CUT

CUT
Suami Tercinta...


__ADS_3

“Kita sedang tidak bermain rumah-rumahan, Nak. Jika Rendra siap melamarmu berarti dia juga sudah siap dengan keluarganya. Kamu hanya menunggu dan jangan berpikir terlalu jauh. Biarkan Rendra menyelesaikannya.”


Cut mengangguk lemah, “Lalu, Iskandar bagaimana?”


“Biar itu menjadi urusan kami para orang tua. Tenangkan dirimu dan jangan sampai stress.”


Cut mencoba menenangkan hatinya walaupun sesekali ia tetap merasa bimbang. Hari kepulangan Rendra akhirnya tiba juga. Keluarga Mak Cek Siti ikut mengantar saat acara perpisahan di lapangan yang tidak jauh dari rumah mereka.


Rendra berlari kecil seraya tersenyum mendekati keluarga barunya. Pak Cek Amir menyambut hangat lalu mengulurkan tangan sebagai tanda perpisahan. Rendra menyalami satu persatu keluarga barunya hingga yang terakhir adalah tangan sang pemilik hati. Saat keduanya berjabat tangan, Rendra dengan sengaja membalikkan tangan Cut hingga terlihatlah cincin pertunangan mereka. Rendra sengaja memasang cincin pertunangan mereka di tangan sebelah kanan karena menurutnya tangan kanan adalah simbol keberkahan.


Rendra tersenyum suringah ketika memandang cincin tersebut lalu bergantian menatap manik hitam sang wanita, “Jaga ini sampai saya datang. Dan doakan semoga perjuangan saya kali ini membuahkan hasil seperti yang kita harapkan.”


Cut mengangguk kecil, “Hati-hati!”


Rendra mengernyit, “Hanya itu?”


“Jangan lupa salat!” ucap Cut kembali.


“Lalu?” tanya Rendra kembali.


“Saya tidak tahu harus berkata apa lagi,” cicit Cut.


“Saya sayang kamu!”


Cut terkesiap, “Tunggu saya ya!” pinta Rendra kembali yang diangguki oleh Cut.


Mereka berbincang cukup lama. Rendra sendiri lebih memilih bermain dengan Iskandar dari pada bersama Cut. Rendra sadar jika ia harus sedikit bersabar untuk mendapatkan seluruh hati dan pikiran Cut. Dia tidak mau memaksa Cut untuk mengungkap perasaannya saat ini. biarlah waktu yang akan membuat Cut menyadari perasaannya.


 


***


Sebulan kemudian…


“Assalamualaikum,”


“Walaikumsalam,”


“Buk, ada paket atas nama Cut Zulaikha.”


“Paket? Dari siapa, Pak?” tanya Cut pada tukang pos yang sudah memegang sebuah kotak berukuran sedang di tangannya.

__ADS_1


“Di sini tertulis nama Rendra Wicaksono, Buk.”


Petugas pos tersebut memberikan paket lalu meminta Cut untuk membubuhkan tanda tangan. Cut membawa masuk paket tersebut lalu membukanya di depan Mak Cek Siti. Isi kotak tersebut beragam, mulai dari Hp, buku juga novel serta ada pakaian untuk Iskandar.


“Wah, ternyata dia hanya ingat sama Iskandar dari pada kamu,” ledek Mak Cek Siti.


Cut membuka Hp tersebut dan ternyata sudah ada kartu di dalamnya. Ia ingat jika Hp ini sama seperti yang dia miliki sebelum tsunami. Walaupun masih jarang, tapi dia memiliki mertua dan suami yang cukup mampu untuk membelikannya Hp saat itu. Cut membuka kontak dan hanya satu nama yang ada di dalamnya, ‘Suami Tercinta’


Cut membuka kotak pesan lalu melihat ada beberapa pesan yang sudah masuk ke ponsel tersebut.


“Telepon saya jika barangnya sudah sampai. Kalau malu, kirim pesan saja!”


Cut langsung membalas, “Barangnya sudah sampai, terima kasih.”


Dreet…..


Nama ‘Suami Tercinta’ langsung muncul di layar Hp dan sedikit membuat Cut terkejut.


“Hallo, Assalamualaikum.” Sapa Cut pelan.


“Walaikumsalam, Sayang. Apa kabar? Sudah satu bulan kita tidak bicara dan berkirim surat. Ah, saya sangat merindukan kamu, Cut Zulaikha. Maaf ya, karena baru bisa mengirim sekarang karena setelah sampai dari sana, saya langsung mengurus pengajuan kita dan mungkin sebentar lagi akan datang surat-surat ke sana. Setelah itu semua beras, saya dan keluarga akan datang ke Aceh untuk melamar kamu. Tunggu sebentar lagi ya!”


Cut menghela nafasnya saat mendengar penuturan panjang lebar dari Rendra. Pria itu membuatnya geleng-geleng kepala.


“Saya dengar dengan baik, Bang.”


“Lalu kenapa kamu diam saja?”


“Saya sedang mendengar Abang bicara.”


“Oh iya, saking bahagianya. Saya sampai berlebihan begini. Maaf ya?”


Pembicaraan keduanya berangsung tanpa sadar suara bib dari sisitem memutuskan langsung saluran telepon membuat Cut tersenyum kecil. “Kamu bicara sampai tidak sadar pulsamu habis.”


Waktu berjalan tanpa terasa semua persyaratan pengajuan nikahnya disetujui oleh kantor dan sudah dikirim ke Aceh. Malam ini, Rendra sudah mantap dengan memakai kaos dan celana jeansnya dia melajukan mobil menuju rumah orang tua yang sudah lama tidak ia kunjungi. Bahkan, setelah tugasnya dari Aceh selesai, dia belum pernah ke sana untuk menemui kedua orang tuanya walaupun mereka selalu menyuruhnya pulang. Tapi, malam ini dia harus ke sena. Tekadnya sudah kuat bahkan jika kedua orang tuanya akan menantang rencana pernikahannya. Dia tidak akan peduli dan tetap akan menikahi Cut.


“Masih ingat jalan pulang, Kak?”


Ucap Reni ketika membuka pintu untuk kakaknya. “Rindu ya?”


“Gerrr…”

__ADS_1


Rendra mengikuti adiknya yang sudah berjalan lebih dulu. Orang tua serta kedua adik kembarnya sudah berkumpul karena waktunya makan malam. Sebelum ke sana, Rendra sudah lebih dulu bertanya tentang keberadaan kedua orang tuanya pada Reni. Selama ini, Reni selalu menjadi mata-mata untuk kakaknya. Tentu saja itu tidak gratis.


Ibu Yetti menyambut hangat sang putra sementara sang ayah terlihat biasa walaupun Rendra tahu jika ayahnya sangat memperhatikannya dengan cara yang berbeda. Rendra memeluk ayahnya sekilas, “Apa kabar, Pa?”


“Seperti yang kamu lihat saat ini,” jawab sang papa.


Rendra menepuk bahu adik laki-lakinya sekilas lalu menarik kursi di samping Riko.


“Kenapa tidak bilang mau pulang? Tahu begitu, Mama akan masakin makanan kesukaan kamu.”


“Ini saja sudah cukup, Ma. Setelah makan, minta waktu Papa sama Mama sebentar ya? Ada yang mau disampaikan.”


“Apa itu?” tanya Ibu Yetti antusias.


“Setelah makan, Ma.” Sela Reni yang jengah dengan sikap ingin tahu ibunya.


Makan malam keluarga Wicaksono berlangsung tenang. Semua menikmati makan dengan pikiran masing-masing. Tidaka da yang bersuara hanya suara sendok yang terus terdengar.


“Bagaimana kondisi pasca gempa dan tsunami di sana?” Bapak Wicaksono membuka pembicaraan setelah menyelesaikan makan malam.


Reni dan Riko sudah lebih dulu diusir oleh ibunya karena mereka dianggap masih kecil dan tidak pantas mendengar pembicaraan orang dewasa. Bukan Reni namanya jika tidak menurunkan sifat ingin tahu dari mamanya. Diam-diam, dia menguping pembicaraan mereka dan saudara kembarnya juga turut mencuri dengar di samping Reni.


“Aku kemari mau minta Papa dan Mama untuk melamar seorang wanita”


“Apa? Kamu mau menikah? Sama siapa? Anak mana?”


“Ma, tenanglah!” sela sang papa.


“Apa aman bepergian ke Aceh saat ini?”


Deg…


Pertanyaan dari sang papa membuat Rendra dan mamanya terkejut sekaligus bingung. “Bagaimana papanya bisa tahu?” batin Rendra.


“Maksud Papa apa?” tanya Ibu Yetti pada sang suami.


“Apa dugaan Papa tepat?”


“Tepat, Pa. Sangat tepat.”


***

__ADS_1


 


__ADS_2