
Kediaman Pak Fahri kembali ramai dengan acara persiapan pernikahan yang akan digelar lusa. Walaupun tidak banyak tamu yang diundang tapi pelaminan dan segala perlengkapannya tetap disediakan seperti selayaknya. Shinta dan Toni terpaksa harus menyetujui permintaan Pak Fahri untuk tinggal di rumahnya selagi mempersiapkan acara tersebut. Kak Julie dan Bang Adi tidak keberatan dengan keputusan ayahnya. Hanya saja kerabat dari almarhum Ibu Murni yang mencibir habis-habisan kelakukan Pak Fahri yang membuat pesta pernikahan sebelum tujuha hari meninggalnya Nek Murni.
Toni selaku ayah sambung Dita juga sudah mencoba membujuk Kakek sepuh itu tapi keputusannya sudah bulat tidak bisa diganggu gugat. Kak Julie dan Bang Adi yang sudah hafal dengan sifat bapaknya tidak pernah mencoba membantah apa yang beliau perintahkan. Termasuk menyuruh Kak Julie untuk menyiapakn kamar pengantin untuk Dita dan Dika. Walaupun bukan Kak Julie langsung yang turun tangan tapi Kak Julie tetap mengawasi supaya keinginan bapaknya terpenuhi. Begitu mengetahui kamar pengantin sudah siap, Pak Fahri sampai memeriksa kamar tersebut untuk memastikan jika tidak ada yang kurang.
“Bapak tidak percaya sama Julie?” tanya Kak Julie yang berjalan di samping ayahnya.
Pak Fahri terkekeh, “Bukan tidak percaya, Bapak hanya ingin melihat seperti apa kamarnya kamu hias. Ternyata bagus dan cantik. Terima kasih, ya!”
“Walaupun aku tidak menikah, tapi seleraku tidak rendahan, Pak.”
“Kamu sendiri kapan akan mengakhiri masa lajangmu? Apa kamu menunggu Bapak mati dulu baru kamu menikah?”
“Pak, jangan berbicara begitu. Julie masih ingin hidup bersama Bapak, menjaga Bapak. Setelah ini bagaimana kalau kita jalan-jalan?” Kak Julie mencoba mengalihkan topik.
“Kemana?”
“Umrah.” Pak Fahri tersenyum lalu mengangguk.
“Bapak sehat-sehat terus ya! Julie belum mau kehilangan Bapak.”
“Kamu harusnya mencari pasangan bukan terus berduaan dengan Bapak begini.”
“Pak, umur Julie tidak muda lagi. Julie lebih bahagia bisa menghabiskan waktu dengan Bapak. Jangan ungkit masalah menikah. Kalau Julie tidak bahagia, untuk apa Julie menikah.”
“Ya sudah. Terserah kamu saja.”
Sementara di rumah Mak Cek Siti, Dika tengah mencoba menghafal ijab kabul dipandu oleh Teuku dan Iskandar. Malam ini dia tidak bisa tidur gara-gara menahan gugub karena besok adalah hari terpenting dalam hidupnya. Teman-teman sahabat till jannah yang mengetahui jika Dika akan menikah dengan Dita kompak berseru bahagia. Iskandar melakukan panggilan video dengan mereka saat Dika tengah membaca catatan kecil ucapan kabulnya.
“Apa kalian tidak akan hadir di pernikahanku?”
“Maafkan kami, Dik. Kami sudah memiliki jadwal yang tidak bisa diubah kembali. maafkan kami ya! Kami berdoa semoga pernikahan kalian lancar dan bahagia. Sakinah, mawaddah, warrahmah.” Ucap mereka kompak.
Keesokan harinya…
Dika sudah bersiap dengan baju koko putih, celana putih, peci hitam dengan kain songket di pinggangnya. Sementara Dita sudah menggunakan gaun akad dengan warna senada lengkap dengan kain penutup dada lalu kerudung putih serta secarik cadar yang diminta Dika untuk dipakai saat hari akad. Dika memang bukan seorang ustad tapi dia tidak ingin istrinya yang sudah dihias akan dilihat oleh banyak pasang mata. Karena dia seorang suami maka dia berhak meminta istrinya untuk menutup wajahnya dengan cadar pada hari istimewa mereka.
Sepasang calon pengantin tersebut sudah berada di masjid raya lengkap dengan anggota keluarga masing-masing. Seperti yang sudah direncanaka, sebelum acara akad dimulai, Dita terlebih dahulu disyahadatkan yang dipimpim oleh imam besar masjid tersebut. Suara Dita sampai bergetar saat ia melafalkan syahadat di depan semua mata yang sedang menatapnya saat ini. Ia ditemani oleh sang kakek dan Papa Toni selaku ayah sambungnya. Sementara Faisal dan Shinta memilih duduk di keluarga masing-masing.
Keluarga Shinta kompak menggunakan gamis dengan kain penutup kepala untuk menghargai tempat ibadah tersebut walaupun mereka berbeda keyakinan. Dalam balutan gamis serta kerudung yang sudah dihias oleh seorang penata rambut membuat Shinta dan Tiara semakin cantik. Bahkan, Toni sempat mencium istrinya berkali-kali karena merasa seperti punya istri baru dengan penampilan Shinta yang seperti sekarang.
“Hati-hati, Ma. Papa udah mulai menjurus ke jalan tidak benar tuh.” Goda Tiara saat mendengar apa yang Papanya ucapkan.
“Awas saja kalau Papa berani selingkuh. Mama suntik mati itunya.” Ancam Shinta membuat Doni sang menantu terbahak pagi tadi saat mereka sedang bersiap.
“Alhamdulillah.” Suara imam dan beberapa pengikut di belakangnya saat Dita menyelesaikan lafal syahadatnya. Pak Fahri memeluk Dita seraya mengucap selamat lalu bergantian dengan Papa Toni.
“Selamat Sayang, semoga kamu menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam keimanan yang baru.” Ucap Toni terharu.
Pagi ini dia melepas putri kecilnya sebanyak dua kali. Putrinya memilih berpindah keyakinan lalu menjadi seorang istri. Tidak ada lagi seorang putri kecil, yang ada kini adalah seorang istri milik suaminya. Setelah pengsyahadatan Dita selesai barulah dilanjutkan dengan acara akad nikah.
Dika duduk sendiri di depan penghulu dari KUA yang akan menjadi wali hakim untuk Dita. Dengan satu tarikan nafas, Dika berhasil mengucapkan ijab kabulnya dan kata ‘Sah’ terdengar serentak dari para hadirin. Pengarah acara meminta Dita untuk mendatangi meja akad untuk menandatangani buku nikah mereka lalu penyerahan mas kawin dari Dika dan terakhir menyematkan cincin kawin ke jari satu sama lain.
Setelah mengambil beberapa foto, mereka berdua diarahkan untuk melakukan sungkeman kepada orang tua. Diawali dari Pak Fahri kemudian ke Shinta dan Papa Toni lalu berlanjut ke Papa Faisal, Mama Ayu dan yang terakhir Cut dan Mama Ayu.
Mereka sama-sama terisak haru menyambut hari bahagia Dita dan Dika terutama Shinta. Hari ini, dia begitu sedih mengingat Dita akan menjadi istri orang. Dari tadi pagi, wajahnya sudah menyiratkan kesedihan sampai celutukan Tiara mampu mengubah raut wajahnya.
__ADS_1
“Mama sesedih itu Kak Dita menikah. Tapi waktu aku menikah Mama biasa saja. Apa ini tandanya kalau Mama lebih menyayangi Kakak dari pada aku?” Shinta buru-buru mengubah raut wajahnya lalu dengan judes menjawab perkataan sang anak, “Kalau nanti anakmu nikah, Mama akan mengembalikan kata-katamu ini!” ancamnya membuat Toni dan Doni tertawa.
Setelah mengambil foto dengan seluruh anggota keluarga, mereka kembali ke rumah Pak Fahri di mana acara resepsi akan dilakukan. Acara resepsi dilakukan dalam balutan adat Aceh walaupun pihak mempelai pria tidak membawa seserahan seperti kebiasaan di setiap pesta. tapi acara ritual seperti tepung tawari dan yang lain-lainnya tetap dilakukan.
Acara resepsi kali ini juga tidak mengahadirkan musik-musik seperti biasanya berhubung masih dalam keadaan berduka. Iskandar tersenyum bahagia saat melihat sahabat till jannah turun dari mobil hotel dan mengahampirinya.
“Selamat datang di Aceh.” Ucapnya pada sahabatnya. Di antara para lelaki ada Ana, istri dari Reski dan Anggia, adik dari Ari yag ikut hadir.
“Dia minta ikut karena libur kuliah.” Ucap Ari.
“Dika pasti syok jika melihat kalian.”
“Kami ikut berduka, Is.” Ucap Dwi memeluk sahabatnya.
“Terima kasih.”
“Padahal kami berencana pergi saat hari ketujuh tapi saat mengetahui kalau sahabat kita akan menikah kami harus mengubah jadwal untung belum pesan tiket.” Ujar Ari.
“Ayo masuk temui pengantin kita hari ini!” ajak Iskandar. Aisyah datang menyambut Ana dan Anggia. Lalu mereka serentak naik ke pelaminan yang membuat wajah sang pengantin pria berbinar bahagia.
“Kalian!” Dika memeluk satu persatu sahabat till jannahnya. Ia tidak menyangka akan kedatangan mereka di hari pernikahannya.
“Maaf ya, kami melewatkan akad.” Ucap Ari melepas pelukannya. Ana, Anggia memeluk Dita bergantian.
“Selamat, Kak. Semoga samawa.” Ucap Anggia.
“Terima kasih sudah datang jauh-jauh ke sini.” Ucap Dita pada semuanya.
Mereka berfoto bersama dalam berbagai gaya. Namun tiba-tiba Iskandar menjeda acara foto-fotnya karena ada seseorang yang belum hadir. Dita dan Aisyah tersenyum saat melihat Teuku naik ke atas panggung pelaminan.
“Nah, sekarang baru lengkap.” Ucap Iskandar lalu ia memeluk Aisyah, Dika memeluk Dita dan Reski memeluk Ana. Sementara Teuku hanya berdiri tegak di samping Anggia. Sementara kedua temannya yang masih jomblo melirik kesal ke arah mereka yang sedang memamerkan kemesraan dengan istri masing-masing.
Setelah puas berfoto, mereka turun dari panggung untuk memberi kesempatan ke pada para tamu yang akan mengucapkan selamat.
“Dika keren banget pakai pakaian Aceh.” Ucap Dwi dari bawah tenda. Para laki-laki sedang menikmati makan siang mereka.
“Iya, aura pengantinnya dapat banget.” Sahut Ari.
“Mamanya Dita apa kabar?” tanya Ari dengan suara pelan.
“Baik. Beliau merestui dan mendukung pernikahan Dita. Beliau juga respek sama Dika makanya setuju saja saat Dika melamar Dita walaupun sempat terjadi drama.” Tatapan teman-temannya menuntut penjelasan akhirnya, Iskandar menceritakan kejadian konyol yang sempat terjadi malam itu saat ia dengan bodohnya percaya jika Dika sudah meniduri Dita.
“Aku tidak percaya kamu sampai hilang akal begitu.” Ari menertawakan Iskandar.
“Pasti Dika malu banget saat kamu menuduhnya berbuat dosa.” Sahut Dwi.
“Tapi yang paling membuat Dika tidak terima adalah dirinya ditampar oleh calon mertua. Rasanya itu pasti manis asam asin kayak permen.” Tambah Reski.
Mereka kembali terbahak menertawakan kisah cinta Dika. Sementara itu dari dalam rumah, Aisyah sedang menemani Anggia dan Ana makan siang. Karena mereka bercadar, Aisyah sengaja membawa mereka ke ruangan yang jarang dilewati oleh orang laki-laki. Mereka bisa makan dengan leluasa di sana.
“Kita baru kali ini bertemu setelah acara pernikahanku ya!” ucap Aisyah pada Ana dan Anggia.
“Aku ketahuan menghasut Kakak sama Kak Iskandar. Kak Ari yang memberitahukan Kak Iskandar tentang itu. Kak Ari sampai memarahiku.” Cerita Anggia.
“Maaf ya. Aku juga tidak menyangka kalau akan ketahuan terus bukannya aku yang membalas dendam malam Mas Iskandar yang membalasku. Kesal banget kan? Tapi aku senang karena dapat membuat semua penumpang pesawat melirik Mas Iskandar dengan lirikan tajam penuh kebencian saat tahu Mas Iskandar berpoligami.” Aisyah terbahak sementara Ana hampir tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut istri dari sahabat suaminya itu.
__ADS_1
Anggia menyadari itu lalu langsung menyikut lengan Aisyah seraya memberi kode membuat Aisyah tersadar. “Maaf, Ana. Aku kadang-kadang susah mengontrol diri.”
“Tidak apa-apa, Mbak. Saya paham, kok. Saya juga langsung mengatakan pada Mas Ki setelah ijab kabul kalau saya tidak siap dipoligami dan alhamdulillahnya Mas Ki memang tidak berniat untuk poligami.” Cerita Ana.
“Lalau bagaimana dengan dua saudaramu yang menolak dijodohkan dengan Mas Ari dan Mas Dwi?” Anggi terkejut.
“Mas Ari dijodohkan? Dengan siapa? Kok aku tidak tahu?” terpaksa Aisyah menceritakan kisah perjodohan yang Abah rencanakan untuk Ari dan Dwi yang akhirnya gagal karena saudara dari Ana menolak perjodohan itu karena menyukai Dika dan suaminya.
Anggia melongo mendengar cerita Aisyah. “Lalu saudara Kak Ana sekarang bagaimana?”
“Mereka sepertinya menyesal setelah mengetahui kalau pria yang dijodohkannya lulusan Kairo.”
“Memangnya Abah Kakak tidak cerita terlebih dahulu kalau jodohnya itu siapa, anak mana, lulusan mana, kerjanya apa?” Ana menggeleng, Abah hanya mengatakan jika pria itu laki-laki yang baik dan siap menjadi imam untuk kami.”
“Pantas mereka menolak. Tapi kenapa Kakak mau?” Anggia ternyata masih penasaran.
“Karena waktu pertama kali melihat wajah Mas Ki, saya sudah menyukainya apalagi saat itu Mas Ki tersenyum sangat manis.”
“Ceritanya cinta pada pandangan pertama.” Celutuk Aisyah.
“Jadi saudara Kakak itu sekarang bagaimana?”
“Mereka melanjutkan kuliah tahun ini seperti aku di kampus yang sama. Kalau berjodoh lagi berarti sudah waktunya kalau tidak ya tidak apa-apa juga. Mereka tidak lagi mengharap untuk berjodoh dengan Mas Ari maupun Mas dwi.”
“Kasihan juga ya! Apalagi Mas Ari sudah dijodohkan dengan anak sahabat Mama dan tahun depan mungkin akan menikah. Peluang untuk mengejar Mas Ari, aku rasa sudah tertutup.” Ucap Anggia.
“Berarti mereka tidak berjodoh.” Tukas Aisyah.
“Kamu sendiri bagaimana? Apa ada perkembangan dengan Kak Rendra?”
Anggia tersenyum getir lalu menggeleng, “Aku tidak tahu, Kak. Aku bingung.”
“Sudah istikharah?” tanya Ana.
“Sudah.”
“Lalu?” Aisyah dan Ana kompak penasaran dengan jawaban Anggia.
“Ya beliau tapi aku kok tidak merasa apa-apa ya?”
“Jantungmu tidak berdetak kencang saat di dekat Kak Rendra?” Anggia mengedikkan bahunya.
“Sejujurnya aku takut untuk menikah, Kak. Apalagi dengan pria dewasa seperti beliau. Aku takut membayangkan tidur bersama beliau?” Anggia bergidik ngeri lalu menutup mata seakan tengah membayangkan saat-saat tersebut. Aisyah dan Ana saling melirik. Mereka tersenyum lucu membayangkan ketakutan Anggia yang terlihat masih polos dan lugu itu.
“Tapi kamu kamu kan dinikahi oleh Dokter Rendra?”
“Tidak tahu.”
“Kamu mau tapi malu.”
Sementara di balik dinding, Seorang pria sedang tersenyum menyeringai mendengar percakapan ketiga wanita tersebut.
“Jadi malu-malu mau???”
“Awas kamu anak kecil!”
__ADS_1
***
JALAN MENUJU ENDING nih ya....