
Seperti janji sebelumnya, hari ini Cut bersama Rendra dan Anugrah datang kembali menjenguk Iskandar. Kali ini situasi hati Cut sudah mulai agak tenang. Dia sudah bisa mengontrol hati dan pikirannya walaupun desakan untuk segera hamil lagi terus meluncur dari mulut mertuanya.
“Teruslah tersenyum seperti itu supaya Iskandar juga senang melihat Mamanya.”
“Iya, Pa. Bukan hanya Mama tapi dia juga akan senang melihat kamu dan adiknya.”
Pembicaraan hangat terjalin sepanjang perjalanan hingga mobil yang dikemudikan Rendra memasuki area pesantren. Kedatangan mereka sudah disambut oleh ustad lalu mereka diajak ke kantor. Dari sana, Cut mendengar semua tentang Iskandar dan lagi-lagi hatinya kembali berbunga. Sebuah senyum kebanggan terbit dari bibirnya tatkala mendengar perkembangan Iskandar selama di sini.
“Ibu, dengan perkembangan yang luar biasa dari Iskandar. Saya sarankan untuk selanjutnya dia tetap di sini. Karena setelah lulus SMP, kami selalu mendapat undangan untuk mengirim santri ke Yaman. Di sana, mereka akan ditempa dengan ilmu yang lebih tinggi lagi sampai selesai SMA. Mereka juga mendapat ijazah, jadi Ibu dan Bapak tidak perlu takut kalau Iskandar tidak bisa melanjutkan kuliah. Hanya saja,-“
Ustad menjeda ucapannya, “Lulusan dari Yaman biasanya akan langsung diterima di Al-Azhar Kairo. Ini sekedar saran dari kami karena melihat Iskandar sangat cepat menguasai pelajaran. Sangat disayangkan kalau harus berhenti. Tapi, semua keputusan ada di Ibu dan Bapak. Ini hanya pandangan yang biasa kami berikan pada setiap orang tua wali yang anaknya berprestasi di sini.”
“Terima kasih, Ustad. Untuk itu kami harus berdiskusikan dulu di rumah. Insya Allah kami akan secepatnya memberi kabar.” Ucap Rendra.
“Baik, Pak. Karena ini sudah dipenghujung semester dan hanya tersisa satu tahun lagi. Makanya dari sekarang kami memberitahukan keluarga santri karena kami tahu pasti Bapak dan Ibu butuh waktu untuk berdiskusi.”
Setelah membicarakan semua tentang Iskandar, serorang santri dipanggil untuk mengantar Cut menuju aula tempat bertemunya orang tua dengan anak-anak mereka.
“Is, orang tuamu datang.”
Salah satu Santri memanggil Iskandar yang sedang menyapu halaman belakang. Hari ini biliknya mendapat giliran untuk membersihkan halaman belakang.
“Wah, kita bisa makan enak ini.” Celutuk Dika.
“Yee, kemarin kan sudah sama orang tua Ari.” Sahut Rezki.
“Kalau dipikir, bilik kita hanya Iskandar dan Ari yang sering menjenguk. Ralat, Ari aja yang sering dijenguk. Tapi biarpun orang tua Is jarang menjenguk. Tiap kali menjenguk selalu bawa banyak makanan seperti penebusan karena kemaren-kemaren tidak menjenguk.” Dwi mulai menganalisis.
“Sudah, ayo, aku kenalin dengan orang tuaku!” ajak Iskandar.
Dia belajar satu hal selama tinggal di sana. Ari memperkenalkan semua teman satu bilik pada kedua orang tuanya saat berkunjung. Itulah kenapa, setiap orang tua Ari datang, mereka selalu membawa makanan yang banyak.
“Kamu sudah tidak marah pada orang tuamu?” tanya Dika saat mereka berjalan menuju aula.
“Aku tidak mau menjadi anak durhaka. Ustad bilang, surga dibawa telapak kaki ibu. Kalau surga aja bisa lebih rendah diletakkan di bawah kaki seorang ibu. Bayangkan saja bagaimana derajat seorang ibu di hadapan Allah. Aku tidak mau mati konyol.”
Puk…
“Nah, itu baru sahabat Ari.” Celutukan Ari membuat teman-teman yang lain mencibir.
“Jadi kami bukan sahabat kamu gitu?”
“Eh…siapa bilang? Kalian tetap sahabat sejati dan insya Allah till jannah.” Sahut Ari.
__ADS_1
“Amin…” ucap kelimanya serentak.
Cut menatap sang putra yang diapit oleh teman-temannya penuh haru. Tanpa aba-aba, air matanya langsung meluncur deras. Cut langsung memeluk erat sang putra seraya menangis. Iskandar juga merasa hal yang sama. Ia juga ikut menangis melihat sang ibu. Keempat teman-temannya juga ikut menitikkan air mata. Mereka saling merangkul bahu satu sama lain. Kelimanya sudah seperti saudara kandung.
“Maafkan Mama, Is. Maafkan Mama ya, Nak?”
Cut berkata lirih dalam dekapan sang anak.
“Maafkan Iskandar juga, Ma. Iskandar sudah menyakiti hati Mama. Iskandar sudah berdosa sama Mama. Maafin Iskandar, Ma.”
Cut mengurai pelukannya lalu menggelengkan kepala. “Mama tidak pernah menyalahkan kamu. Mama yang salah karena kurang memperhatikan kamu. Maafkan Mama ya!”
Cut mencium pipi sang putra, ia begitu merindukan Iskandar kecilnya lagi. “Kamu sudah besar dan tambah tinggi. Kamu juga semakin tampan. Mama sangat merindukan kamu, Nak.” Cut kembali memeluk sang putra.
“Ma, orang-orang melihat kita.”
Iskandar sudah besar, ia mulai risih saat ibunya memeluk dan mencium layaknya anak bayi. Tapi apa daya, dia juga merindukan pelukan ibunya. Hanya saja, sang ibu terlalu merindu jadi tidak sadar jika mereka telah berpelukan cukup lama. Cut tertawa kecil, ia mengusap air matanya juga air mata sang putra.
“Putra Mama ternyata sudah besar. Mama belum siap melihatnya besar.”
Rendra mendekati sang putra sambil memegang tangan Anugrah.
“Apa kabar, Jagoan?”
“Baik, Pa.”
“Pa,-“ panggila Iskandar kembali.
“Maafin sikap Is selama ini. Is pasti sudah menyakiti hati Papa dan Mama.”
Rendra menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. “Anak-anak kalau tidak nakal itu tidak normal. Hanya saja, kamu terlalu berlebihan kemarin. Tapi, Papa yakin kalau sekarang Jagoan Papa sudah kembali baik.”
Iskandar mengangguk pelan kemudian dia melihat kebelakang lalu mengkode teman-temannya untuk mendekat.
“Ma, Pa. kenalin ini teman-teman satu bilik sama Iskandar.”
Satu persatu mereka mencium takzim tangan Cut dan Rendra. Cut sangat senang melihat bagaimana sopannya anak-anak tersebut. Mereka duduk bersama di salah satu meja panjang.
“Adik kamu ganteng ya, Is?” ucap Ari yang dari tadi asyik memperhatikan Anugrah.
“Kamu masih marah sama adik kamu, Is?” bisik Dika.
Iskandar menggeleng, “Aku tidak marah hanya saja aku belum siap untuk dekat dengan dia.”
__ADS_1
“Kamu tidak mau bermain dengan Anugrah, Nak?” tanya Cut pada sang putra.
Ia melihat perubahan Iskandar pada dirinya tapi ia tidak melihat sikap yang sama dari Iskandar untuk Anugrah. “Sebenci itukah kamu pada Anugrah?” batin Cut.
Rendra mulai membuka pembicaraan dengan teman-teman Iskandar. Tentunya mereka menyambut baik apalagi Ari yang sangat lugu dan lucu. Mereka bercerita banyak hal termasuk keseharian mereka di sana.
“Kamu punya adik?” tanya Cut saat melihat Ari begitu suka bermain dengan Anugrah.
“Punya tante, tiga sekali lahir.”
Cut membulatkan matanya, “Mereka kembar?” tanya Cut memastikan.
Ari mengangguk. “Kamu tidak cemburu pada mereka?”
Ari menggeleng. “Mereka masih bayi, Tante. Untuk apa cemburu? Apa tidak aneh cemburu pada bayi? Ari juga pernah bayi dan diperlakukan sama kayak mereka. Justru mereka lah yang harus merasa cemburu satu sama lain.”
Ari memang terkesan polos dan lugu tapi kadang kata-katanya seperti orang dewasa. “Maksudnya?” tanya Rendra.
“Mereka harus berebut untuk mendapat perhatian Mama dan Papa. Makanya, Mama dan Papa membayar suster untuk membantu menjaga mereka. Kalau waktu Ari bayi. Ari hanya sendiri, jadi Mama dan Papa tidak pernan membagi kasih sayang dengan yang lain.”
“Wah…Ari anak yang hebat ya?” ucap Cut seraya melirik sang putra yang sedang memakan makanannya.
Cut membawa bekal yang lumayan banyak untuk Iskandar dan teman-temannya. “Nanti ikut ke mobil ya! Ada camilan di sana. Tante gak bisa turunin karena terlalu banyak. Tidak enak dilihat santri lain.” Bisik Cut pada kelimanya.
Senyum mengembang begitu lebar dengan mata berbinar. Mereka sudah memastikan apa saja yang dibawa oleh orang tua Iskandar. Selama ini mereka hanya mendapat kiriman dan tidka terlalu banyak. Rendra selalu mengirim paket berupa makanan, camilan tapi tidak terlalu banyak karena merasa tidak enak dengan pengurus pesantren. setiap paket yang datang selalu diperiksa terlebih dahulu sebelum diserahkan pada santri yang bersangkutan. Oleh karena itulah, Rendra dan Cut tidak pernah mengirim banyak.
“Datangnya orang tuamu dan orang tua Ari seperti berkah di hari juma’at.” Ucap Rezki.
Mereka memasukkan semua kotak ke dalam bilik dan tentu saja mengundang iri sekaligus penasaran terhadap isi kotak tersebut. Kelimanya masing-masing membawa satu kotak besar ke dalam bilik. Semua makanan yang Cut bawa sudah dibungkus dengan rapi sehingga tidak perlu takut lagi untuk kemasukan semut atau yang lainnya.
Cut meyempatkan diri untuk melihat bilik sang putra. “Tolong bantu Iskandar ya kalau dia kesusahan.” Pinta Cut lembut sebelum meninggalkan pesantren.
“Tante tidak usah khawatir. Kami sudah seperti saudara till jannah.” Ucap Dika.
Mereka menyalami tangan Rendra dan Cut bergantian. Anugrah berjalan mendekati Ari. Ia memegang tangan Ari lalu menciumnya.
“Dia pikir kakaknya itu Ari. Sini, ini Kakak Is, Kakaknya Anugrah.” Cut mengajak Anugrah lalu menyatukan tangan keduanya.
“Cium pipi Kakak dulu sebelum kita pulang.”
“Dadah…Kakak…”
***
__ADS_1