukainya.”
“Aku tetap tidak mau, Kak.”
Iskandar hampir menyerah menghadapi gadis di depannya ini cukup membuat otaknya terasah cepat. Sebelum mengajak Anggi bertemu, Iskandar sudah terlebih dahulu meminta izin pada kedua orang tua Anggi. Iskandar tidak mau ada fitnah di kemudian hari. Dari situ juga, orang tua Anggi meminta Iskandar untuk membujuk Anggi supaya menerima perjodohan ini.
“Kak, jawab yang jujur! Apa Kakak sayang sama aku?”
“Kakak sayang sama kamu bahkan dari dulu saat kamu ke pesantren.”
Deg…
Ada yang patah tapi bukan kayu. Aisyah yang hendak memasuki ruangan Anugrah tiba-tiba berhenti mendadak saat mendengar dengan jelas perkataan calon suaminya itu. Ia lansung balik badan menjauh dari ruangan Iskandar dengan mata berkaca-kaca.
“Ternyata gelar tidak menjamin seseorang setia. Aku benci kamu, Mas.” Ia langsung pergi meninggalkan kampus.
Kembali ke dalam ruang Iskandar. Setelah berbagai jurus akhirnya gadis itu mau juga menemui calon suaminya. Iskandar juga harus berjanji akan mewawancarai pria itu dari A sampai Z. “Harusnya tugas ini jatuh ke tangan Ari, kenapa jadi aku yang menjalankan tugas ini?”
__ADS_1
“Kalau Kakak gak ikhlas ya sudah batalin saja. Aku juga malas bertemu pria itu.”
“Tapi dia dokter, apa kamu tidak ingin punya suami dokter? Kan keren,” goda Iskandar.
“Dokter itu yang keren jas sama titelnya doang. Lainnya sama saja dengan laki-laki lain. Apanya yang keren.”
“Kamu itu aneh, gadis bercadar itu bicaranya kalem, lembut tidak seperti kamu.”
“Kak, anak ustad juga belum tentu alim seperti bapaknya. Lagian cadar untuk menutupi aurat bukan menutupi sifat.”
“Kak, dosa gak sih menolak perjodohan?” Mereka sudah memasuki mobil hendak menuju tempat tujuan yang tak lain adalah rumah sakit.
“Seorang gadis berhak dijodohkan apalagi pilihan orang tua tentu yang terbaik. Buktinya, pilihan orang tuamu itu dokter. Padahal, kakakmu itu dosen. Berarti menurut orang tuamu, dokter adalah yang terbaik untuk mendampingi anak mereka. Uang dokter juga lebih banyak dari dosen. Hidupmu pasti sejahtera.”
“Uang tidak menentukan kebahagian.”
“Tapi untuk bahagia perlu uang. Kamu mau kelaparan terus makan cinta? Kamu harus memakai logika dalam memilih suami. Selain agama, tampang, materi juga perlu diperhatikan.”
“Terus, apa yang Kakak lihat dari gadis itu?” tanya Anggia kemudian.
“Kakak sudah melakukan salat istikharah lalu selanjutnya mengalir begitu saja. Kakak melamarnya lalu dia setuju dan tinggal meminta pada orang tuanya.”
“Bagaimana kalau gadis itu ternyata sudah dijodohkan?”
“Dia tidak mungkin menerima kalau sudah dijodohkan dengan orang lain. Kakak kan sudah bilang, haram seorang muslim mengkhitbah di atas khitbah muslim yang lain. Calon istri Kakak mengerti soal itu. Tentu dia akan menolak jika dia sudah dikhitbah orang lain.”
Tanpa terasa mobil sudah berhenti di area parkir rumah sakit. “Siapa namanya?” tanya Iskandar pada Anggi. Keduanya sudah berada di depan loket pendaftaran.
“Mbak, kalau mau menemui Dokter Rendra spesialis saraf di mana ya?”
“Maaf, Mbak. Hari sabtu tidak ada jadwal praktek. Kalau mau berobat, Mbak bisa datang setiap hari kerja.”
“Em, kami ke sini bukan untuk berobat, Mbak. Kami ada perlu sebentar, kira-kira dimana bisa kami jumpai beliau?” tanya Iskandar.
Petugas itu melirik ke arah jam, “Saat ini, Dokter Rendra sedang piket. Dia mungkin ada di ruanganya.”
“Sebelah mana, Mbak?” tanya Anggi gemas.
Petugas itu lalu menunjuk pamplet yang menujukkan arah poli saraf. “Ikuti saja petunjuk itu, Mbak, Mas.”
“Terima kasih.”
Keduanya kembali berjalan mengikuti petunjuk yang terpajang di sepanjang koridor rumah sakit. sampai tibalah di salah satu ruangan bertuliskan nama “Dr. Rendra, Sp.N”
“Jangan menangis begitu nanti cantiknya hilang. Ayo, kita makan es krim.”
Ceklek…
Dua pasang manusia menatap satu sama lain dalam tatapan penuh pertanyaan…
“Ck, ternyata dia juga punya pacar.” Ucapan Anggi seakan tidak terdengar oleh Iskandar. Dia menatap lekat gadis di depannya apalagi tangan gadis itu sedang merangkul mesra pria berjas putih di sampingnya.
"Ayo, Kak. Kita sudah melihat dengan kepala mata sendiri.”
Anggi berhasil mengambil foto sepasang kekasih di depannya ini lalu mengirim untuk sang bunda. “Alhamdulillah, sekarang perjodohan ini pasti batal. Ayo, Kak. Kita harus merayakannya.” Ucap Anggi tersenyum lebar di balik cadarnya.
“Aisyah!” panggil Iskandar lalu menatap lengan Aisyah yang masih setia merangkul lengan Dokter Rendra calon dari Anggi.
“Maaf, ada keperluan apa ya?”
__ADS_1
***
Siapa yg selingkuh??? Hayo tebak....