CUT

CUT
Pak RW...


__ADS_3

Setelah menemui sang putra, hati dan pikiran Cut benar-benar lega dan bahagia. Ia bahkan tersenyu sendiri saat mengingat Iskandar. Hari-harinya berjalan seperti biasa. Mengurus Iskandar dan suami sebagai rutinutas sehari-hari. Kedatangan Ibu Yetti setiap minggu dengan membawa berbagai ramuan herbal tidak bisa terelakkan. Karena hati dan pikirannya sudah lega, apapaun yang Ibu Yetti berikan tetap ia paksakan minum.


Sementara itu, Rendra sendiri masih bertugas seperti biasa tapi satu hal yang sering ia lakukan tanpa sepengetahuan Cut. Rendra sering berbalas pesan di akun jejaring pertemanannya. Saat ia terbangun tengah malam atau saat waktu luang dikantor. Saling memberikan gambar jempol di status atau foto yang Risma unggah di laman aplikasi tersebut.


Ting…


“Ren, bisa tolong aku?”


Isi pesan yang Risma kirimkan di akun pertemanan mereka.


“Kamu lihat akun pria bernama Toni itu? Dia selalu merayuku dengan kata-kata vulgar dan mengajakku bertemu. Dia bilang kalau laki-laki di foto aku itu dia. Semua orang menganggap itu benar. Bisa tolong bantu aku untuk balas komentar dia? Oh iya, jangan sebut nama asli dan pekerjaanmu ya! Aku tidak mau urusan ini jadi panjang.”


“Tolong, Ren. Dia sudah mulai mengganggu.”


“Kenapa tidak kamu blok saja?” balas Rendra.


“Akun dia sudah yang ke lima aku blok. Dia tidak mudah menyerah, Ren.”


“Baiklah, akan ku coba.”


Rendra ikut berkomentar di setiap foto yang ada dirinya.


“Sunset yang manis bersamamu.” Sebuah komentar ia tulis di foto saat mereka tengah berciuman dibawah cahaya matahari terbenam.


“Mbak Risma, real pacarnya komen.”


“Nah, yang kemaren ngaku-ngaku siapa ya?”


“Orang aslinya muncul woiii.”


“Apa kalian tidak curiga, jangan-jangan ini akun palsu?” akun bernama Toni ikut menimpali.


Terjadilah perdebatan di akun sosial milik Risma sementara sang pemilik akun hanya tersenyum melihat banyaknya komentar lucu yang mereka tuliskan di fotonya.


“Mana nih, Risma? Coba jawab yang mana pacar aslinya?” tanya salah satu akun.


“Berhubung yang difoto sudah ikut komentar, maka kalian tentu sudah tahu kan siapa yang difoto tanpa perlu dijawab lagi.” Komentar Risma.


“Kalau dia benar kekasihmu. Kenapa di akun dia tidak ada foto Risma satupun? Fake akun.”


Rendra dan Risma terdiam. Benar juga yang dikatakan akun bernama Toni itu. Akun Rendra tidak terdapat satupun foto Risma maupun foto istrinya. Rendra baru bermain di jejaring pertemanan ini jadi dia tidak terlalu terpaku. Buatnya bermain di sana hanya untuk iseng-iseng saja.


Risma dan Rendra tidak lagi membalas. Pada kesempatan itu, pemilik akun bernama Toni itu langsung menyerang Risma dengan mengakatan jika Risma adalah pembohong besar. Risma tidak bisa berkelit karena kenyataannya ia tidak mungkin meminta Rendra untuk menanggapi lebih. Risma meninggalkan akun media sosialnya. Ia memilih tidur tapi tetap saja matanya sulit terpejam.


Hari berganti dan masalah di jejaring pertemanan mereka semakin melebar dan tanpa Rendra sadari semakin menariknya lebih jauh. Berawal dari dunia maya, akhirnya mereka memilih bertemu di dunia nyata untuk mencari solusi dalam menghadapi akun bernama Toni tersebut. Di sebuah café, Rendra sedang bersama dengan Risma setelah pulang kantor.


Ceprettt…

__ADS_1


Risma memotret sepasang tangan yang saling menautkan jari kelingking. Keduanya sedikit canggun tapi demi menuntaskan obsesi Toni itu mau tidak mau mereka harus melakukannya. Risma mengunggah foto tersebut di laman akunya dengan menambahkan keterangan ‘Proposal’


Risma saat itu menggunakan sebuah cincin yang terkesan baru saja dilamar oleh kekasihnya. belum sampai lima detik, akun dengan nama Toni itu langsung berkomentar.


“Meragukan. Tidak ada wanita yang mau menutupi jati diri kekasihnya kalau mereka memang saling mencintai. Hanya ada dua kemungkinan, pertama, laki-laki itu bisa jadi cuma pria bayaran atau yang kedua, kamu adalah simpanan pria beristri atau pejabat? Makanya kamu menutup wajah kekasihmu supaya istrinya tidak tahu.”


Komentar Toni tersebut seakan menghipnotis banyak pengguna lain hingga mereka ikut setuju dengan ucapan Toni.


“Sepertinya aku harus menutup akun ini.” Ucap Risma.


“Aku  rasa juga begitu. Dari pada kamu susah sendiri.”


“Maaf karena sudah banyak merepotkan kamu. Hanya saja, aku bermain ini untuk sekedar iseng buang-buang waktu. Aku tidak memiliki teman yang bisa aku ajak bicara. Teman-temanku sudah menikah semua dan setelah kita  bercerai. Mereka seakan menghindari aku karena aku selingkuh.” Risma tertundu lesu.


“Sudahlah. Semua sudah masa lalu. Aku tidak keberatan kita berteman. Dari dulu kita sudah berteman bahkan sebelum menikah. Bukankah tidak sulit untuk kembali memulai pertemanan kita?” sela Rendra.


“Aku tidak mau membuat masalah dalam rumah tanggamu. Apa kamu tidak takut jika nanti istrimu cemburu dan salah sangka pada kita?”


“Dia tahu aku dengan baik. Dia bukan orang yang mudah curiga dan berburuk sangka.”


“Terima kasih banyak, Ren. Benar kata temanku jika Cut sangat beruntung memiliki kamu. Aku adalah wanita paling bodoh di dunia ini. Melepas berlian lalu memilih kerikil.”


“Apa aku seindah itu sebagai suami dulu?” gurau Rendra.


“Ya, andai waktu bisa diulang. Aku tidak akan menukarmu dengan apapun.”


“Ada yang lucu. Apa kamu mau dengar?” tanya Risma menatap Rendra.


“Apa?”


“Pria selingkuhanku itu meninggalkanku untuk kembali pada pacarnya. Naas untuknya, tunangannya yang baru menyelesaikan sekolah di luar negeri justru tidak mau menerimanya lagi. Dan sekarang, mantan tunangannya itu sudah menikah dengan seorang dokter. Dan pria brengsek itu sama denganku. Kalah! Aku tidak bisa memilikinya dan aku juga kehilanganmu. Apa yang kami alami persis seperti sudah digariskan di jalan takdir.”


Rendra tersenyum getir, “Lalu bagaimana dengan mantan suami dari istrimu? Apa sudah ditemukan?” Rendra menggeleng pelan. “Kalau ditemukan juga tidak bisa kembali lagi bersama.”


“Iya. Semua sudah berjalan dan kita hanya bisa menikmati, ya kan?”


Kedua mantan suami istri itu pun akhirnya memilih pulang berhubung langit sudah mulai petang. Sementara di rumah, Cut sedang menyiapkan makanan untuk makan malam ditemani Anugrah yang sedang bermain. Wajah Cut tampak pias dengan sesekali menghapus jejak air matanya.


“Mamah…”


“Em, ada apa sayang?” tanya Cut seraya menyeka air matanya.


Cut menggendong Anugrah yang mengajaknya bermain bersama. Setelah mengucapkan salam, Rendra segera masuk dan melihat istrinya sedang memijit kening.


“Ada apa, Sayang?” tanya Rendra seraya membubuhkan satu kecupan di kening dan bibir sang istri.


“Entahlah, Pa. Mama merasa pusing saja entah kenapa. Padahal hari ini tidak terlalu panas.”

__ADS_1


“Apa itu tanda-tandanya, Sayang?” tanya Rendra antusias.


“Mama lagi datang bulan, Pa.” Seketika itu wajah Rendra langsung berubah pias.


Cut tahu jika suaminya berharap lebih tapi apa daya. Dia sudah berusaha bahkan ia rela meminum segala ramuan yang tidak jelas asal usulnya hanya untuk membuat mertua dan suaminya bahagia. Anak adalah rezeki sama seperti saat ia hamil Anugrah dulu. Siapa yang sangka jika ia akan mengandung dengan diagnosa dokter yang mengatakan jika rahimnya bermasalah. Namun, saat sang pencipta berkehendak. Tidak ada yang mustahil.


Cut menikmati hari-harinya kembali seiring dengan berjalannya waktu, pertumbuhan Anugrah semakin membuatnya leluasa bergerak. Seperti saat ini, dia akan menghadiri acara arisan bersama perkumpulan ibu-ibu persit di markas suaminya. Sementara Anugrah sudah lebih dulu diantar oleh Rendra ke rumah neneknya. Cut berbincang dengan sesama ibu-ibu persit sambil menunggu acara dimulai.


“Buk, kita foto-foto dulu ya!” mereka serentak berfoto ria dalam berbagai gaya.


“Ini mau saya pajang di akun pertemanan saya. Buk Rendra main di situ juga tidak?” tanya salah satu ibu persit yang paling aktif di dunia maya.


Cut menggeleng pelan, “Tidak sempat pegang hp, Buk. Anugrah lagi aktif-aktifnya.” Lirih Cut.


Mereka serempak memaklumi lalu, “Eh, ini bukannya mantan istri Pak Rendra?”


Bisik ibu tersebut pada salah satu teman di sampingnya. Sontak, mereka membulatkan mata lalu terjadilah kasak kusuk yang membuat Cut merasa tidak nyaman. Tatapan para ibu-ibu persit itu seolah mengatakan sesuatu.


“Ada apa ibu-ibu?” tanya Cut pelan.


Mereka serentak menggelengkan kepala. Sebagai perempuan, Cut dapat membaca gerakan dari mereka yang berada di sekelilingnya. Apalagi saat melihat rekan-rekannya yang lain juga ikut melihat ponsel mereka dengan tatapan aneh.


Cut langsung mengintip dan terlihat foto jari kelingkin pria dan wanita sedang terpaut dan ada sebuah cincin tersemat. “Itu namanya lucu ya? ‘Pak RW’” seloroh Cut.


Mereka tersenyum getir mendengar gurauan Cut tapi tatapan mereka jelas menampakkan sesuatu yang membuat Cut penasaran. Lalu Cut membuka aplikasi jejaring pertemanan itu dari ponsel miliknya. Cut mengetahui aplikasi itu dan dia juga mendaftar tapi dia tidak aktif para ibu-ibu yang lain. Dia membuka aplikasi itu saat sedang jenuh atau lelah. Tapi sangat bisa dihitung jari bahkan tidak mencapai sepuluh jari waktu yang digunakan oleh Cut untuk bermain di aplikasi tersebut. Cut tidak tertarik sama sekali tapi dia tahu cara bermain di sana.


Cut mengklik nama ‘Pak RW’ di akunnya lalu muncullah beranda sang pemilik akun. Foto profilnya adalah gelas kopi dan bendera. Cut masih merasa biasa saja lalu ia melihat ke bawah dan di sana lah ia melihat foto tautan jari kelingking. Dalam foto itu juga terdapat orang yang ditandai dan karena merasa mereka pasangan romantis. Cut langsung mengklik nama perempuan tersebut dan-


Deg…


Cut melihat mantan istri dari suaminya lalu dia mulai penasaran akhirnya membuka semua foto yang terdapat dalam galeri milik akun bernama Risma tersebut.


Cut membelalak. Ia seperti mengenal sosok dalam foto-foto tersebut lalu kembali membuka akun Pak RW. Memang tidak banyak foto di dalam sana tapi satu foto yang sama tersebut semakin membuat Cut linglung.


“Buk, Ibu baik-baik saja?” tanya salah satu ibu persit yang melihat gelagat tidak enak dari Cut.


“Ibu, yang tenang. Tarik nafas dalam-dalam, Buk.”


Mereka terus menenangkannya tapi hatinya masih sulit mencerna. “Apa yang dia lihat ini benar suaminya? Apa suaminya akan melakukan hal yang sama dengan yang Faisal lakukan?”


Sepanjang acara Cut sama sekali tidak peduli. Bayangan akan semua foto-foto yang ia lihat sangat mengganggu pikirannya hingga membuat ia ingin segera pulang ke rumah. Menjelang sore, acara arisan pun berakhir. Cut bergegas pulang ke rumah hingga ia tidak mendapati sosok sang suami di rumah. Dan ternyata, Rendra sedang berada di rumah orang tuanya untuk menjemput Anugrah.


“Iya, Sayang. Sudah selesai arisannya?” jawab Rendra saat Cut meneleponnya.


“Hai, Ren…”


***

__ADS_1


__ADS_2