CUT

CUT
Sultan Iskandar Muda...


__ADS_3

Hidup Dika seolah selalu mendapat kejutan. Belum habis keterkejutannya dengan kemunculan Dita di tempatnya bekerja kini tetangga kamar kosnya juga dia. Dita seolah menempeli hidupnya saat ini. Walaupun kejadian pertemuan mereka tadi, Dita berpura-pura tidak mengenalinya tapi tetap saja buat Dika terasa aneh.


“Hai, boleh saya minta kontakmu?” Dita menatap pria di depannya dengan tatapan heran.


“Saya Chandra, kebetulan sedang menikmati cuti di sini. Apa boleh mengajakmu saat kamu free?” Dika melewati mereka. Dita tersenyum penuh arti, “Tentu. Kamu bisa mengajak saya kemana saja!” ucapnya lalu memberikan nomer ponselnya pada pria itu. Sementara Irma yang berada di sisinya sudah beberapa kali memberikan kode dari bawah meja namun Dita seolah mengabaikan itu semua.


“Bagaimana kalau malam ini, apa kamu free?”


“Oke.”


Selepas kepergian pria bernama Chandra itu, Irma langsung bereaksi. Dia memperingati Dita namun sayang, gadis itu kekeh dengan pendiriannya.


“Kamu kan tahu sendiri bagaimana kelakukan sebagian tamu hotel. Kenapa kamu nekat mengiyakan ajakannya. Apa kamu tidak takut?”


“Tidak! Aku akan menantang takdirku!” Irma geleng-geleng kepala. Di saat jam istirahat dia memilih pergi ke belakang sedangkan Dita memilih makan sendiri di restoran sambil memikirkan taktik selanjutnya jika rencana ini gagal. Ya, Dita akan menggunakan Chandra untuk membuat Dika melihatnya.


“Ke mana dia? Biasanya dia akan makan di sini sama ulat bulu itu.” Batin Dita. Ia ingin melihat lagi adegan romantis Dika dengan anak dari manajer tempatnya bekerja. Semakin sering dia melihat Dika bermesraan maka semakin membara semangat dalam dirinya untuk membuat Dika menjadi miliknya.


“Hai, kita ketemu lagi. Aku rasa kita ditakdirkan bersama.” Celutuk Chandra memberikan senyuman mautnya untuk Dita.


“Kalau begitu takdirku bukan sama kamu karena aku lebih sering bertemu supir taksi di jalan dari pada denganmu.”


“Kalau begitu biarkan aku yang jadi supir taksinya mulai sekarang, bagaimana?”


“Tidak mau. Aku ingin membagi uangku dengan supir taksi. Kalau denganmu aku tidak akan dibilang baik sama orang.”


“Ternyata kamu suka pencitraan juga.”


“Oh tentu! Semua orang suka pencitraan kalau tidak mana ada wanita pakai sandal jepit masuk hotel?”


Chandra menelisik lekat gadis di depannya ini. Sadar atau tidak, dari balik dinding kaca, Dika tengah menatap pasangan tersebut dengan perasaan campur aduk. Ia sudah mendengar dari Irma apa yang terjadi dan kini ia membuktikan dengan mata kepalanya sendiri kalau yang Irma katakan itu benar.


Chandra pergi setelah berpamitan pada Dita. Dia harus menerima telepon penting. Sementara Dika juga melangkah mengikuti pria itu dalam jarak yang tidak terlalu dekat. Instingnya sebagai pria yang sudah bekerja di hotel cukup lama itu mengatakan jika pria bernama Chandra itu bukan pria yang baik.


“Hallo, Sayang. Ada apa?”


“…”


“Oke, tidak masalah. Aku akan menemuimu nanti setelah tugasku selesai di sini.”


“…”


“Iya aku tidak akan macam-macam kok. Aku tidak sempat mencari wanita lain, pekerjaanku banyak di sini.”


“…”


“Oke, Sayang. Bye!”


“…”


Chandra menyimpan ponselnya di saku lalu tersenyum menatap ke luar jendela.


Sore menjelang malam….


Dita dan Irma baru tiba di kos menjelang magrib karena Irma mengajaknya untuk mencari makanan di luar. Mereka membeli nasi bungkus karena Irma mengajaknya untuk makan malam bersama di kamarnya.

__ADS_1


“Jadi pria yang tadi itu masih menghubungimu?” tanya Irma di sela-sela makannya.


Dreet…


“Panjang umur. Baru juga kamu menyebutnya kini dia sudah menunggu di depan.”


“Kamu mau kemana?”


“Paling jalan-jalan saja.”


“Kamu gak takut? Aku tidak percaya pada pria itu. Tolong, Ta. Aku tahu kamu berani tapi aku belum siap melihatmu dalam bentuk lain.”


“Sudah, aku tidak apa-apa. Kamu percaya saja sama aku.” Dita masih bersikap santai lalu dia membereskan makanannya setelah itu langsung turun menemui Chandra. Benar saja seperti yang pria itu katakan begitu Dita turun, ia langsung mendapati Chandra tengah berdiri di depan mobilnya dengan tatapan ke arah kos.


“Aku begini saja, boleh?” tanya Dita. Chandra memperhatikan penmpilan Dita dari ujung rambut sampai ujung kaki. Terlihat sekali jika pria itu merasa keberatan dengan penampilan Dita. Dia ingin melihat Dita dalam pakaian seperti saat bekerja, memakai rok dan baju yang pas di badannya.  Berbanding terbalik dengan penampilan Dita saat ini di mana ia hanya memakai baju kaos lengan panjang dan sedikit kebesaran serta celana jean dengan rambut di ikat kebelakang seadanya.


“Aku berencana mengajakmu ke kelab malam tapi melihat penampilanmu akan susah untuk masuk karena ini kelab khusus dan mewah. Tamunya orang-orang penting seperti pengusaha dan pejabat negara.”


“Aku tidak suka tempat penuh dengan sampah. Baunya sangat tidak enak untuk hidung dan perutku.”


“Siapa bilang di sana banyak sampah. Aku sudah bilang kalau kelab itu adalah kelab terbaik dengan tempat sampah yang mumpuni hingga tidak ada bau sampah seperti yang kau bilang.”


“Yakin tidak ada sampah?”


“Yakin. Lantainya saja bersih sekali apalagi kamar mereka.” Dita tidak lagi melanjutkan perkataannya. Dia memilih diam seraya menikmati angin malam di pinggiran Bali bersama pria entah berantah.


Dika langsung menuju ke kamar Irma begitu sampai di kosnya. Dan setelah mendengar penuturan Irma, Dika merasa gelisah sendiri hingga membuat Irma penasaran. “Kak Dika kenal ya sama Dita?”


“Em, sudah dulu ya!” Dika langsung turun menuju kamarnya. Dia mengambil jaket lalu kembali pergi dengan sepeda motornya.


“Ada apa, Ndok? Tadi kalian meminta Ummi untuk bicara dengan Abah. Sekarang kenapa diam?”


Husna dan Nurul sedang galau merana setelah ditinggal nikah oleh Ana. Apalagi setiap Ana menelepon mereka, Ana selalu bercerita tentang kebahagiaanya menikah dengan Reski. Selain taat agama, Reski juga memperlakukannya dengan lembut dan penuh cinta. Husna dan Nurul yang sudah terkontaminasi drama-drama dari negeri jiran tentu saja semakin ingin menikah dan pilihan mereka kembali jatuh ke Ari dan Dwi.


“Abah, kami ingin melanjutkan kuliah di kampus tempat suaminya Ana mengajar. Di kampus itu membolehkan mahasiswinya memakai cadar. Ana juga akan mendaftar kuliah tahun ini. Apa boleh kami juga mendaftar?” Demi cinta yang menggebu, Husna memberanikan diri menyampaikan keinginan mereka.


“Kenapa harus di sana? di kabupaten sebelah juga ada kampus walaupun tidak sebesar di kota Surabaya.” Tanya Abah.


“Em, kami mau di sana, Abah. Kalau ada apa-apa, ada Ana dan suaminya.”


“Husna, Nurul, kalian gadis pintar dan sudah dewasa. Jika kalian ingin mendekati Ari dan Dwi, kalian tidak perlu harus kuliah di sana. Abah bisa tanyakan kembali ke mereka jika kalian mau.”


Husna dan Nurul rasanya ingin menenggelamkan diri ke perut bumi. Niat mereka ternyata sudah terbaca oleh Abah. "Perbaiki niat kalian terlebih dahulu agar semua yang kalian inginkan tidak sia-sia.”


“Abah, kami ingin belajar dan kalau memang Mas-mas itu jodoh kami maka kami akan terima tapi bila bukan maka kami juga tidak akan kecewa. Kami sudah bersiap untuk semua kemungkinan yang akan terjadi. Yang terpenting saat ini adalah restu Abah untuk kami mengejar pendidikan dan jodoh kami. Insya Allah, jika Abah dan Ummi merestui dan mendoakan. Kami akan mendapat keduanya, pendidikan dan jodoh yang sesuai keinginan kami.”


Abah melirik istri-istrinya lalu, “Baiklah, katakan pada Ana kalau kalian akan ke sana.”


“Hem, Abah-“


“Izinkan kami untuk tinggal terpisah dengan Ana dan suaminya.”


“Tentu, kalian tidak akan tinggal di sana. TIdak baik bagi sebuah rumah tangga apalagi mereka masih baru menerima kalian di sana. Biar nanti Abah yang minta Reski mencarikan rumah kontrakan untuk kalian.”


“Terima kasih, Abah.”

__ADS_1


Keesokan harinya…


Aisyah sedang berada di dapur bersama Bibik. Ia membantu Bibik memasak walaupun si Bibik sudah melarang tapi Aisyah tetap kekeh pada keinginannya. Alasannya karena ia bosan tidak berbuat apa-apa. Sudah beberapa hari ini Aisyah sudah dibawa Iskandar ke rumah Papa Rendra. Iskandar sendiri sudah pergi ke kampus untuk mengimput nilai mahasiswanya.


“Bi, sepi ya?”


“Makanya, Non segera hamil biar rumah ini jadi ramai.” Aisyah hanya membalas dengan senyum. Kulitnya langsung meremang jika membayangkan malam-malamnya dengan Iskandar. Wajah Aisyah seketika merona dengan bibir sedikit terbuka. ia mendadak haus dan intinya kembali berkedut.


Ting…


“Sayang, udah makan?”


Aisyah hanya bisa menghela nafasnya saat tidak ada balasan dari Iskandar.


“Den Is pasti sibuk sekali ya di kampus?” Aisyah mengangguk lemah.


“Bik, Mama sama Papa memang seromantis itu ya?” Aisyah mengingat kembali momen-momen setiap kali ia melihat mertuanya berduaan. Mereka sangat romantis mengalahkan dirinya yang baru menikah. Bahkan Iskandar tidak seromantis itu jika di depan orang ramai. Sangat berbeda dengan papa  mertuanya yang tanpa canggung di depan anak menantunya.


“Kenapa, Non ingin juga ya?” Aisyah tersenyum lebar.


“Bapak sama Ibu memang begitu, Non. Harap maklum. Terutama Bapak, beliau suka sekali mencium Ibuk di depan anak-anaknya. Dulu, Ibuk sering protes tapi semakin ke sini, Ibuk sudah terbiasa menerima perlakuan Bapak. Hanya Den Anugrah yang masih protes sampai saat ini kalau memergoki Papanya. Kalau Den Is seperti biasa selalu cuek.”


“Bik, kangen Wulan tidak?”


“Kangen lah, Non. Cuma ya gitu.”


“Apa dia bahagia di sana, Bik? Kira-kira dia rindu tidak sama kita?”


“Non Wulan sudah terkenal, Non. Mana sempat dia pikirin kita lagi. Bibik tidak menyangka jika gadis yang dulu Bibik mandikan ternyata sekarang menjelma menjadi penyanyi terkenal. Bibik senang sekali melihatnya bahagia. Bibik pikir dia akan selamanya memakai kursi roda ternyata dia bisa sembuh dan lagu-lagu yang dia nyanyikan semua bagus-bagus.”


“Kira-kira Anugrah dengar gak ya lagu-lagu Wulan?”


“Entah. Bibik sedih melihat hubungan mereka. Padahal Bibik tiap malam berdoa semoga pernikahan mereka langgeng tapi doa Bibik belum dijabah sama Allah. Mereka memilih bercerai dan berpisah. Sekarang, Den Anugrah juga pergi menjauh dari sini. Dia memilih pergi meninggalkan negaranya. Entah apa yang dirasakannya saat ini. Bibik merindukan Den Anugrah yang ceria dengan kelakar-kelakarnya. Tapi setelah kecelakaan itu, Den Anugrah seperti kehilangan semangat hidup. Dia bahkan merusak dirinya dengan mengonsumsi makanan dan minuman instan setiap saat.”


“Doakan saja, Bik. Semoga di sana ia bertemu dengan gadis cantik yang mampu membuat hidupnya kembali bersemangat.”


“Amin. Tapi Bibik masih berharap Non Wulan yang akan menjadi jodoh Den Anugrah.”


“Aisyah aminin saja, Bik.”


“Terus Den Teuku juga tidak jelas sama calonnya. Non Aisyah kenal sama calonnya kan?” Aisyah mengangguk.


“Susah, Bik. Selisih umurnya terlampau jauh.”


“Semoga saja calonnya Den Teuku dibuka mata hatinya untuk menerima Den Teuku yang gantengnya sudah menyerupai sultan Dubai.”


“Kalau Mas Iskandar gantengnya menyerupai siapa, Bik?” goda Aisyah membuat si Bibik kelabakan.


“Gantengnya menyerupai Sultan Iskandar Muda!”


“Eh,”


***


Pagi....LIKE DAN KOMEN YA....MAKASIH...

__ADS_1


__ADS_2