
Beberapa hari kemudian…
Kedatangan para mahasiswa ke Desa Wengi pagi itu tidak seperti biasanya. Pagi itu, kedatangan mereka disambut oleh amukan warga yang marah karena putra-putri mereka mendadak ingin keluar dari kampung untuk merantau. Beberapa dari putri mereka menolak menikah padahal lamaran sudah diterima sebelumnya.
“Pergi kalian!”
“Kami tidak membutuhkan bimbingan kalian!”
“Usir mereka, Pak Joko!”
“Mereka telah menyebarkan ajaran sesat pada anak-anak kita.”
Pak Joko tersenyum kecil tapi dia berusaha menyembunyikan senyumannya itu dari pandangan para mahasiswa.
“Ayo kita balik, Dik. Aku gak mau mati konyol digebukin warga.” Ajak Dewi.
Tanpa pikir panjang, Dodik langsung memutar kembali mobilnya menuju jalan desa diikuti oleh mobil lain. Aksi mereka mendapat mendapat tepukan tangan meriah oleh para warga yang mengira berhasil mengusir meraka. Mobil yang dikemudikan Dodik tiba-tiba berhenti membuat mobil di belakangnya ikut menginjak rem mendadak.
“Mas, tolong kami! Kami menumpang sampai kecamatan.”
“Iya, Mas. Kalau kami tidak kabur sekarang orang tua kami akan mengikat kami lalu menyerahkan kami pada juragan tanah itu.”
“Kita dalam masalah.” Ucap Aisyah.
“Jadi gimana ini?” Dodik bingung ditambah teman-temannya di mobil yang lain juga ikut bertanya padanya via telepon.
“Kita bawa saja ke markas koramil, bagaimana?”
Akhirnya, mereka membuka pintu dan para muda-mudi itu langsung naik walaupun sedikit berdesakan tapi itulah angkutan tercepat saat ini untuk bisa kabur dari desa.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan hingga mencapai jalan nasional. Mereka menghela nafasnya setelah mobil yang ditumpangi sudah menjauh dari desa.
“Apa kita hubungi Pak Is?” tanya Aisyah.
“Iya, tolong hubungi Pak Is, Ai!”
Aisyah langsung menelepon Iskandar. Setelah menceritakan semua kejadian hari ini, Iskandar bergegas menemui panitia KKN untuk mencari solusi dari permasalahan yang sedang dialami oleh mahasiswa bimbingannya.
Enam mobil memasuki area kantor koramil kecamatan dan Dodik langsung meminta mereka untuk menunggu sementara dia menemui komandan koramil ke kantornya. Dodik menceritakan semua yang terjadi hingga menyebabkan muda-mudi Desa Wengi kabur dari rumah. Pak Hasyim keluar menemui mereka lalu bertanya tentang alasan mereka kabur dari rumah. Mereka kompak menjawab dengan jawaban yang sama seperti yang Dodik sampaikan. Pak Hasyim menghubungi seseorang melalui ponselnya dan beberapa menit kemudian satu mobil polisi masuk ke halaman kantor koramil.
Pak Hasyim berhabat tangan dengan seorang pria yang ternyata kepala kepolisian sektor tersebut. Dodik ikut bersalaman dengan Kapolsek yang bernama Doni itu.
__ADS_1
“Pak, saya membawa ini!” seorang gadis yang bernama Jumi itu membuka isi tasnya di depan semua orang.
Semua mata terkejut melihat banyaknya perhiasan yang terdapat dalam tas Jumi. “Kamu dapat dari mana semua ini?” tanya Pak Doni.
“Ini pemberian juragan tanah saat melamar saya, Pak. Tolong saya, Pak. Saya tidak mau menikah dengan pria tua itu. Istrinya sudah tiga masih belum cukup. Kalau Bapak tidak menolong saya maka lebih baik kami mati dari pada harus pulang kembali ke desa.” Ancam Jumi yang diangguki oleh muda-mudi yang lain.
“Saya juga tidak mau balik ke desa, Pak.”
Kantor koramil yang terletak di pinggir jalan nasional membuat suasana di sana terlihat jelas sampai tertangkap oleh sepsang mata. Pria tersebut langsung menancap laju motornya menuju Desa Wengi. Di saat semua para orang tua di desa sedang murka setelah mengetahui jika putra putri mereka sudah kabur dari rumah apalagi ada yang sampai membawa perhiasaan dan uang. Para warga desa kembali berkumpul di kantor desa menemui Pak Joko.
“Mereka pasti menumpang mobil mahasiswa itu kalau tidak mana mungkin mereka bisa kabur dalam waktu singkat.”
“Benar sekali. Si Jumi saya sampai mengambil perhiasan yang dibawa oleh juragan kampung sebelah. Apa jadinya kalau Juragan itu tahu jika si Jumi kabur membawa perhiasan hadiah yang ia berikan.”
“Si Jamil juga ikut-ikutan kabur. Padahal sapi kami akan lahir lagi. Siapa yang akan mengurusi sapi sebanyak itu.”
Suara sepeda motor menghentikan keluhan para warga. “Mereka ada di kantor Koramil, di sana juga ada polisi.”
Semua warga mendadak diam. Mereka tidak bisa melawan jika sudah berhubungan dengan tentara dan polisi.
Dering ponsel Pak Joko berbunyi. “Pak Hasyim, kepala koramil menelpon. Beliau meminta saya ke kantor. Untuk sementara, mohon tenang dulu. Kita bicarakan lagi setelah saya kembali dari sana.” Pak Joko mengendarai motornya menuju kantor koramil kecamatan.
Sesampainya di kantor koramil, Pak Joko langsung memasuki kantor Pak Hasyim dan benar saja di dalamnya sudah ada pak kapolsek, Dodik sebagai perwakilan mahasiswa dan para muda-mudi Desa Wengi.
“Ini bisa menjadi panjang jika kasus ini sampai ke tangan polisi, Pak Joko. Apalagi secara langsung sudah melibatkan para mahasiswa.”
“Saya hanya kepala desa, Pak. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ini adalah masalah antara orang tua dan anak. Seharusnya Bapak bertanya pada orang tua mereka bukan saya.” Pak Joko mencoba melepas tangan untuk urusan begini. Karena dia tahu masalah ini terlalu rumit untuk diselesaikan olehnya.
“Baiklah kalau begitu, saya minta Pak Joko memberitahukan para orang tua dari muda-mudi ini untuk kemari besok. Sementara itu, para muda-mudi ini akan berada di sini sampai orang tua mereka datang ke sini lalu kita cari solusinya bersama-sama.”
“Saya setuju saja, Pak.” Jawab Pak Joko seraya melirik sekilas ke arah muda-mudi itu.
Pembicaraan telah selesai, Pak Joko kembali lagi ke desa untuk menyampaikan permintaan pada para warga yang masih menunggunya di kantor kepala desa.
“Bapak-bapak, besok kalian semua diminta untuk datang ke kantor koramil. Saya akan mengatakan jika anak-anak kalian telah menceritakan semuanya pada kepala koramil dan polisi. Jadi, pastikan saja kalau kalian tidak berkata yang bukan-bukan besok di sana. Jangan sampai kalian yang masuk penjara.” Ucap Pak Joko penuh penekanan.
Sementara di kantor koramil kembali kedatangan tamu. Mereka adalah Iskandar beserta panitia kegiatan KKN. Mereka mendengarkan duduk masalah yang terjadi secara rinci hingga pihak kampus mengambil kesimpulan untuk menari mahasiswa dari Desa Wengi. Hari itu juga, panitia kegiatan KKN mengalihkan mahasiswa Desa Wengi ke desa sekitar koramil berdasarkan usulan dari kepala koramil.
Iskandar menemui para mahasiswanya yang sedang memasak bersama para muda-mudi dari Desa Wengi. Ia tersenyum karena muda-mudi itu mulai menyedari jika dunia di luar desa sangat indah dan sayang untuk dilewatkan.
“Kenapa kalian terpikir untuk kabur?” tanya Iskandar ikut bergabung dengan mereka.
__ADS_1
“Kami penasaran dan tertarik dengan perkataan kakak-kakak kemarin.”
“Tapi ingat, dunia luar memang indah tapi ingat, untuk mendapatkan keindahan itu kalian harus memiliki kemampuan dan keahlian. Ikutlah dengan program dari dinas sosial, mereka akan membina kalian sampai siap menghadapi dunia luar yang indah itu.” Mereka mengangguk setuju.
Setelah mendapat laporan dari Dodik, Iskandar berusaha menghubungi pihak dinas sosial yang bertanggung jawab untuk urusan ini. Dari sanalah, Iskandar mendapat informasi tentang pembinaan itu. Pihak dinas sosial juga akan memfasilitasi para anak-anak ini setelah dibina. Satu jam setelah pihak kampus pulang, perwakilan dari dinas sosial sudah datang dan mendata mereka. Para muda-mudi ini juga setuju untuk dibina oleh mereka. Sekarang, pihak dinas sosial tingga menunggu persetujuan dari wali mereka. Tentu saja Pak Hasyim dan Pak Doni sebagai kapolsek akan mengambil peran di sini.
Suasana di mess koramil cukup ramai malam ini. Para muda-mudi terlihat akrab dengan para mahasiswa. Mereka saling berbagi cerita tentang banyak hal bahkan ada juga yang bergosip.
“Adiknya Pak Joko yang bernama Gendhis itu cantik tapi kok gak dipaksa kawin kayak kalian?” tanya Dewi membuat semua mata tertuju padanya.
“Kenapa kamu tiba-tiba tanya tentang Mbak Gendhis, Wi?” Aisyah ikut penasaran.
“Kan benar, coba pikir secara logika. Lihat, mereka dipaksa nikah, kenapa Pak Joko tidak memaksa adiknya untuk menikah juga? Apalagi Mbak Gendhis itu cantik masa tidak ada juragan yang naksir?”
“Mbak Gendhis itu gak bisa menikah dengan orang sembarangan, Mbak. Dia itu harus menikah dengan laki-laki pilihan dan selama ini belum ada yang sesuai dengan pilihannya.”
“Memangnya laki-laki seperti apa?” tanya Aisyah serius.
“Lajang dan tampan serta bukan berasal dari desa sekitar dan harus yang berumur 2 tahun di atas dia. Kalau lebih atau kurang maka tidak akan diterima.”
“Mau kawin saja kok ribet begitu?” gerutu Dewi.
“Ya memang begitu, Mbak. Karena Mbak Gendhis itu istimewa. Dia lahir tepat tengah malam bulan purnama. Dia juga selalu melakukan berbagai ritual untuk mengawetkan kecantikannya.”
“Kayak mayat saja pakai diawetkan.” Sahut Aji.
“Jangan mengatakan yang jelek-jelek, Mas. Di desa, tidak ada yang berani menjelek-jelekkan Mbak Gendhis. Dulu, pernah ada ibu-ibu yang menyindir Mbak Gendhis dengan menyebut Mbak Gendhis perawan tua. Malamnya ibu tersebut langsung kena penyakit kulit mengerikan hingga diusir oleh keluarganya dari desa. Ibu itu bukan warga sana, dia mengikuti suaminya ke desa itu dan tidak tahu tentang Mbak Gendhis. Dan ibu itu juga sedikit julid kalau bicara makanya orang-orang ikut meneriakinya saat ia diusir.” Cerita si Jumi.
“Terus kamu sendiri gimana? Kenapa kamu mengambil perhiasan pemberian juragan? Kamu ini mata duitan juga ternyata.” Ledek Dewi kembali.
Si Jum tertawa, “Kalau mau kabur kudu punya modal juga, Mbak. Masa iya kabur dengan tangan kosong. Perut kan butuh diisi, kalau tidak mana kuat lari.” Bantah si Jumi membuat mereka tertawa bersama.
“Terus Mbak Aisyah gimana? Apa mau menunggu Mas Kadir sukses?”
“Hah?” Aisyah tidak siap dengan pertanyaan itu. Apalagi saat ini si penanya yaitu kadir juga sedang menunggu jawabannya.
“Mbak Aisyah ini sudah dilamar orang. Tidak boleh melamar wanita yang sudah dilamar jadi pepatah yang mengatakan sebelum janur kuning melengkung masih boleh ditikung itu ajaran sesat bin menyesatkan ya! Jangan ditiru! Kadir, percayalah, di luar sana, kamu akan bertemu banyak wanita yang lebih cantik dari Aisyah. Kamu harus tahu, Aisyah ini hanya cantik di depan kalian saja. Kalau kamu sampai lihat aslinya dia, detik ini juga kamu menyesal pernah menyuruhnya menunggumu.” Tegas Dewi membuat Kadir menelan salivanya dengan susah.
Sang objek yaitu Aisyah hanya tersenyum kecil, ia tidak membantah sekalipun karena tahu tujuan Dewi berkata begitu untuk menyelamatkan hati Kadir supaya tidak patah.
“Memangnya Mbak Aisyah kenapa sampai bisa membuat Mas Kadir menyesal jika menikahinya?”
__ADS_1
***
Sebelum janur kuning melengkung masih bisa ditikung.... Ajaran Sesat bin menyesatkan!!!