
Dita sedang mengendap-ngendap turun dari ranjangnya lalu dengan perlahan mengambil ponsel sang ibu yang tergeletak di atas meja. Namun sayang, usaha Dita tidak membuahkan hasil. Ponsel ibunya memakai kata kunci dan Dita tidak tahu apa kata kunci tersebut. Jika Dita nekat menebak, ia akan ketahuan dan membuat masalah besar dengan ibunya karena kalau nyatanya setelah 15 kali ia salah maka ponsel itu akan menghapus semua data-data di ponselnya yang tentu saja isinya penting semua.
Gadis itu tidak kehabisan akal. Setelah meletakkan ponsel ibunya ke tempat semula, ia segera keluar dari kamar dan tempat satu-satunya yang ia datangi adalah meja resepsionis.
“Selamat malam, Nona. Ada yang bisa kami bantu?” tanya resepsionis ramah.
“Saya mau pinjam telepon, bisa?”
“Oh, silakan!”
Iskandar terbangun merasakan getaran di atas meja.
“Hallo,” ucap Iskandar dengan suara seraknya.
“Kak. Ini aku, Dita!” Mata Iskandar langsung terbuka sempurna. Ia menatap layar ponselnya sekilas lalu kembali berbicara dengan sang adik.
“Kamu di mana?”
“Aku di Bali. Ponsel, kartu kredit sudah disita sama Mama. Aku yakin Mama sengaja melakukan ini supaya aku tidak bertemu Papa terus. Bagaimana rencana pernikahan Kakak? Apa kita jadi membuat kejutan seperti yang sudah kita rencanakan sebelumnya?”
“Kapan kalian kembali?”
“Aku tidak tahu, Kak. Mama mengambil cuti panjang dan sepertinya akan mengajakku ke tempat lain dengan dalih liburan. Mama juga sudah menyita pasporku. Aku tidak punya uang cash untuk membeli tiket pesawat, Kak. Aku juga tidak mungkin melapor ke polisi, kan?” Iskandar memijit keningnya.
“Bagaimana dengan Papa Toni? Apa beliau tahu tentang ini?”
“Papa tahu soal penyitaan tapi untuk tujuan Mama sepertinya Papa juga tidak tahu.”
“Baiklah! Aku coba pikirkan caranya.”
“Aku ingin kabur dari sini tapi tidak ada jalan, Kak. Jangankan ponsel, uang saja tidak punya.”
“Aku juga tidak bisa mengirimmu uang. Apa kamu tidak punya rekening cadangan?”
“Tidak, Kak. Kalau aku tahu akan begini pasti kejadian ini tidak akan terjadi.”
“Ya sudah, biar aku pikirkan bagaimana cara membantumu. Kabari aku kalau ada apa-apa.”
“Baik, Kak. Aku tutup ya!”
Tutt….
“Terima kasih, Mas. Maaf agak lama.” Resepsionis itu menatap lembut dengan senyum.
“Em, Mbak.” Panggil resepsionis itu ragu saat Dita hendak kembali ke kamar.
“Maaf karena saya sudah lancang mendengar percakapan Mbak di telepon. Apa Mbak ingin ke luar dari Bali? Kebetulan saya besok cuti dan akan pulang ke kampung saya di Surabaya. Di sini, saya melihat kalau Mbak dari Surabaya. Maaf saya tidak bermaksud apa-apa-“
“Iya, Mas. Saya memang mau pulang ke Surabaya. Kakak saya mau memberikan kejutan untuk calon istrinya dan saya yang menjadi peran utamanya. Apa saya boleh minta tolong, Mas? Nanti setelah sampai di sana, saya akan mengganti semua.” Binar harapan itu telah kembali. Dita tidak mau kehilangan momen pernikahan kakaknya.
“Saya sudah memesan tiket untuk besok jam 10 pagi. Apa Mbak mau sekalian atau bagaimana?”
“Sekalian saja, Mas. Tapi saya tidak bisa ke bandara. Saya tidak punya uang.” Dita tersenyum getir. Liburan di Bali, menginap di hotel mewah tapi uang saja tidak punya. Sungguh tragis hidupnya.
“Tapi bagaimana Mbak bisa kabur dari ibu Mbak?”
Nah, Dita terdiam sesaat. Dia lupa berpikir tentang cara kabur dari mamanya. “Mas punya ide?”
“Besok saya jumpai, Mbak jam setengah tujuh. Saya akan menemui ibu Mbak dengan alasan mengajak Mbak jalan bersama. Apa Ibu Mbak akan percaya?” Dita kembali berpikir.
“Katakan pada Mama kalau Mas adalah pacarku. Em, aku, Dita. Mas?” Dita mengulur tangannya pada resepsionis itu. Pria di depannya tersenyum kecil lalu membalas jabat tangan Dita, “Dika.”
__ADS_1
Dita mengendap-ngendap masuk ke kamarnya yang gelap namun tiba-tiba lampu kamarnya langsung menyala dan terlihatlah ibunya yang sedang bersedekap di dada menatapnya tajam.
“Dari mana?”
“Dari luar, Ma?”
“Mama juga tahu dari luar, kamu habis dari mana?”
“Cari angin, Ma. Udah ah, aku mau tidur. Selamat malam, Mama sayang!” Mata Shinta memicing menatap putrinya yang sudah meringkuk di bawah selimut.
“Jangan harap kamu bisa pulang, Dita! Rayuanmu takkan mampu merubah keputusan Mama.” Batin Shinta lalu ia kembali merebahkan dirinya di samping sang putri.
Keesokan harinya, Shinta terus memantau pergerakan anaknya yang kali ini terlihat berbeda. Dita yang biasanya malas diajak keluar tapi pagi ini dia sudah bangun dan berdandan rapi.
“Kenapa, Ma? Aku cantik ya? Makanya jangan kerja terus, baru nyadar kan kalau Mama punya anak gadis yang cantik dan siap menikah?”
Deg…
Mata Shinta menatap putrinya dengan sejuta pertanyaan. “Kalau kamu sudah punya calon, kenalkan sama Mama biar Mama seleksi.” Dita mencibir perkataan sang ibu lalu kembali membubuhkan liptin di bibirnya hingga kecantikannya kali ini begitu paru purna. Untuk melancarkan aksinya, ia tidak boleh setengah-setengah.
Mereka pergi menuju resto hotel untuk menyantap sarapan pagi. Diam-diam Shinta masih memperhatikan putrinya yang sedang menikmati sandwich dengan perasaan aneh.
“Selamat pagi.”
Deg…
Shinta menatap seorang pria yang berpakaian cukup rapi dan tampan itu. Sementara Dika dan Dita sama-sama melempar senyum manis yang membuat Shinta semakin penasaran dengan putrinya. Apalagi baru kali ini putrinya menyinggung tentang pernikahan.
“Tadi Mama minta dikenalin kan? Ini orangnya sudah datang.” Ucap Dita lalu menarik kursi untuk Dika.
“Saya, Dika. Maaf kalau menggangu waktu Tante pagi-pagi.” Ucap Dika seraya melepas jabat tangan mereka.
“Dimana kalian bertemu?”
“Kapan?”
“Semalam.” Mata Shinta menatap curiga pada pasangan ini.
“Kalian tidur ber-?”
“Tidak, Tante! Saya tidak meniduri wanita yang bukan istri saya.”
Deg…
Tatapan tegas pria muda itu membuat Shinta tertarik. “Lalu, sejauh apa hubungan semalam kalian?” Shinta benar-benar mengintrogasi Dika. Sementara Dita sudah was-was apalagi dia terus melirik jam tangannya.
“Kami masih dalam tahap pengenalan satu sama lain. Kalau setelah itu kami rasa cocok maka akan dilanjutkan tapi bila tidak ya berakhir.”
“Apa yang kamu lihat dari putri saya? Kenapa kamu yakin mau mengajaknya saling menjajaki?”
“Saya tahu dia sendiri dan dia penyayang. Dia juga membuka jalan untuk saya mengenalnya. Jadi apa salahnya saya mencoba.”
“Orang tuamu masih ada?”
“Ayah masih ada tapi Ibu sudah meninggal.”
“Apa agamamu?”
“Ma! Jangan buat aku marah dan Mama akan menyesalinya seumur hidup!”
“Kenapa? Kalau kamu ingin memulai sesuatu. Lebih baik pastikan dulu dari awal sehingga saat nanti perasaan kalian sudah tumbuh tidak ada lagi yang membuat kalian harus berpisah. Mama tidak mau kamu mengalami seperti Mama dan Tiara alami. Berpisah setelah saling mencintai hanya karena perbedaan keyakinan.” Dita yang merasa ini hanya sandiwara tidak berpikir terlalu jauh karena dia hanya sekedar meminta bantuan pria itu.
__ADS_1
“Ma, Stop! Tanpa Mama ingatkan aku juga sudah ingat. Biar ini aku urus sendiri dengan Dika.”
“Baiklah!” jawab Shinta. Ia tidak mungkin mempertontonkan perdebatannya di depan pria yang ia ketahui sedang menjalin hubungan dengan putrinya itu.
“Ayo, katanya kamu mau membawaku jalan-jalan?” ajak Dita.
Dika menatap Shinta, “Tante, maaf! Apa saya boleh mengajak Dita jalan?” untuk kesopanan dan tata krama, Shinta harus akui jika pria ini layak dipertimbangkan.
“Kemana?”
“Jalan-jalan saja, Tante.”
“Maaa.” Dita mulai protes.
“Silakan! Jaga dia baik-baik!” Shinta memotret Dika tanpa aba-aba, “Saya punya fotomu!”
Sebelum pergi, Dita menyambar dua potong sandwich lalu memasukkan dalam tasnya, “Aku tidak punya uang buat beli makanan.” Ucapnya tanpa beban pada Dika.
“Tunggu!” Shinta kembali menghentikan langkah mereka.
“Ini!” Shinta merasa malu akibat perkataan terakhir putrinya di depan Dika. Ia memberikan uang cash sebanyak satu juta dan ponsel Dita juga diberikan. “Mama rasa satu juta cukup. Lagian dia pasti punya uang untuk mengajak seorang gadis jalan, ya kan?” Dika mengangguk lalu tersenyum kecil.
“Mobil, Mas?” tanya Dita saat menaiki mobil yang sudah terparkir di pintu masuk hotel.
“Mobil sewa, pemiliknya sudah menunggu di bandara.”
Dika sudah menyiapkan pelarian Dita dengan detail. Dia bahkan menyewa sebuah mobil yang akan ia pakai untuk membawa Dita ke bandara. Tidak mungkin mengajak Dita naik taksi, Shinta pasti curiga jika melihat mereka naik taksi.
“Oh. Mas, maaf ya sudah merepotkan. Aku janji begitu sampai di sana aku akan menggantikan semuanya.” Ucap Dita.
“Mas, pinjam ponsel boleh? Aku akan meminta kakakku untuk menjemput di bandara.”
Dika menyerahkan ponselnya lalu langsung menghubungi sang kakak. Iskandar tidak percaya jika adiknya senekat ini untuk kabur.
“Apa pria itu bisa dipercaya?” tanya Iskandar membuat Dika tersenyum kecil.
“Kalau besok aku ditemui tidak bernyawa berarti dia tidak bisa dipercaya dan hari ini adalah hari terakhirku bicara sama kakak.” Dika menggeleng kepalanya seraya tersenyum.
“Kamu jangan membuatku takut. Jam berapa pesawatmu?”
“Jam sepuluh.”
“Baiklah aku akan menjemputmu di bandara. Kirimkan foto tiket pesawatmu!”
“Baik!”
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di pintu masuk bandara. Dika langsung menyerahkan kunci pada seorang pria yang mendatanginya. Setengah jam menunggu, Ibunya langsung menelepon. Dita panik, ia melihat Dika yang sedang bermain dengan ponselnya, “Mama menelepon, kalau aku jawab di sini pasti ketahuan kita di bandara. Bagaimana ini?”
“Jawab saja sebentar supaya Mamamu tidak khawatir.” Dita mengangguk, “Ma, jangan buatku seperti anak kecil!”
Tttuttttt….
Saat hendak menuju pesawat, Dita mengirim pesan pada ibunya sebelum ponselnya dimatikan. “Ma, aku menyalipkan sebuah surat dilaci meja!” Shinta yang sedang berada di balkon kamarnya langsung menuju meja lalu membuka surat tersebut.
“Ma, aku sangat menyayangimu. Selamanya posisimu tidak akan terganti. Maafkan aku yang tidak menghargaimu selama ini. Maafkan aku jika telah membuatmu kecawa. Ma, aku bahagia menjadi anakmu walaupun aku mengeluh karena Mama selalu sibuk. Padahal, Mama mencari uang juga untuk aku. Maafkan aku yang tidak tahu terima kasih ini. Ma, terima kasih sudah mempertahankanku walau semua orang menentang kehamilan Mama. Terima kasih sudah melahirkan dan membesarkanku dengan baik. Menjadi seorang putri dari dokter hebat seperti Mama adalah sebuah kebanggaan. Aku tidak pernah kekurangan, semua yang kuinginkan bisa aku dapatkan dengan mudah. Tapi, Ma. Bolehkan sekali ini aku juga ingin merasakan kehadiran Papa kandungku? Selama ini, aku memang tidak pernah kekurangan kasih kasayang Papa Toni tapi aku juga ingin merasakan kasih sayang Papa Faisal. Ma, aku tidak akan pernah meninggalkan Mama. Kemanapun aku pergi, Mama akan selalu menjadi rumahku. Ma, aku sangat menyayangi Mama, tolong izinkan aku sekali ini saja merasakan punya kasih sayang Papa dan Kakak kandung. Aku mohon, Ma! Maaf kalau aku harus berbohong untuk mencapai tujuanku. Aku anak Mama, dalam darahku mengalir darah Mama. Maka jangan heran bila kita memiliki karakter dan sifat yang sama. Maaf juga karena pria itu bukan kekasihku. Dia bekerja di hotel tempat kita menginap dan hari ini dia cuti pulang ke Surabaya. Aku meminta bantuannya dan begitu sampai di sana, Kakak akan menjemputku dan mengganti semua uang pria itu. Sampai jumpa lagi, Ma. Aku pasti akan pulang setelah membantu pernikahan Kakakku. Salam untuk Papa Toni. Aku sayang kalian!”
***
__ADS_1
Hai...hai...maaf ya hari telat....
Mampir di karya baru aku ya BUKAN SALAHKU DICINTAI SUAMIMU...tinggalkan jejak kalian disana jangan lupa kasih bintang dan pavoritkan... Makasih