
Keluarga Dita langsung menaiki taksi menuju salah satu hotel di Aceh. “Kita ke sana jam berapa, Ma?” Tanya Tiara yang ikut bersama Doni dan anaknya.
“Setelah kita makan malam saja. Kamu istirahat saja dulu. Ini pertama kalinya kamu bepergian jauh setelah melahirkan.”
“Baik, Ma.”
Tiara meninggalkan kamar ibunya. Sedangkan Doni dan Papa Toni memilih minum kopi di warung kopi depan hotel.
“Kopi Aceh memang beda ya, Pa?”
“Em, kamu coba saja dulu. Setelah itu kamu akan tahu beda atau tidak.” Seorang pria membawakan dua cangkir kopi dan dua piring kecil roti selai untuk mereka.
“Terima kasih.” Ucap keduanya.
“Pa, ini antara kita saja. Bagaimana kalau Kak Dita pindah keyakinan?” tanya Doni. Sejujurnya, ia kerap kali membahas ini dengan Tiara tapi tetap saja kesimpulan akhir ada di tangan mertuanya.
Toni meletakkan cangkirnya menatap Doni, “Papa hanya ayah sambung untuk Dita walau begitu, Papa tetap menyayanginya. Jawaban yang kamu cari hanya ada pada Mama Shinta. Tapi kalau pendapat Papa, Papa tetap ingin anak-anak seiman dengan orang tuanya. Itu menurut Papa tapi kalau nyatanya kakak iparmu memilih mengikuti iman calon suaminya, Papa hanya bisa mendukung.”
“Kira-kira Mama bakal kasih izin tidak buat Kak Dita?” Papa Toni hanya menggeleng pelan. “Kita lihat saja.”
Sementara di kamarnya, Shinta sedang berbicara dengan Dika. Ia mengabarkan jika mereka sudah sampai ke Aceh dan akan melayat ke rumah duka setelah magrib. Kehebohan kembali terjadi saat Faisal menyampaikan pada keluarganya jika keluarga Shinta akan datang melayat malam ini.
“Kamu membiarkan wanita itu datang ke sini? Fais, kami tidak sudi menerima wanita ular itu. Apa kamu tidak memikirkan perasaan keluargamu? Ayahmu juga kakak dan abangmu?”
“Benar yang dikatakan Mak Cek, Fais. Dia tidak perlu kemari. Dia bukan keluarga kita. Kemarin anaknya hari ini dia. Apa yang sebenarnya dia rencanakan?
“Jangan-jangan dia kemarin untuk menuntut hak anaknya pada keluarga kita.” Bapak Fahri terdiam mendengar perkataan kerabatnya. Ia tidak menyangka akan mendengar perkataan buruk itu secara langsung.
“Mak Cek, Pak Wa, kedatangan keluarga Shinta ke sini baik-baik. Aku rasa tidak ada salahnya untuk menerima kedatangan mereka. Bagaimana pun, dia tetap ibu dari anakku.”
“Gadis itu bukan anakmu, Fais. Nasabnya kembali ke ibunya bukan kamu walau dalam darahnya mengalir darahmu. Anakmu hanya Iskandar! Seharusnya kamu malu pada Cut dan Iskandar karena gara-gara wanita itu, rumah tangga kalian hancur.” Cut yang mendengar itu ingin menyahut tapi tangan sang suami sudah menahan lengannya terlebih dahulu.
“Jangan ikut campur! Kamu dan dia masih terikat karena Iskandar. Selebihnya kamu hanya orang lain di keluarga ini.” Ucap Rendra.
“Iya, Nak. Biarkan mereka menyelesaikan sendiri.”
“Bagaimana kalau kedatangan Kak Shinta justru semakin memperburuk masalah?”
“Mereka sudah tua-tua semua. Kalau mereka sadar tentu tidak akan melakukan itu. Apalagi jenazah baru kemarin dikebumikan. Nak, niatmu memang baik tapi Papa tidak setuju kamu ikut campur. Kamu bukan lagi menantu mereka, kamu menantu keluarga Wicaksono.” Tegas Bapak Wicaksono membuat Cut menyerah lalu mengangguk pelan. Dia kembali duduk di dekat suami dan ayah mertuanya. Sedangkan di dalam, Iskandar juga tengah berada di sana bersama Aisyah. Ia tidak menduga kalau keluarga besar ayahnya akan menolak kedatangan Mama Shinta.
“Maaf ya, kamu harus melihat drama ini.” Ucapnya pada sang istri.
“Mereka sudah bau tanah tapi masih hobi perang urat leher. Apa tidak pegal itu leher? Kena strok baru tahu.” Bukan Aisyah yang menyumpahi tapi Tante Juli yang dari tadi memilih diam.
“Fais belum menerima sanksi masyarakat dan keluarga saat melakukan kesalahan itu dulu. Biarkan dia menerimanya saat ini. Kita cukup jadi penonton yang budiman.” Seketika mata ketiga orang itu menoleh pada sosok yang sudah berucap tajam tanpa dosa itu.
“Fais memang salah tapi aku kasihan sama istrinya. Apa kamu tidak lihat bagaimana eratnya genggaman tangan istrinya di tangan Fais?” Balas Kak Julie pada Bang Adi. Kemudian mereka kompak memperhatikan objek yang dibicarakan oleh Kak Julie. Benar saja, Mama Ayu menggenggam erat tangan Papa Faisal seakan sedang menyalurkan kekuatan.
__ADS_1
“Mata Tante jeli juga, ya?” ucap Aisyah membuat mereka tersenyum kecil.
Di kamar Iskandar, Dika sedang berbicara dengan Mama Shinta melalui sambungan telepon.
“Apa Dita diperlakukan baik di sana?” tanya Shinta menyapa Dika tanpa basa-basi.
“Em, Dita sudah dibawa sama Tante Cut ke rumah kerabatnya. Tadi, beberapa kerabat Nenek ada yang menggunjing Dita makanya Tante Cut langsung membanya dari sini.” Untuk sejenak, Shinta mendesah memikirkan putrinya yang nekat datang ke sana.
“Tapi Tante tidak usah khawatir karena sekarang Dita lagi bahagia. Dia sedang jalan-jalan ke berbagai tempat wisata bersama orang rumah kerabat Tante Cut.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Dita mengunggah foto-fotonya di akun media sosial, Tante.” Lagi-lagi Shinta harus menarik nafasnya dalam-dalam.
“Tante, jangan marahi Dita. Dia sangat menyayangi Tante walaupun dia terus memberontak. Tidak ada anak yang sanggup kehilangan ibunya, Tante. Saya sangat tahu bagaimana hidup tanpa kasih sayang ibu.”
“Baiklah. Setelah magrib saya akan ke sana. Terima kasih!”
Tuttt....
Setelah menutup teleponnya, Dika keluar dan bergabung dengan Iskandar. Perdebatan keluarga itu akhirnya berakhir setelah suara Bapak Fahri berhasil mengintimidasi anggota keluarganya.
“Saya dan Murni tidak menaruh dendam pada Shinta dan anaknya. Kami sudah tua, bukan waktunya lagi memelihara dendam dan kebencian. Murni juga sudah memaafkan Shinta dan Fais. Biarkan dia datang untuk meminta maaf atas kesalahan kami padanya di masa lalu.”
Setelah magrib, keluarga Shinta mendatangi kediaman Bapak Fahri menggunakan mobil hotel tempat mereka menginap. “Ma, apa pun yang terjadi di sana. Mama harap sabar dan tenang ya!”
Tanpa mereka tahu, Dita baru saja selesai salat magrib bersama Marni di mesjid raya karena letak rumah Mak Cek Siti dengan mesjid tersebut sangat dekat.
“Adek tidak pergi tahlil?”
“Tahlil?” Dita bertanya balik dengan kening berkerut.
“Maksudnya malam takziah. Kalau ada orang meninggal, malamnya ada acara doa begitu. Adek tidak pergi?”
“Maunya sih pergi tapi???”
“Pergi sama saya mau tidak?” mendapat pertanyaan seperti itu wajah Dita langsung cerah. Ia memang ingin berada di sana tapi kalau membayangkan gunjingan keluarga ayahnya membuat Dita enggan menginjakkan kaki di sana lagi. Tapi karena Marni malam ini ikut takziah maka tidak ada alasan untuknya tidak hadir. Ia juga tidak mau berada di rumah Mak Cek Siti sendirian.
Dita yang sudah mengunjungi Museum Tsunami tadi sore dibuat takut dengan suara-suara ombak dan orang minta tolong. Ia jadi ketakutan setelah itu dan selalu mencari keramaian jika merasa ada yang aneh dengan badannya.
Apalagi setelah mendengar perkataan para tetangga jika rumah Mak Cek Siti banyak tersangkut mayat yang dibawa gelombang tsunami.
Dita sudah bersiap dengan pakaian gamis pilihan Dika lengkap dengan jilbab segi empat yang membuatnya semakin cantik malam ini. Sementara di kediaman Bapak Fahri, bisik-bisik tetangga mulai terdengar ketika keluarga Shinta turun dari mobil. Faisal dan Pak Fahri menyambut kedatangan mereka ditemani Rendra, Iskandar, Dika dan Teuku.
Cut yang berada di dapur dengan Mak Cek Siti langsung keluar menemui mereka. Mak Cek Siti menatap lama pada Shinta. Ini pertama kalinya ia melihat wanita itu lagi setelah dulu sempat melihatnya di acara akikah Iskandar.
“Kami sekeluarga ikut berduka cita atas meninggalnya Ibu Murni. Maaf karena kami baru datang sekarang.” Ucap Papa Toni pada Pak Fahri.
__ADS_1
“Terima kasih sudah menyempatkan diri datang jauh-jauh ke sini.” Ucap Pak Fahri kemudian mempersilakan tamunya masuk. Shinta mencoba mencari keberadaan putrinya tapi sayang hanya Aisyah yang ada di sana sedang berbicara dengan Tiara.
“Kak Dita mana, Kak?” bisik Tiara pada Aisyah.
“Sebentar lagi mungkin ke sini. Dia di rumah kerabat Mama.”
“Apa Kak Dita baik-baik saja?”
Aisyah mengangguk pelan lalu ia kembali fokus pada bayi dalam gendongan Tiara. Mata kerabat Faisal terus memindai Shinta dengan tatapan sinis nan merendahkan. Berkali-kali Toni mengusap punggung istrinya supaya istrinya tidak terintimidasi.
“Nak Shinta, Bapak mewakili almarhum Ibuk ingin meminta maaf atas kesalahan kami di waktu lampau padamu. Kami tahu kesalahan kami mungkin sulit untuk kamu maafkan tapi Bapak tetap berharap supaya Nak Shinta mau memaafkan kesalahan kami.” Lirih Pak Fahri.
Lagi-lagi Toni mengusap lembut punggung Shinta. Ia memberikan senyum terindahnya untuk sang istri seraya mengangguk pelan. “Saya sudah memaafkan Bapak dan Ibuk. Saya juga ingin meminta maaf jika dulu ada kata-kata dan perbuatan saya yang menyakiti hati kalian.”
“Saat almarhumah pertama kali melihat Dita, beliau langsung yakin kalau Dita adalah cucunya. Semenjak saat itu , Ibuk selalu ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf. Ibuk sangat senang saat bisa bertemu denganmu saat di rumah Fais. Akhirnya, Ibuk merasa tenang dan lega karena sudah meminta maaf secara langsung padamu.” Ujar Pak Fahri. Shinta tidak mampu mengucapkan banyak kata lagi. Dia hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Para warga sudah berkumpul untuk menyumbangkan doa-doa tulus mereka. Walaupun berbeda keyakinan, keluarga Shinta tetap berada di sana untuk menghormati tuan rumah.
Dua orang wanita berhijab datang membuat mata beberapa orang menatap mereka. Satu di antaranya begitu cantik dengan gamis dan jilbabnya. Gadis itu seolah bersinar di bawah cahaya lampu hingga membuat mereka takjub dengan wajahnya.
“Orang yang ditunggu sudah datang.” Bisik Aisyah pada Tiara membuat ibu satu anak tersebut tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dita menjelma menjadi ukhti-ukhti incaran akhi-akhi.
“Bidadari surgaku.” Celutuk Dika melihat betapa cantiknya Dita dalam balutan gamis pilihannya.
“Apa perlu dihalalkan di Mesjid Raya Baiturrahman?” sahut Teuku dari samping.
“Aku dukung sampai halal.” Balas Iskandar.
“Asal berani hadapi Maknya saja!” Kak Julie ikut memprovokasi para pemuda tersebut.
Sementara Doni, Toni dan Shinta masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Itu benaran Kak Dita?” pertanyaan asal daro Doni.
“Dita cantik seperti Mama bahkan dalam baluran gamis itu dia tetap bersinar. Papa senang melihatnya bahagia seperti itu.”
Shinta tidak menjawab perkataan suaminya, dia memilih membuang muka dengan pikiran berkecamuk dalam dirinya. Putrinya telah berubah menjadi gadis secantik itu.
Dita tersadar saat lambaian tangan Tiara tertangkap matanya. Seketika wajah tubuh Dita membeku saat matanya bersitatap dengan mata sang ibu.
“Mama???”
***
Pagi...LIKE,KOMEN
__ADS_1