
Hari berlalu berganti bulan setelah Cut menjalani pengobatan pergeseran letak rahim. Namun, sampai saat ini belum juga ada tanda-tanda jika itu berhasil. Hampir setiap malam mereka melakukan program hamil kecuali saat Cut sedang kedatangan tamu bulanan. Ibu Yetti selaku mertua sangat mendukung anak menantunya dalam menjalankan program kehamilan. Bahkan, beliau juga mengatur makanan sehat untuk Cut.
Selama dua bulan, mereka juga memeriksakan diri ke dokter kandungan dan hasilnya juga bagus tidak ada masalah sedikitpun. Selama itu pula, Risma selalu menempeli Ibu Yetti saat beliau berakhir pekan di rumah Rendra. Tidak ada yang bisa Cut lakukan karena Cut tidak menemukan alasan yang masuk akal untuk mengusir dia. Cut hanya memantau sejauh mana Risma mencoba mendekati suaminya. Seperti saat ini, Risma sedang membantu Ibu Yetti untuk menata makanan sehat yang beliau bawa dari rumah untuk Cut.
“Andai dulu Risma di posisi Cut. Apa Mama akan perhatian juga seperi ini?” canda Risma mengungkit masa lalunya.
“Mama akan berbuat yang sama bahkan lebih. Hanya saja kamu tidak cukup sabar menjadi istri Rendra. Tapi, ya sudahlah. Untuk apa mengingat kenangan buruk itu lagi. Kalian sudah bahagia dengan hidup masing-masing.” Balas Ibu Yetti.
Cut yang sedang duduk di sofa ditemani Rendra yang sedang bermain dengan Anugrah hanya tersenyum kecil. Ia merasa aneh dengan ibu mertuanya. Di satu sisi, ia seperti dipaksa untuk menjadi mesin penghasil cucu tapi di sisi lain. Ibu mertuanya seperti tidak berniat untuk mendekatkan kembali Rendra dan Risma. Ini terbukti dari setiap kata atau sikapnya saat bersama dengan Risma di kediaman mereka.
Rendra juga terlihat menjaga jarak dan sikapnya dalam menghadapi Risma di depan Cut. Perhatian yang diberikan oleh sang ibu mertua membuat Cut dilanda kebingungan. Tapi dia tetap bertahan dan mencoba bersabar dengan semua yang pernah diperlakukan oleh ibu mertuanya.
“Ma, kalau semua usaha sudah dilakukan terus Cut belum juga hamil. Apa yang akan Mama lakukan?” tanya Risma saat mereka di perjalanan pulang dari kediaman Cut.
Ibu Yetti kerap menghabiskan waktu akhir pekan dengan Risma karena kehadiran Risma sedikit mengobati rasa kangen dan kesepiannya karena Reni sudah tingga bersama suaminya di Aceh. Sementara, Riko justru sibuk dengan pekerjaannya di luar kota bahkan sudah lama Riko tidak pernah pulang ke rumah. Hanya Risma satu-satunya pilihan yang tersedia untuk diajak kemana saja.
Ibu Yetti menghirup oksigen dalam-dalam. Pertanyaan Risma sedikit mengganggunya. Selama ini, beliau sangat menginginkan tambahan cucu dari Cut.
“Apa Mama akan menyuruh Rendra menikah lagi?”
“Ya mana bisa. Tentara mana bisa beristri dua. Kamu seperti tidak tahu saja aturan militer.”
“Lalu, Mama akan melakukan apa untuk mendapatkan cucu lagi?”
“Ya tidak tahu. Mama belum memikirkannya.”
“Suruh kawin siri aja, kan tidak ketahuan oleh negara.”
“Jangan ngawur kamu! Bisa-bisa Papa ngamuk kalau Rendra berbuat itu. Lagian, Mama ingin cucu Mama lahir dari rahim Cut karena walau Cut dari kampung dan cacat tapi hasilnya terbaik. Teman-teman Mama saja selalu memuji Anugrah karena wajahnya sangat berbeda. Dia mirip Rendra tapi hidung, bibir bahkan matanya sangat berbeda. Dia mengikuti perpaduan kedua wajahnya orang tuanya. Bayangin saja kalau istri Rendra orang satu suku. Wajahnya pasti tidak beda jauh, kalau tidak ibunya ya pasti ayahnya. Nah, ini. Wajahnya benar-benar berbeda.”
“Bisa jadi itu bukan anak Rendra!”
“Tambah ngawur kamu. Jelas-jelas dia mirip Rendra, hanya saja dalam bentuk istimewa.”
“Kira-kira kalau dulu aku sempat hamil dan melahirkan anak Rendra, seperti apa ya wajahnya?”
“Pasti berbeda karena orang tuamu menikah dengan suku yang berbeda. Hasilnya ya seperti kamu.”
__ADS_1
Perbincangan antara sesama mantan itu itupun berakhir ketika mobil berhenti di rumah kontrakan milik Risma. Mobil yang dikendarai oleh supir itu kembali melaju menuju kediaman sang majikan.
Waktu berjalan begitu cepat hingga tidak terasa sudah setahun Cut belum kunjung hamil. Hari ini mereka kembali menjenguk Iskandar di pesantren. Kalau merajuk pada jadwal pembelajaran di pondok, seharusnya Iskandar bisa pulang saat libur sekolah atau libur tahun ajaran baru. Tapi, dia bersama keempat temannya kompak ingin menetap di pesantren karena tujuan mereka satu. Yaitu melanjutkan pendidikan ke Yaman setelah menghabiskan waktu tiga tahun lagi di sini.
Hari ini adalah hari kelulusan untuk mereka. Banyak keluarga datang untuk menghadiri acara kelulusan mereka. Dari semua teman-temannya hanya keluarga Ari dan dirinya sendiri yang datang ke acara istimewa ini. Dwi, Reski dan Dika terlihat sedih walau mencoba menutupi dengan candaan receh mereka.
“Jangan sedih! Masih ada kami. Kami kan keluarga kalian juga.” Ucap Ari diangguki Iskandar.
“Benar kata Ari, bahkan kita lebih dekat dari pada adik mereka sendiri. Lihat saja sikap Iskandar, sudah besar masih saja cemburu sama adiknya
Cut dan Rendra berkenalan dengan keluarga Ari yang menurut Cut sangat harmonis. Ia juga gemas melihat adik Ari yang kembar tiga. Mereka bermain bersama dan mengajak adik-adik Ari dan Anugrah untuk bermain di lapangan.
“Apa Ibu berniat melanjutkan di sini setelah lulus?” tanya Ibunya Ari pada Cut.
“Iskandar bilang dia pengen lanjut saya mengikuti saja karena memang itu baik untuknya nanti.”
“Iya, Ari juga tidak mau keluar pondok. Dia mau mengikuti teman-temannya. Dia bahkan mengikuti teman-temannya sepakat untuk menetap di pesantren walapun libur panjang.”
“Syukurlah karena mereka bisa berteman dengan baik. Saya juga senang karena mereka selalu akur padahal sebelumnya Iskandar suka sekali berkelahi.”
“Iskandar itu putra sambung saya. Status ayahnya tidak jelas antara hilang atau sudah meninggal karena tidak ditemukan mayat. Mas tahu sendiri bagaimana mayat-mayat korban tsunami itu. sebagian malah tidak dikenali. Jadi, kami menganggapnya sudah meninggal.”
“Iya, saya melihat berita itu. Anak sambung atau anak kandung yang penting kita ikhlas merawat dan menjaganya. Insya Allah tidak ada masalah untuk itu. apalagi jika Iskandar telah menjadi yatim, maka pahala kita jauh lebih banyak karena merawatnya.”
“Iya, Mas.
Setelah acara kelulusan, mereka yang tetap melanjutkan pendidikan akan tetap berada di sana. Satu hal yang tidak mereka ketahui adalah ketika seorang santri datang memanggil Dika ke ruang ustad. Dika yang sedang bercanda bersama teman dan adik-adik dari Ari dan Iskandar mengikuti santri tersebut. Dika dibuat terkejut saat mengetahui siapa yang berada di ruangan pak ustad.
“Nak, masuklah!”
Dengan ragu, Dika memasuki ruang ustad lalu duduk berhadapan dengan ayahnya.
“Dika, bagaimana adab bertemu orang tua?” tanya lembut Pak Ustad.
Dika mengambil tangan ayahnya lalu mencium sekilas.
“Nak, ayahmu datang kemari untuk mengabarkan jika beliau akan menjemputmu. Ayahmu mengatakan jika kamu akan melanjutkan sekolah negeri di daerah rumahmu. Ustad senang dengan kemajuan kamu dan Ustad harap, kamu akan tetap mengamalkan hal-hal baik yang telah kamu terima selama di sini. Dengan bekal ilmu yang sudah kamu pelajari, baik dunia maupun akhirat. Insya Allah, kamu akan terjaga dari segala perbuatan maksiat. Memohonlah pada Allah jika kamu sedang dalam masalah. Allah tidak pernah meninggalkan hambanya. Apalagi hamba yang saleh seperti kamu. Insya Allah.”
__ADS_1
“Dika tidak mau pulang, Ustad” lirih Dika seraya menunduk.
Ia sangat takut dengan ayahnya. Bagi Dika, ayahnya adalah setan berwujud manusia.
“Maafkan kami, Nak. Kami juga tidak bisa menahanmu lebih lama di sini walaupun ingin. Karena kamu adalah tanggung jawab ayahmu. Ayahmu yang berhak memustuskan apakah kamu bisa tinggal atau harus pulang.”
“Saya minta maaf, Pak Ustad. Tapi kami sudah tidak punya biaya untuk menyekolahkan dia di sini. Kalau di sekolah negeri gratis dan untuk jajannya dia bisa cari sendiri. Ibunya sudah sakit-sakitan untuk bekerja, jadi kami tidak sanggup lagi membayar uang kalau dia tetap meminta untuk tinggal di sini.”
Hari itu, kelima sekawan harus merelakan kepergian sahabat serta saudara mereka yang bernama Dika. Mereka melepas kepergian Dika dengan air mata bahkan Ari sampai meminta pada ayahnya untuk membantu Dika supaya tetap mondok tapi apa daya. Ayah Dika memang tidak berniat untuk mengizinkan anaknya lebih lama di sini.
“Saya menghargai niat baik ibu dan bapak. Tapi, Dika adalah anak saya dan tidak ada yang boleh ikut campur urusan keluarga kami.”
Begitulah kata-kata yang keluar dari mulut ayah Dika saat Papa Ari mencoba menahan ayah Dika. Papa Ari hanya bisa menggeleng pelan menatap sang putra yang sedang menangis karena ditinggal sahabatnya.
“Jangan sedih. Ingat, kita saudara till jannah, bukan? Kalian belajar yang rajin dan ajak aku bersama kalian ke surga nantinya.”
Mereka berpelukan erat seakan itu adalah pelukan terakhir. Tapi nyatanya itu memang pelukan terakhir karena setelah itu mereka akan berpisah selamanya.
“Semoga, di masa depan kita akan bertemu lagi. Jangan sombong kalau nanti ketemu aku, ya!” ucap Dika melepas rangkulan teman-temannya.
“Dika!” panggil Iskandar dan Ari berbarengan.
“Ini!”
Mereka menyerahkan satu kantong plastik camilan yang sangat disukai oleh Dika. Camilan itu adalah camilan yang sering dibawa oleh orang tua Ari dan Iskandar. Dan setiap mereka membuka kotak camilan, Dika akan mengambil camilan tersebut.
Cuaca yang cerah nyatanya berbanding terbalik dengan kelima sahabat yang sedang berdiri di bawah awan mendung dan gelap. Binar bahagia yang sempat terpancar dari wajah mereka mendadak hilang berganti kabut tebal yang hitam. Ari meraung dalam dekapan ibunya sedangkan Iskandar menangis dalam pelukan Reski dan Dwi menatap punggung Dika hingga sosok itu menghilang seiring berjalannya mobil yang ia naiki.
Tidak ada tawa canda, yang ada hanya kesedihan hingga satu persatu orang tua santri meninggalkan pondok karena hari sudah sore. Begitu juga dengan Cut dan Mama Ari.
Di dalam bilik itu kini tinggal mereka berempat yang sedang memandang foto masing-masing. Foto saat Cut dan Rendra mengunjungi Iskandar. Saat itu juga, Rendra memotret mereka berlima lalu setelah itu mencetaknya sebanyak enam lembar. Rendra mengambil satu lembar foto itu untuk di masukkan dalam album lalu lima foto lagi, ia kirim untuk mereka.
“Apa kita bisa bertemu lagi dengan Dika setelah ini?”
***
__ADS_1