CUT

CUT
Terapi Lagi...


__ADS_3

Sehari setelah kedatangan mereka ke Medan lebih tepatnya di rumah Wira, Faisal segera mengajak Cut ke Danau Toba. Sebagai seorang dokter, Faisal tahu betul bagaimana kondisi psikis Cut setelah kejadian di jalan kemarin. Ditambah dengan perubahan sikap Cut setelah kejadian. Bulan madu yang diharapkan oleh Faisal berubah menjadi terapi mental untuk sang istri.


Ia sampai mengabaikan kehadiran Shinta yang menginap di hotel yang sama dengannya. Cut lebih banyak diam sehingga Faisal harus selalu membuatnya bicara. Ketika diajak keluar, Cut tetap diam hingga tiga hari mereka menghabiskan waktu hanya di kamar karena Cut yang selalu diam ketika diajak keluar.


Faisal ibarat berjalan di samping patung hidup ketika membawa Cut keluar. Satu-satunya tindakan yang mampu mengalihkan pikiran Cut adalah bercinta. Ketika mereka berpelukan atau berciuman, Cut seperti melupakan traumanya. Pikirannya benar-benar bisa dialihkan sehingga rencana bulan madu mereka menjadi bulan madu sesungguhnya dengan seharian berada di kamar.


“Aku menunggu kamu seharian tapi kamu malah tidak keluar sama sekali. Kamu tega sama aku, Fais.” Faisal menghela nafasnya dengan berat ketika membaca isi pesan yang dikirim oleh Shinta padanya.


Ia memandang Cut yang terlelap setelah percintaan mereka yang ketiga kalinya. Setelah kejadian itu, Cut sering terbangun dari tidurnya. Ia sering menangis dan mengigau hingga sering kali membuat Faisal terbangun. itu juga yang membuat Faisal tidak berani meninggalkan Cut sendiri untuk menemui Shinta.


Lima hari mereka menghabiskan waktu untuk tidur dan bercinta di Danau Toba setelah itu mereka kembali pulang ke kota Medan.


“Kamu tidak bertemu Shinta sekalipun?” tanya Wira ketika mereka sudah sampai kembali ke rumah Wira.


“Kalian kan sudah tahu bagaimana kondisi Cut? Mana mungkin aku meninggalkannya sendiri.” jawab Faisal pada kedua temannya. Saat ini mereka sedang berada di teras rumah Wira. Sementara Cut tengah terlelap di kamar atas.  


“Sebaiknya kamu lupakan hubungan kalian dulu. Kamu sekarang sudah punya tanggung jawab yang besar. Jangan sia-siakan Cut. Kasihan dia!” sahut Hendri.


“Iya, aku setuju. Ingat karma! Bagaimana jika anak perempuan kamu yang dibuat begitu nanti? Apa kamu tidak marah?” balas Wira kembali yang membuat Faisal terdiam seribu bahasa.


Hari kedua setelah kembali dari Danau Toba, mereka memutuskan untuk kembali ke Aceh. Jika waktu pergi, mereka memilih naik bus kini mereka memilih naik pesawat karena takut kejadian tempo hari kembali terulang. Orang tua Faisal sudah mengetahui kejadian tersebut tapi tidak dengan orang tua Cut. Faisal meminta orang tuanya untuk tidak memberitahukan mereka.


“Aku balik ya!” ucap Faisal pada kedua temannya yang ikut mengantar ke bandara.


“Hati-hati. Hubungi kami kalau sudah sampai!”

__ADS_1


“Sip.”


“Sampai ketemu lagi, Cut.” ucap Hendri dan Wira bersamaan dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Cut.


Keduanya menaiki pesawat yang akan membawa mereka menuju Aceh. Untuk pertama kalinya, Cut menaiki pesawat dan itu membuatnya gemetar ketakutan. Faisal menggenggam tangan sang istri lembut seraya berbisik, “Tidak-apa-apa, ada Abang.”


Cut menatap sang suami lalu bersandar di bahunya, mencari ketenangan serta menghirup dalam-dalam bau tubuhnya yang menurut Cut sungguh wangi serta mampu membuatnya tenang. Faisal tersenyum kecil, ia membayangi jika selama ini istrinya begitu suka memeluknya baik setelah bercinta atau tidak. Cut begitu suka bergelayut manja padanya dan itu membuat Faisal senang.


Ada rasa bangga yang muncul dihatinya begitu melihat Cut tertidur atau tenang jika sudah dipeluk olehnya. Dan benar saja, tidak lama setelah Cut bersandar di bahunya, Cut langsung tertidur. Ia baru bangun ketika pesawat hendak mendarat karena merasakan turbulensi.


Begitu mereka turun, kedua kakaknya sudah berada di bandara menunggu kedatangan adik serta adik ipar mereka.


“Bagaimana Medan? Apa kamu menyukainya?” tanya Kak Juli saat memeluk si adik ipar.


“Mana bisa mereka jawab kalau sampai di sana mereka Cuma di kamar saja.” sahut Bang Adi.


“Hei...Adoe Metuah! Pekerjaan Abang banyak. Kami tidak punya waktu buat mematai kamu. Cepat masuk!” ucap Bang Adi dengan ketus lalu pergi meninggalkan mereka.


Faisal memandang punggung abangnya dengan rasa penasaran serta curiga yang amat dalam. “Kamu mau tidur di sini?” tanya Kak Juli yang sudah berjalan lebih dulu dengan Cut meninggalkan Faisal sendiri di belakang.


Faisal membawa Cut ke rumahnya. Ia tidak ingin keluarga Cut khawatir mengenai kondisi Cut saat ini. Ia juga berencana membawa Cut kembali ke psikiater untuk mengetahui kondisi Cut secara medis. Tapi, rencana yang sudah ia siapkan harus batal begitu sampai ke rumah orang tuanya.


“Cut memang istri kamu tapi dia juga masih anak dari orang tuanya. Keputusanmu membawa Cut berobat juga tepat tapi menyembunyikan keadaan Cut pada orang tuanya itu salah. Bisa-bisa mereka marah dan kecewa sama kamu. Jadi, sekarang ajak Cut ke rumah orang tuanya lalu ceritakan semua pada mereka. Ingat, mereka punya hak untuk mengetahui bagaimana kondisi Cut.” Faisal menganggukkan kepala setelah mendengar nasehat dari sang ayah.


Keesokan harinya, Faisal membawa Cut ke rumah Mak Cek siti. Mereka juga membawa buah tangan berupa oleh-oleh khas Medan. Selama berada di rumah Mak Cek Siti, Cut selalu menempel pada Faisal hingga membuat Abu dan Umi gelisah. Ditambah dengan kabar dari sang menantu semakin membuat mereka khawair.

__ADS_1


“Kakak sama Abang tenang saja, insya Allah, Cut akan kembali seperti dulu. Mak Cek akan hubungi dokter Widia untuk membuat jadwal kunjungan.” ucap Mak Cek Siti lalu bergegas menghubungi Dokter Widia.


“Sejak kapan dia begitu, Nak?” tanya Umi ragu pada sang menantu.


Bagi Umi, kelakuan Cut sekarang sangat membuatnya malu. Bagaimana tidak, hampir satu jam mereka duduk berkumpul di sana dan selama itu pula, Cut memeluk lengan Faisal seraya bersandar di bahunya. “Setelah kejadian itu, Umi.” jawab Faisal menahan malu.


“Kalian istirahat saja kalau begitu!” ucap Abu lalu pergi meninggalkan kedua suami istri tersebut.


Selepas kepergian Abu, “Ke kamar yok, Bang!” bisik Cut yang membuat Faisal terkejut apalagi di sana masih ada Umi.


“Istirahat saja dulu nanti baru pulang. Umi tinggal dulu ya?”


“Iya, Umi.” jawab Faisal dengan perasaan tidak enak.


Cut menarik tangan Faisal menuju kamar mereka di rumah Mak Cek Siti tanpa canggung. Sementara itu, Mak Cek Siti yang sedang keluar dari kamarnya ikut melihat kelakuan Cut tersebut. Umi yang berada di dapur juga terpaku menatap putri mereka yang tiba-tiba berubah seperti itu.


Setelah masuk, Cut langsung mengunci pintu dan menyerang Faisal dengan liarnya. Faisal hampir tidak bisa mengimbangi permainan sang istri. Dalam hati, ia senang ketika mendapati istrinya yang ganas dan liar seperti saat ini. Apalagi, istrinya sempat melihat video adegan panas pemain luar negeri di komputer kamarnya.


“Kenapa kamu seliar ini sekarang, hah?”


 


***


LIKE...KOMEN...SHARE...

__ADS_1


Terima kasih banyak buat kalian yang masih setia bersama CUT...


__ADS_2