CUT

CUT
Kampung Uteun...


__ADS_3

Kami terus berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir rawa yang maha luas ini. Aku berjalan dengan pikiran yang entah ke mana. Ternyata perjalanan ini cukup jauh dari dugaanku. Tepat saat matahari berada di atas kepala, kami baru sampai di kampung Uteuen. Kampung Uteuen adalah salah satu kampung yang masuk zona hitam aparat pemerintah. Sama seperti kampungku dulu sebelum aparat datang menyerbu kampungku lalu mendirikan banyak pos pemeriksaan dan penjagaan di sana.


Berbeda dengan kampungku sekarang yang sudah masuk dalam zona abu-abu, kampung Uteuen ini masih berada di zona hitam karena banyak penduduk di sini yang berpihak pada para pemberontak. Para orang tua di sini juga turut mendukung anak-anaknya untuk menjadi pemberontak.


Apakah kampung ini susah ditembus oleh pasukan pemerintah? Jawabannya tentu tidak jika menggunakan alat tempur dari udara seperti saat mereka menghancurkan markas di kaki bukit pembantaian.


Keberadaan masyarakat mungkin jadi pertimbangan bagi mereka karena warga kampung Uteuen tergolong cukup banyak. Tapi, jika mereka harus menyerbu lewat darat maka, hal itu akan sia-sia karena aparat pemerintah yang hendak menuju ke kampung ini sudah dihadang lebih dulu di jalan.


Aku mengikuti mereka sambil mengamati keadaan sekitar, siapa tahu ada celah untuk lari. Namun, sepertinya harapanku hanya tinggal harapan tatkala aku menyadari tidak ada celah yang membuatku bisa kabur dari sini.


Kami sampai di sana tengah hari. Khalid membawa kami ke sebuah rumah. Pemilik rumah terlihat ramah menyambut kami. Mereka juga menyediakan makanan untuk makan siang kami. Sepasang suami istri yang sudah tidak lagi muda yang belakang aku tahu nama mereka adalah Abu Syam dan istrinya Umi Mar. Begitulah Khalid memanggil kedua orang tua tersebut. Alangkah terkejutnya aku saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Umi Mar pada Halimah. “Kenapa kamu belum hamil? Kami sudah lama menginginkan cucu.” Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku. Saat itu aku baru selesai dari kamar mandi sementara Rendra aku titipkan pada Halimah yang kala itu sedang duduk bersama kedua orang tua tersebut.


Khalid sendiri entah pergi ke mana. “Apa ini anaknya Khalid?” tanya Umi Mar kembali. Aku yang hendak bergabung dengan mereka akhirnya urung kulakukan. Sepertinya aku harus melupakan larangan orang tuaku saat ini untuk tidak mencuri dengar pembicaraan orang lain. “Bukan, Umi. Ini anak almarhum Pang Sagoe. Cut itu adiknya Pang Sagoe yang diamanahi untuk menikah dengan Bang Khalid.” Jawab Halimah.


“Apa dia tahu kalau Khalid sudah menikah?” Halimah mengangguk lesu. Dari celah dinding bambu aku bisa melihat jika Halimah keberatan dengan pernikahan ini. “Walaupun dalam agama dibolehkan, tapi jika kamu masih sanggup melayaninya maka apa tujuannya menikahi wanita itu. Apa wanita itu masih mau menikah dengan Khalid setelah tahu kalau kamu istrinya? Sebagai orang tua, kami tidak rela jika kamu harus dimadu. Kalau alasan anak, Khalid sendiri yang membawamu ke tempat Nek Syah supaya kamu tidak hamil.” Dari balik dinding, fakta demi fakta semakin membuatku ingin lari dari sini.


Halimah diam saja sambil matanya terus menatap Rendra. “Apa kamu masih bisa hamil? Kenapa kamu tidak ke rumah Nek Syah lagi? Biar rahimmu digeser ke posisi semula supaya kamu bisa hamil.”


“Bang Khalid tidak mau, Umi. Bang Khalid bilang akan susah untuk kami kalau punya anak lalu tinggal di hutan. Apalagi jika aparat menyerang.”


“Ya jangan kalian bawa ke hutan, biar kami yang mengurusnya.” Halimah tidak lagi menjawab perkataan orang tuanya. Aku juga sependapat dengan Umi Mar jika harus memberi pendapat.


“Ke mana si Cut? Jangan sampai dia kabur.” Abu Syam bersuara.

__ADS_1


“Dia tidak akan kabur tanpa anak ini. Dia juga tidak ingin menikah dengan Bang Khalid, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Jika bisa lari, dia pasti sudah lari dari sini.” Jawab Halimah.


Abu Syam menghela nafasnya lalu keluar dari rumah entah menuju ke mana. Setelah merasa cukup, aku memutuskan keluar dari balik dinding bambu lalu menuju ke ruang tamu di mana Halimah dan ibunya berada.


“Kenapa lama sekali, Cut?” tanya Halimah yang aku balas dengan senyuman.


“Apa kamu mau menikah dengan Khalid?” aku langsung menggelengkan kepala saat Umi Maryam menanyakan hal tersebut.


“Saya tidak menyukainya, Umi. Orang tua saya juga tidak merestui.”


“Kamu mau lari dari sini?” suara Umi Mar terdengar mengecil.


Aku menatap lekat wanita tua yang terlihat serius. “Saya tidak tahu jalan, Umi. Saya pasti tertangkap.”


“Nanti malam Umi antar kamu. Sebentar lagi Khalid pasti pulang untuk menemui kamu jadi nanti malam saja.” Aku mengangguk. Benar saja seperti yang Umi Mar katakan. Tidak berapa lama, Khalid dan Abu Syam sudah kembali ke rumah.


Kami makan siang kemudian Khalid memasuki sebuah kamar lalu Halimah menyusulnya. “Istirahatlah! Kamu juga butuh tenaga untuk lari.” Bisik Umi Mar padaku setelah suaminya pergi.


“Kenapa Umi membantuku? Apa Umi tidak takut?” aku berbalas bisik.


Umi tersenyum hangat. “Umi tidak rela anak perempuan Umi bersedih karena melihat suaminya menikahi wanita lain. Sebagai perempuan kamu juga pasti tidak mau melihat suamimu menikah lagi, ya kan?” aku mengangguk pelan.


Aku membawa Rendra ke kamar yang lain. Sayup-sayup aku mendengar suara aneh yang berasal dari kamar Halimah. Aku menatap Umi yang tersenyum kecil ke arahku. “Seperti itulah suami istri jika sudah bersama. Tapi, Umi harap jika kelak kamu menikah. Jagalah etika saat kamu menginap di rumah mertua atau orang tuamu. Jangan seperti itu!” aku mengangguk paham.

__ADS_1


Malam menjelang...


Setelah makan malam, Khalid sudah keluar dari rumah. Aku melihat Halimah yang masih membungkus rambutnya yang basah. Sedangkan Umi tengah sibuk memasukkan air dalam botol sirop bekas yang sudah dicuci. Pisang mentah serta beberapa kue boi juga dimasukkan dalam karung yang kemudian dibawa keluar dapur. Aku duduk bersama Halimah di ruang tamu. Gadis itu terlihat senang, raut wajahnya juga berbeda. “Kak Limah sudah lama menikah?”


Dia menatapku lalu tersenyum. “Kami menikah saat Bang Khalid baru seminggu di kampung kami.”


“Kak Limah menyukainya?” dia mengangguk malu-malu.


“Bagaimana rasanya menikah?” tanyaku.


“Enak.”


“Enak?” tanyaku kembali dan dia hanya mengangguk.


Aku tidak bertanya lagi, sepertinya Halimah bukan gadis yang pandai mengutarakan isi hatinya. Aku membawa Rendra ke kamar, tidak lama Khalid memasuki kamarku. “Kamu sudah tidur?” aku tersentak saat tiba-tiba dia yang tadi pergi sudah berada di kamarku.


“Aku menidurkan Teuku.”


Dia duduk di dekatku dan tanpa sadar aku menggeser posisi dudukku. Dia melihatnya namun tidak berucap apa-apa. “Abang sudah mengatakan pada Teungku Imum untuk menikahkan kita besok di sini.”


Aku tidak ingin menjawabnya lagi. Lebih baik aku menyiapkan tenaga untuk nanti malam. Entah apa yang akan Umi lakukan supaya aku bisa lari dari sini.  


***

__ADS_1


LIKE...LIKE...LIKE...


__ADS_2