
Matahari mulai redup, suasana di rumah Bapak Fahri tidak seperti biasanya. Semua orang betah berada di kamar masing-masing dengan perasaan berkecamuk. Bang Adi sendiri sedang mengompres wajahnya dengan es batu setelah perkelahian mereka tadi siang.
Ibu Murni bersama Pak Fahri juga sedang mendiskusikan kelanjutan pernikahan sang putra bersama Kak Julie. Di sinilah, mereka tahu apa yang terjadi dengan Faisal di Medan saat kuliah.
“Kenapa kamu tidak mengatakan pada kami? Ini semua juga salahmu, Julie. Kalau kamu mengatakan semuanya tentu kami tahu harus berbuat apa.”
“Kenapa Ibuk menyalahkan aku? Kami punya prinsip untuk tidak mencampuri urusan priadi masing-masing.”
“Tapi kalian ini bersaudara kandung dan itu bukan mencampuri melainkan saling menjaga dan mengingatkan. Jadi, kalau saudara kalian berbuat salah maka tugas kalian adalah menasehatinya bukan melihat dan diam saja.”
Ibu Murni mengelusa dadanya mendengar semua apa yang dikatakan oleh Julie tentang Faisal sewaktu kuliah di Medan. Ibu Murni tidak menyangka jika sang putra yang terkenal penurut ternyata membuat banyak pelanggaran.
“Bukan Julie yang salah tapi kita. Kita yang tidak membekali anak-anak dengan agama yang kuat serta terlalu percaya pada mereka hingga kita melepas mereka di perantauan tanpa pengawasan. Sudahlah! Jika ini yang Cut inginkan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau Julie dibegitukan oleh suaminya, Bapak juga akan menyuruhnya untuk bercerai. Kepercayaan itu mahal, Buk. Dan Fais telah gagal menjadi seorang ayah dan suami. Istirahatlah, setelah magrib kita akan bicara lagi dengan Cut.”
“Tapi, Pak.”
Ibu Murni tidak lagi melanjutkan protesnya saat melihat sang suami menggelengkan kepala. Saat kepala keluarga yang lebih tua mengambil sikap maka akan sulit untuk merubahnya.
Sementara di kamar Cut, Faisal duduk di depan yang Cut yan tengah menyusui Iskandar. Jika sebelumnya ia akan mengganggu sang putra tapi melihat wajah sang istri dengan sikap dinginnya membuat Faisal segan. Sudah tidak terhitung kata maaf yang keluar dari mulutnya namun tidak sekalipun Cut menjawabnya. Cut diam dengan tatapan kosong menatap sang suami.
Semua anggota keluarga kembali berkumpul sesuai perintah Bapak Fahri. Di ruang keluarga yang tadi basah oleh siraman air, Bapak Fahri memberikan keputusannya.
“Bapak akan bertanya sekali lagi, Cut apa kamu benar-benar ingin bercerai dengan Faisal? Pikirkan baik-baik sebelum menjawab karena penyesalan itu selalu datang terlambat.”
“Insya Allah saya tidak akan menyesal, Pak. Ya saya mau bercerai dengan Bang Faisal.”
“Baiklah kalau begitu, Bapak sudah mencoba membujuk kamu tapi semua kembali lagi ke kamu karena pernikahan ini kamu yang jalani. Faisal berikan talak satu pada Cut! Lusa, Bapak akan urus perceraian kalian di pengadilan.”
“Pak…-“
Sebelah tangan Pak Fahri terangkat, “Kamu tidak bisa memaksa wanita yang sudah kamu sakiti untuk terus menjadi istrimu. Harusnya kamu sadar saat melakukan zina di belakang dia. Jadi jangan protes sekarang.”
“Tapi, Pak. Kenapa harus sampai pengadilan? Cut kan Cuma minta secara agama. Bapak kan tahu kalau sampai ke pengadilan, seluruh komplek akan tahu anak kita bercerai.” Ibu Murni mulai gelisah.
__ADS_1
“Buk, Cut berhak mendapatkan laki-laki lain diluar sana yang lebih setia dari anak kita. Bapak ingin menyelesaikan ini dengan benar bukan setengah-setengah. Kita memang harus menanggung malu karena lalai menjaga Faisal. Dia sendiri yang melempar kotoran ke muka kita kenapa Cut yang harus menerima akibatnya? Biarkan dia bahagia dan semoga putra kita menyesal suatu hari nanti.”
“Pak…kenapa berkata begitu. Setiap anak pernah berbuat salah. Kita juga pernah berbuat salah waktu muda. Kenapa tidak memberikan dia kesempatan lagi. Dia pasti akan berubah, ya kan Nak?” Ibu Murni mulai mengiba.
“Sebagai anak, kita sudah memaafkannya tapi sebagai suami. Apa Cut bisa memaafkannya?”
Perkataan Pak Fahri membuat Ibu Murni terdiam. Perkataan suaminya memang benar.
“Cut, apa kamu tidak mau memberikan kesempatan kedua untuk Fais? Dia sangat menyayangi kamu dan Iskandar.” Ibu Murni mencoba membujuk kembali sang menantu.
“Maaf, Buk. Cut tidak bisa.”
“Tolong talak saya!”
Faisal menatap Cut dengan sorot mata penuh kesedihan dan penyesalan.
“Fais, Cut meminta haknya.”
Cut memandang semu pada sang suami lalu berkata, “Berarti kamu mau saya yang mengajukan cerai? Baiklah!”
“Apa kamu tidak malu? Kesalahan yang kamu buat justru akan membuatmu malu sendiri jika sampai Cut yang mengajukan cerai. Bapak menyekolahkanmu tinggi-tinggi tapi ternyata otakmu tidak dipakai dengan benar.”
Bapak Fahri mulai lelah menghadapi putra bungsunya, “Sekarang Ibuk lihat bagaimana sikapnya? Sikap dia yang seperti itu justru semakin menambah malu keluarga kita.”
“Pak, Buk. Cut mohon pamit. Mulai sekarang, Cut akan tinggal di rumah Abu.”
“Apa? Kamu tidak bisa keluar dari rumah tanpa izinku!”
“Aku tidak memerlukan izin seorang laki-laki pezina sepertimu!”
Plak…
“Fais….”
__ADS_1
Julie dengan sigap merangkul Cut yang terkena tamparan Faisal. Cut hampir terjatuh bersama dengan Iskandar dalam gendongannya.
Plak…
Bapak Fahri menampar keras sang putra yang sudah keterlaluan, “Bapak tidak pernah mengajari kalian untuk kasar terhadap perempuan. Sekarang Bapak sendiri yang akan mendukung Cut untuk bercerai.
Kamu sangat tidak pantas mendapat istri seperti Cut. Sekarang keluar dari rumah ini. Cari perempuan itu lalu buat sesukamu. Jangan pernah pulang dan bawa dia kemari. Hiduplah sesuka hatimu!”
Pak Fahri meminta pembantunya untuk mengeluarkan semua pakaian Faisal dari kamar lalu melempar ke keluar. Pak Fahri mengantar Cut bersama bang Adi ke rumah Abu. Pak Fahri begitu murka pada sikap putranya hingga ia tidak mau melihat lagi wajah Faisal.
“Saat Bapak pulang, dia tidak boleh ada di sini lagi,” ucap Pak Fahri sebelum menaiki mobil bersama Bang Adie.
Ibu Murni menangis histeris saat putra kesayangannya pergi dari rumah dengan sebuah koper besar. Buk Murni juga memberikan banyak uang kepada sang putra sebagai bekal. “Carilah hotel, besok datang ke kantor biar Ibuk carikan rumah kontrakan atau kamu menginap saja di rumah Mak Wa Keudah, biar Ibuk yang telepon untuk memberitahukannya.”
Kak Julie hanya diam saja saat melihat adik bungsunya pergi meninggalkan rumah untuk pertama kali dalam keadaan kacau.
Suasana di dalam mobil juga sangat dingin. Masing-masing dari ketinganya larut dalam pikiran yang sulit dijabarkan.
“Bapak malu sekali bertemu dengan orang tuamu. Apa yang harus Bapak katakan pada mereka? bapak telah gagal mendidik anak. Bapak tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan orang tuamu, Cut.”
“Adi juga minta maaf karena selama ini hanya diam saja melihat perbuatan Faisal. Adi tidak mau dibilang suka mencampuri urusan dia makanya Adi diam saja sama Julie.”
Mobil memasuki pekarangan rumah, Abu dan Umi sedang melihat Mae membakar ikan bersama Rendra di halaman depan bersama beberapa teman Rendra lainnya. Malam minggu menjadi malam yang menyenangkan bagi mereka.
“Abu, kenapa Cut membawa koper malam-malam begini?”
***
HAI...HAI...MAKASIH YA MASIH SETIA BERSAMA CUT.
Jangan lupa mampir juga ke DENDAM SI PETUGAS PAJAK...
makasih...love you all..☺
__ADS_1