CUT

CUT
Selipan Rasa...


__ADS_3

Rendra mendapat tugas untuk mengantar bantuan berupa alat-alat medis serta obat-obatan yang diturunkan di bandara. Barang-barang tersebut akan disalurkan ke setiap rumah sakit. di sinilah Rendra sekarang. Pepatah ‘Sambil menyelam minum air’ pantas disematkan untuk Rendra saat ini. Di saat anak buahnya tengah menurunkan barang, dia malah mencuri-curi kesempatan ke ruang rawat Cut.


“Sudah selesai baca novelnya?” tanya Rendra menatap lembut manik hitam di depannya.


“Belum. Baru setengah.”


“Suka?”


Cut mengangguk kecil. “Kalau sama saya, suka tidak?”


Lagi-lagi Cut menoleh pada pria di depannya. Pria penuh kejutan bernama Rendra. Cut tidak tahan menatap manik pria itu. Dia segera memutuskan kontak keduanya. Melihat ke berbagai arah dengan perasaan tidak menentu.


“Tidak perlu dijawab! Saya hanya bercanda saja. Saya sudah jelek ya? Tapi kamu masih saja manis dan cantik bahkan hingga kamu punya anak. Wajahmu masih tetap sama.”


Cut semakin tidak tahan mendengar setip kata manis yang keluar dari bibir pria di depannya ini. Sebagai perempuan yang pernah menyimpan kenangan bersama Rendra. Dia tidak bisa memungkiri hatinya saat ini.


“Abang bilang akan kemari kalau novelnya sudah selesai. Kenapa sekarang kemari?” Cut berusaha mengalihkan pembicaraan.


Kemudian Rendra memberitahukan Cut tentang tugasnya hingga ia sampai di ruang rawat Cut. Suara dari alat komunikasi yang terpasang di bahu Rendra membuat pria tersebut terpaksa meninggalkan Cut dengan sejuta kerinduan yang masih tersimpan.

__ADS_1


“Saya kembali tugas ya. Cepat sembuh! Kalau rindu, lihat foto saya sesukamu. Sampai ketemu lagi, Sayang.”


Gleg…


Cut menelan salivanya dengan susah. Sangat sulit untuk Cut jabarkan perasaan hatinya. Berbagai kejadian yang menimpanya saat ini membuatnya belum siap untuk menghadapi masa depan. Anak, mantan suami, kedua orang tua bahkan Rendra kecil yang belum ia temukan sampai sekarang. Setiap hari, ia berjalan ke bangsal anak-anak untuk melihat apakah ada kemungkinan untuknya bertemu dengan sang keponakan kembali.


Ia juga berharap agar lekas sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit ini untuk bisa berkumpul dengan keluarganya lagi. Terutama sang putra yang sudah enam bulan lebih tak bersamanya. Kehadiran Rendra saat ini seperti tidak berpengaruh banyak dalam hidupnya. Terlalu banyak yang terjadi hingga Cut masih menganggap jika kehadiran Rendra bukan sesuatu yang harus ia tanggapi dengan serius.


“Tidak mudah untuk membuka hati lalu melupakan semua yang terjadi. Semua tidak baik-baik saja, Bang! Kehidupan memang mempermainkan kita. Setelah kita bertemu lalu kita akan kembali berpisah lagi dan begitu seterusnya. Aku bukan lagi gadis yang kamu temui beberapa tahun silam. Aku yang sekarang sudah tidak sama. Jiwa ragaku sudah tidak sempurna. Ada hati yang kecewa dan raga yang rapuh. Apa yang bisa kamu banggakan?”


Cut berkata pada diri sendiri selepas kepergian Rendra. Ia menyadari banyak hal saat ini terutama posisinya sebagai ibu. Dia tidak mungkin meninggalkan Iskandar demi hidup bersama Rendra. Dia juga tidak mau kehilangan Iskandar dengan menyerahkan Iskandar pada orang tua Faisal.


Cut tidak mampu menolak setiap buku atau novel yang Rendra kirimkan. Tentu saja disertai selembar surat yang tak pernah absen. Rendra bercerita banyak hal pada Cut di dalam suratnya. Dari hal-hal besar hingga kecil yang ia alami. Tanpa sadar, Cut sering terkikik ataupun senyum-senyum sendiri acap kali membaca surat-surat Rendra. Semua itu tidak luput dari pantauan sepasang manik mata berwarna hazel.


Keceriaannya memang tidak sebanding dengan yang lain tapi berada di sisinya seperti ada daya tarik sendiri hingga setiap berada di sisinya selalu menyenangkan. Dr Guney menyadari jika dia tidak mampu bergerak terlalu jauh untuk mendekati Cut. Hingga ia hanya bisa mendampingi Cut sebagai dokter tanpa bisa berharap lebih.


Dua bulan Cut habiskan di rumah sakit setelah dr Guney memberitahukan jika Cut sudah bisa kembali ke rumah dengan nyaman. Entah berapa kali ia mengoperasi Cut dan sebuah keajaiban untuknya saat melihat ciptaan tuhan yang sudah sekarat masih bisa bernafas dan sekarang bisa tersenyum ataupun bergurau dengan bebas. Rambut Cut sudah mulai tumbuh setelah dicukur habis sebelum operasi. Untungnya dia memakai jilbab hingga kepala botaknya tidak terlihat.


Pak Cek Amir bersama Mae menjemput Cut di rumah sakit. sebelum pulang, Cut terlebihh dahulu berpamitan kepada sesama penghuni bangsal lainnya. Mereka yang selama ini bersamanya melewati segalanya sendiri tanpa sanak keluarga. Mereka yang masih tertinggal di bangsal tersebut merupakan korban tsunami yang belum menemukan keluarganya. Sebagian dari mereka ada yang menderita amnesia, cacat karena sebelah kaki telah diamputasi atau cacat lainnya.

__ADS_1


“Tetap hati-hati dan jangan lupa kontrol rutin ke rumah sakit. Jika kamu merasa ada yang tidak enak di tubuh kamu maka segeralah ke sini. Bapak, Ibu, saya minta perhatiannya untuk Cut.”


“Sudah menjadi tanggung jawab kami, Dokter. Terima kasih sudah merawat Cut selama ini.”


Pak Cek Amir berjabat tangan dengan dr Guney lalu mereka meninggalkan rumah sakit. Cut tidak bisa menggambarkan keadaan hatinya saat ini. Sedih dan bahagia berjalan beriringan dengannya. “Pak Cek, kira-kira di mana Abu dan Umi dikubur?” tanya Cut kepada Pak Cek Amir.


“Kenapa? Apa kamu ingin ke sana?”


Cut mengangguk lemah lalu Pak Cek Amir menyebutkan sebuah tempat pada sopir kendaraan umum tersebut. Sang supir mengangguk lalu melajukan mobil anggkutan tersebut ke sebuh tempat yang tidak jauh dari pesisir.


Cut yang selama ini hanya keluar sampai ke ruko Mae merasa dadanya sesak begitu melihat bagaimana kondisi pesisir yang dulunya dipenuhi oleh rumah-rumah kini telah rata dengan tanah. Hanya bongkahan kecil fondasi beton yang masih terlihat. Selebihnya telah rata dengan tanah. Air mata Cut kembali tumpah, ia membayangkan bagaimana keadaan Abu dan Umi saat bencana itu datang. Selama ini, Cut hanya melihat tayangan di televisi tapi kini ia melihat secara langsung bagaimana Tsunami menghantam daerahnya. Perasaan Cut seribu kali lebih sedih saat melihat kondisi saat ini dengan mata kepalanya sendiri.


“Abu, Umi, Cut bingung harus memulai hidup seperti apa? Tanpa kalian, Cut tidak akan mampu melihat arah. Abu, Umi, Cut membutuhkan kalian? Ya Allah, kenapa Engkau mengambil mereka begitu cepat? Ya Allah, hamba tidak kuat menanggung ini sendiri. Hamba membutuhkan mereka, hamba belum membahagiakan keduanya. Bahkan di akhir usianya, hamba justru memberi kesedihan dan kekecewaan untuk mereka. Ya Allah, ampuni dosa mereka, ampuni dosa hamba. Ya Allah, berilah nikmat kubur pada keduanya. Berikan surga untuk keduanya.


“Cut…”


“Cut…”


“Bangun!!!”

__ADS_1


***


__ADS_2