CUT

CUT
Adik....


__ADS_3

Malam harinya Cut kembali mengalami kontraksi dengan ritme waktu 10 menit sekali. Rendra memutuskan untuk membawa sang istri ke rumah sakit.


“Sekarang kita tinggal berdua dan kamu tidak bisa berkelit lagi. Sekarang katakan kenapa akhir-akhir ini kamu berubah jadi pemarah dan pendiam?”


Riko menerima amanah dari Rendra untuk mengintrogasi putranya saat mereka tidak ada di rumah. “Aku ngantuk, Om.”


“Jawab dulu!”


“Aku hanya kesal sama mereka.”


“Om, aku sudah besar. Jangan buat aku seperti anak TK lagi.” Lanjut Iskandar kembali.


Iskandar menarik selimut hingga menutupi kepalanya. “Ya…ya…tidurlah! Bangun besok kamu sudah jadi seorang kakak.”


Iskandar tidak menyahut lagi. Ia memilih diam sampai tertidur di bawah selimut. Dalam mimpi pun semua kegundahan ikut mengejarnya hingga ia terbangun dari tidur tepat tengah malam. Turun dari tempat tidur lalu mendapati Riko sedang bertelepon dengan seseorang di dapur. Dengan acuhnya, Iskandar melewati Riko ke dapur lalu mengambil segelas air.


“Hei, adik kamu sudah lahir. Laki-laki!” bisik Riko.


Melihat Iskandar yang tidak menghiraukannya, Riko sedikit terkejut. Dia kembali melanjutkan bicaranya namun hanya sesaat karena setelah itu dia kembali ke kamar untuk mengintrogasi sang ponakan. Dan ternyata, Iskandar sudah tertidur kembali.


Di rumah sakit, semua anggota keluarga merasa sangat bahagia karena kehadiran anggota keluarga baru. Seorang bayi laki-laki baru saja diazankan oleh ayahnya dan sekarang bayi itu sudah berada di atas dada ibunya. Wajahnya sang bayi persis seperti ayahnya dan itu membuat nenek dan kakek yang dari tadi setia menunggu semakin bahagia.


“Dia fotocopy Rendra kecil ya, Pa?”


“Tapi, kalau Papa lihat lebih ke wajah Riko ya?”


“Enak saja. Aku yang kerja kenapa jadi wajah Riko? Anakku ya wajahku lah, Pa.”


“Terus Riko dan kamu itu dari mana? Kalau bukan hasil kerja Papa?”


Kedua pria berbeda usia itu malah berdebat. Sementara sang nenek tidak henti-hentinya mengusap punggung si kecil yang masih terpejam.

__ADS_1


“Selamat Nak, kamu sudah menjadi ibu kembali. Terus bahagia dan jangan pikir apa-apa. Supaya ASImu lancar."


"Iya, Ma. Makasih.”


Hari berlalu pesta penyambutan untuk si kecil pun digelar secara meriah. Iskandar menatap dingin pada adiknya. Selama adiknya lahir, jangankan meminta untuk menggendong, berdekatan saja dia tidak mau. Rendra belum sempat bicara berdua dengan sang putra lantaran terus disibukkan dengan berbagai persiapan selama kelahiran putra kecilnya.


“Siapa nama adikmu?” tanya seorang anak yang rumahnya berhadapan dengan rumah mereka. Anak laki-laki itu biasa bermain sepeda bersama Iskandar kala sore hari.


“Kamu tanya saja sana!”


“Kamu cemburu pada adikmu? Kamu tahu, punya adik itu sama seperti punya musuh. Aku sudah mengalaminya.”


Iskandar masih tetap saja diam. Bibirnya mengerecut ke depan dengan tatapan kesal. “Lihat adikmu, masih bayi saja sudah merebut semua perhatian apalagi kalau sudah besar. Kamu akan selalu diminta mengalah dan terus disalahkan karena kamu seorang kakak. Mereka itu sangat menyebalkan.”


Gemuruh di hati Iskandar semakin membludak ingin keluar. Dia pergi meninggalkan temannya lalu mengambil segelas minuman dingin. Kedua orang tuanya sibu berbicara dengan tamu sementara Omnya juga sibuk sendiri. Belum lagi neneknya selalu memuji-muji bayi itu hingga membuat Iskandar jengkel. Dia pergi ke luar rumah tanpa siapapun menahannya.


Setiap kata yang terekam dalam memorinya kembali terlintas. Air matanya mengalir perlahan setiap kali mengingat kata-kata itu. langkahnya terhenti di taman komplek. Banyak anak-anak yang sedang bermain di sana.


“Hei Is, kenapa kamu  kemari? Kamu tidak bermain dengan adikmu? Apa dia sudah merebut kasih sayang orang tua kamu? Kasihan sekali nasib kamu Is. Kamu seperti Dika, lihat dia! Kemana-mana harus mengajak adiknya. Sangat menyebalkan.”


“Iya, habis itu kamu kena marah ibumu.”


Mereka serentak tertawa membuat Iskandar menggelengkan kepalanya. Ternyata bukan dia saja yang membenci seorang adik. Teman-temannya juga sama.


“Kamu tahu Is, yang paling menyebalkan adalah saat adikmu yang bersalah justru kamu yang disalahkan. Sekarang kamu belum merasakannya, nanti kalau dia sudah berulah maka siap-siap saja kamu diamuk Mama Papamu karena kesalahan yang tidak kamu lakukan.”


“Tapi kata Mamaku, punya adik itu enak. Ada teman main tidak kesepian.” Sahut salah satu teman yang dari tadi hanya diam saja.


“Kamu sedang dibohongi Mamamu karena sebentar lagi adikmu juga akan lahir seperti Iskandar. Lihat saja nanti kalau tidak percaya. Aku sudah merasakan rasanya punya adik. Kalian lihat sendiri gimana rusuhnya rumahku belum lagi suara Mamaku yang bikin kuping tuli.”


“Kalian tahu, saat kalian dimarahi. Adik kalian itu akan tertawa puas pada kalian. Saat itu, aku yakin kalian pasti ingin menjitak jidatnya.”

__ADS_1


“Lihat siapa yang peduli pada Iskandar hari ini. Semua orang sibuk dengan adiknya padahal Iskandar tidak di rumah saat ini.”


Semua ucapan teman-temannya benar. Iskandar merasakan semua yang dirasakan oleh teman-temannya saat ini. Dia mulai gerah hingga akhirnya ikut bermain bersama mereka. Menaiki salah satu sepeda temannya, mereka berkeliing komplek sambil berlomba balap sepeda.


Balapan sepeda yang semula hanya main-main lama kelamaan menjadi serius hingga mereka bermain satu lawan satu. Iskandar yang sedang emosi pun ikut berlomba hingga saat ia mendayuh sepeda dengan kekuatan penuh. Tiba-tiba saat hendak berbelok sepeda yang dikayuhnya terserempet motor hingga membuatnya jatuh berguling-guling di aspal. Teman-temannya panik langsung berlarian menghampiri Iskandar. Lengannya berdarah tergerus aspal, dahinya juga luka.


“Is, kamu gak pa-pa kan? Is jawab!”


“Emhh, aku gak pa-pa kok.” Jawabnya sambil menahan perih. Motor yang menyerempetnya telah hilang dan mereka juga tidak sempat melihatnya.


“Papamu bakal marah besar kalau tahu kita main balapan sepeda. Aku takut Mamaku mengamuk, Is.”


“Iya, Is. Kami juga takut kalau Papamu marah.”


“Kalian tenang saja. Papaku lagi sibuk sana adikku jadi tidak akan sempat ngurus aku.”


“Ke rumahku dulu ya. Kita minta Mamaku obatin Is. Mamaku bisa diajak kompromi kok.” Sahut teman yang lain.


Mereka pun pergi ke salah satu rumah teman Iskandar. Mama teman Iskandar ini berprofesi sebagai perawa di salah satu rumah sakit. Dan yang lebih menenangkan teman-temannya lagi adalah ibu dari temannya itu tidak suka mengamuk. Ya, rumah teman yang mereka datangi adalah teman yang dibilang oleh mamanya jika punya adik itu seru, tidak akan kesepian karena ada temannya. Ibunya sedang cuti menunggu waktu melahirkan. Makanya saat ini, ibunya ada di rumah.


“Lho, Adit kok udah pulang Sayang? Nah, itu temannya kenapa? Kalian tidak berantem kan?”


“Tidak, Ma. Iskandar jatuh saat naik sepeda. Adit ajak ke sini mau minta Mama obatin teman Adit ini.”


“Ouh…ya sudah masuk yok!” teman-teman Adit melihat bagaimana lembutnya Ibu Adit menerima mereka. Begitu juga saat mengobati Iskandar.


“Ini anaknya Bapak Rendra kenapa main sepeda, bukannya di rumah sedang ada acara akikah adik kamu?”


“Iskandar sama teman-teman bilang kalau punya adik itu tidak enak, Ma. Makanya Iskandar pergi main sama kami. Keluarganya sibuk mengurus adiknya. Teman-teman Adit semua tidak menyukai adik mereka, Ma. Adik mereka katanya jahat dan suka membuat mereka dimarahi oleh Mamanya.”


Mama Adit tergelak hampir mengeluarkan air matanya, “Aduh…aduh… perut tante sampe kram gara-gara kalian. Kenapa kalian sampai berpikir seperti itu?”

__ADS_1


“Kami sudah mengalaminya, Tante.”


***


__ADS_2