CUT

CUT
Kecupan Pertama...


__ADS_3

“Cut...cut...bangun!” suara laki-laki begitu jelas terdengar di telinga Cut. Pelan-pelan Cut mengerjap lalu matanya membulat sempurna setelah melihat dengan jelas sosok di depannya saat ini.


 


“Bang Fais, kenapa di sini?” tanya Cut kebingungan.


 


“Karena di sini kamar pengantinnya. Jangan bilang kamu lupa kalau kita sudah menikah?” telisik Fais.


 


Cut mulai sadar sepenuhnya setelah melihat kana kiri serta tangannya yang masih berhiaskan inai.


 


“Lebih baik kamu mandi supaya segar. Kamu juga belum salat. Jangan lupa qaza salat yang tinggal tadi siang.” Cut mengangguk pelan kemudian mencari pakaian lalu bergegas ke kamar mandi.


 


Faisal hanya menggelengkan kepala lalu ia keluar dari kamar.


 


Dengan rambut yang masih sedikit basah, Faisal bergabung bersama adik sepupunya dan keluarga yang lain.


 


“Ya ampun, dia benar-benar tidak tahu situasi.” gumam Mak Cek Siti.


 


“Kenapa, Ma?” tanya Pak Cek Amir bingung.


 


“Lihat itu si Fais! Kenapa tidak dikeringkan dulu rambutnya baru keluar.” bisik Mak Cek Siti pada sang suami.


 


Melihat tingkah orang tuanya, Intan ikut-ikut berbisik pada Faris, “Lihat itu, pasti ayah sama mamak sedang membicarakan rambut basah Bang Fais.”


 


“Memangnya kenapa dengan rambut basah Bang Fais?” tanya Faris bingung.


 


Aww...


 


Teriak Faris setelah cubitan tajam sang adik di pinggangnya.


 


“Kamu kenapa, Ris?” tanya Mak Cek Siti terkejut.


 


“Intan cubit Faris gara-gara –“


 


Hmmmpp...


 


Mulut Faris langsung dibekap oleh sang adik, “Kita makan baso di warung depan, yuk?” ajak Intan pada kedua abangnya. Mereka bertiga akhirnya keluar dari perkumpulan keluarga yang masih sibuk bertukar cerita tentang pesta tadi siang.

__ADS_1


 


Faris duduk terpaksa setelah sebelah tangannya ditarik untuk keluar dari rumah. “Kalian kenapa sih?” tanya Fais setelah ketiganya sampai di warung baso depan. Intan akhirnya menceritakan apa yang mereka ributkan dari tadi.


 


Faisal tertawa cekikikan setelah mendengar cerita sang adik seraya menggelengkan kepala. “Tan, kamu terlalu banyak menonton sinetron.” ucap Faisal.


 


“Makanya pikiran jadi kotor begini, ya kan Bang?” imbuh Faris yang diangguki oleh Fais.


 


“Lagian, kalian juga lihat Abang tidur di mana tadi, kan?” kedua adiknya hanya membalas dengan anggukan kepala.


 


Baso pesanan sudah tiba, ketiganya melahap dengan nikmat seraya berbincang sesekali mengenai teman-teman mereka yang ikut hadir pada pesta tadi siang. Berbeda dengan Faisal, setelah mendengar perkataan sang adik tentang rambut basahnya. Pikirannya jadi tidak menentu. Ia mulai gusar dan gelisah menghadapi kenyataan bahwa sekarang ia adalah seorang suami yang harus memberikan nafkah batin untuk sang istri.


 


“Bang, kenapa diam?” tanya Intan tiba-tiba.


 


“Hah...ti-“


 


“Jangan bilang Abang lagi memikirkan –“


 


Aww...


 


 


“Sudah, habiskan saja basonya. Sebentar lagi magrib.” sela Fais.


 


Mereka menikmati basonya hingga suara orang mengaji terdengar dari mesjid. di kamar pengantin, Cut sedang merapikan tempat tidur. Mengganti seprei hingga membereskan sisa-sisa hiasan, menata barang-barang supaya terlihat rapi.


 


Tok...tok....


 


“Apa yang kamu pikirkan?” Fais memperhatikan Cut yang sedang menatap cermin di depannya.


 


Cut gelagapan apalagi ketika Fais berjalan pelan dengan mata tertuju padanya. “Apa kamu takut?” tanya Fais kembali.


 


Cut menunduk, ia tak mampu lagi menatap cermin apalagi ada Fais di belakangnya. “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kita pelan-pelan saja. Kamu pasi capek, sini biar aku pijit.”


 


“Hah...” Cut mengangkat wajahnya tiba-tiba.


 


Ia tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu dari mulut Fais yang sudah resmi menjadi suaminya. Fais yang berdiri di belakang Cut sedari tadi kini mengarahkan kedua tangannya di bahu Cut. Ia memijit pelan bahu Cut dengan tatapan tertuju pada cermin seraya tersenyum.

__ADS_1


 


“Bang, sudah cukup. Seharusnya Cut yang memijit Abang bukan sebaliknya.”


 


“Aku kan sudah bilang. Kita membina rumah tangga modern tidak lagi mengikuti aturan-aturan leluhur yang tidak jelas. Hanya suami yang dimuliakan, aku tidak mau seperti itu. Kita sama-sama saling membutuhkan dan memuliakan. Seperti ini, aku memijit kamu dan nanti baru kamu yang pijit aku, oke?” Cut mengangguk pelan.


 


“Bagaimana, enak?” tanya Fais kembali.


 


Cut mengangguk pelan. Tangan yang tadinya memijit bahu kini mulai turun ke lengan sampai telapak tangan. Cut menunduk malu ketika jari-jemarinya dimainkan oleh Faisal yang sudah berdiri di sampingnya. Ia menarik pelan jari jemari Cut sampai mengeluarkan bunyi. Setelah kedua tangan selesai dipijit, tiba-tiba Fais memutar badan Cut pelan hingga berhadapan dengannya.


 


Alangkah terkejutnya Cut ketika Fais berjongkok di depannya dengan senyuman manis yang mampu meluluh lantakkan hati Cut saat ini. Cut salah tingkah, ia tidak menduga jika suaminya begitu istimewa seperti ini.


 


“K-kenapa berjongkok seperti ini?” tanya Cut tidak enak.


 


“Karena kamu terus menunduk.” Jawab Fais santai.


 


Cut meremas jari jemarinya tatkala menyadari mata Fais sedang menatapnya dengan lembut. Cut tidak sanggup menatap mata itu apalagi senyum Fais begitu istimewa untuknya. Menyadari jika sang istri yang baru ia nikahi sedang gugup level tinggi, pelan-pelan ia menggenggam tangan sang istri untuk menenangkannya.


 


“Duduk di sana, yuk! Capek juga kalau jongkok terus.” gurauan Fais sedikit berhasil menenangkan Cut. Mereka berjalan menuju sisi ranjang tanpa melepas genggaman tangannya.


 


“Menatap suami itu pahala apalagi jika tersenyum padanya.” kata-kata Faisal berhasil membuat Cut mengangkat wajahnya menatap sang suami. Faisal tersenyum manis lalu...


 


Cup...


 


Sebuah kecupan singkat berhasil membuat Cut terpaku sampai suara azan dari pengeras suara mesjid berhasil menyadarkan Cut.


 


Faisal tertawa kecil lalu bangun dari duduknya. “Aku salat sama Bapak mertua di masjid, kamu mau ikut?” ucap Faisal santai sambil mengganti bajunya di depan Cut.


 


“I-iya.” jawab Cut seperti orang kebingungan.


 


Cut mengambil mukena dan sajadahnya menyusul sang suami yang sudah keluar lebih dulu. Jarak rumah dan mesjid sangat dekat sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk sampai ke sana.


 


Cut berjalan di belakang bersama Mak Cek Siti dan Umi serta beberapa kerabat dari kampung yang masih tinggal di sana. Sementara Faisal berjalan santai dengan para bapak-bapak di depan. Jika Faisal terlihat biasa saja tapi tidak bagi Cut. Setelah kecupan singkat di bibirnya, ia tidak mampu lagi mengatur pikiran serta hatinya sehingga ia berjalan dalam diam.


"Kak Cut kenapa?" tanya Intan penasaran.


"Tidak apa-apa?" jawab Cut.


"Kenapa jantungku berdegup kencang? Bagaimana aku bisa sekamar dengannya jika sekarang saja aku sangat malu untuk melihat wajahnya." Cut merutuki kejadian tak terduga antara dirinya dengan sang suami.

__ADS_1


***


LIKE...KOMEN...SHARE...


__ADS_2