CUT

CUT
Menjemput Dita...


__ADS_3

Dari rumah sakit sampai di rumah, Rendra manahan diri untuk tidak berbicara dengan Wulan. Ia juga meminta istrinya untuk kembali ke kamar. Selama ini, Cut selalu tidur bersama Wulan walaupun jatah untuk sang suami tetap terpenuhi di siang hari.


“Kamu ingin pergi kan? Maka latihlah dirimu sekarang dengan mengerjakan semuanya sendiri. Ayo, Ma.”


“Tapi, Pa.”


“Tidak ada tapi, Ma. Dia yang menolak kita. Selama ini kita sudah cukup bersabar menghadapi dia bahkan saat kamu dicaci maki olehnya, Papa masih bisa sabar. Tapi  hari ini, kesabaran Papa sudah habis. Ayo!” Rendra menarik tangan istrinya untuk keluar dari kamar Wulan. Rendra sudah menahan kemarahannya semenjak dari rumah sakit. Sekarang dia membutuhkan sang istri untuk meredam emosinya.


Mereka menikmati guyuran air di bawah shower. Saling memeluk tubuh satu sama lain seakan sedang membagi semua rasa di hati mereka.


“Sabar, Pa.”


“Ini adalah ujian kita, maka kita harus sabar dan tenang.” Lanjut Cut mencoba menenangkan sang suami dengan usapan lembut di punggungnya.


“Lebih baik menghadapi musuh di medan perang dari pada menghadapi gadis keras kepala seperti Wulan. Apa dia tidak tahu bagaimana tersiksanya anak kita dengan caci makinya? Lihatlah Anugrah sekarang, Ma. Dia seperti mayat hidup. Dia memasang jarak dengan kita hanya karena Wulan, Ma. Papa tidak sanggup melihatnya begini. Lalu Wulan? Seolah dia saja yang merasa berduka di sini padahal anak kita juga merasakan hal yang sama. Dia yang dulu bersemangat dikirim tugas kini hanya bisa duduk menatap layar komputer. Papa sudah tidak tahan, Ma.” Rendra benar-benar hancur melihat putranya saat ini.


“Pa, kita bisa masuk angin lama-lama begini.” Ucap Cut membuat keduanya terkekeh. Setelah menyelesaikan olahraga bersama, keduanya memilih istirahat di kamar.


“Pa, apa tidak apa-apa meninggalkan Wulan sendiri?” Cut sedikit khawatir.


“Tidak, Ma. Dengan kondisinya itu, Papa harap dia sadar sama tingkahnya. Biarkan saja, Ma. Kita lihat seberapa kuat dia menahan egonya.”


Keduanya terlelap lama dalam ketenangan tapi lain halnya dengan di kamar tamu. Wulan ingin makan setelah lelah melakukan terapi di rumah sakit tapi bingung karena tidak ada makanan di kamarnya. Biasanya, Cut meletakkan makanan, camilan dan buah-buah yang sudah siap makan untuknya tapi ini hanya ada air putih di atas meja.


“Katanya ingin menjaga dan merawat tapi makanan saja tidak disediakan.” Gerutu Wulan lalu mendorong kursi rodanya menuju pintu. Walaupun kesusahan, Wulan bisa keluar dari kamarnya. Ia kembali mendorong kursi roda dengan tangannya menuju dapur. Di sinilah masalahnya muncul, Wulan memanggil si bibi tapi yang dipanggil belum menampakkan batang hidungnya. Wulan ingin memanggil Cut tapi urung ia lakukan karena ego dan gengsi.


Hari sudah sore tapi orang rumah seperti menghilang ditelan bumi. Kakek sudah pergi ke vila Om Wahid kemarin. Karena kondisi Anugrah sudah membaik makanya Bapak Wicaksono memilih pergi berlibur dengan sahabatnya.


“Kemana si bibik ya?” gumam Wulan masih mencari-cari ke berbagai sudut.


Wulan membuka kulkas lalu menemukan minuman kemasan yang sudah lama tidak ia minum. Ia mengambil beberapa jenis minuman itu lalu menaruh dalam pangkuannya. Wulan juga mengambil beberapa makanan kemasan. Ia segera mendorong kursi rodanya kembali ke kamar.


“Biar saja mereka menganggapku maling. Siapa suruh menampungku di sini. Lihat saja, akan kuhabisi semua makanan mereka.” gumam Wulan tanpa sadar ada sepasang mata yang menangkap aksinya tersebut dibalik dinding.


Pria itu tersenyum kecil melihat maling yang sudah mengambil miliknya tanpa izin. Sementara dari lantai atas, Rendra ikut mengintip apa yang sedang terjadi di bawah. “Sepertinya berhasil.”


Di dalam kamarnya, Wulan menikmati semua makanan dan minuman kemasan yang menyegarkan, “Cukuplah untuk mengganjal perut.” Ucapnya sambil makan.


Anugrah kembali mengisi kulkas di rumah itu dengan beberapa minuman kemasan yang baru saja ia beli. “Besok aku beli lebih banyak supaya kamu senang.” Ucapnya sendu.


Hari mulai gelap, Cut turun langsung menuju kamar Wulan. “Nak, ayo makan.” Ajak Cut tapi Wulan masih bergeming. Perutnya sudah kenyang dengan roti dan beberapa camilan lagi.


Ia tidak mau menjawab, hatinya masih kesal dan marah pada wanita di depannya ini. Cut keluar dari sana tanpa sepetah katapun. Lalu tidak lama setelah itu, Cut kembali lagi dengan membawa nampan berisi nasi dan teman-temannya lalu sebotol air putih. Setelah aksi bunuh diri kemaren, Wulan tidak pernah lagi melihat gelas dan piring dari kaca atau keramik. Semua serba plastik bahkan di dalam kamar itu semua yang berbahaya sudah dipindahkan termasuk cermin.


Anugrah bergabung dengan keluarganya untuk makan malam. Wajahnya terlihat sangat lelah bahkan matanya seperti kurang tidur. “Bagaimana di kantor?”


“Aman, Pa.”


“Apa kaki dan kepala kamu ada yang sakit?”


“Tidak, Pa.”


“Katakan pada kami jika merasa sakit walau sedikit.”


“Iya, Pa.”


Begitulah Anugrah setelah kejadian naas malam itu. Ia seperti kehilangan semangat hidup. Bahkan sang kakak juga tidak mampu meredam kesedihan hatinya. Kakeknya juga tidak mampu menghibur sang cucu kesayangan apalagi mereka. “Adek tidak akan pernah bahagia sebelum Wulan bahagia, Ma. Adek yang sudah merebut kebahagiaan itu darinya. Andai Adek tidak menabraknya mungkin saat ini Wulan masih bisa tersenyum walaupun ibunya meninggal karena dia sudah bertemu dengan ibunya di saat-saat terakhir beliau.” Begitulan kata-kata yang Anugrah ucapkan saat mereka baru pulang dari Balikpapan.

__ADS_1


Setelah itu, Anugrah seakan berubah menjadi pribadi yang berbeda. Sedikit bicara dan tidak pernah tersenyum. Berbanding terbalik dengan kondisi sang kakak yang sekarang berada di kamarnya. Saat ini Iskandar sedang menatap layar ponsel sambil memikirkan apa yang akan dia tanyakan pada Aisyah.


“Aisyah,”


“Iya, Pak.” Bukan hanya Iskandar yang tersenyum sendiri menatap ponsel, Aisyah juga merasa lucu setelah membaca pesan yang Iskandar kirimkan. Hanya satu kata dan kata itu adalah namanya. Dosen kaku berwajah datar kini sedang melalui proses pemanasan yang akan membuatnya melunak pelan-pelan akibat ulah gadis bernama Aisyah.  


“Sudah dapat tanda tangan dari Pak Heru?”


“Sudah, Pak.”


“Kapan sidang?”


“Kenapa, Pak? Sudah tidak sabar ngajak saya ke KUA?”


“Bukan, saya ingin tahu saja. Kalaupun kamu selesai sidang besok, saya belum bisa mengajak kamu ke KUA.”


“Kenapa?”


“Ujian dari kamu belum selesai.”


Iskandar tidak ingin menggangu Aisyah dengan bercerita tentang masalah keluarganya saat ini. Ia tidak mau Aisyah pecah konsentrasi karena ini.


“Sudah ya. Selamat belajar. Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam.”


Keduanya membenamkan wajah masing-masing dalam bantal. Di pihak laki-laki sedang risau bercampur galau sementara di pihak wanita justru gemas bercampur lucu dengan sikap dosennya yang sangat ia kagumi karena kehangatan dan pembawaanya yang dewasa.


Keesokan harinya, di Aceh.


“Permisi.” Ucapnya di depan pintu.


“Apa mereka tidak tinggal di sini lagi? Apa mungkin Cut salah memberikan alamat?”


“Permisi.”


“Iya.” Shinta merasa lega setelah mendengar sahutan dari dalam.


“Cari siapa, Buk?”


Shinta menatap perempuan di depannya ini, “Ini dengan rumah Ibu Murni?”


“Iya. Ibu siapa?”


“Saya mencari Dita, apa dia di dalam?”


“Dita? Oh, iya. Ibu siapanya Dek Dita?”


“Saya Ibunya, permisi.” Shinta geram sekali dengan perempuan itu.


“Anindita!!!” panggil Shinta dengan dada kembang kempis menahan marah.


Kak Julie, Ibu Murni dan Pak Fahri terkejut melihat kedatangan Shinta. Kak Julie menarik lengan Shinta untuk berbicara di luar tapi langsung Shinta hempaskan. “Aku kemari mau menjemput anakku. Aku tidak ada urusan dengan kalian.” Ucap Shinta lantang.


“Dengan kedatanganmu ke sini sudah menjadi masalah bagi orang tuaku.” Bisik Kak Julie.


“Dita, kemasi barang-barangmu!”

__ADS_1


“Ma, aku masih mau tinggal dengan kakek nenek.”


“Mereka bukan kakek nenekmu, Dita. Apa kamu bodoh?” Shinta menatap tajam pada putrinya tanpa mempedulikan keberadaan orang tua Fais.


“Nak, duduklah dulu. Kita bicarakan baik-baik.” pinta Ibu Murni.


Shinta menatap sinis ke arah wanita tua itu, “Seharusnya kalian bersikap seperti ini dulu bukan sekarang.” Balas Shinta.


“Dita, jangan paksa Mama untuk menyeretmu ke luar.” Ancam Shinta kembali.


“Shinta, duduk dulu! Kami mau bicara.” Suara tegas Pak Fahri mendominasi.


Shinta mengalah, ia mendudukkan diri tapi matanya tajam membidik sang putri yang sudah berani bertindak tanpa sepengetahuannya.


“Nak, kami hanya ingin tahu apa benar Dita anak Fais?”


“Ck, untuk apa kalian ingin tahu? Bukannya kalian tidak merestuiku? Lalu sekarang ingin anakku?” Shinta masih menjawab dengan sinis pertanyaan dari Ibu Murni.


“Kami hanya ingin tahu. Jika benar maka kami akan sangat senang menerimanya di keluarga ini.”


“Anak Fais sudah mati. Dia terlalu lama di menahan sakit tidak diakui oleh ayahnya. Dia mengalah supaya ayahnya senang dengan istri dan anaknya yang lain.” Air mata Ibu Murni seketika luruh kembali. Hatinya begitu perih mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Shinta.


“Dengar kamu Dita! Kamu itu terlalu banyak nonton film. Atas dasar apa kamu berpikir jika kamu cucu mereka? Karena wajah kalian mirip? Oh, tuhan. Kamu itu Mama kuliahkan untuk pintar bukan untuk menganalisa sesuatu hanya karena kemiripan. Berapa banyak orang yang memiliki wajah yang sama tapi tidak terikat hubungan darah. Ternyata kamu lebih oon dari adikmu. Kemasi barangmu lalu kita pulang!”


“Mama bohong kan?” tanya Dita.


“Kenapa Mama harus bohong? Mama justru senang kalau kamu cucu mereka, kamu pasti dapat warisan yang banyak karena mereka orang kaya. Tapi nyatanya, kamu bukan cucu mereka. Apa kamu tidak malu mengaku-ngaku cucu mereka? Bagaimana kalau kamu ketahuan nanti? Kamu bisa dipenjara.”


Hancur sudah rencana Dita selama ini. Perkataan ibunya sangat meyakinkan, Dita tidak menangkap kebohongan dari matanya. Sorot mata ibunya begitu tajam dan penuh kemarahan.


“Lalu siapa ayahku?” Shinta melirik putrinya sebentar seraya menghela nafasnya.


“Salah satu teman kencan Mama, puas?”


“Beresi barang-barangmu sekarang! Memalukan sekali kamu berlagak seperti cucu mereka.”


Dita pergi dengan mata berkaca-kaca. Ia segera membereskan barang-barangnya yang tidak terlalu banyak itu. Tidak berselang lama, ia keluar menyeret koper kecil miliknya. Ia menghampiri Ibu Murni dan Pak Fahri.


“Maafin aku ya. Aku bingung memanggil kalian apa. Ternyata kalian bukan kakek dan nenekku. Tapi aku senang tinggal sama kalian di sini. Terima kasih karena kalian sangat perhatian sama aku. Sekali lagi maaf,”


Shinta tersenyum sinis, “Ck, mereka bukan menyayangi kamu tapi mereka ingin menebus rasa bersalah pada cucunya tapi sayang, kamu bukan cucunya.”


“Cucu yang kalian tidak akui itu sudah pergi membawa kesedihan karena ayah, kakek dan neneknya tidak mengakui kehadirannya. Terimalah hukuman kalian sekarang, putra yang kalian bangga-banggakan telah mengikuti anaknya ke alam kubur. Dia pasti sedang menerima balasan dari setiap dosanya saat ini.” Ucap Shinta lancang lalu menarik lengan Dita keluar dari rumah itu.


Shinta langsung membawa Dita menuju bandara untuk kembali ke Surabaya. “Adikmu akan menikah dan kamu malah membuat masalah seperti ini.”


“Tiara yang menikah kenapa aku ikut sibuk?” gerutu Dita.


“Bagaimanapun dia adik yang lahir dari rahim Mama. Dan berterima kasihlah karena Papa Toni tidak pernah pilih kasih terhadap kalian. Mama tidak minta kamu menyayanginya tapi hormatilah dia karena tanpa dia kamu akan selamanya dipanggil anak haram.”


“Kenapa tidak pakai WO saja, Kalian kan punya uang.”


“Apa WO juga yang akan mendampingi adikmu di altar nanti? Gunakan otakmu bukan dengkul.”


***


Pagiiii....

__ADS_1


__ADS_2