
Seminggu kemudian...
Ayah dari Aisyah menatap lekat sosok pria di depannya. Pria itu terlihat sangat percaya diri saat menemui calon mertuanya. Mereka duduk di ruang tamu sementara Aisyah sedang membantu ibunya membuat minuman. Sang kakak yang super jail malah menambahkan garam ke dalam teh itu tanpa sepengetahuan Aisyah dan ibunya.
Aisyah datang di belakang sang ibu sambil membawa nampan berisi kue bolu yang sengaja ia siapkan untuk menemani teman minum ayah dan kekasihnya.
Iskandar melirik Aisyah sekilas. Ia tidak berani menatap putri orang yang belum sah menjadi miliknya.
“Silakan diminum dulu, Nak.”
“Terima kasih, Tante.” Jawab Iskandar pelan.
Ibu dari Aisyah menyikut lengan sang suami karena dari tadi suaminya tidak berhenti menatap Iskandar hingga calon menantu mereka merasa tidak nyaman.
“Lihatnya biasa saja, Pa. Jangan sampai anak kita perawan tua karena ulah Papa.” Bisik sang istri pada suaminya.
“Silakan!” ucap ayah dari Aisyah kemudian lalu Iskandar mengambil cangkir di depannya dan-
Reaksi Iskandar sangat tidak terduga. Dokter Rendra yang menantikan perubahan wajah dari calon adik iparnya tidak menyangka jika akan mendapati reaksi di luar dugaan.
Plak...
“Apa yang Kakak lihat? Kenapa tidak bergabung saja sama mereka kenapa harus mengintip?” bisik Aisyah.
“Kamu sendiri kenapa ikut mengintip?”
“Itu kan sidang Mas Is bukan aku.” Keluh Aisyah. Dia merasa kasihan pada calon suaminya karena harus menghadapi tingkah orang tuanya yang mendadak tegas .
“Bagaimana rasa tehnya? Aisyah sendiri yang buat. Katanya spesial buat Nak Iskandar.” Tanya sang ibu.
“Enak, Tante.” Senyum kecil terbit dari bibir Iskandar.
Di balik dinding, “Wah, calon suamimu perlu periksa lidah ke dokter.”
“Maksud Kakak apa?”
Dokter Rendra gelagapan ditanya oleh sang adik. Ia menggaruk tengkuknya lalu tersenyum kaku dan langsung melarikan diri dari sana.
“Orang tuamu asli Malang?”
__ADS_1
“Papa orang Malang. Mama asli Aceh.”
“Orang tuamu kerja di mana?”
“Papa tentara, Mama ibu rumah tangga.”
“Apa yang kamu sukai dari Aisyah?”
Gleg...
Pertanyaan yang cukup berbahaya bagi Iskandar. Ia tahu betul jika salah menjawab akan berdampak pada restu yang kemungkinan akan susah ia dapatkan.
Iskandar terdiam beberapa saat. “Saya menyukai apa adanya Aisyah. Saya menerima kelebihan dan kekurangannya.”
Nah, hanya ini yang terpikirkan saat itu dari kepala Iskandar.
“Ihhhsss, si Papa. Sudah dibilang jangan menyiksa Mas Is.” Gerutu Aisyah dibalik dinding.
Ayah Aisyah menelisik manik mata pemuda di depannya ini. Tidak ada keraguan dari tatapan maupun kata-katanya.
“Karena kamu berani melamar putri kami tentu kamu sudah cukup mapan dari segi finansial, bukan? Selain menjadi dosen, apa kamu punya pekerjaan sampingan lain?”
Iskandar merasa di atas angin, pertanyaan ini tentu mudah untuk dijawabnya. Ia punya warisan tidak bergerak dan tiap tahun selalu mendapat hasil lumayan banyak.
“Saya mengerti, Om. Untuk masalah finansial, alhamdulillah cukup untuk kami dan anak-anak kami kelak.”
Iskandar tidak pernah mengumbar hartanya selama ini tapi situasinya sedikit berbeda saat ini. Harta yang ia miliki akan menentukan restu dan respek dari calon mertuanya. Iskandar tidak perlu takut diperas karena calon istrinya berasal dari keluarga berada.
Oleh sebab itu dalam agama diperintahkan untuk mencari pasangan yang sederajat. Ada makna dari setiap ajaran begitulah yang dipelajari oleh Anugrah selama ini.
“Saya memiliki aset berupa tanah di Aceh dan sudah dijadikan ruko. Hasil dari sewa ruko itu masuk ke dalam rekening tiap tahun. Di belakangan ruko terdapat rumah sewa sebanyak 15 unit dan uangnya selalu masuk dalam rekening.”
“Saya juga memiliki deposito senilai 50 juta hadiah dari kakek serta uang senilai 20 milyar dalam tabungan. Uang itu kebanyakan berasal dari hasil sewa tanah sebelum dijadikan toko dan rumah sewa oleh Om saya di Aceh. Uang tersebut belum termasuk gaji saya sebagai dosen dan buku. Alhamdulillah, saya juga mempunyai pekerjaan sampingan berupa menulis buku saat senggang.”
Aisyah terbelalak di balik tembok saat mendengar jumlah harta kekayaan yang dimiliki Iskandar. “Dia sekaya itu? Terima kasih ya Allah. Akhirnya keraguan di hati orang tua hamba hilang juga. Semoga mereka memberi restu pada kami.”
Sidang itu akhirnya berakhir sebelum waktunya karena sang ayah tiba-tiba harus ke rumah sakit.
Setelah ayahnya pergi, Aisyah langsung menghampiri sang kekasih yang masih berbincang dengan sang ibu disusul oleh sang kakak yang rupanya masih menunggu waktu untuk ikut bergabung di sana.
__ADS_1
“Silakan diminum dulu, Pak Iskandar! Aisyah membuatnya dengan penuh cinta.” Seloroh Dokter Rendra membuat Aisyah melotot.
Iskandar tersenyum kaku lalu mengambil teh itu kembali. Ia sempat menghela nafasnya sesaat sebelum menyesap teh rasa air laut itu.
“Gimana, Ma. Apa Pak Iskandar lulus tes uji kelayakan?” Dokter Rendra sedang mencairkan suasana yang sempat tegang menurutnya.
“Banyak aspek yang perlu dilihat untuk memilih pasangan. Dari angka satu sampai sepuluh, Mama beri nilai Iskandar 8,5.” Jawaban sang ibu tentu membuat Iskandar dan Aisyah terkejut.
“Apa gak salah, Ma?” lirih Aisyah. Ia melirik Iskandar sekilas dan sang kekasih hanya menggeleng pelan sebagai pertanda untuknya tidak melakukan protes pada sang ibu.
Sang ibu menatap putrinya dengan seutas senyum. “Hanya itu yang bisa Mama lihat sekarang, selebihnya ada padamu. Kamu yang akan menjalani dan hidup dengannya bukan Mama. Kamu akan melengkapi nilai yang kurang itu nanti setelah kalian menikah.
“Kalian bicaralah! Mama ada perlu sama Kakakmu. Ayo, Ren.”
Setelah kepergian mama dan kakaknya Aisyah langsung mengambil cangkir teh milik Iskandar lalu...
“Kok rasanya begini? Ini pasti perbuatan Kak Rendra. Maaf ya Mas, aku gak pernah buat teh seasin ini.” Lirih Aisyah.
Iskandar tersenyum lalu menatap lekat sang pengganggu hatinya selama ini.
“Menurutmu, apa saya sudah layak menjadi pendamping seorang tuan putri?”
“Kenapa Mas tanya begitu? Aku bisa menerima Mas apa adanya seperti Mas menerimaku.”
“Apa kamu yakin? Bagaimana kalau yang saya katakan tadi itu bohong?”
Gleg...
“Y-yang mana?” lirih Aisyah.
“Tentang harta saya? Bagaimana kalau harta saya tidak sebanyak itu? Apa kamu dan keluargamu mau menerima saya?”
“Mas!!!!”
Wajah Aisyah seketika memerah, “Keluargaku memang berada tapi mereka tidak pernah menilai orang dari hartanya. Aku kecewa dengan pertanyaan itu.”
“Sudahlah, saya pulang dulu. Assalamualaikum.”
__ADS_1
***
Ngetiknya di mobil, jadi kalo ada typo harap maklum...makasih...