CUT

CUT
Perpisahan...


__ADS_3

Hari perpisahan kini datang juga. Anugrah mengantar Wulan menuju bandara di mana teman Iskandar si pemilik café sudah berada di sana menunggu mereka.


“Dan, titip Wula ya!”


“Sip!”


“Aku pergi dulu, A. Terima kasih!” ucap Wulan menatap manik mata idah milik pria yang selama ini sudah mendampinginya. Mereka berpelukan untuk terakhir kalinya sebelum Wulan memasuki pintu keberangkatan.


“Semoga sukses dan ingat semua yang aku katakan dan ajarkan!” Wulan mengangguk lemah lalu melangkah kakinya mengikuti Danu.


Selepas kepergian Wulan, Anugrah juga pergi meninggalkan bandara dengan hati dan perasaan hampa.


“Aku tidak menyangka akan melihatmu dengan pakaian seperti ini. Kamu terlihat lebih cantik dengan baju ini.” Ucap Danu di dalam pesawat.


“Aku memilih menutup auratku, Mas Danu. Dengan begini, aku merasa tenang saat jauh dari Anugrah.”


“Aku bingung dengan hubungan kalian. Kalian saling berjauhan bahkan sampai bercerai lalu saat ini kamu justru terlihat ingin menutup diri dari pria lain.”


Wulan hanya diam, dia tidak mau menjelaskan tentang hatinya pada teman dari mantan istrinya. Wulan memilih menutup mata, ia masih membayangkan saat Anugrah memberikan talak satu padanya setelah salat subuh tadi. Untuk pertama kalinya merek salat berdua dengan Anugrah sebagai imam. Jika suami istri lainnya mungkin akan mendapat ciuman sayang dari sang suami tapi Wulan justru mendapat talak satu dari Anugrah. Dadanya sakit, sesak hingga membuatnya sulit bernafas dalam beberapa detik. Mereka tertunduk beberapa detik sampai suara Anugrah kembali menginstruksi jika Wulan harus segera bersiap karena penerbangannya tidak lama lagi.


Di rumah dinasnya, Anugrah sudah membungkus semua pakaian milik Wulan dan miliknya dalam satu kardus. Ia juga sudah memanggil jasa angkut untuk membantunya pindah.


“Mau pindah ya, Om? Padahal baru sebentar tinggal di sini.” ucap salah satu ibu persit yang merupakan tetangganya.


“Iya, Buk. Saya permisi dulu.” Dalam sehari itu Anugrah sudah siap berpindah ke rumah orang tuanya kembali. Cut memeluk putranya begitu melihat Anugrah memasuki rumah.


“Sabar ya!” ucapnya.


“Ini yang terbaik, Ma.” Jawabnya.


Rendra datang lalu memeluk putranya bergantian dengan sang istri. “Terima kasih, Pa, Ma.” Rendra menepuk pundak anaknya beberapa kali.


“Aku ke kamar dulu.” Anugrah ingin menghindari tatapan kasihan dari orang tuanya. Ia tahu, orang tuanya pasti sedang mengasihininya saat ini. Tapi inilah yang terbaik untuk mereka. Truk yang mengangkut barang-barang Anugrah langsung menurunkan semua barang-barang itu ke dalam gudang di samping rumah. Cut menatap dua tempat tidur yang diturunkan dari atas truk. “Mereka bahkan tidur terpisah.” Ucap Cut pada suaminya.


“Sudah, Ma. Anugrah bisa melewati ini dengan baik seperti sebelumnya.” Rendra menenangkan sang istri yang sudah bermuram durja melihat rumah tangga putra bungsunya.


“Iskandar kapan pulang?” tanya Rendra mengalihkan pikiran sang istri.


“Katanya besok.”


“Pa, apa sedikitpun tidak ada cinta yang tumbuh di hati mereka? Bukannya cinta akan tumbuh karena terbiasa bersama? Apa lagi yang kurang dari kebersamaan mereka? Bahkan selama ini Anugrah tidak canggung membantu Wulan saat mandi dan mencuci celada dalamnya. Sekeras itukah hati keduanya, Pa?” air mata Cut luruh juga dan yang mampu Rendra lakukan adalah memeluknya.

__ADS_1


“Kita doakan saja, Ma. Hanya itu yang bisa kita lakukan sebagai orang tua.”


Sebuah mobil sedang melaju sedang membelah jalanan menuju kota. Dika mengambil alih kemudia sementara Iskandar duduk di sampingnya. Di jok tengah ada Ari sama Dwi sementara di belakang ada Reski dan Ana. Setelah perpisahan yang mengharu biru saat Ana berpamitan pada Abah dan Umminya kini gadis itu telah ceria seperti biasa.


“Maaf ini, tapi kita panggil istrimu dan istri Reski apa ya?” tanya Dika membuka percakapan.


“Panggil nama saja kalau untuk Aisyah.” Jawab Iskandar.


“Ki, gimana?” tanya Dika tanpa melirik spion.


“Aku juga sama. Kita kan seumuran, aneh saja kalau kalian memanggil istriku ‘Mbak’ atau ‘Kak’.”


“Em, sebenarnya ada yang membuatku penasaran dari kemarin dan ingin bertanya langsung pada istrimu, Ki.” Ucap Dika kembali.


“Kalau begitu tanyakan saja! Kenapa kamu sungkan begitu.”


“Em, sebenarnya kenapa dua saudara Ana menolak dijodohkan dengan Ari dan Dwi?” akhirnya pertanyaan itu lolos begitu saja. Dan saat Ana memberikan jawabannya, Dika tiba-tiba menepikan mobil secara mendadak.


“Kamu serius?” tanya Dika dan saat ini dia menatap ke belakang diikuti yang lain. Sekarang posisi Reski dan Ana seperti sedang tersangka. Ana mengangguk lemah seraya menunduk.


“Tapi sepertinya setelah melihat Mas-Mas menyanyi tadi, mereka jadi menyesal. Apalagi saat tahu kalau Mas Ari dan Mas Dwi lulusan Kairo dan sudah menjadi dosen. Lagi-lagi bola mata mereka terbuka lebar saat mendengar perkataan Ana.


“Abah tidak mengatakan pada kalian tentang kami sebelum mempertemukan kami dengan kalian?” kali ini Ari yang penasaran.


“Lalu kamu menerima Reski begitu saja? Bagaimana kalau dia gelandangan?” tanya Dwi.


“Ana yakin sama pilihan Abah. Orang tua tidak akan salah memilih suami untuk putrinya. Ini semacam firasat apalagi Mas Reski pernah menjadi murid Abah. Sama seperti firasat seorang istri jika suaminya selingkuh.” Ucap Ana melirik sang suami.


Ehem…


Mereka kembali membalikkan badannya setelah berdehem ria mengejek Reski. “Doakan ya semoga rumah tangga kita jauh dari ujian itu.” Ucap Reski lembut.


“Tapi para mahasiswi terlalu banyak yang mempesona, Ana.” Ucap Ari membuat Ana kembali menghujam tatapan penuh arti pada suaminya.


“Pak Iskandar bagaimana? Apa sudah ada kabar dari istri tercinta?” tanya Reski dari belakang.


“Ponselnya masih mati. Sepertinya, Anggia sudah menghasut Aisyah supaya membalas perbuatanku.” Jawab Iskandar membuat Ari sang kakak terkejut.


“Anggia, adikku? Memangnya apa yang dia lakukan?”


“Entah. Dia sempat berbisik pada Aisyah setelah menatapku dengan tatapan tidak suka.”

__ADS_1


Ari tertawa, “Adikku itu biar kecil tapi berbahaya, Is. Dan kalau jadi, dia juga akan menjadi sepupu iparmu.”


“Dia sudah tidak menyukaimu lagi, Is?” tanya Dwi yang mengetahui cinta sepihak Anggia untuk Iskandar.


“Bukan suka sebagai pasangan tapi nyaman sebagai kakak.” Jawab Iskandar.


“Dita apa kabar?” Reski akhirnya bersuara juga.


“Bro, di sini ada istri Reski. Jadi saling membuka aib.” Pinta Dika membuat mereka kompak tertawa. Dika langsung memutar lagu romantis untuk menghentikan aksi teman-temannya. Di saat mendengar lagu yang Dika putarkan, Reski langsung mengawali lagu berbahasa arab itu dengan suara merduanya di sambung dengan yang lain.


“Kalian mau pamer karena bisa bahasa Arab?” kesal Dika lalu ia menyambung bait dalam bahasa Indonesia.


“Denyut jantungku berdebar terasa indahnya dunia ini kita yang punya.”


Ana yang berada di samping sang suami terlihat bahagia melihat suaminya bernyanyi khusus padanya. “Para jomblo harap sabar karena jomblo itu prinsip.” Dwi mencibir aksi Reski di belakang. Walaupun mereka tidak melihat tapi tahu apa yang diperbuat temannya di belakang. Reski itu paling pintar menunjukkan sisi romantisnya. Teman-temannya sangat tahu bagaimana sifat sahabat mereka yang satu ini.


“Pesona Reski susah dilewatkan termasuk gadis bercadar seperti Uswatun Hasanah.” Sela Ari.


“Kalau dia tidak berteman dengan kita aku pastikan dia sekarang jadi playboy cap kapak.” Sahut Iskandar.


“Dari pada kamu, Is. Kalau kamu tidak berteman dengan kami aku yakin sekarang kamu sedang duduk di pojok sendiri.” sahut Reski setelah mengakhiri nyanyiannya. Lagi-lagi tanpa sadar mereka saling membuka aib di depan Ana.


“Is, aku pinjam mobil ya! Setelah ini aku harus berbelanja bahan rumah.” Pinta Reski.


“Oke. Turunkan saja aku di rumah Papa Faisal.” Pinta Iskandar pada Dika.


“Kamu gak mau turun? Selagi Dita di rumahku.” Tanya Iskandar saat menurunkan barang-barangnya.


“Pakaian aku di rumahmu Mamamu. Aku tidur di mess saja ya?”


“Terserah kamu. Aku masuk dulu!”


“Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam.” Iskandar menatap pagar rumah milik ayah kandungnya. Di dalam sana sudah ada wanita bergelar istri yang mungkin sedang menunggunya dengan berbagai emosi yang tertahan.


“Bimillah.”


***


Up jam 03.36....Vote, Like dan komennya guesss...

__ADS_1


Makasih


__ADS_2