
Di balik kesuksesan suami ada istri hebat di belakangnya begitulah kata orang-orang dan itu dapat dilihat dari rumah tangga Mae. Entah Mae yang terlalu menyayangi istrinya hingga tidak tegas atau pikiran dari istri Mae yang dangkal. Banyak cerita yang didengar oleh Cut dan keluargnya saat mengunjungi rumah Mae lebih tepatnya rumah milik Abu yang ditempati oleh Mae berserta istri dan kelima anaknya.
“Masuk Kak, maaf sedikit berantakan.” Ucap Mae mempersilakan Cut dan keluarganya masuk.
Cut sengaja datang untuk melihat orang-orang sekitar apakah mereka masih tetangganya dulu atau sudah berubah. Mereka datang di sore hari saat Mae sudah pulang dari pasar. Istri Mae bahkan tidak peduli dengan kedatangan mereka. Cut mencoba tersenyum tapi justru dibalas dengan muka masam hingga ia hanya bisa menghela nafasnya. Ia tidak menyangka jika Mae yang disayang oleh orang tuanya memiliki istri yang ketus seperti itu.
Tadi siang Mae sempat ke rumah untuk bertemu dengan Pak Cek Amir. Ia mengatakan jika istrinya tidak mau menjual emas-emas itu untuk modal. Jadi, Mae meminta untuk menyewa ruko dan rumah tersebut untuk waktu yang tidak ditentukan. Dengan begitu, ia tidak memiliki uang lebih untuk istrinya membeli emas setiap bulan.
Bagi sebagian orang, memakai emas adalah simbol kejayaan dan sebuah kebanggaan. Sama seperti pemikiran istri Mae. Mereka yang memakai perhiasan emas yang banyak adalah orang kaya. Pak Cek Amir menyetujui permintaan Mae, beliau sendiri tidak tega untuk menyuruh Mae pergi karena bagaimanapun, Mae tetap dianggap sebagai keluarga sendiri.
“Maaf, Pak Cek. Harusnya dulu, Mae menerima gadis yang Pak Cek jodohkan.” Ucap Mae penuh penyesalan siang itu.
“Sudahlah, mungkin suatu saat istrimu berubah. Tapi, Pak Cek harap kamu tetaplah menjadi kepala keluarga. Jangan sampai istrimu memperlakukanmu seperti budak. Almarhum Abu pasti akan marah melihat kamu yang sudah dididik dan disayang justru menjadi seperti ini. Seorang suami itu pemimpin dan pemimpin harus tegas supaya bawahannya mau mendengar semua perintahnya. Pak Cek tidak mau ikut campur lagi dengan urusan rumah tanggamu. Bagaimanapun baiknya, Pak Cek. Istrimu tetap mengaggap buruk kehadiran Pak Cek. Jadi, mulai sekarang, hadipilah sendiri, Mae.”
Mae dilema, di satu sisi ia memikirkan anak-anaknya tapi di sisi lain ia juga tidak mau kehilangan orang-orang yang sudah ia anggap keluarga tersebut.
Kembali ke sore hari di mana Cut sekeluarga sedang berkunjung ke rumah Mae. Setelah di tinggal beberapa menit, Mae datang membawa nampan berisi minuman sirup manis untuk mereka. Cut cukup terkejut melihat pemandangan ini. Hatinya miris melihat Mae sebagai kepala keluarga tapi mendapat perlakuan begitu dari istrinya. Bahkan saat mereka duduk di ruang tamu, tidak sekalipun istri Mae menghampiri mereka. Dia lebih memilih masuk ke kamarnya bersama anak yang paling kecil.
“Banyak yang berubah ya, Mae?” ucap Cut.
“Iya, Kak. Rumah-rumah bantuan serta jalan juga sudah di aspal. Tidak ada lagi jalan berlubang kayak dulu. Penduduk asli di sini juga banyak yang menjadi korban tsunami. Jadi, tetangga kita sudah bukan orang-orang dulu. Kebanyakan dari mereka adalah pendatang yang menyewa rumah-rumah bantuan di kampung ini.”
“Kakak jadi ingat Rendra, dia sering sekali main ke rumah samping itu. Apa temannya Rendra waktu kecil itu selamat?”
“Tidak, Kak. Ayahnya selamat tapi cacat dan baru dua tahun lalu meninggal.”
“Siapa yang tinggal di rumah itu sekarang?” tanya Cut penasaran.
“Istrinya menyewakan kamar untuk anak-anak kuliah di sana. Hasilnya lumayan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari mereka. Semua anak-anaknya menjadi korban, Kak.”
“Kamu tidak pelihara bebek lagi, Mae?”
“Tidak, Kak. Tidak sempat. Setelah subuh, Mae sudah pergi ke pasar. Pas ashar Mae baru sampai rumah. Bisa mati kalau hidup mereka seperti itu tiap hari.” Cut tidak perlu bertanya kenapa istri Mae tidak membantu. Karena melihat anak Mae yang berjumlah lima saja sudah membuat istri Mae sakit kepala dalam merawat mereka.
“Kamu gak ikut program pemerintah, Mae? Dua anak saja cukup!” gurau Rendra.
Mae tersenyum kecil, Mae pengen punya banyak anak, Bang. Setiap melihat mereka saat pulang dari pasar. Semua lelah Mae seperti hilang dengan sendirinya. Apalagi, istri Mae juga tidak pernah mengeluh saat merawat mereka. Itu sebabnya, Mae sangat menyayangi dia karena dia juga merawat anak-anak dengan baik. Mungkin adab serta sopan santunnya tidak baik tapi sama Mae dia dan anak-anak dia sangat baik.”
Cut dan Rendra sekarang mengerti apa yang menjadikan istri Mae itu istimewa. Wanita beranak lima itu walaupun cerewet tapi tidak pernah mengeluh saat mengasuh anak-anak atau suaminya. Mungkin saat kemarin di rumah Pak Cek, ia merasa tersinggung dengan perkataan Pak Cek padanya. Entahlah…
Selesai dari rumah Mae, Cut berjalan kami mengunjungi rumah milik tetangga yang dikatakan Mae tadi. Tampaklah seorang wanita tua sedang duduk di teras rumahnya. Wanita itu melihat aneh pada tamu yang memasuki pekarangan rumahnya.
__ADS_1
Cut tersenyum lalu mengucap salam, “Apa kabar, Mak Wa? Masih ingat saya?” Cut mulai pembicaraan sementara wanita itu menatapnya lekat. Seolah tidak asing dengan wajah di depannya tapi lupa siapa.
“Saya Cut, anak Abu Din yang di samping rumah Mak Wa. Kakaknya Mae.”
Cut terkejut saat tubuhnya dipeluk erat secara tiba-tiba. Wanita itu sampai menangis dalam pelukan Cut.
“Abu dan Umi kamu sudah dibawa air laut. Rendra sama anak ibu juga dibawa. Allah masih baik sama kita, Mak Wa, kamu dan Mae masih diberikan umur sampai sekarang. Kamu kapan sampai? Mae bilang kamu ke Jawa ikut suami. Apa ini suamimu? Kata Mae, suamimu tentara ya? Ini dua orang anak muda ini siapa? Yang mana anak suamimu yang dokter itu?” Cut kembali tersenyum, ia tidak menyangka jika Mak Wa tersebut mengingatnya dengan jelas. Lalu Cut memperkenalkan semua anggota keluarganya pada Mak Wa.
“Ini mirip Pak Dokter ya?” ucap Mak Wa saat berjabat tangan dengan Iskandar.
Alhamdulillah kamu diselamatkan oleh malaikat berwujud nenek-nenek saat tsunami. Dan untung saja kamu tidak melepas Mae, kalau tidak entah apa yang akan terjadi padamu dulu. Mungkin saja kamu sudah diambil diam-diam oleh orang putih terus dimasukkan dalam kapal mereka. Banyak sekali bayi-bayi yang masuk ke situ tapi tidak pernah keluar lagi.” ucapan Mak Wa membuat semua orang tercengang.
“Apa yang Mak Wa katakan ini benar?” tanya Cut penasaran.
“Banyak orang yang melihat. Bayi-bayi tanpa orang tua itu dimasukkan ke sana untuk diperiksa lalu tidak ada lagi yang keluar. Siapa yang akan memperhatikan mereka saat semua orang sedang memikirkan nasib keluarga masing-masing? Mereka tidak akan memberi bantuan cuma-cuma pasti ada yang mereka ambil sebagai imbalan. Orang kafir itu punya segala cara untuk mendapatkan keinginan mereka.”
Cut tidak lagi berkomentar karena hari sudah mulai magrib. Mereka berpamitan lalu kembali ke rumah Mak Cek Siti. Selepas Magrib, Bang Adi datang untuk bertemu Iskandar. Mereka membicarakan masalah pengurusan nama untuk aset milik Iskandar. Beliau mau meminta KTP supaya besok langsung bisa diurus.
“Om, Is tidak bisa mengurusnya. Om saja ya!” ucap Iskandar.
“Iya, kamu terima transferan saja. Tapi potong gaji Om, ya?”
“Emang aset Kakak banyak ya?” Rasa penasaran Anugrah seperti tidak pernah habis.
“Dulu, asetnya berupa tanah hampir setengah hektar. Terus setelah tsunami, Om banyak dapat proyek dan gaji Om di sana Om pakai untuk membangun perumahan di belakang terus bagian depan Om bangun ruko. Semua itu Om sewakan. Hasilnya bagi tiga, dua untuk Om karena saat itu pakai modal Om dan sekarang sudah lunas. Jadi setelah ini hasilnya untuk kamu semua setelah potong gaji Om. Mungkin tidak perlu Om urus karena mereka yang ingin sewa tinggal menghubungi kamu lalu ambil kuncinya sama Om.”
“Tapi kan butuh perawatan, Di. Tidak bisa begitu juga, kalau kamu tidak rawat siapa lagi yang rawat. Iskandar sebentar lagi akan mengajar mana sempat dia pulang ke sini untuk mengurus warisannya.” Sela Rendra.
Tidak ada yang tahu isi hati Rendra tapi yang jelas, hatinya merasa berat jika Iskandar kembali pulang ke Aceh. Ada rasa tidak suka saat orang-orang terus menyebut nama Faisal setiap kali melihat Iskandar. Rendra merasa cemburu? Ya, itulah yang ditangkap oleh insting Anugrah yang diam-diam melirik sang ayah dengan tatapan selidiknya.
“Kayaknya ada yang cemburu?” bisik Anugrah pada sang kakak. Iskandar menatap sang adik dengan kening berkerut.
“Papa itu cemburu karena setiap orang yang melihat Kakak selalu saja menyebut nama Papa Fais. Emang Kakak gak tahu kalau Papa cemburuan?” Iskandar menggeleng pelan, ia tidak terpikir sampai sejauh itu. Hal aneh jika cemburu pada orang yang tidak jelas statusnya. Apakah masih hidup atau sudah meninggal?
Dreet…
Ponsel Rendra bergetar. Ternyata Ibu dari Risma yang menghubunginya. “Ma, tinggal dulu ya. Mau angkat telepon.” Cut mengangguk melihat sang suami pergi ke teras.
“Hallo, Ma.” Sapa Rendra lewat telepon.
“Hallo, Nak. Bagaimana kabar keluarga Cut di Aceh?”
__ADS_1
“Alhamdulillah, semua baik, Ma. Ada apa, Mama telepon?”
“Kamu masih lama di sana? Mama sama Papa mau pulang tapi melihat Papa kamu yang masih bersedih jadi tidak tega meninggalkannya. Mama pikir kami tunggu kamu saja supaya Papa kamu tidak terlalu kesepian di sini.”
“Kan ada Reni sama Riko?”
“Riko sudah kembali bekerja, sementara Reni sibuk mengurus anak-anaknya. Suaminya juga ada pekerjaan di Aceh dan mungkin Reni akan pulang ke Aceh juga. Jadi Papamu tinggal sendiri lagi. Mama dan Papa Wahid tidak tega meninggalkannya sendiri.”
“Em, aku belum tahu pastinya karena ada beberapa urusan yang belum selesai. Mudah-mudahan besok bisa selesai semua. Makasih, Ma sudah mau menemani Papa.”
“Sama-sama, Ren. ya sudah Mama tutup dulu ya.”
“Iya, Ma.”
Tutttt……
Saat hendak masuk, Rendra justru berpapasan dengan Bang Adi yang baru keluar dari rumah Mak Cek Siti.
“Di, sebentar ada yang ingin aku tanya.” Panggil Rendra.
“Ada apa, Bang?”
“Kamu akan mengajak Reni pulang ke sini lagi?” Bang Adi mengerutkan kening.
“Rencana sih ada tapi belum dalam waktu dekat. Kasihan juga Papa kalau ditinggal sendiri. Riko juga sudah balik ke Jakarta.”
“Tadi, Mama Risna telepon. Mereka mau pulang ke rumahnya tapi tidak tega tinggalin Papa sendiri karena Reni juga mau pulang ke Aceh.”
“Tidak dalam waktu dekat, Bang. Aku juga lagi sibuk-sibuknya sekarang di sini. Biarkan saja Reni sama anak-anak di sana dulu.”
Setelah Bang Adi pergi, Rendra kembali masuk ke dalam untuk berkumpul dengan anggota keluarganya.
“Siapa yang telepon, Pa?” tanya Anugrah.
“Nenek Risna.”
***
Up jam 03.13 pagi....mana like dan komennya???
__ADS_1