CUT

CUT
Jalan Menuju Zina...


__ADS_3

“Aww...” Cut terbangun dari tidurnya karena kakinya yang terasa perih.


“Maaf jika membuatmu terkejut. Tadi aku membiarkanmu tidur karena aku lihat kamu kelelahan. Sekarang sudah mau magrib, kamu bisa melanjutkan tidur nanti malam.”


“Maaf aku mengobati kakimu tanpa izin.” Lanjut Khalid kembali.


Aku memperhatikan goresan di kakiku sudah dibubuhkan obat merah. “Rendra mana?” Aku panik saat menyadari jika Rendra sudah tidak bersamaku.


“Rendra?”


“Anak Bang Ilham.”


“Kamu mengganti namanya?”


“Tidak penting, mana dia?” Aku panik dan hendak bangun namun Khalid langsung menahanku.


“Dia lagi bermain sama teman-teman ayahnya. Sekarang jawab pertanyaanku! Kenapa kamu mengganti nama pemberian Ilham?”


“Aku tidak tahu namanya, perawat di rumah sakit menanyakan namanya saat itu. Jadi, aku memberikan nama yang terlintas di pikiranku saja.”


“Termasuk nama Rendra?” Aku gelagapan, aku jarang berbohong dan tentu sangat mudah untuk mengetahui jika aku sedang berbohong. Apa yang harus aku katakan? Apa iya aku harus jujur padanya? Tapi, untuk apa? Dia bukan siapa-siapa dalam hidupku.


“Nama Rendra itu disematkan oleh salah satu penjaga di sana karena dia menyayangi Rendra.”


“Dia kafir yang bertugas di kampung kamu kan?”


Aku menatap Khalid penuh kebencian. “Jangan mengkafirkan seseorang apalagi dia juga menganut agama yang sama dengan kita.” Khalid marah, aku bisa merasakan dia sedang menatapku dengan penuh emosi yang terpancar dari sorot mata serta rahangnya seketika mengeras. Aku tidak peduli lagi, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah termasuk menyelamatkanku dari sarang harimau ini. Namun, keluar hidup-hidup dengan kondisi sempurna rasanya sungguh tidak mungkin.


“Kita akan menikah besok!” Khalid pergi membawa serta emosi yang tertahan sementara aku mematung dengan pikiran berkecamuk.  Bagaimana bisa dia memaksakan kehendaknya untuk menikah denganku. Ini sudah keterlaluan, aku tidak bisa menerima pemaksaan ini.


Aku keluar mencari Rendra, ternyata anak itu sedang berada bersama beberapa pria yang terlihat masih muda. “Rendra,” Dia segera menghampiriku dengan senyum bahagia yang terpancar di wajahnya.


Hari sudah menggelap, aku kembali masuk ke dalam tenda. Seorang wanita datang membawakan makanan untuk kami. Wanita itu masih muda dan wajahnya juga manis hanya satu yang kurang, dia terlihat lusuh dan kurang terawat. “Kak,” Aku memanggilnya dengan sebutan ‘kak’ sebagai rasa hormat. Padahal jika ditelisik mungkin umur kami sebaya.


“Ya.”

__ADS_1


“Apa saya boleh pinjam mukena? Saya mau salat.”


“Sebentar, saya ambil dulu.” Wanita itu keluar, Rendra sudah mendekati talam yang berisi makanan seadanya khas penduduk hutan atau lebih tepatnya makanan khas para pemberontak. Pisang dan ubi rebus yang dibaluri kelapa.


Wanita tadi kembali masuk dalam tenda dengan menenteng tas seuke berukuran sedang. Seuke adalah daun pandan duri yang digunakan untuk membuat berbagai kerajinan di daerah kami. Banyak wanita di darah kami yang  berprofesi sebagai penganyam tikar yang bahan bakunya dari seuke.


“Ayo, saya antar untuk mengambil air sembahyang.” Aku mengangguk lalu menggendong Rendra.


“Titipkan saja sama mereka, kasihan dia malam kamu bawa ke sungai.”


“Kita ke sungai?” Wanita tadi menganggukkan kepala.


“Bang, saya titip Teuku sebentar, Bisa? Saya mau salat.”


“Iya, silakan. Kami akan menjaganya.” Mereka menyambut Rendra dengan baik. Aku tidak lagi memanggil nama Rendra. Tempat ini membuatku menyadari satu hal, mereka yang pernah tinggal bersama Abangku pasti tahu nama Rendra. Buktinya, mereka masih hafal dengan nama pemberian kedua orang tuanya dulu.


“Nama Kakak siapa?” Tanyaku saat kami berjalan menyusuri hutan menuju sungai.


“Halimah, kamu?”


“Saya Cut Zulaikha. Kakak sudah lama di sini?”


“Orang tua Kakak mengizinkan Kakak tinggal di sini?”


“Mereka sudah meninggal, dibunuh oleh aparat biadab itu.”


“Kenapa?”


“Orang tua saya suka memberi sumbangan dan beras kepada abang-abang di sini. Aparat mengira ayah dan ibu saya cuak. Padahal mereka hanya ingin membantu para pejuang kita.”


“Kakak tidak punya saudara? Maksud saya adik atau abang?”


“Saya punya Kakak dan sekarang sudah bergabung menjadi pasukan inong balee karena suaminya dibunuh oleh aparat itu. Kamu tidak ingin bergabung dengan kami untuk meneruskan perjuangan Abang kamu?”


“Saya tidak bisa meninggalkan Abu dan Umi yang sudah tua. Ada Teuku yang harus saya rawat jadi saya tidak bisa untuk bergabung dengan kakak-kakak di sini.”

__ADS_1


“Besok kamu akan menikah dengan Bang Khalid, mau tidak mau kamu juga harus meninggalkan orang tuamu.” Aku tersentak. Niatku ingin membasuh muka dengan air sungai urung sudah. Di bawah cahaya bulan yang mengintip di balik daun-daun pohon yang menjulang tinggi. Aku menatap wanita yang sedang berada di sampingku.


“Apa yang sudah Bang Khalid katakan pada semua orang di sini?”


“Kemarin dia mengatakan jika calon istrinya akan datang kemari lalu kalian akan menikah.”


Ya Allah, saat ini aku benar-benar ingin lari dari sini. Aku tidak berpikir sedalam ini saat mendengar perkataan Khalid tadi. “Cepat ambil air sembahyang, kita sudah lama meninggalkan tenda!”


Aku segera mengambil wudu lalu salat magrib di pinggir sungai. Dengan tas dari anyaman daun pandan duri aku jadikan alas muka saat sujud. “Ya Allah, ampunilah segala dosa hamba. Terimalah Taubat hamba. Di ujung usia ini, hamba masih berharap keajaiban-Mu untuk hamba dan Rendra. Ya Allah, selamatkan kami. Matikan hamba di dekat kedua orang tua hamba. Ya Allah, matikan hamba dalam keadaan Husnul khatimah.”


“Doamu seperti orang yang mau mati. Kamu kan mau menikah, seharusnya kamu berdoa supaya pernikahanmu lancar dan berkah.” Halimah ternyata penasaran dengan doa yang kupanjatkan dalam suara yang cukup untuk di dengar olehnya yang berada di sampingku.


“Pernikahan tanpa restu dari kedua orang tua tidak akan berjalan lancar serta berkah. Dalam agama sudah dijelaskan, jika seorang gadis ingin menikah dia harus mendapat restu dari wali dan dinikahkan oleh walinya jika walinya masih hidup. Bang Khalid sudah ditolak oleh kedua orang tuaku dan sekarang dia menculikku untuk menikah tanpa Abu dan Umi. Aku tidak yakin pernikahan ini akan berhasil. Dan pernikahan ini sama seperti berzina karena tidak sah secara hukum agama.”


Halimah tidak menjawab lagi perkataanku, dia segera mengajakku kembali ke tenda. “Apa kamu menyukai Bang Khalid?” Aku tertawa kecil mendengar pertanyaan Halimah.


“Aku tidak mengenalnya bagaimana bisa menyukainya.”


“Dia tampan dan baik, semua wanita suka padanya. Kenapa kamu justru tidak menyukainya?”


“Apa kamu juga menyukainya? Aku tidak menyukai pria pemaksa. Bagiku, pria pemaksa adalah lelaki yang tidak mau mengakui kelemahannya dan lebih suka memerintah. Aku tidak suka pria seperti itu.”


“Terus, pria seperti apa yang kamu suka?”


“Seperti Abu. Aku suka pria yang memiliki sifat dan karakter seperti Abu. Setiap melihat bagaimana Abu dan Umi, aku selalu berharap mendapatkan suami seperti Abu kelak.


“Kenapa orang tuamu menolak Bang Khalid?”


“Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Begitu juga dengan Abu. Kami lahir dari garis keturunan yang harus dijaga jadi keluarga sangat melarang jika kami menikah dengan seorang yang bukan ‘Teuku’.”


“Kenapa orang tuamu memilah-milah orang berdasarkan garis keturunan. Allah saja tidak memilih makhluknya berdasarkan keturunan. Yang dilihat hanya amal kebaikan bukan dia lahir dari keturunan siapa. Masak kamu tidak diajari tentang itu di pengajian.”


Untuk sesaat aku terdiam, apa yang Halimah katakan memang benar. Abu sendiri hanya memakai alasan itu untuk menolak Khalid bukan untuk menolak semua pria. Sekarang aku juga memakai alasan tersebut untuk menolak Khalid dan sepertinya aku tidak mengambil alasan yang tepat hingga anak panah yang kulepaskan malah berbalik menusukku.


 

__ADS_1


***


LIKE...LIKE...LIKE...


__ADS_2