
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Anugrah sudah mengatakan jika dia harus lembur karena ada pendataan alutsista periode terbaru. Di kamarnya, Wulan masih duduk di dekat jendela melihat ke langit-langit dimana bintang-bintang bertebaran. Sesekali, ia melirik ke arah jam dinding. Tidak terasa sudah satu jam Wulan duduk di sana. Malam ini, ia kembali tidur sendiri karena si Bibik kembali menolak tidur dengannya.
Tok..tok…
Suara ketukan kaca jendela membuat Wulan terkejut. Ia melihat pria yang sedang berbicara padanya dengan gerakan tangan. Dari cahaya lampu ponsel, Wulan dapat melihat jika pria itu adalah Anugrah.
Wulan pun membuka kaca jendela, ia tidak perlu takut karena jendelanya dipasang teralis. Mustahil jika ada orang bisa masuk. Dengan penuh kebingungan, Wulan menatap Anugrah seperti orang hendak maling.
“Kamu simpan ini ya! Aku takut Mama memergokiku membawa ini.” Anugrah menyerahkan satu persatu makanan dan minuman kemasan dari dalam plastik karena terhalang teralis jika memasukkan sekaligus semuanya.
Wulan menerima semua makanan itu hingga kembali memasukkan semua itu dalam plastik semula. “Tutup jendelanya!” pinta Anugrah lalu ia kembali menghilang.
“A, kamu baru pulang?”
Wulan terkejut mendengar suara Cut dari dalam kamar. “I-iya, Ma. Mama belum tidur?”
“Mama mau tidur di kamar Wulan.”
“Eh,” Wulan belum sempat menyembunyikan kantung plastik itu dan Anugrah juga sama terkejutnya dengan perkataan ibu mertuanya itu. Larangan Cut bukan hanya merugikan Anugrah tapi ikut merugikannya juga. Dengan semangat 45, Wulan mendorong satu plastik besar itu ke bawah tempat tidur.
“Ma,” Cut menghentikan tangannya yang akan memutar gagang pintu kamar Wulan.
“Mulai malam ini, aku akan tidur di kamar Wulan dan minggu depan, aku akan membawanya ke rumah dinas. Aku sudah mengurus semuanya. Biarkan aku yang mengurus Wulan, Ma. Aku ingin menunaikan tanggung jawabku sebagai seorang suami.”
“Tapi Wulan bagaimana? Dia belum tentu mau.”
“Dia pasti mau, Mama tenang saja.”
“Baiklah, tapi bagaimana keadaanmu? Apa kamu masih marasa sakit?”
“Tidak, Ma. Aku sudah sehat.”
Cut memeluk putranya sesaat lalu kembali menaiki tangga menuju kamarnya. Anugrah menghela nafasnya lalu berjalan ke kamar Wulan.
Tok..tok…
Ceklek…
“Jangan makan dulu, tunggu aku!” ucapnya pelan pada Wulan yang sedang mendorong kantung plastik ke bawah tempat tidur dengan tangannya. Anugrah kembali menutup pintu dan berlalu ke kamarnya.
Setelah mandi dan berganti baju, Anugrah kembali melangkah menuju dapur lalu memanaskan api. Matanya melirik kiri dan kanan lalu mengambil sesuatu di belakang lemari piring. Ya, Anugrah menyimpan mie instan khas Korea di belakang sana. Hanya Bibik yang tahu tempat persembunyian itu. Setelah air mendidih, ia memasukkan mie dan bumbunya ke dalam panci. Anugrah mengambil dua buah piring dan sendok. Sebuah nampan tahan panas ia bawa menuju kamar Wulan.
Tok..tok..
“Ini aku, buka pintunya!”
Ceklek…
Anugrah meletakkan nampan di atas meja. Ia melihat Wulan yang masih berada di belakang pintu.
“Kemarilah! Aku buatkan mie baru khas Korea seperti di drakor-drakor.” Anugrah sangat bersemangat, ia langsung mengambil piring dan mengisi dengan mie yang dari harumnya saja sudah menggoda jiwa Wulan.
__ADS_1
“Kamu tidak mau? Ya sudah, aku habiskan sendiri saja.”
Seakan tidak peduli, Anugrah langsung menyantap mienya pelan-pelan penuh kenikmatan hingga membuat Wulan menelan ludahnya. Pelan tapi pasti, Wulan mendorong kursi rodanya mendekati meja. Ia mengambil piring yang sudah diisi oleh Anugrah.
“Sebelum makan baca doa bukan melirikku! Kalau takut aku racuni gak usah makan biar kuhabiskan sendiri.” ucap Anugrah tanpa melihat Wulan sama sekali. Walaupun mencibir perkataan Anugrah, Wulan tetap menyantapnya.
Satu suapan…
Dua suapan…
Tiga suapan…
Dan… Wulan menyukai mie itu. Seolah melupakan kebencian pada orang di depannya, ia kembali menambah porsi mie tersebut dan membuat Anugrah meliriknya. “Tahu gitu aku buat dua.” Gerutu Anugrah melihat panci kosong.
“Kamu belum makan?” selidik Anugrah tapi tidak ada jawaban dari Wulan. Gadis itu asyik menyantap mie hingga lupa pada manusia di depannya.
Anugrah menaruh piringnya lalu menunduk ke bawah tempat tidur, ia menarik plastik lalu mengambil satu botol minuman kemasan dingin yang ia beli di supermarket dekat rumah tadi. Setelah memutar tutup botol minuman itu langsung diambil Wulan tanpa permisi.
“Mienya pedas.” Ucap Wulan dengan bibir kemerahan menahan pedas.
Anugrah menelan salivanya saat melihat bibir Wulan memerah seperti itu. Setelah kejadian malam itu, sebagai pria normal Anugrah terus terbayang situasi saat dirinya berdekatan dengan Wulan bahkan tanpa sengaja dada keduanya menempel sempurna sehingga membuat pikirannya membayangkan yang tidak-tidak.
Anugrah mengambil minuman lain lalu meneguk untuk dirinya sendiri. Ia membersihkan meja lalu mengeluarkan piring kotor dari kamar wulan. Kemudian kembali masuk dan membukan jendela seraya menghidupkan kipas angin dengan kecepatan tinggi.
“Hidung Mama sangat sensitif. Dia bisa tahu kalau kamu makan mie instan diam-diam.”
“Perkataanmu tadi hanya untuk mencegah Mamamu masuk ke sini kan?” Wulan akhirnya menuntaskan rasa penasarannya.
Tidak ada jawaban dari Wulan, “Tenang saja aku tidak akan tidur di kamarmu. Tapi soal kita pindah ke rumah dinas itu betul. Aku dapat jatah rumah dinas mengingat kondisiku, pihak kantor memintaku untuk tinggal di sana dan lebih baik karena aku tidak terlalu jauh bekerja. Di sana juga ada dokter militer yang akan membantu terapimu. Dengan begitu aku sedikit tenang, kamu bisa menjalani terapi setiap hari tanpa harus menunggu jadwal dari rumah sakit. Di sana juga kamu tidak perlu antri. Semakin cepat kamu sembuh maka semakin cepat juga kamu pergi seperti yang kamu inginkan sebelumnya.” Ada nyeri yang terasa di hati keduanya saat berucap atau mendengar kata-kata itu.
“Aku juga tidak bisa membiarkanmu mencaci maki ibuku di depan mantan mertuanya. Aku tidak mau kakek dan nenek melihat kelakuan burukmu sebagai istriku. Keluargaku tidak pernah mencaci orang seperti yang kau lakukan. Aku juga tidak mau orang tuaku kelelahan gara-gara mengurusimu. Bersiaplah, minggu depan kita pindah!
“Ada lagi yang kau butuhkan? Aku akan ke kamarku setelah ini.” Anugrah mengambil plastik itu hendak membawanya.
“Itu kenapa dibawa?” tanya Wulan panik.
Ia sudah mengimpikan untuk menikmati aneka camilan lezat itu di kamarnya tapi kenyataan berkata lain. “Aku mau makan di kamar sambil nonton. Di sini tidak aman, Mama bisa saja masuk dan pintu kamar ini tidak punya kunci.”
“Tingalkan aku satu!” pinta Wulan tapi tampangnya tetap menyiratkan keangkuhan dan itu membuat Anugrah geleng-geleng kepala.
“Aku tidak bisa meninggalkan ini untuk kamu. Mama pasti marah kalau tahu aku memberikan ini padamu.”
“Aku akan mengatakan pada Mamamu kalau kamu makan mie instan tiap malam.” Ancaman Wulan membuat anugrah tersenyum sinis.
“Laporkan saja, toh kamu akan kena imbasnya juga!” Wulan terdiam, perkataan Anugrah ada benarnya.
“Kalau mau aman, pergilah ke kamarku! Mama tidak pernah masuk ke sana. Besok libur, aku mau nonton bola setelah ini.”
Wulan menatap kepergian Anugrah, ia ingin ikut tapi gengsi. Alhasil, ia memilih tidur di kamarnya. “Dasar pelit!” gerutunya lalu mencoba menaiki ranjang seperti sebelumnya dan –
Bugh…
__ADS_1
Wulan tidak salah prediksi hingga ia kembali terjatuh.
Pintu kembali terbuka dan sosok yang dikatakan pelit muncul kembali dengan wajah sedikit panik. “Pegang ini!” Wulan tersenyum kecil saat Anugrah memberikannya kantong plastik itu.
“Jangan senang dulu, aku tidak memberikannya untukmu.” Senyum kecil yang semula terbit kini langsung redup. Anugrah menggendong Wulan menuju kamarnya di lantai bawah paling ujung. Wulan tidak bereaksi lebih tepatnya mencoba menahan sesuatu dari hatinya yang mendadak berdegub kencang. Posisinya saat ini begitu dekat, bahkan ia bisa melihat leher, dagu dan wajah Anugrah dari bawah.
“Aku curiga dengan makananku yang sering berkurang selama ini. Apa kamu yang memakannya?” suara Anugrah terdengar kecil karena mereka berjalan melewati dua kamar lain apalagi ini tengah malam.
Wulan melotot, “Kamu-“
“Ssshhyyy, kondisikan suaramu jangan sampai makanan ini jadi santapan kucing.”
“Siapa suruh kamu menuduhku mencuri makananmu?”
“Lalu kenapa badanmu berat begini jika tidak ngemil makananku?”
“Kamu mengatakan aku gendut?”
“Buka pintunya!” ternyata mereka sudah sampai dan Wulan mencoba mutar gagang pintu. Ini pertama kalinya Wulan melihat kamar Anugrah. Kamar khas pria dengan nuansa yang tidak mencolok tapi cukup rapi.
Anugrah menurunkan Wulan di atas ranjang, Wulan sempat melirik sekilas wajah sang suami yang tidak diakui itu namun segera memalingkan wajahnya. Ia harus jujur, wajah Anugrah membuatnya tidak tahan. Jantungnya berdeguk kencang saat ini apalagi mereka berada satu kamar berdua.
“Aku mau nonton bola,”
Tidak ada jawaban dari Wulan, ia langsung mengambil plastik camilan lalu dengan cepat mengambil salah satu kue kering dan –
Plak…
Tangan Wulan dipukul pelan oleh Anugrah. “Itu milikku!” bibir Wulan langsung mengerucut kesal.
Anugrah menyalakan TV lalu duduk di alas karpet seraya bersandar di tepi ranjang. Sementara Wulan duduk di atas tempat tidur dengan posisi kaki menjuntai ke bawah di samping Anugrah. Anugrah fokus menonton sementara Wulan juga ikut menonton seraya mengunyah camilannya.
Tidak ada yang mereka bicarakan, Anugrah sibuk dengan tontonannya hingga tidak menyadari jika camilan yang ia beli sudah habis. Tangan kirinya meraba dan tidak menemukan apa pun lagi di sana. Ia langsung menatap gadis di atas tempat tidurnya sambil menghela nafas. “Pantas saja tubuhmu berat ternyata kau rakus juga.”
Wulan mendelik menatap Anugrah, “Apa kau sepelit itu, heh? Tenang saja, setelah aku sembuh dan punya pekerjaan. Aku akan membayar semua yang aku makan darimu.” Wajah Anugrah tiba-tiba berubah merah. Ia berusaha menahan emosinya lalu mengambil botol minum kemasan dan menegaknya sampai habis. Iklan bermunculan setelah pertandingan berakhir pada babak pertama.
Anugrah menelan salivanya saat iklan yang tidak pantas ia lihat saat ini karena keberadaan Wulan membuat keduanya tidak nyaman. Kanal yang Anugrah tonton adalah kanal luar negeri dan tentu saja iklannya tidak jauh-jauh dari adegan 25+.
“Kenapa iklan pakaian tidur harus jam segini?” batin Wulan.
“Kepalaku bertambah pusing kalau begini.” Batin Anugrah sesekali melirik tayangan di depannya.
“Seksi sekali bajunya. Apa itu yang dinamakan lingeria?”
Anugrah tidak tahan, ia merasa haus. Tanpa ia sadari, Wulan juga sedang menjulurkan tangannya mengambil minuman dalam plastik dan-
Keduanya tersadar saat menyadari jika tangan keduanya sedang menggenggam botol yang sama. Mata keduanya bertemu dalam jarak yang cukup dukat lantaran kepala Anugrah yang menoleh ke belakang.
“Aku ingin menciummu!”
***
__ADS_1
Baper gak??? Baper dong!!!