
Jika sebelumnya aku menanggapi dengan santai setiap pinangan dari berbagai lelaki. Kini, keadaan sepertinya tidak berpihak kepadaku. Abu dan Umi yang sebelumnya juga tidak pernah membicarakan semua lamaran yang pernah datang kini mereka juga seperti tersudut oleh keadaan.
Tali persaudaraan yang mengikat antara Abu melalui Pak Cek Amir yang memperistri Mak Cek Siti menjadi dasar alasan untuk lebih merekatkan hubungan itu dengan menikahkanku dengan Faisal.
“Saat ini dia masih berada di Medan untuk menyelesaikan beberapa urusan di kampus juga ingin menikmati waktu libur setelah lulus kuliah bersama teman-temannya dulu sebelum mereka berpisah. Teman-temannya berasal dari berbagai daerah di Sumatra jadi setelah ini akan susah untuk bertemu satu sama lain. Tapi, dia sudah melihat foto kamu dan menerima kamu untuk menjadi istrinya.”
“Mak Cek bilang juga apa, dia itu anak bungsu yang sangat penurut. Berbeda dengan kedua saudaranya. Makanya, dia sangat di sayang oleh kedua orang tuanya.” Tambah Mak Cek Siti.
“Siti, Abang bukannya tidak suka dengan perjodohan ini. Tapi, kamu tahu sendiri Khalid masih mengawasi Cut sampai sekarang.” ucap Abu.
“Cut bilang, dia hanya meminta Cut supaya tidak menikah dengan tentara. Berarti sama Faisal boleh karena dia bukan tentara.”
“Apa tidak sebaiknya kita mempertemukan mereka lebih dulu?” usul Umi.
“Faisal sudah melihat Cut lewat foto. Sedangkan Bang Fahri dan Kak Murni memang sudah pernah bertemu dengan Cut dan mereka juga setuju.” jawab Mak Cek Siti penuh keyakinan.
“Kami pikirkan dulu, Siti. Berilah waktu seminggu untuk kami memikirkannya, ya?” pinta Abu.
“Baiklah, Bang. Siti mengerti. Ya sudah kalau begitu, kami pulang dulu.” ucap Mak Cek Siti.
Selepas kepergian mereka, aku melihat Abu menghela nafas lalu menatapku. Aku yakin mereka merasa terbeban dengan pinangan ini. Rasa tidak enak karena rasa kekeluargaan dan di sisi yang lain. Walaupun kedua orang tuaku menikah karena dijodohkan tapi mereka tidak pernah memiliki pemikiran serupa terhadapku.
Banyak orang tua yang mengenal Abu atau Umi yang meminta untuk menjodohkanku dengan putra-putra mereka tapi selalu Abu dan Umi tolak dengan halus dan bijak. Semua itu Abu dan Umi lakukan untuk kebahagiaanku semata.
Aku tidak tahu apa yang mendasari mereka seperti itu tapi satu hal yang pernah mereka katakan bahwa pernikahan itu harus didasari oleh rasa sayang dan rasa sayang itu timbul jika kita mengenal satu sama lain.
Sebelum Abu menikahi Umi, mereka berdua sudah sama-sama kenal. Mereka satu permainan bahkan satu pengajian. Rasa sayang sudah tumbuh saat mereka masih berteman sehingga ketika mereka dijodohkan. Dengan senang hati keduanya menerima dan menjalani pernikahan dalam suka dan duka bersama sampai sekarang.
__ADS_1
Bukan seperti ini. Dijodohkan dengan laki-laki yang belum dikenal lalu menikahi dan menjalani rumah tangga dengan karakter pasangan yang baru ketahuan setelahnya. Aku rasa proses perjodohan seperti ini sungguh berat.
“Cut, pikirkanlah baik-baik! Jangan lupa istikharah. Minta petunjuk sama Allah.” ucap Abu sebelum memasuki kamarnya.
Seperti yang Abu suruh, aku melaksanakan salat istikharah berharap mendapat petunjuk untuk perjodohan ini.
“Ya Allah yang maha mendengar lagi maha mengetahui. Berikanlah petunjuk-Mu kepada hamba mengenai pinangan ini. Hanya pada-Mu tempat hamba memasrahkan hidup dan mati serta laki-laki yang akan menjadi jodoh hamba. Ya Allah berikanlah petunjuk-Mu serta pertemukanlah hamba dengan jodoh terbaik yang Engkau berikan untukku. Aminnn...”
***
POV Author...
Seorang laki-laki terbangun dari mimpi dengan cucuran keringat di seluruh tubuhnya.
“Cut!!!”
“Mimpi buruk?” tanya Wahyu yang baru memasuki kamp.
“Entah. Samar-samar dan terdengar seperti suara Cut.” jawab Rendra.
“Perasaan rindumu terlalu besar sampai kamu memimpikannya. Jangan begitu, ingat Risma. Dia juga merindukanmu.”
“Aku tidak bisa mengendalikan mimpi, Yu.”
“Ya...ya... mungkin dia juga sedang merindukanmu.” ucap Wahyu kembali.
“Entah. Aku berharap dia baik-baik saja. Mungkin dia sudah bahagia dengan pria lain.”
__ADS_1
“Sama! Kamu juga sudah bahagia dengan gadis lain.” sindir Wahyu.
Rendra menatap cincin di jarinya. Cincin pertunangannya dengan Risma yang sudah berjalan selama dua bulan. Gadis itu berhasil memikat hatinya yang galau dirundung kesedihan. Kehadiran Risma berhasil mengisi kekosongan hatinya setelah kembali dari Aceh setelah kehilangan Cut kembali.
Kesabaran Risma berhasil meluluhkannya sehingga ia memutuskan untuk bertunangan dua bulan lalu. Hampir setahun keduanya dekat sebelum memutuskan untuk melamar Risma. Selama kedekatan itu juga sosok Cut secara perlahan hilang digantikan oleh Risma.
Risma yang lembut, penyayang dan selalu tersenyum hangat menjadikannya sandaran yang sangat dibutuhkan oleh Rendra dalam menghadapi masa-masa sulitnya setelah kembali dari Aceh.
Risma dengan sabar menemani serta mendengar semua ceritanya tentang Cut. Pelan-pelan ia mulai membangun kembali semangat Rendra sampai akhirnya berita kepulangan Cut disiarkan di televisi.
Risma bahagia saat mengetahui bahwa Cut sudah kembali dan dia mendukung Rendra untuk menemui Cut kembali di Aceh. Namun, ketika hatinya ingin kembali menemui Cut. Ia disadarkan oleh orang-orang sekitarnya tentang sosok Risma yang selama ini mendampinginya. Sosok yang selama ini memberi dukungan serta menemaninya dikala susah.
“Jika kamu tidak ingin menyakitinya kenapa kamu memberi harapan? Apa kamu pikir dia boneka yang bisa kamu pakai sesuka hati? Rendra! Ayah tidak mendidik kamu menjadi laki-laki pecundang.” ungkapan kemarahan Bapak Wicaksono begitu mengetahui putranya akan kembali ke Aceh untuk menemui gadis lain setelah menyakiti hati gadis lainnya.
“Ibu yakin kalau gadis Aceh itu tahu apa yang sudah kamu perbuat sama Risma, dia juga akan menolak kamu dan mengusir kamu dari daerahnya.” lanjut Ibu Yetti.
Kedua orang tua tersebut meninggalkan putra mereka dengan amarah yang amat besar. “Benar kata Ibu. Kalau aku jadi Cut pasti akan aku tolak mentah-mentah laki-laki seperti Kakak.” duo kembar ikut-ikutan berpendapat.
Rendra melangkah memasuki kamarnya dengan perasaan campur aduk. Dia merenungi semua yang terjadi antara mereka lalu meminta pendapat dari beberapa orang teman yang selama ini mengetahui bagaimana perjalanan hubungannya baik dengan Cut atau dengan Risma.
“Sudahlah, Dan! Saya yakin orang tua Cut pasti akan melarang Komandan menemui putri lagi mengingat kejadian penculikan dia terjadi karena kehadiran komandan waktu itu.” saran seorang bawahan Rendra yang dulu menjadi pengambil foto-foto mereka saat di rumah sakit.
“Ia Dan! Hubungan Komandan sama Cut justru memperburuk kondisi keluarga dia di sana. Komandan tahu sendiri jika para pemberontak akan menyerang keluarga yang menikahkan anak gadisnya dengan tentara. Berapa banyak gadis Aceh yang harus menikah di luar Aceh dengan para tentara.” ucap bawahan yang lain.
Kedua bawahan Rendra yang menjadi saksi manis ungkapan perasaan Rendra pada Cut saat di rumah sakit dan dalam perjalanan menuju desa Sagoe bersama Rendra kecil.
***
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...
__ADS_1