CUT

CUT
Tamu Pertama...


__ADS_3

“Kak, masuklah! Lain kali kita bicara.” Tegas Anugrah lalu kembali melajukan mobilnya meninggalkan Iskandar mematung sendiri.


Seakan enggan menanggapi masalah Anugrah, orang tuanya lebih memilih berbincang dengan Aisyah. “Orang tuamu kerja apa, Nak?” tanya Cut.


“Mereka dokter, Tante.” Jawab Aisyah lembut.


“Ouh, Neneknya Iskandar juga dokter dan ayahnya juga dokter.” Sambung Pak Fahri membuat Aisyah kebingungan. Rendra menangkap raut itu dengan jelas dari wajah Aisyah. “Saya ayah sambungnya.” Ucap Rendra akhirnya.


“Sepertinya Iskandar belum bercerita banyak tentang keluarganya padamu ya?” Aisyah menggeleng. “Kami jarang membahas masalah keluarga, Tante.”


“Lalu selama ini yang kalian bicarakan apa?”


Aisyah tersenyum kikuk, “Skripsi, Om.” Lirih Aisyah membuat semua anggota keluarganya menghela nafas bersamaan.


Rendra menangkap ada raut berbeda dari Iskandar dan Wulan setelah melihat Anugrah. Ia tidak mungkin mengintrogasi putra dan menantunya saat ini. Setelah zuhur, Iskandar langsung mengantar Aisyah kembali ke rumahnya.


“Mau mampir?” tawar Aisyah saat mobil berhenti di depan pintu gerbang.


“Orang tuamu ada?”


“Ada, kakak juga.”


Dreet…


“Assalamualaikum, Pa.”


“Walaikumsalam. Is, setelah antar Aisyah, kamu bisa kembali ke rumah?” Iskandar langsung menduga jika ada hal serius dan ini pasti menyangkut sang adik.


“Baik, Pa. Is langsung pulang.”


Setelah mengakhiri teleponnya, Iskandar menatap sang calon istri. “Disuruh pulang ya?” Iskandar mengangguk.


“Maaf ya belum bisa bertemu orang tuamu.” Aisyah mengangguk kecil seraya tersenyum.


“Aku masuk dulu, assalamualaikum.”


“Walaikumsalam.”


Aisyah melambaikan tangannya sebentar kemudian mobil yang ditumpangi Iskandar langsung melaju membelah jalanan menuju rumah. Suasana ruang tamu terlihat tegang, Ibu Murni dan Pak Fahri sudah beristirahat siang di kamar mereka sementara Kak Juli juga ikut menghilang ke dalam kamarnya. Tinggallah di sini Wulan, Cut dan Rendra. Tidak berselang lama, Iskandar memasuki rumah setelang mengucap salam. Ia langsung duduk di depan sang ayah.


“Ada kejadian apa kemarin di sini saat kami keluar?” tanya Rendra menatap manik mata Iskandar. Sementara sang putra justru melirik Wulan yang ikut bergabung di sana.


“Aku rasa Anugrah sedang tertekan, Pa.” Jawab Iskandar kemudian menceritakan apa saja pembicaraan mereka kemarin pada orang tuanya. Rendra bersitatap dengan Cut seraya menghela nafasnya.


“Ada apa ini Wulan? Semalam kamu tidur di kamarnya kan?”


Gleg…


Wulan tersedak salivanya sendiri. “Katakan, Nak. Dia juga mengatakan akan tidur di kamarmu. Ada apa ini?” tanya Cut lembut mengusap punggung tangan Wulan.


“Aku tidak perlu menceritakan apa-apa pada kalian. Kami sudah besar dan tahu apa yang kami mau. Kalian juga tidak perlu mengatur makanan apa yang kami makan. Hidup kami biar kami yang atur.” Wulan mendorong kursi rodanya menuju kamar meninggalkan keluarga itu. Ia tidak sudi berbagi pikiran dengan mereka.


“Percuma saja kita menyuruh dia bicara.” Kesal Rendra.


“Apa ini ada hubungannya dengan Mama mengambil minuman kemasan milik Anugrah, Pa?”


“Mama masih melarang dia memakan makanan kemasan?” tanya Iskandar terkejut. “Bukan itu, Ma. dia hanya kecewa pada dirinya sendiri. Jadi, kita biarkan saja dulu.” Ucap Rendra mengakhiri diskusi mendadak itu.

__ADS_1


Hari berlalu dan Anugrah mulai berkemas. Ia sudah memindahkan semua barang-barangnya untuk pindah. Wulan tidak protes, ia juga ingin pindah. Ia merasa jengah bereda dalam keluarga itu yang suka mengatur-ngatur sampai makanan saja harus diatur.


“Kami pamit, Assalamualaikum.”


Tepat di hari minggu itu, Anugrah membawa Wulan keluar dari rumah orang tuanya. Tidak ada larangan yang keluar dari mulut sang ibu maupun sang ayah. Hanya linangan air mata yang mengalir di pipi sang ibu.


“Doakan yang baik-baik untuk mereka, Ma.” Bisik Rendra.


Anugrah memarkirkan mobil tepat di depan rumah dinasnya. Beberapa ibu persit terlihat di depan rumah seraya tersenyum ramah pada mereka yang merupakan penghuni baru di sana.


“Selamat datang Ibu Persit baru, semoga betah di sini.” Ucap salah satu ibu persit menghampiri Wulan yang duduk di kursi roda.


“Terima kasih, Ibu-ibu. Maaf kalau nantinya istri saya jarang mengikuti kegiatan. Dia harus menjalani terapi untuk kesembuhannya.” Ucap Anugrah ramah.


“Tidak apa-apa, Pak. Kami maklum.” Setelah berbincang sesaat, Anugrah membawa Wulan ke dalam rumah yang akan menjadi saksi perjalanan pernikahan mereka dikemudian hari. Semua sudah tertata rapi baik baju Wulan maupun baju Anugrah.


“Rumah ini cuma punya dua kamar. Kamar pertama kita gunakan untuk tidur sementara kamar ke dua kita gunakan untuk menaruh lemari supaya tidak terlalu sempit. Apa kamu keberatan tidur satu kamar denganku? Akan susah buatku untuk menjagamu jika kita tidur di kamar terpisah. Tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu sebagai suami.” Wulan bergeming, ia juga tidak tahu harus mengatakan apa.


“Aku mau pergi belanja, kamu mau ikut?” Anugrah belum mengisi kulkasnya. Dari kemarin dia hanya membereskan barang-barang mereka tanpa sempat belanja kebutuhan dapur.


“Tidak,” Wulan mendorong kursi rodanya menuju kamar. Ia ingin merebahkan badannya di tempat tidur. Anugrah mengikuti apa yang Wulan lakukan. Tanpa perlu diminta, Anugrah langsung membantu Wulan menaiki tempat tidur. Sekilas, keduanya seperti orang sedang berpelukan mesra.


“Belikan aku buku tulis!” ucap Wulan saat Anugrah hendak keluar kamar.


“Hem,”


Sementara di rumah utama, Cut sedang terisak dalam pelukan sang suami. Ia tidak menyangka jika Anugrah yang dulu manis kini telah berubah.


“Sudahlah, Ma. Dia itu sudah besar. Biarkan dia mengatur rumah tangganya sendiri.” Rendra mencoba menghibur sang istri. Baginya, kepindahan Anugrah bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Walaupun, Rendra sedikit keberatan dengan cara anak dan mantunya.


“Kita sedang diuji menghadapi anak laki-laki yang sudah dewasa, Apa Mama tidak merasa jika dunia kita sedang berbalik? Dulu, Iskandar yang berbuat ulah tapi lihat sekarang. Saat di dewasa justru sangat penurut dan patuh pada kita. Sementara Anugrah justru sebaliknya. Coba Mama pikir, yang Papa bilang benarkan?”


“Ya sudah. Sekarang berhenti menangis ala sinetron yang kamu tonton itu. Biarkan mereka mengatur rumah tangga mereka sendiri. Apa Mama tidak mau mendoakan supaya kepindahan mereka ini semoga semakin membuat mereka dekat dan jatuh cinta pada akhirnya?” Senyum Cut kembali mengembang.


Akhirnya awan kesedihan yang menyelimuti hati Cut telah hilang berganti dengan doa-doa indah untuk sang putra. Iskandar mengetahui jika sang adik telah pindah ke rumah dinasnya. Dari sang ayah, ia mendapat tugas untuk memantau adik dan iparnya itu di sana. Dan di sinilah Iskandar sekarang. Dia mengunjungi rumah dinas sang adik bersama Aisyah. Lebih tepatnya Aisyah yang meminta ikut.


“Pak, kita bawa apa? Jangan pergi dengan tangan kosong begini.”


“…” Tidak ada sahutan dari mulut Iskandar.


“Pak, Bapak gak lagi kemasukan jin apa gitu kan?” Entah kenapa, Aisyah menjadi sedikit bawel setelah bertemu dengan keluarga Iskandar. Saat ini mereka dalam satu mobil.


“Kemarin di rumah sakit, kamu panggil saya apa?”


Nah, sekarang Aisyah mengerti dimana letak kesalahannya. Ia mengulum senyum melirik calon suami yang kata orang wajahnya datar itu tapi menurutnya sangat keren.


“Ouh, Bapak ingin dipanggil ‘Mas’? bilang dong! Kemarin saya memanggil itu buat bikin Anggi cemburu saja.”


“Tapi saya suka panggilan itu.”


“Baiklah, Mas Iskandar tersayang. Kita tidak membawa buah tangan ini?”


“Ck, kamu sudah berani memanggil saya pakai sayang sekarang? Kemana Aisyah yang kalem itu?” ledek Iskandar disertai senyuman kecil yang membuat Aisyah mencibirnya.


“Pak, dimana-mana cewe itu harus kalem dulu untuk mengobservasi lawan. Nah, kalo sudah berhasil menumbangkannya baru deh dinampakkan aslinya. Kenapa? Bapak keberatan dengan aslinya saya? Ya sudah kita batalin saja.”


Awww….

__ADS_1


Iskandar menghentikan mobil secara tiba-tiba hingga membuat Aisyah terdorong ke depan. Ia menatap tajam pada gadis yang sedang mengelus-ngelus dadanya itu. “Kamu mau mempermainkan saya?” Aisyah tidak berkutik. Ini pertama kalinya dia melihat Iskandar dalam mode sangar bin seram.


“Pernikahan bukan permainan, Ai. Saya tidak menikah tanpa tekad yang jelas. Jika kamu mau main-main sebaiknya tidak dengan saya.”


“Bercanda kamu tadi kelewatan. Kalau kamu membiasakan diri dengan kata-kata itu maka setelah menikah pun tidak menutup kemungkinan kamu akan mengeluarkan kata-kata itu lagi. Kata-kata yang membuat kalian para wanita merasa angkuh lalu ketika itu terjadi barulah kalian menyesalinya.”


“Jangan latah dengan kata-kata itu. Begitu juga dengan kata ‘cerai’ kalian para wanita dengan mudah mengatakan cerai seakan setelah cerai masalah akan selesai dengan sendirinya. Saya tidak mau istri saya seperti itu. Apa kamu mengerti maksud saya?” Aisyah hanya menganggukkan kepala.


Iskandar kembali melajukan mobil menuju salah satu toko roti. “Ayo turun!” titahnya. Setelah memilih beberapa jenis roti, keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah dinas Anugrah.


Di rumah dinasnya, Anugrah yang baru selesai mandi sedang berkutat di dapur. Ia adalah seorang tentara jadi hal seperti itu sudah biasa ia lakukan. Sementara Wulan, ia sedang asik menulis di bukunya. Anugrah membelikannya buku tulis binder lalu satu kotak pulpen.


Tok…tok…


“Assalamualaikum,” suara salam di depan pintu membuat keduanya menghentikan aktivitas sesaat. Saat Wulan hendak mendorong kursi rodanya, “Biar aku saja!” ucap Anugrah yang sudah berjalan lebih dulu menuju pintu.


“Walaikumsalam,” jawab Anugrah setelah membuka pintu dan melihat siapa tamu pertama mereka.


“Em, masuk Kak!” ucapnya canggung.


“Ini, kami tidak tahu mau bawa apa buat kalian.” Ucap Iskandar menyerahkan satu plastik roti ke tangan sang adik.


“Silakan duduk! Em, ini?” tanya Anugrah ragu-ragu.


“Oh ya, kamu belum sempat kenalan, ini Aisyah. Calon kakak iparmu!” Aisyah mengapit tangan di dada menghadap Anugrah. lalu ia berjalan menghampiri Wulan. “Apa kabar, Mbak?” tanya Aisyah ramah seraya mengulurkan tangannya.


“Baik, Kak. Saya masih 20 tahun. Kakak panggil nama aja!” ucap Wulan pelan. Aisyah tersenyum ramah lalu duduk di dekat Wulan. Iskandar sendiri mengikuti Anugrah ke dapur. Ia memantau isi dapur adiknya dengan saksama.


“Apa Kakak diutus Papa untuk melihatku?” tanya Anugrah seraya memasukkan potongan baso dan jamur dalam panci.


Iskandar tertawa kecil lalu menarik kursi di maja makan. “Jangan gunakan instingmu padaku! Aku hanya penasaran seperti apa hidupmu dengan gadis itu tampa bantuan Mama Papa.”


“Kapan kalian menikah? Apa dia gadis yang sudah berhasil membuatmu hangat?” Iskandar mengabaikan ledekan sang adik.


“Aku akan memberitahukanmu jika sudah tiba waktunya!”


Di ruang tamu rumah dinas, Dua gadis sedang berbincang hangat sambil sesekali tertawa kecil. “Ini semua lagu ciptaanmu?” tanya Aisyah melihat isi buku Wulan.


“Iya, Kak.”


“Hebat, kamu tahu? Dari sini saja kamu bisa menghasilkan uang. Wah, kamu bakal kaya kalau lagu-lagu  ini booming.”


“Amin, aku harus punya rencana untuk masa depanku setelah sembuh nanti.” Aisyah tersenyum hangat menatap Wulan. “Semoga kamu selalu bahagia dan masa depanmu cerah secerah jiwamu. Kalau nanti aku menikah, kamu sumbangin lagu ya!”


“Kapan, Kak?”


“Entahlah, aku belum tahu.”


“Aku tidak janji, Kak. Mungkin saat itu aku sudah tidak di sini lagi.”


 


 


 


***

__ADS_1


Pagi....like dan komennya ya...


JANGAN SKIPP IKLAN YA....MAKASIH...


__ADS_2