CUT

CUT
Nyonya Adi...


__ADS_3

Hari berganti hari hingga akhirnya kabar bahagia datang dari sepasang sejoli yang akhirnya menetapkan tanggal pernikahan mereka secara sadar tanpa paksaan. Setelah sekian purnama dan mungkin ratusan doa terucap dari mulut seorang ibu. Akhirnya, Bang Adi menikah juga. Dua karakter mempelai yang bertolak belakang. Mempelai pria yang terlihat dingin di luar tapi meleleh di dalam dan yang wanita memiliki karakter sombong do luar lembut di dalam.


Tidak ada drama dalam perjalanan menuju hari H. Kedua calon mempelai kembali harmonis setelah sempat terjadi ketegangan karena komunikasi yang tidak berjalan baik. Hubungan jarak jauh yang sempat menjadi angin ribut dalam hubungan keduanya usai setelah salah satu pihak mengalah dan mendatangi si pria yang ternyata sedang membangun masa depan untuk wanitanya. Luruh sudah semua keraguan dihati setelah menyaksikan dengan kepala sendiri bahwa prianya sedang berjuang.


Sebulan setelah kepulangan Reni dan Riko ke Jawa. Bang Adi bersama keluarganya termasuk Iskandar datang ke Jawa untuk meminang Reni. Tentu saja hal itu disambut bahagia oleh sang wanita yang memang sudah lama menantikan peristiwa ini. Mengusung adat Jawa, Bang Adi megucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas seraya berjabat tangan dengan Bapak Wicaksono yang bertindak selaku wali.


Pernikahan keduanya berlangsung cepat karena Bang Adi sudah meminta keluarga Reni untuk menyiapkan segalanya. Bang Adi bahkan mengirim sejumlah uang untuk persiapan pernikahan dan segala hal yang dibutuhkan untuk acara resepsi. Di sinilah posisi Cut selaku mantan adik ipar dan sekarang kembali menjadi kakak ipar dari Bang Adi. Cut yang merangkap dengan dua jabatan itu ikut andil dalam proses lamaran hingga resepsi. Bahkan, kediamannya digunakan oleh keluarga Bang Adi untuk menginap selama mereka di sana.


Tentu saja hal itu sangat membahagiakan untuk Cut lantaran dia juga bisa menghabiskan waktu dan berdekatan dengan Iskandar. Walaupun, ia harus merasa sedikit kecewa karena sang putra ternyata sangat suka berdekatan dengan para pria termasuk bersama suaminya, Rendra. Hampir tiap malam selama Iskandar tidur di kamarnya. Cut selalu tersisih. Iskandar sangat mendominasi Rendra. Setiap malam, ia akan tidur dalam ketiak Rendra. Memeluk Rendra dengan posesif hingga membuat Cut cemburu. Sementara Rendra hanya bisa menahan senyum melihat bagaimana istrinya manyun tidak jelas.


“Jangan begitu, mengalah sama anak.” goda Rendra yang membuat Cut semakin manyun.


Selama persiapan acara pernikahan, Bang Adi terlalu sibuk hingga Iskandar kehilangan sosoknya. Kak Julie sendiri mencoba mengajaknya tapi dia tidak mau walaupun dengan iming-iming. Iskandar memang cerdas, dia pandai memilih siapa yang dia mau. Kalau tidak ada Bang Adi maka dia akan memilih kakeknya atau Faris.


“Padahal dia jarang bertemu denganmu, kenapa bisa dia sedekat ini?” gumam Cut.


“Dia tahu saya baik dan cocok menjadi ayahnya.” Ucap Rendra seraya tertawa kecil sambil mengusap lembut punggung sang balita yang mulai terlelap.


“Ya sudah, tidur sama dia saja malam ini.” Cut pura-pura merajuk.


“Eit…dosa meninggalkan suami tidur sendirian.”


Jauh dalam hatinya, Cut bahagia melihat putranya begitu mudah lengket dengan sang suami. Dia juga bahagia karena Rendra menyayangi Iskandar seperti menyayangi anaknya sendiri. Jika sepasang suami istri tengah berebut posisi lantaran ada yang mengambi alih. Di salah satu kamar hotel tempat berlangsungnya acara resepsi tadi siang. Sepasang pengantin baru sedang memadu kasih setelah terpisah sekian lama.

__ADS_1


“Bagaimana Nyonya Adi, apa sudah siap tinggal di Aceh?” tanya Bang Adi seraya memainkan surai milik sang istri yang tengah bersandar di dadanya sambil menikmati indahnya langit malam di atas lempat tidur setelah melaksanakan ibadah wajib untuk pertama kali.


“Siap lahir batin, Bapak Adi yang terhormat.”


Reni kembali berdesir tatkala merasakan sesuatu dari usapan lembut tangan sang suami di dadanya. “Di sana kamu akan melakukan semuanya sendiri tanpa pembantu. Masak, nyuci, belanja dan lain-lainnya. Apa kamu sanggup?”


“S-sanggup.”


Reni ingin menjawab sekaligus protes tapi apa yang dilakukan oleh tangan nakal sang suami menahannya hingga yang keluar dari mulutnya justru lain. Tidak sabar dengan perbuatan sang suami, Reni bangkit dan langsung menyerang sang suami yang berada di bawahnya. Bang Adi terkekeh melihat bagaimana reaksi liar istrinya untuk pertama kali. Mereka kembali larut dalam indahnya cinta yang diliputi oleh nafsu dalam ikatan yang halal.


Pesta telah usai, seminggu sesudah resepsi mereka memutuskan untuk kembali ke Aceh. Hanya tingga Bang Adi dan yang masih di sana. Keluarga dari Jawa juga akan datang ke Aceh untuk menghadiri acara resepsi yang akan diadakan dengan mengusung adat Aceh. Apalagi, pernikahan Bang Adi adalah peristiwa yang sudah lama dirindukan oleh kedua orang tuanya. Makanya, mereka akan membuat pesta besar-besaran untuk resepsi Bang Adi nanti.


Sebelum pulang ke Aceh, Rendra meminta waktu untuk berbicara pada keluarga Bang Adi. Sambil menggendong Iskandar yang sangat lengket dengannya kini. Rendra duduk berhadapan dengan dengan mertua dari adiknya. Reni juga ikut bergabung di dalam pertemuan itu.


Ibu murni menatap sang suami. Bang Adi sendiri merasa apa yang Rendra ucapkan memang benar. “Pak, Buk. Bapak akan kesusahan merawat Is sendiri. Adi sendiri sudah punya keluarga dan tidak mungkin untuk menjaga Is selalu. Sementara Kak Julie juga kerja dan Is sudah pasti tidak mau sama dia. Adi setuju saja kalau Is dirawat oleh Cut.”


“Iya, Buk. Aku juga sibuk dan pulang dari sini harus dinas luar kota. Sudah cukup selama ini kita merawatnya. Biarkan dia sekarang sama ibunya. Bapak dan Ibu juga akan dapat cucu lagi setelah ini.” Sahut Kak Juli.


Malam itu, sebelum kepulangan mereka esok hari. Cut kembali mendapat haknya sebagai seorang ibu. Doa-doa yang terus ia panjatkan di sepertiga malam dalam linangan air mata kini terkabul. Ia kembali bersama dengan anaknya. Tapi satu hal yang pasti, ia sangat bangga pada sang suami yang ternyata memikirkan apa yang selama ini ia inginkan.


Cup…


Cup…

__ADS_1


Cup…


“Terima kasih banyak.”


Cut memberikan ciuman bertubi-tubi ke wajah sang suami ketika sang anak sudah tertidur nyenyak. Ia sengaja tidak tidur untuk mengucapkan rasa terima kasih yang amat dalam untuk Rendra. Begitu Iskandar tidur, Cut bangun lalu menarik tangan sang suami pelan. Mengambil bantal guling untuk menggantikan badan sang suami yang sedang dipeluk oleh Iskandar.


“Hohoho…apa hanya ciuman yang Abang dapatkan?” goda sang suami lalu menarik pinggang istrinya.


“Ada Iskandar.” Cicit Cut.


Cup…


Sebuah kecupan mendarat di bibir manis sang istri.


“Jangan pendam sendiri semua rasa gundahmu! Bilang sama saya, ya!”


Cup…


“Terima kasih…”


“Saya mau lebih…” bisik Rendra di telinga sang istri.


***

__ADS_1


 


__ADS_2