CUT

CUT
Suka Bersama Duka


__ADS_3

Hari berganti bulan dan tanpa terasa waktu persalinan


Cut akhirnya tiba. Di sebuah rumah sakit tempat yang sama dimana sang suami


juga bekerja di sana. Cut melahirkan seorang bayi berjenis kelamin laki-laki. Selama


proses persalinan, Faisal dengan setia menemani Cut bersama keluarga lainnya. Bayi


berhidung mancung seperti sang ibu dan berkulit putih mengikuti kulit sang ayah


diberi nama Muhammad Iskandar Kutaraja.


Di saat yang sama, seorang pria berseragam lengkap yang


tengah memeriksa tas ransel bercorak loreng dikejutkan dengan dering ponsel


miliknya.


Ting…


Rendra hanya bisa menghela nafasnya ketika melihat isi


pesan berisi foto sang istri yang tengah berdansa mesra dengan seorang pria di


sebuah klub. Foto selanjutnya berisi adegan ciuman panas meraka.


“Ada apa?” sebuah tepukan dibahunya menyadarkan Rendra yang


sedang termenung.


“Ini!” Rendra menyerahkan ponsel tersebut pada Wahid.


“Selesaikan baik-baik tanpa emosi! Kamu tidak bisa


menyalahkan istrimu sepenuhnya. Mereka butuh kita sementara kita tidak bisa


selalu bersama mereka. Wajar jika dia beralih ke pria lain,” Rendra menatap tak


percaya pada apa yang diucapkan oleh Wahid.


“Kamu mendukung istriku selingkuh? Bagaimana kalau yang


selingkuh itu istrimu?”


“Aku tidak mendukung istrimu selingkuh. Dan mengenai


istriku, kamu tidak perlu khawatir karena aku memilih wanita yang tepat untuk


menjadi istri seorang tentara seperti kita. Nasibmu yang salah memilih istri


jadi jangan salahkan dia sepenuhnya.”


“Cih, aku pikir kamu akan membelaku.”


“Terus maumu apa? Membuat keributan? Menghajar pria itu


karena sudah merebut istrimu? Ayolah! Perselingkuhan tidak akan terjadi jika cuma


laki-laki saja yang mau. Harus ada keinginan dari kedua belah pihak. Dan apa


kamu bisa melanjutkan pernikahan dengan Wanita yang jelas-jelas sudah


berselingkuh dibelakangmu? Kalau aku sih, tidak! Lebih baik aku cari lain.”


Rendra terdiam, kata-kata Wahid yang selama ini telah


menjadi teman dekatnya mampu menurunkan ego Rendra sebagai seorang laki-laki


berstatus suami dari Risma.


“Jangan mempertahankan seseorang jika dia tidak mau


dipertahankan. Lepaskan dan cari yang lain!” ucap Wahid terakhir kali sebelum


mereka memimpin barisan prajurit yang hendak kembali ke markas setelah hampir setahun


bertugas di Papua.

__ADS_1


Sementara di rumah Mak Cek Siti yang terletak di ujung barat


Indonesia, semua keluarga besar sedang berkumpul dalam acara akikah anak laki-laki


Cut dan Faisal. Kedua orang tua baru tersebut terlihat Bahagia dengan kehadiran


Muhammad Iskandar Kutaraja. Kedua mertua Cut juga terlihat bahagia dengan


kehadiran sang cucu yang sudah lama dinantikan.


Sang bayi yang masih merah itu bahkan tidak sanggup


mengangkat tangannya lantaran beratnya gelang emas hadiah dari kakek dan


neneknya. “Buk, Pak, namanya Muhammad Iskandar Kutaraja dan itu artinya dia


laki-laki. Kenapa kalian memakaikan dia emas? Lebih baik kasih buat aku?”


seloroh Faisal pada kedua orang tuanya.


Seraya mencibir, “Kamu beli sendiri! Buat cucu, semua


akan kami berikan. Kalian semua sudah punya duit sendiri, jadi jangan minta


sama kami lagi.”


Ucapan ibu Faisal membuat semua yang hadir ikut tertawa.


“Is tidak sanggup memakai itu, Buk. Emas 15 gram itu berat untuk ukuran bayi


seperti dia. Lebih baik aku yang simpan,” lanjut Faisal.


“Tidak boleh! Nanti kamu pakai buat kawin lain.”


“Bukkk.”


Faisal tidak mau lagi berdebat dengan ibunya apalagi


ibunya secara terang-terangan menyebutnya kawin lain. Seperti layaknya


tersangka, ia seperti sedang tertampar oleh perkataan sang ibu. Faisal dan Cut


Faisal.


“Seperti namanya, dia adalah Raja dikeluarga kita, ya


kan Pak?” tanya Ibu Murni pada sang suami.


“Iya, dia akan mendapatkan warisan lebih besar dari


bapaknya,” ucap Bapak Fahri Kembali.


“Lalu, kalau nanti dia punya adik lagi bagaimana? Apa yang


akan Bapak dan Ibuk kasih untuk adiknya kalau semua sudah kalian kasih untuk


Iskandar?” tanya Julie yang dari tadi hanya memperhatikan bagaimana kedua orang


tuanya sangat senang dengan kehadiran Iskandar.


“Kamu tenang saja, kami akan masih punya banyak warisan


untuk adik-adiknya nanti. Kalau kamu iri, segera menikah maka anakmu akan


mendapatkan hak yang sama seperti Iskandar,” balas sang ibu yang membuat Kak


Julie langsung diam. Kak Julie tidak akan pernah menanggapi perkataan orang


tuanya jika sudah berhubungan dengan pernikahan.


Acara turun tanah sekalian dengan akikah Muhammad Iskandar


Kutaraja berlangsung meriah dengan suasana penuh keakraban yang tercipta dari


setiap anggota keluarga. Raut wajah Faisal yang tadinya bahagia tiba-tiba sirna


ketika kedatangan tiga tamu ke rumahnya. Wira dan Hendri datang bersama dengan

__ADS_1


Shinta. Wajah kedua sahabatnya terlihat berbeda dari biasanya mereka bertemu. Cut


memilik firasat lain ketika melihat interaksi sang suami dengan ketiga orang yang


diakui oleh suaminya sebagai teman kuliah.


Cut yang baru melahirkan tidak bisa bergerak bebas


sehingga ia hanya bisa menatap mereka dari jauh dan kemudian menghilang dibalik


kerumunan tamu lainnya.


“Selamat kamu sudah menjadi ayah. Anakmu sungguh


beruntung karena memiliki orang tua lengkap serta kakek nenek yang sangat mencintainya,”


ucap Shinta memandang lekat wajah Faisal.


“Sementara anak yang masih belum lahir harus menerima


kenyataan jika ia tidak memiliki ayah yang mengakuinya apalagi kakek nenek yang


akan menganggapnya sebagai raja,” lanjut Shinta Kembali.


Faisal mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu?” tanya


Faisal saat tanggannya diarahkan ke perut milik Shinta.


Shinta mengangguk pelan dan wajah Faisal langsung


berubah dengan mata membulat karena terkejut. Faisal melihat sekeliling lalu


bertanya sekali lagi untuk memastikan. “Tidak mungkin, aku selalu memakai


pengaman dan kamu juga memakai KB kan?” tanya Faisal dengan suara dipelankan.


“Kamu lupa memakainya saat kita piket dan saat itu aku


belum suntik lagi.”


Faisal mengusap mukanya, ia frustasi dengan berita yang


ia dengar tepat di saat ia tengah berbahagia dengan anak pertamanya bersama


Cut.


“Kamu yakin dia bayiku?”


Plak…


Sebuah tamparan keras menghujam pipi Faisal. “Aku bukan


wanita murahan! Hanya sama kamu aku menjadi murahan karena bersedia tidur


dengan suami orang.”


Wajah Faisal memerah, kedua temannya membawa Shintia


pergi dari rumah tersebut tanpa sepatah katapun.


“Mana teman-teman Ayah?” tanya Cut pada sang suami.


“Em…mereka sudah pulang duluan. Oh iya, mereka titip


salam dan minta maaf karena tidak bisa menyapamu langsung. Tadi, Shinta sedikit


kurang enak badan, jadi mereka langsung membawanya ke rumah sakit.


Sementara itu, di dalam sebuah mobil. Wira sedang


menenangkan Shinta yang sedang menangis, “Lupakan Faisal! Hidupmu dan bayi


dalam perutmu lebih penting dari pengakuan Faisal. Biarkan dia, suatu saat dia


akan menerima balasannya.” ucap Hendri seraya menyetir mobil menuju Medan. Shinta


sesugukan berada dalam pelukan Wira di kursi belakang sampai akhirnya mereka

__ADS_1


tertidur.


“Aku tidak menyangka, Faisal sepengecut itu!”


__ADS_2