CUT

CUT
Babak Belur...


__ADS_3

Rumah Yatim Ummi Aisyah…


“Om kapan ke sini lagi?” tanya Abdul melihat Iskandar hendak menaiki mobilnya.


“Belum tahu. Kalau Om libur akan kemari lagi jenguk kalian.”


“Jaga Ummi Aisyah untuk Om ya! Kamu mendapat tugas khusus untuk mengawal Ummi supaya tidak ada pria lain yang mendekati. Kamu siap, Prajurit?”


“Siap, Komandan!” jawab tegas Abdul layaknya tentara.


Iskandar meninggalkan rumah yatim tanpa Aisyah. Iskandar sengaja meninggalkan Aisyah di sana setelah mendapat pesan dari Dita. Ia harus pulang untuk memastikan keadaan keluarga ayahnya setelah Dita pergi apalagi kondisi kesehatan sang nenek sedang menurun.


Di kediaman Bapak Wicaksono, semua anggota keluarga sedang menikmati sarapan pagi dengan tenang hingga sebuah ucapan yang meluncur dari mulut sang ibu membuat semua anggota keluarga terdiam.


“Katakan pada Kakakmu kalau dia memilih tinggal di rumah ayahnya, suruh kemasi barang-barangnya dari rumah ini!” Anugrah ingin menyela tapi gelengan kepala dari sang ayah menghentikan aksinya.


“Di saat kecil kita timang-timang tapi kala besar dilupakan.” Cut pergi meninggalkan meja makan. IA adalah wanita rapuh yang terlanjur kecewa melihat perubahan Teuku dan sekarang putranya juga pergi tanpa kabar. Bukannya Cut tidak mau bertanya tapi ia mau melihat seberapa penting dirinya dalam hidup mereka. Pada akhirnya, Cut kecewa dengan sikap Teuku maupun Iskandar.


Saat ini Iskandar justru berada di rumah Shinta. Ia ingin bertemu adik sedarahnya lalu membicarakan rencana yang sebelumnya sudah mereka bahas melalui telepon sekilas.


“Apa Fais menyuruhmu ke sini untuk melihat Dita?” sinis Shinta. Saat ini mereka sedang berada di ruang tamu rumah Shinta. Rumah yang dulu Iskandar datangi bersama keluarganya untuk melamar Tiara.


“Tidak, Tante. Ada yang harus aku diskusikan dengan Dita.”


“Ck, lihatlah bagaimana permainan takdir mempermainkan kalian. Dulu, saat kamu lahir. Ayahmu malah mempertanyakan Dita yang masih dalam perutku. Sekarang, begitu dia tahu Dita darah dagingnya, dia seolah lupa kalau dulu tidak menginginkannya. Suruh Papamu mengadopsi anak yatim dari pada merebut anak orang lain.”


“Ma, jangan begitu. Iskandar tidak tahu menahu tentang masa lalu kalian. Dia sama seperti Dita.” Sela Toni. Dia tidak akan membiarkan istrinya meluapkan kemarahan pada Iskandar sementara Iskandar lebih memilih diam hingga suara Dita yang sedang turun dari tangga menghentikan amukan Shinta.


“Maaf, Kak. Semalam telat tidur jadi ya gitu deh. Kita ke café saja ya! Biar bicaranya lebih leluasa.” Ajak Dita yang langsung tapi langkahnya langsung tertahan saat tangan Iskandar menarik lengannya.


“Pamit dulu pada orang tuamu!” tatapan dan kata-kata Iskandar seperti menghipnotis Dita hingga gadis pembangkan itu tanpa bantah langsung mencium punggung tangan Shinta dan Toni. Sebuah pemandangan langka yang baru pertama mereka lihat. Shinta dan Toni memang tidak mengadopsi budaya timur dalam mendidik anak hingga adap cium tangan orang tua tidak berlaku untuk mereka. Ditambah dengan keyakinan mereka yang berbeda dengan Iskandar. Tapi hal yang paling mengejutkan lainnya dan tentu saja lebih membuat mereka menganga adalah Dita yang selama ini pendiam, ketus dan keras kepala mau melakukan apa yang Iskandar minta.


“Om, Tante, saya minta izin mengajak Dita keluar. Saya permisi dulu!” ucap Iskandar sambil berjabat tangan dengan Toni sementara dengan Shinta dia hanya menundukkan kepalanya khas orang Korea.


Setelah kepergian mereka, Shinta menatap suaminya dengan perasaan bingung. Sementara Toni membalas tatapan istrinya dengan senyum cerah secerah hatinya saat Iskandar menunjukkan rasa hormat pada dirinya yang lebih tua. Sopan santu dan adab yang melekat pada diri Iskandar membuat Toni merasa senang dan bangga karena putri sambungnya memiliki kakak yang baik seperti Iskandar.


“Dia gak salah minum obat kan, Pa?” celutuk Shinta memegang tangannya yang dicium oleh Dita.


“Kamu jangan marah-marah lagi ya! Lihatlah! Anak kita bisa menjadi lebih baik dengan mereka. Kenapa harus dilarang? Biarkan Dita hidup dengan mereka, siapa tahu Dita akan berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.” Wajah Shinta langsung merah, “Terus pelan-pelan mereka akan meminta Dita pindah keyakinan, begitu? Tidak, Pa. Selamanya aku tidak akan membiarkan Dita hidup dengan mereka.”


Toni tidak lagi memperpanjang pembicaraan, dia memilih diam dari pada terjadi pertengkaran antara dirinya dengan sang istri nanti.


Di café…


“Om Toni itu kelihatan baik dan ramah ya?” tanya Iskandar memulai pembicaraan begitu mereka selesai memesan.


“Aku kan sudah bilang, Papa Toni itu memang baik hanya orang tuanya saja yang tidak karena aku bukan anak kandung Papa Toni. Sudahlah jangan bahas itu. Bagaimana kelanjutan rencana kita?”


“Aku pulang dulu menemui Papa untuk membicarakan semuanya secara matang.”


“Papa mana?” ledek Dita tersenyum ke arah sang kakak.


“Menurutmu?” Dita menjawab dengan gedikan bahunya.


“Aku akan membicarakan dengan kedua Papa dan Mama. Hidup kita lucu sekali ya, kita punya dua papa dan mama. Orang-orang pasti iri dengan kehidupan kita.” Seloroh Iskandar.

__ADS_1


“Jadi kakak akan membicarakan dengan Papa Anugrah juga? Aku pikir hanya sama Papa Faisal.”


“Papa Anugrah Papaku juga. Tanpa beliau mungkin entah seperti apa nasibku sekarang. Sama seperti Om Toni. Tanpa Om Toni mungkin entah jadi apa kamu sekarang.” Dita mengangguk. Sebagai gadis dewasa dia juga menyetujui apa yang Iskandar katakan. Tanpa Papa Toni, entah bagaimana hidup Ibu dan dirinya saat itu.


Sementara di depan ruang praktiknya, Dokter Rendra yang kini dipanggil Teuku oleh keluarganya dibuat terkejut dengan kedatangan Anugrah secara mendadak dan langsung menghujaninya dengan bogeman mentah ala tentara. Walaupun Anugrah bukan lagi seorang tentara di lapangan tapi kekuatan fisiknya masih cukup bagus untuk membuat beberapa lebam di wajah Teuku yang notabenenya adalah sepupunya sendiri.


Perawat yang berada di sana langsung histeris dan memanggil sekuriti rumah sakit untuk melerai perkelahian sengit tersebut. Teuku ikut terselut emosi saat dirinya yang tanpa tahu apa-apa justru diserang secara mendadak oleh anak dari tantenya.


“Dasar tidak tahu diri! Gara-gara tingkah loe, Nyokap gua sedih dan kecewa hingga jatuh sakit.”


bughh


“Harusnya loe mati saja dulu sama ayah loe yang pemberontak itu.”


bughh


“Sudah syukur bokap gue nyelamatin loe sampe mau ngasih namanya buat loe tapi sekarang apa yang mereka dapat?


Bughhh


Bughhh


“Gua gak minta diselamatkan! Gua juga gak minta bokap loe ngasih namanya ke gua! Kalau loe mau protes, silakan ke mereka! gak ada urusannya sama gua!”


Bughh


Anugrah kembali meninju wajah Teuku hingga hidungnya mengeluarkan darah. Teuku kembali melancarkan aksinya namun sayang, Anugrah yang sudah terbiasa dengan latihan belas diri sudah terbiasa dengan gerakan Teuku yang amatiran. Semenjak hidup bersama Faisal sampai dewasa dan menjadi dokter handal, Teuku selalu jauh dari yang namanya adu jotos seperti saat ini. Dia hanya tahu buku, jarum suntik dan pisau bedah.


“Harusnya nyokap gue gak usah ngorbanin nyawanya buat loe saat diculik. Biarkan saja loe dibawa dan didik jadi pemberontak seperti bokap loe. Biar loe tahu diri, gak bersikap angkuh seperti sekarang.”


Fais datang dengan pakaian hijau dan sepertinya habis operasi sementara Ayu datang semenit kemudian karena saat mereka berkelahi, Ayu masih dalam ruang operasi. Keduanya dimasukkan dalam ruangan direktur yang tak lain adalah ruangan Ayu.


Fais duduk menatap keduanya sementara Ayu datang membawa dua botol air mineral serta dua kantung es batu. “Kompres lebam di wajah kalian!” titah Fais menatap tajam keduanya.


Ayu duduk di samping sang suami lalu mengusap lembut punggung tangan suaminya. “Sabar!” bisiknya lalu tersenyum menatap dua pemuda yang sudah babak belur di depannya itu.


“Coba ceritakan ada apa ini? Kenapa sampai berkelahi?” pinta Ayu lembut.


“Ma-“ Teuku langsung berhenti saat tangan Ayu terangkat.


“Biar Anugrah yang cerita lebih dulu!” ucap Ayu lembut lalu menatap Anugrah. “Kamu pasti punya alasan kuat sampai memukul Rendra,-“


“Cih, jangan panggil nama pemberian Papaku! Dia tidak pantas menyandang nama itu!”


“Aku juga tidak sudi!” Sahut Teuku dan keduanya kembali beradu hendak memulai kembali.


“STOOOPPPPP!!!!”


Fais membentak keduanya dengan suara keras dan membuat Ayu terkaget-kaget. Selama menjadi istri Fais, Ayu tidak pernah mendengar suara Fais membentak sekeras itu hingga kulit wajahnya memerah. Walau syok, Ayu tetap mencoba menenangkan sang suami.


“Katakan pada kami apa yang membuatmu begitu marah pada Teuku?” pinta Ayu kali ini sedikit tegas.


“Aku tidak menyukai sikapnya terhadap Mamaku. Apa dia tidak diajarkan sopan santun hingga bersikap angkuh begitu pada Mamaku? Hubungan dia dengan kalian itu tidak ada apa-apanya dengan hubungan darah yang terjalin antara dia dan Mamaku. Kalian tidak mengorbankan nyawa untuknya tapi Mamaku? Berapa kali ia berkorban untuk keponakannya tapi saat dia besar dengan jabatan seperti sekarang dia tidak lebih dari kacang lupa kulitnya. Dia tidak ragu memeluk wanita yang jelas-jelas haram untuknya hanya karena panggilan ‘Mama’ tapi dia enggan memeluk wanita yang jelas-jelas satu keturunan dan halal untuknya. Sifat seperti apa yang dia miliki kalau bukan angkuh? Melihat sikapnya menyadarkanku dengan siapa dia dibesarkan selama ini. Pria yang dipanggil ‘Papa’ ternyata mengkhianati Mamaku dengan wanita lain sampai memiliki anak haram. Dan Mamaku memperlakukan anak haram itu dengan baik walaupun setiap melihat wajahnya selalu terbayang pengkhiatan mantan suaminya. Dia sama seperti ANDA, jangankan terima kasih, minta maaf saja tidak!” Anugrah pergi meninggalkan ruangan itu tapi saat ia hendak membuka pintu, ia kembali menoleh menatap tajam pada dua pria yang sudah menyakiti wanita yang paling ia cintai itu. “Kalau Anda ingin kembali meghancurkan Mamaku, sekalian saja ambil Iskandar! Saat itu terjadi, aku sendiri yang akan menghancurkan kalian!”


Bum…

__ADS_1


Anugrah menarik pintu dengan keras hingga membuat Ayu terlonjak kaget. Faisal dan Ayu menatap Teuku. “Temui Tantemu! Kami tidak pernah melarangmu menemuinya. Kami pikir kamu sudah cukup dewasa untuk bersikap ternyata kamu hanya pintar dalam pelajaran sekolah.” Setelah mengatakan itu, Fais langsung keluar dari ruangan istrinya.


Ayu tersenyum menatap sang putra, “Benar yang dikatakan Anugrah, kita tidak sepatutnya melakukan kontak fisik karena bagaimanapun kita bukan mahram. Temuilah adik dari ayah kandungmu! Bersimpulah di kakinya karena dia yang berhak mendapat penghormatanmu bukan Mama.” Ayu ikut keluar dari ruangannya. Hatinya sedih dan tempat yang bisa dia kunjungi untuk menangis adalah toilet di samping ruanganya.


Teuku duduk sendiri mencerna setiap perkataan yang Anugrah dan orang tuanya katakan. Entah kenaap ada rasa enggan menghampiri hatinya untuk menemui wanita berstatus tantenya itu.


“Hei anak kecil! ada waktu gak?” Teuku mengirim pesan kepada Anggia.


Sudah beberapa hari ini dia rutin mengganggu Anggia walaupun tidak menyinggung soal perjodohan yang sudah jarang terdengar setelah batalnya pertunangan Aisyah kemarin.


“Jangan panggil aku anak kecil, Paman! Aku adalah Ninja Hatori si pembasmi kejahatan terutama dari pria tua seperti Paman.” Teuku terkekeh, inilah alasannya kenapa ia menyukai Anggia yang kekanakan. Ia bosan menghadapi wanita serius dan jaim saat bersamanya. Tapi Anggia ini berbeda, walaupun gadis itu bercadar tapi dia tidak jaim padanya.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Ninja Hatori! Ada waktu tidak? Aku mau ketemu.”


“Tidak!” balas Anggia singkat.


“Lagi sibuk!” balasnya lagi.


“Lagi malas ketemu orang apalagi ketemu pria tua seperti Paman.”


Sebuah emoji meledek turut menyertai pesan yang Anggia kirimkan. “Ya sudah kalau begitu aku ke rumahmu saja lalu mengatakan pada ibumu kalau aku akan menikahimu minggu depan.”


“Baik, ketemu di mana?” Teuku terkekeh pelan seraya menahan perih mendapat balasan dari Anggia yang super cepat. Selama ini, Teuku memaksa Anggia untuk bertemu kalau Teuku sedang suntuk dan bosan. Syaratnya adalah Teuku tidak akan mengungkit masalah perjodohan pada orang tuanya. Karena apa pun yang Anggi lakukan selama ini tidak berhasil membatalkan niat orang tuanya untuk melanjutkan rencana perjodohan itu.


Sementara itu di salah satu ruangan terapi, Anugrah sedang memperhatikan Wulan yang sedan berjalan tanpa dipapah atau memegang alat bantu. Hanya seorang perawat wanita yang berjalan di depannya sebagai upaya untuk mengurangi risiko jika Wulan terjatuh. Setelah menunggu selama 15 menit, Wulan keluar sudah diperbolehkan pulang.


“Untuk hari ini kita cukupkan dulu. Tetap semangat karena peningkatakannya sudah sangat pesat. Kalau semangatmu seperti ini terus, seminggu lagi kamu sudah bisa lari.” Ucap salah satu dokter yang menangani Wulan.


“Terima kasih, Dokter, Suster.” Ucap Anugrah yang sudah berada di belakang Wulan.


Aaaaa….


Wulan terkejut melihat wajah Anugrah yang berubah jadi jelek dalam sehari. “Kamu habis berkelahi?” tanya Wulan seraya melipat handuknya.


“Berkelahi itu normal bagi laki-laki!” jawab Anugrah lalu memakai tas perlengkapan Wulan dan membantu Wulan berdiri.


"Tidak perlu dipapah lagi!”


“Yakin?” Anugrah menatap manik mata sang istri ragu. Wulan mengangguk kecil lalu mulai berjalan pelan. Sangat pelan untuk ukuran gadis normal tapi Anugrah dengan setia mengikuti tanpa mengeluh sedikitpun.


“Berkelahi sama siapa?” tany Wulan saat mereka sedang jalan berdampingan.


“Adalah. Lapar tidak?” Anugrah mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin bercerita tentang perkelahiannya dengan Teuku. Wulan sendiri tahu maksud Anugrah tapi dia memilih mengabaikannya.


“Kita pulang kemana? Kenapa tanya begitu?”


“Kita pulang ke rumah dinas.” Satu-satunya cara untuk menghindar dari pertanyaan sang ibu tentang wajahnya yang babak belur.


 


***


Ini udah 2000kata jangan bilang dikit ya....


Yg belum kasih bintang tolong dibintangi. Like, Komen sepuasnya. Sesekali bagi KOPI untuk Anugrah biar tambah kuat gebukin si Teuku...

__ADS_1


__ADS_2