
Ruang keluarga di kediaman Faisal mendadak ramai setelah Iskandar pulang dan saat ini mereka semua sedang berkumpul. Dalam kesempatan itu, Faisal memberikan kado pernikahan yang belum sempat mereka berikan.
“Bali?” tanya Iskandar begitu membuka amplop yang diberikan ayahnya.
“Kenapa, apa kamu tidak suka?”
“Suka. Terima kasih, Pa, Ma.”
“Karena aku masih dapat cuti jadi besok aku akan segera ke sana bersama Aisyah.” Ucap Iskandar tanpa menatap istrinya. Sementara Dita langsung menyikut pelan lengan Aisyah. “Kakakku sepertinya sudah tidak sabar untuk memakanmu.” Bisiknya di telinga Aisyah.
“Pa,-“ panggil Iskandar. Raut wajah Iskandar terlihat serius.
“Aku akan membawa Aisyah ke Aceh. Kami akan mengunjungi kuburan massal tepat di tanggal 26 ini.”
Faisal mengangguk, “Bolehkah Papa dan Mama ikut?”
“Kalau begitu, kita pulang saja semua ke sana. Nenek juga sudah merindukan rumah kita.”
“Buk, kalau sudah pulang jangan minta ke sini lagi ya!” ucap Kak Julie. Dia khawatir dengan kondisi orang tuanya yang sudah sepuh itu.
“Iya, Ibuk sama Bapak memang sudah berencana pulang ke rumah sendiri. Kami ingin menghabiskan sisa hidup kami di tanah kelahiran kita ya, Pak?” Pak Fahri mengangguk.
“Baiklah, kita akan berangkat ke Aceh setelah kalian pulang dari Bali.” Ucap Faisal.
“Ai, bersiaplah! Kita akan ke rumah Mama sebentar lagi.” Aisyah mengangguk patuh lalu berjalan menuju kamarnya.
Iskandar menyusul sang istri. “Kita tiga hari saja di sana jadi tidak perlu membawa banyak pakaian.” Aisyah mengangguk saja. Aisyah kembali mengingat bisikan Dita tadi, bulu kuduknya seketika meremang membayangkan malam pertama dirinya dan Iskandar.
“Pikirin apa?” Aisyah terkejut langsung menoleh ke samping saat menyadari Jika wajah Iskandar di sampingnya.
“Saya tanya, kamu sedang memikirkan apa?” Aisyah bisa merasakan nafas Iskandar di wajahnya hingga membuatnya tergagap.
“Sudah siap? Nanti keburu malam.” Ucap Iskandar menjauh dari tubuh istrinya. Aisyah mulai bimbang melihat sikap Iskandar padanya.
“Kenapa dia tidak menyentuhku?”
“Apa dia tidak ingin melakukannya denganku?”
“Kenapa aku jadi membayangkan itu?”
“Aisyah, ayo!” suara Iskandar membuyarkan lamunan Aisyah. Wanita itu bergegas menyusul suaminya yang sudah keluar lebih dulu. Selama perjalanan, Aisyah dan Iskandar tidak saling berbicara. Mereka sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing.
“Pernikahan seperti apa ini? Kenapa dia mendiamiku seperti ini?” Aisyah membatin.
__ADS_1
“Apa aku melakukan kesalahan?”
“Apa yang telah terjadi selama dia pergi? Apakah dia bertemu dengan gadis lain di sana?”
“Ya Rabbi, kenapa aku jadi berpikir yang buruk-buruk tentang dia?” Aisyah masih terus membatin hingga tidak menyadari jika mobil Iskandar sudah berhenti di halaman rumah mertuanya.
“Ayo, kenapa kamu melamun terus?”
Aisyah turun mengikuti langkah Iskandar memasuki rumahnya. Di sana mereka langsung disambut oleh mertua Aisyah yang tidak lain adalah Cut dan Rendra. Dika ikut menyapa bersama Anugrah, mereka terlihat akur.
“Apa kabar Kakak Ipar?” sapa Anugrah.
“Baik. Em, Wulan di mana?” Aisyah tidak tahu tentang perceraian Anugrah. “Kami sudah bercerai.” Jawab Anugrah tersenyuk kecil. Aisyah hanya menganggukkan kepala walaupun berbagai pertanyaan muncul dalam kepalanya.
“Kalian akan ke Bali? Kapan?” tanya Dika. Ia mengetahui itu dari orang tua Iskandar.
“Besok. Tidak lama, hanya tiga hari. Kenapa, kamu mau kembali bekerja?” tanya Iskandar menatap sahabatnya.
“Tidak, aku masih ingin menikmati liburanku.”
“Temui Dita, sepertinya dia butuh teman curhat setelah membuat keluarganya jantungan.” Saran Iskandar membuat mereka yang berada di sana meminta penjelasan. Lantas, Iskandar pun akhirnya menceritakan tentang kehebohan yang adiknya buat di hari pernikahannya.
“Drama kalian tidak habis-habis.” Sela Rendra.
Deg…
Aisyah mulai gelisah. “Drama apa lagi?” Anugrah ikut penasaran. Dika pun menceritakan apa yang terjadi di sana sampai saat alasan dua putri Abah menolak Ari dan Dwi lantaran menyukai dirinya dan Iskandar.
“Halal untuk pria menikahi lebih dari satu wanita. Dan itu juga yang menjadi alasan-“
“Jadi karena itu kamu mendiamiku, Mas? Kamu menikah lagi di sana lalu apa? Di mana perempuan itu? Dari tadi aku berpikir sangat keras kenapa kamu mendiamiku ternyata ini? Kamu sudah menikmati malam pertamamu dengan istri lain di sana jadi kamu bosan denganku?” Iskandar terkejut, terdiam menatap istrinya. Perkataanya tiba-tiba disela oleh Aisyah dan sekarang wanita itu justru menuduhnya telah berpoligami.
“Mas, aku tidak mentolerir poligami. Ceraikan aku sekarang juga!” Aisyah keluar dari rumah itu lalu dengan cepat ia mencari taksi namun sayangnya sebuah taksi hendak berhenti. Tangannya sudah lebih dulu ditarik oleh Iskandar.
“Mau kemana?” tanyanya dingin.
Air mata sudah membasahi pipi wanita itu. Ia sangat kecewa pada pria yang sudah menjadi suaminya. “Tega kamu, Mas. Apa salahku? Sudah bersandiwara di hari pernikah kita kini kamu dengan tenangnya berpoligami di belakangku. Kalau kamu tidak mencintaiku kenapa kamu menikahiku? Aku sudah tenang tanpa kamu tapi sekarang?” Iskandar menarik tangan Aisyah memasuki halaman rumahnya kembali. Ia tidak mau menjadi tontonan orang-orang sekitar karena bertengkar dengan Aisyah. Apalagi ada beberapa tetangganya yang ikut hadir sebagai tamu hari itu.
“Tenanglah! Nanti aku jelaskan.”
“Aku tidak perlu penjelasanmu lagi, Mas. Kamu benar dan aku tidak akan membantahmu tapi aku minta kamu menceraikanku.”
“Jangan harap!” Iskandar membawa Aisyah masuk ke dalam mobilnya lalu meminta izin untuk pamit pada orang tuanya karena harus pergi bulan madu secepatnya.
__ADS_1
“Hallo Kakaku ter-“
“Pergi ke kamarku lalu ambil tas ransel milikku sama koper hitam. Tunggu aku di depan rumah!” Aisyah menatap Iskandar.
Sebelum melajukan mobilnya, ia memesan tiket dan untungnya masih ada penerbangan ke Bali. Mobil berhenti tepat di depan pagar, Dita sudah menunggu dengan wajah kusut lalu menatap sinis sang kakak. Mau bikin anak saja pakai drama!” cibirnya lalu memberikan apa yang Iskandar minta.
“Kenapa kamu tidak membawa istri keduamu saja? Bukannya dia lebih istimewa dari pada aku?”
“Aku belum menikmati waktuku denganmu!”
Air mata Aisyah tidak berhenti mengalir membasahi pipi hingga lengan baju yang ia pakai sudah basah akibat ulah Iskandar. Hanya menunggu satu jam lebih di bandara sampai penerbangan menuju Bali tiba. Wajah Aisyah mengundang rasa penasaran beberapa orang yang melihatnya. Bagaimana tidak jika matanya sudah sembab dan tidak jarang air mata itu mengalir dengan sendirinya hingga menyita perhatian penumpang lain. Iskandar juga tidak berbuat apa-apa karena ia tahu Aisyah pasti akan berontak jika dia memberi perhatian.
“Mas, itu Mbaknya kenapa?” tanya salah satu ibu-ibu. Di segala situasi, kekuatan dan keberanian ibu-ibu memang patut diacungi jempol akibat jiwa penasaran yang mereka miliki.
“Tidak apa-apa, Buk. Dia hanya sedang sedih saja.” Jawab Iskandar seadanya.
“Tidak apa-apa kamu bilang, Mas? Istri mana yang sanggup menerima suaminya kawin lain? Kita baru menikah tiga hari dan belum juga melakukan malam pertama tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah menikahi wanita lain. Istri mana yang tidak akan sakit?” sontak pandangan para penumpang yang sedang menunggu di pintu keberangkatan menatap Iskandar dengan ujung mata mereka.
“Laki-laki memang begitu, Mbak. Gak pernah cukup satu istri.”
“Gak nyangka istri secantik itu masih nambah istri lain, kalau saya sudah saya kebiri itu senjatanya.”
“Hust, jangan urusi rumah tangga orang, Buk.” Sela suami dari ibu tersebut.
“Aaalaaahhh, kamu mau membela kaummu, Pak? Awas saja kalau kamu berbuat begitu, Ibu potong burungmu, Pak.”
“Kenapa gak dicerai saja sih, Mas? Kasihan tahu istri pertamanya.”
Dan berbagai sindiran terus Iskandar terima sampai keduanya memasuki pesawat. Para penumpang masih saja menyindirnya sampai kedatangan pramugari yang cantik menawan pun jadi pelampiasan para ibu-ibu.
“Pak, kamu jangan lihat-lihat Mbak-Mbak pramugari itu ya! Awas kamu kalau berani? Ibu sunat sekali lagi.”
“Mbak pramugari sudah cantik dan seksi, jangan mau ya kalau diajak nikah sama suami orang. Lihat saja Mbak itu, mereka baru menikah tiga hari dan belum berbulan madu tapi suaminya sudah menikah lagi. Suami macam apa itu?”
“Kalau cari suami jangan yang kaya benget sama tampan banget tapi cari yang setia banget. Itu baru betul.” Timpal salah satu penumpang.
“Sudah, Buk. Jangan dibahas lagi. Kita tidak tahu masalah mereka.” Sang suami dari ibu yang lain mencoba menengahi.
Sementara Iskandar harus mengetatkan rahangnya mendengar sindiran dan kata-kata pedas dari para ibu-ibu. Aisyah bahkan meminta penumpang laki-laki di sampingnya untuk mengganti tempat duduk. Ia tidak mau duduk di samping Iskandar.
“Lihat saja, Ai. Aku tidak akan melepasmu sampai di sana!”
***
__ADS_1
LIKE....KOMEN....