CUT

CUT
Tamu-tamu Penting...


__ADS_3

“Kak Cutttttt....” suara dua orang gadis histeris memanggil namanya.


 


“Kalian...???” Cut terpaku sesaat ketika menatap kedua gadis yang sangat ia kenal. Hal lain yang lebih membuatnya terkejut adalah ketika penampilan kedua gadis itu telah berubah dengan perut membuncit.


 


“Selamat ya, Kak. Kami sangat senang diundang ke pernikahan Kakak. Kami pikir Kakak bakal lupa sama kami.” ucap Putro Tari.


 


“Iya, Kak Cut. Kami pikir Kakak lupa sama kami. Selamat ya...” ucap Putro Ceudah seraya memeluk Cut bergantian dengan Tari lalu menyalami tangan Faisal.


 


"Kalian datang sama siapa? Dan ini?” tunjuk Cut pada perut keduanya yang membuncit.


 


“Kenapa kalian tidak mengundang kakak?” keduanya tersenyum kecil.


 


“Maaf, Kak Cut. Kami tidak membuat acara besar-besaran seperti Kak Cut di sini. Dan kami tidak berani mengundang Kak Cut.” ucap Tari dengan raut wajah sedih.


 


“Kenapa?” Cut diselimuti rasa penasaran pada kedua gadis yang sudah tidak gadis lagi.


 


“Ah...sudahlah Kak. Kita kemari untuk melihat kakak bahagia bukan untuk membahas kami.” ucap Tari mencoba mengalihkan pembicaraan.


 


“Assalamualaikum.”


 


Cut tersenyum lebar ketika suara yang sangat dikenalnya memberi salam. Mereka adalah orang tua Putro Ceudah dan Putro Tari yang ikut datang. Keduanya didampingi oleh Abu dan Umi untuk bertemu Cut di pelaminan.


 


“Selamat ya, Nak. Menjalani pernikahan memang tidak mudah. Jalan ini seakan tidak pernah menemukan ujung. Jalan ini juga tidak selalu mulus, kadang kalian harus mendaki kadang juga menurun. Bahkan sesekali kalian akan menemui jalan berlubang dan berlumpur. Tapi ingatlah hari ini ketika kamu sebagai seorang laki-laki di depan Allah dan orang tuanya yang menyaksikan. Kamu bersumpah untuk bertanggung jawab membawanya dalam ikatan pernikahan. Kamu harus lebih sabar dan tenang menghadapi berbagai macam keadaan seperti jalan tadi. Dan Cut sebagai istri juga harus memaklumi ketika suami terkadang lelah saat berjalan menyusuri jalan tadi. Sabar dan terus temani dia. Abu dan Umi hanya bisa memberikan kalian doa, semoga kalian bahagia dunia akhirat.” Abu Putro Tari memeluk Faisal sesaat.


 


Umi Putro Ceudah memeluk Cut hangat dengan perasaan bahagia melihat anak yang selama beberapa bulan di rumah mereka kini bahagia.


 


Ucapan selamat terus berdatangan dari warga Pulau Breuh yang ikut menghadiri pernikahan Cut siang itu. Cut mengirim undangan melalui Bang Mayed yang tengah berlabuh di dermaga pelelangan ikan.


 


Setelah berfoto, beberapa warga pulau kembali keluar untuk menikmati hidangan. Senyum memancar di setiap wajah penduduk pulau maupun pengantin.


 


“Suami kalian yang mana?” pertanyaan kecil Cut mampu meluruhkan semua senyuman di wajah mereka.


 


Mereka saling menatap satu sama lain semakin membuat Cut penasaran. “Kalian tidak mengajaknya? Kenapa?”

__ADS_1


 


“Abang kerja, Kak. Jadi tidak bisa datang.” jawab Tari terbata-bata.


 


“Kak Cuttttt.... maaf ya, Pida baru bisa datang sekarang. Maklum, banyak pelanggan.” suara cempreng Pida mampu memutuskan rasa penasaran Cut. Mereka meminta izin untuk pamit karena hari sudah sangat siang.


 


Walau masih dirundung rasa penasaran, Cut harus rela karena semua warga pulau termasuk Putro Tari dan Ceudah sudah pulang. Kesempatan untuk bertanya sudah sirna.


 


“Bang Dokter, teman-temannya mana? Kenalkan ke Pida satu yang sudah siap menikah dan tampan seperti Bang Dokter.” Cut hanya bisa menggelengkan kepalanya.


 


“Mereka tidak datang. Kalau kamu mau kenal, datang saja waktu antar dara baro, ya?” jawab Faisal dengan seutas senyum.


 


“Ouh...itu pasti. Ya sudah kalau begitu, Pida pulang dulu ya, Kak. Pida mau lihat baju buat antar dara baro Kak Cut sudah siap apa belum di Kak Mala Tailor.” ucap Pida tergesa-gesa.


 


“Kamu tidak makan dulu? Kenapa buru-buru begitu?” tanya Cut.


 


“Nanti saja, Kak. ada yang lebih penting dari makan. Tukang jahit itu kalau gak di lihat-lihat suka telat siapnya.”


 


 


“Ini!” Faisal memberikan sebuah botol air mineral untuk Cut.


 


“Minum banyak-banyak! Jangan sampai kamu pingsan karena dehidrasi.”


 


“Iya.” Cut menerima botol air mineral tersebut lalu meminumnya.


 


Sedikit senyum kembali tersungging disudut bibirnya. Sebuah tindakan kecil yang Faisal lakukan mampu membuat Cut bahagia. Sebelum menyerahkan botol minuman, Faisal sudah lebih dulu membuka tutup yang masih tersegel itu dengan raut wajah santai.


 


Tepat jam setengah tiga, Cut dan Faisal akhirnya bisa bernafas lega. Mereka diarahkan menuju kamar yang sudah disiapkan oleh Mak Cek Siti. Dibantu seorang asisten penata rias, Cut melepaskan satu persatu riasan kepala, leher dan tangannya. Sementara Faisal langsung membuka baju pengantinnya hingga tersisa kaos putih di dalamnya. Ia membuka sebuah tas ransel kecil yang dibawa oleh Bang Adi. Tas itu berisi beberapa helai pakaian yang akan ia pakai selama menginap selama dua hari.


 


Faisal mengambil celana panjangnya lalu berlalu ke kamar mandi. Cut sendiri masih menunggu semua pernak-pernik dibuka satu persatu oleh penata rias.


 


“Aku keluar dulu, ya?” ucap Faisal lalu meninggalkan Cut bersama asisten tersebut.


 


“Suami kamu sangat santai ya?” ucap asisten itu.

__ADS_1


 


“Mungkin karena mereka masih keluarga dekat jadi dia terlihat santai.”


 


“Iya juga.”


 


Setelah berganti pakaian, Cut didera kantuk yang amat sangat sehingga tanpa sadar ia tertidur di kamar tersebut.


 


Sementara di luar kamar, orang-orang sudah mulai membereskan sisa-sisa pesta. Umi dan Mak Cek Siti sibuk membungkus makanan lebih untuk dibagi-bagikan kepada para tetangga. Intan, Faris dan Mae bertugas untuk mengantar setiap bungkusan makanan ke rumah tetangga. Sementara itu, di sebuah sofa lantai atas rumah Mak Cek Siti. Faisal tertidur lelap karena kelelahan.


 


Di kamar lain yang terletak jauh di Pulau Breuh. Seorang pria sedang merebahkan punggungnya di kepala tempat tidur dengan dada telanjang. Sebelah tangannya mengusap lembut punggung sang istri yang tengah memeluknya setelah pergumulan nikmat mereka menjelang sore.


 


“Apa Abang sedang memikirkan Kak Cut?” tanya Mala dengan kepala sedikit mendongak ke atas menatap wajah sang suami.


 


“Abang hanya lega karena telah menunaikan janji pada almarhum Ilham.” ucap Khalid lalu mencium kening sang istri yang baru ia nikahi dua bulan itu.


 


“Kampung terasa sepi saat sebagian besar pergi ke pernikahan Kak Cut. Hanya kita dan beberapa orang tua sepuh yang tidak pergi.” keluh Mala.


 


“Tugas kita kan menjaga mereka. Kalau tidak ada mereka kamu belum tentu bisa menikah dengan Abang.” sindir Khalid.


 


“Tapi Abang juga mau.” balas Mala.


 


“Karena kamu mau. Kita tidak bisa menikah kalau cuma Abang yang mau, ya kan?”


 


Keduanya larut dalam kebahagiaan mereka sendiri. Menikmati hari-hari bahagia sepasang suami istri yang sedang dimabuk asmara.


 


Dretttt....


 


Suara getaran ponsel mengejutkan Faisal dari tidurnya.


 


“Semoga bahagia...”


***


LIKE...KOMEN...LIKE...


yang banyak yah....

__ADS_1


__ADS_2