
Hari berganti bulan dan tanpa terasa waktu persalinan
Cut akhirnya tiba. Di sebuah rumah sakit tempat yang sama dimana sang suami
juga bekerja di sana. Cut melahirkan seorang bayi berjenis kelamin laki-laki. Selama
proses persalinan, Faisal dengan setia menemani Cut bersama keluarga lainnya. Bayi
berhidung mancung seperti sang ibu dan berkulit putih mengikuti kulit sang ayah
diberi nama Muhammad Iskandar Kutaraja.
Di saat yang sama, seorang pria berseragam lengkap yang
tengah memeriksa tas ransel bercorak loreng dikejutkan dengan dering ponsel
miliknya.
Ting…
Rendra hanya bisa menghela nafasnya ketika melihat isi
pesan berisi foto sang istri yang tengah berdansa mesra dengan seorang pria di
sebuah klub. Foto selanjutnya berisi adegan ciuman panas meraka.
“Ada apa?” sebuah tepukan dibahunya menyadarkan Rendra yang
sedang termenung.
“Ini!” Rendra menyerahkan ponsel tersebut pada Wahid.
“Selesaikan baik-baik tanpa emosi! Kamu tidak bisa
menyalahkan istrimu sepenuhnya. Mereka butuh kita sementara kita tidak bisa
selalu bersama mereka. Wajar jika dia beralih ke pria lain,” Rendra menatap tak
percaya pada apa yang diucapkan oleh Wahid.
“Kamu mendukung istriku selingkuh? Bagaimana kalau yang
selingkuh itu istrimu?”
“Aku tidak mendukung istrimu selingkuh. Dan mengenai
istriku, kamu tidak perlu khawatir karena aku memilih wanita yang tepat untuk
menjadi istri seorang tentara seperti kita. Nasibmu yang salah memilih istri
jadi jangan salahkan dia sepenuhnya.”
“Cih, aku pikir kamu akan membelaku.”
“Terus maumu apa? Membuat keributan? Menghajar pria itu
karena sudah merebut istrimu? Ayolah! Perselingkuhan tidak akan terjadi jika cuma
laki-laki saja yang mau. Harus ada keinginan dari kedua belah pihak. Dan apa
kamu bisa melanjutkan pernikahan dengan Wanita yang jelas-jelas sudah
berselingkuh dibelakangmu? Kalau aku sih, tidak! Lebih baik aku cari lain.”
Rendra terdiam, kata-kata Wahid yang selama ini telah
menjadi teman dekatnya mampu menurunkan ego Rendra sebagai seorang laki-laki
berstatus suami dari Risma.
“Jangan mempertahankan seseorang jika dia tidak mau
dipertahankan. Lepaskan dan cari yang lain!” ucap Wahid terakhir kali sebelum
mereka memimpin barisan prajurit yang hendak kembali ke markas setelah hampir setahun
bertugas di Papua.
__ADS_1
Sementara di rumah Mak Cek Siti yang terletak di ujung barat
Indonesia, semua keluarga besar sedang berkumpul dalam acara akikah anak laki-laki
Cut dan Faisal. Kedua orang tua baru tersebut terlihat Bahagia dengan kehadiran
Muhammad Iskandar Kutaraja. Kedua mertua Cut juga terlihat bahagia dengan
kehadiran sang cucu yang sudah lama dinantikan.
Sang bayi yang masih merah itu bahkan tidak sanggup
mengangkat tangannya lantaran beratnya gelang emas hadiah dari kakek dan
neneknya. “Buk, Pak, namanya Muhammad Iskandar Kutaraja dan itu artinya dia
laki-laki. Kenapa kalian memakaikan dia emas? Lebih baik kasih buat aku?”
seloroh Faisal pada kedua orang tuanya.
Seraya mencibir, “Kamu beli sendiri! Buat cucu, semua
akan kami berikan. Kalian semua sudah punya duit sendiri, jadi jangan minta
sama kami lagi.”
Ucapan ibu Faisal membuat semua yang hadir ikut tertawa.
“Is tidak sanggup memakai itu, Buk. Emas 15 gram itu berat untuk ukuran bayi
seperti dia. Lebih baik aku yang simpan,” lanjut Faisal.
“Tidak boleh! Nanti kamu pakai buat kawin lain.”
“Bukkk.”
Faisal tidak mau lagi berdebat dengan ibunya apalagi
ibunya secara terang-terangan menyebutnya kawin lain. Seperti layaknya
tersangka, ia seperti sedang tertampar oleh perkataan sang ibu. Faisal dan Cut
Faisal.
“Seperti namanya, dia adalah Raja dikeluarga kita, ya
kan Pak?” tanya Ibu Murni pada sang suami.
“Iya, dia akan mendapatkan warisan lebih besar dari
bapaknya,” ucap Bapak Fahri Kembali.
“Lalu, kalau nanti dia punya adik lagi bagaimana? Apa yang
akan Bapak dan Ibuk kasih untuk adiknya kalau semua sudah kalian kasih untuk
Iskandar?” tanya Julie yang dari tadi hanya memperhatikan bagaimana kedua orang
tuanya sangat senang dengan kehadiran Iskandar.
“Kamu tenang saja, kami akan masih punya banyak warisan
untuk adik-adiknya nanti. Kalau kamu iri, segera menikah maka anakmu akan
mendapatkan hak yang sama seperti Iskandar,” balas sang ibu yang membuat Kak
Julie langsung diam. Kak Julie tidak akan pernah menanggapi perkataan orang
tuanya jika sudah berhubungan dengan pernikahan.
Acara turun tanah sekalian dengan akikah Muhammad Iskandar
Kutaraja berlangsung meriah dengan suasana penuh keakraban yang tercipta dari
setiap anggota keluarga. Raut wajah Faisal yang tadinya bahagia tiba-tiba sirna
ketika kedatangan tiga tamu ke rumahnya. Wira dan Hendri datang bersama dengan
__ADS_1
Shinta. Wajah kedua sahabatnya terlihat berbeda dari biasanya mereka bertemu. Cut
memilik firasat lain ketika melihat interaksi sang suami dengan ketiga orang yang
diakui oleh suaminya sebagai teman kuliah.
Cut yang baru melahirkan tidak bisa bergerak bebas
sehingga ia hanya bisa menatap mereka dari jauh dan kemudian menghilang dibalik
kerumunan tamu lainnya.
“Selamat kamu sudah menjadi ayah. Anakmu sungguh
beruntung karena memiliki orang tua lengkap serta kakek nenek yang sangat mencintainya,”
ucap Shinta memandang lekat wajah Faisal.
“Sementara anak yang masih belum lahir harus menerima
kenyataan jika ia tidak memiliki ayah yang mengakuinya apalagi kakek nenek yang
akan menganggapnya sebagai raja,” lanjut Shinta Kembali.
Faisal mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu?” tanya
Faisal saat tanggannya diarahkan ke perut milik Shinta.
Shinta mengangguk pelan dan wajah Faisal langsung
berubah dengan mata membulat karena terkejut. Faisal melihat sekeliling lalu
bertanya sekali lagi untuk memastikan. “Tidak mungkin, aku selalu memakai
pengaman dan kamu juga memakai KB kan?” tanya Faisal dengan suara dipelankan.
“Kamu lupa memakainya saat kita piket dan saat itu aku
belum suntik lagi.”
Faisal mengusap mukanya, ia frustasi dengan berita yang
ia dengar tepat di saat ia tengah berbahagia dengan anak pertamanya bersama
Cut.
“Kamu yakin dia bayiku?”
Plak…
Sebuah tamparan keras menghujam pipi Faisal. “Aku bukan
wanita murahan! Hanya sama kamu aku menjadi murahan karena bersedia tidur
dengan suami orang.”
Wajah Faisal memerah, kedua temannya membawa Shintia
pergi dari rumah tersebut tanpa sepatah katapun.
“Mana teman-teman Ayah?” tanya Cut pada sang suami.
“Em…mereka sudah pulang duluan. Oh iya, mereka titip
salam dan minta maaf karena tidak bisa menyapamu langsung. Tadi, Shinta sedikit
kurang enak badan, jadi mereka langsung membawanya ke rumah sakit.
Sementara itu, di dalam sebuah mobil. Wira sedang
menenangkan Shinta yang sedang menangis, “Lupakan Faisal! Hidupmu dan bayi
dalam perutmu lebih penting dari pengakuan Faisal. Biarkan dia, suatu saat dia
akan menerima balasannya.” ucap Hendri seraya menyetir mobil menuju Medan. Shinta
sesugukan berada dalam pelukan Wira di kursi belakang sampai akhirnya mereka
__ADS_1
tertidur.
“Aku tidak menyangka, Faisal sepengecut itu!”