CUT

CUT
Sang Pengisi Hati...


__ADS_3

“Aku sangat merindukanmu, Cut.”


“Ehemmm”


Suara deheman membuyarkaan lamunan Rendra. “Merindukanku ya?” tanya Wahid yang baru datang dari lokasi pemakaman massal korban tsunami. Setelah pertemuan hari itu di rumah Mak Cek Siti, ia belum bertemu lagi karena tugasnya sangat banyak. Posisi Cut sendiri saat ini berada di rumah sakit dan Wahid tahu tentang itu.


“Tugas kita di sini 3 bulan lagi. Bagaimana dengan hubungan kalian?” tanya Wahid serius.


“Kalau boleh jujur, aku ingin membawanya sekarang juga.” Jawab Rendra disertai helaan nafas beratnya.


“Sabar! Selesaikan tugas kita lalu minta pindah kemari.” Rendra menatap lekat wajah sahabatnya itu yang terlihat serius.


Sebuah senyuman terbit di detik berikutnya. “Aku lupa soal itu.”


“Semoga prosesnya akan mudah untukmu.” Jawab Wahid kemudian.


Sementara itu, di ruang rawatnya. Cut sedang tersenyum membaca sebuah novel yang yang dikirim oleh Rendra untuknya. Bukan Rendra namanya jika tidak menyelipkan surat dan foto mereka di dalam novel tersebut.


Walaupun ia tidak mengunjungi Cut secara fisik tapi ia selalu tahu kondisi Cut dari seorang teman yang merupakan dokter militer di sana. Novel dan buku-buku yang Cut baca merupakan hasil pencarian Reni, adik perempuan Rendra di Malang.


Assalamualaikum sang pengisi hati…


Sangat sulit untuk mengungkapkan rasa yang ada di hati saya saat ini. Denganmu, seolah kehidupan sedang mempermainkan kita dengan caranya. Berapa kali kita bertemu lalu berpisah dan bertemu lagi dan kembali terpisah. Bersama denganmu, saya sudah melewati hujanan peluru, lemparan bom, jatuh ke jurang dan sekarang saya kembali lagi kemari bersama bencana besar ini.


Harapan saya hampir sirna tatkala melihat kondisi ini pertama kali. Mencarimu bagai mencari jarum di lautan jerami. Doa saya hanya satu saat mengevakuasi para jenazah itu. Saya tidak mau mengangkat jenazahmu. Dan lagi-lagi kehidupan seperti sedang mempermainkan kita. Tanpa kita sadari, kita bertemu lagi dalam keadaan hidup.


Saat pertama kali melihatmu kemarin, kuatnya dekapan saya tidak sebanding dengan gemuruh rasa yang ada di hati saya saat itu. Ingin rasanya memelukmu lebih lama dan mengatakan bahwa saya sangat merindukan kamu, Cut Zulaikha.


Banyak hal yang ingin saya ceritakan ke kamu tapi lagi-lagi hidup saya bukan milik saya. Saya harus menjalankan tugas ini lalu saya akan mencari waktu untuk bertemu denganmu. Cepatlah sembuh karena saya ingin bicara denganmu di luar rumah sakit. Saya kurang suka dengan dokter itu tapi kamu adalah pasiennya. Apakah ini rasa cemburu? Kalau iya, maka saya sedang cemburu dengan dokter itu karena dia memiliki waktu berdua denganmu sementara saya yang selalu merindukanmu justru tidak bisa bersamamu saat ini.


Maafkan saya karena tugas negara membuat kita sulit untuk bersama saat ini. Tapi, yakinlah jika saya sangat menyayangi kamu. Bagaimana dengan fotonya? Saya tahu kamu pasti tidak memilikinya jadi saya berikan itu untuk kamu dengan harapan bisa menjadi obat rindu jika kamu merindukan saya.


Saya rasa ratusan surat tidak akan mampu mengungkapkan semua isi hati saya saat ini. Oleh karena itu, kamu harus selesai membaca novel Abang Tentara, Tembak Aku!!! ini selama seminggu. Setelah itu, saya akan kirimkan lagi novel yang lain dan tetap dari penulis yang sama yaitu Zur Rani (Promo).

__ADS_1


Saya mau berangkat tugas kembali, saya pamit ya!


Rajin-rajin minum obat dan semoga kita segera bertemu lagi… Aminnn


 


Lelaki yang merindukanmu…


Wassalam…


 


“Ehem… saya senang melihatmu seperti itu. Teruslah tersenyum karena senyumanmu indah.”


“Dokter, saya tersenyum karena kisah di novel ini.” kilah Cut.


“Iya, saya tahu dan saya juga tidak mengatakan kamu sedang tersenyum sendiri kan?”


Selama di rumah sakit, Cut banyak membantu pasien lain yang belum menemukan sanak keluarga. Ia menghabiskan waktu dengan bercerita banyak hal pada pasien lain yang membutuhkan teman bicara. Mae dan Pak Cek Amir sendiri mulai kembali fokus mencari keberadaan Rendra kecil yang masih belum ditemukan. Mak Cek Siti sendiri tidak bisa selalu menjenguk Cut karena ada Iskandar yang masih bayi.


Cut menatap sepasang suami istri yang berdiri tidak jauh dari brangkarnya. Mantan mertuanya datang menjenguk untuk pertama kali bersama Kak Julie dan Bang Adi.


“Kami sudah mendengar tentang kondisimu dari Julie. Maafkan kami yang baru menjengukmu sekarang. Kami juga turut berduku atas kepergian kedua orang tuamu, Nak.”


Ibu Murni memeluk Cut pelan seraya menangis pelan dalam pelukan mantan menantunya. “Semua sudah kehendak Allah, Buk. Cut juga sedang berusaha untuk ikhlas menerima semua ini. Maaf karena Cut belum sempat mengunjungi Bapak dan Ibuk. Bagaimana kondisi Ibuk dan Bapak?”


“Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Kami baik-baik saja, Nak. Hanya saja, Ibuk masih memikirkan Faisal yang sampai sekarang belum ada kabar.”


Cut menunduk lesu, mendengar nama Faisal membuatnya kembali mengingat semua yang terjadi tepat sehari sebelum musibah besar ini terjadi.


“Nak, maafkanlah dia supaya bagaimanapun kehidupan yang ia jalani saat ini sedikit ringan.”


“Apa teman-temannya sudah dihubungi? Mungkin saja dia ke tempat mereka.” tanya Cut.

__ADS_1


“Sudah, tidak ada yang melihat Faisal bahkan Shintia sendiri sudah lama pergi dari Medan.” Sela Bang Adi.


“Nak,-“


Ibu Murni memanggil Cut lirih setelah matanya menangkap sebuah objek.


“Iya, Buk.”


“Apakah kamu ingin menikah lagi?”


Gleg…


Pertanyaan yang sulit untuk Cut jawab saat ini.


“Secara agama, kamu bukan lagi istri Faisal. Tapi jika kamu menikah lagi maka, kita harus mengurus semua administrasi seperti surat cerai dari pengadilan.” Bapak Fahri memberikan penjelasan.


“Nak, kamu berhak bahagia dengan siapapun yang kamu pilih. Tapi hanya satu permintaan kami. Tolong berikan Iskandar pada kami. Hanya dia yang kami punya untuk menggantikan sosok Faisal. Ibuk tidak sanggup kalau harus kehilangan Iskandar. Hanya dia cucu satu-satunya keluarga kami. Tolong ya, Nak.”


Cut menatap nanar permintaan mantan ibu mertuanya itu. Bagaimana dia bisa memberikan Iskandar pada mereka sedangkan hanya Iskandar yang membuatnya bersemangat untuk sembuh dan pulih seperti semula.


Cut masih membisu setelah kepulangan keluarga dari mantan suaminya. Ia terus terngiang denga permintaan besar yang tidak sanggup ia penuhi. Tidak ada ibu manapun yang akan memberikan anaknya pada orang lain termasuk kakek dan neneknya sendiri.


“Jangan berikan Iskandar pada mereka. Saya bisa menjaganya seperti saya menjagamu.”


Rendra melangkah masuk dan mendudukkan diri di brangkar Cut. Sebuah senyum terbit di bibir Rendra dan berhasil membuat Cut gugup serta lansung memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Kenapa? Bukankah kamu sudah sering melihat saya tersenyum begini?”


Dicecar pertanyaan seperti itu langsung membuat Cut menatap Rendra lekat, “Saya rasa kita tidak bertemu sesering itu.” Ketus Cut dengan mode galak.


“Kamu sering melihat saya tersenyum di foto itu kan?”


***

__ADS_1


 


__ADS_2