
Disaat semua orang tengah sibuk membantu sesama yang terkena robohan bangunan. Suara gemuruh air laut terdengar menghantam dengan keras dan dalam waktu sekian detik air laut naik dengan cepat ke daratan menyapu semua yang dilaluinya.
Jerit tangis bahkan ada di antaranya yang meraung-raung menyaksikan kejadian yang hanya sedikit menggambarkan bagaimana kiamat nantinya akan berlaku. Takbir, tasbih terucap di bibir setiap orang seraya berlari dari kejaran ganasnya ombak bernama tsunami itu. Hanya reruntuhan sisa-sisa bangunan yang kadang mereka kenali atau tidak. Inilah bencana yang menyerupai kiamat bagi setiap mata yang melihat bagaimana tingginya gelombang air laut menghantam daratan. Tidak ada yang menduga kejadian ini akan terjadi. Sebagian masyarakat malah tidak percaya air laut naik ke darat.
“Air laut naik, air laut naik!”
“Apa si Amat sudah gila? Untuk apa dia teriak-teriak air laut naik. Ada-ada saja anak jaman sekarang.”
Seperti itulah kata-kata yang keluar dari mulut setiap orang ketika melihat sebagian yang lain berlari kencang seakan ada yang mengejar. Tapi itulah yang terjadi, gelombang tinggi menghantam pesisir Aceh, menyapu semua yang ada di darat. Tsunami, itulah nama yang diberikan oleh orang Jepang pada bencana tersebut.
Saat mereka mempercayainya, air laut sudah lebih dulu membawa mereka bersama dengan semua yang ditemui di darat. Bahkan PLTD Apung yang semula berada di Pelabuhan Ulee Lheue dengan berat 2.600 ton mustahil untuk berpindak tempat menurut pikiran manusia. Namun, itu terjadi. Kapal tersebut terseret air laut sejauh 2,4 km menghancurkan semua yang dilalui hingga tak tersisa.
Teriakan minta tolong orang yang hanyut terus menggema di berbagai penjuru. Sebagian orang yang berada di atas atap gedung hanya bisa melihat tidak berani menolong. Semua dalam keadaan terkejut karena selama hidup mereka, baru kali ini melihat bencana yang maha dahsyat tersebut.
“Abu…”
“Umi…”
“Cut…”
“Rendra…”
“Oeekkk…”
“Oekkk…”
Iskandar terlepas dari gendongan ibunya. Rendra kecil terbawa arus entah ke mana. Abu dan Umi terpisah dan Cut?”
__ADS_1
Tsunami berhasil mencerai-berai keluarga Abu di pagi Minggu saat seluruh keluarga sedang bermain bersama di halaman depan. Oleh sebab itu, keluarga mereka tidak terkena reruntuhan rumah.
Kini semua hancur seperti hati Cut. Mereka hanya menangis sambil berzikir memanggil-manggil nama sang pencipta, memohon ampun disaat mereka sedang ketakutan, dan sebagian dari mereka lupa disaat senang.
Tidak ada yang tersisa bagi mereka yang tinggal dipesisir pantai. Kala itulah keagungan sang pencipta mampu menyadarkan manusia jika diri mereka lemah, derajat mereka sama. Tsunami tidak memilih mereka yang bangsawan atau bukan. Tsunami membawa semua yang diterjang. Begitu juga dengan keluarga Cut. Tsunami telah memisahkan mereka, Mae yang saat itu sedang berjualan di pasar ikut terkejut dan berlari menuju Masjid Baiturraman seraya menangis mengingat Abu.
Mae menatap di sekelilingnya, beberapa dari mereka adalah para etnis Tiong Hoa yang sudah lama menetap di Aceh. Para non muslim itu ternyata meyakini masjid sebagai tempat yang aman dan ternyata keyakinan mereka benar.
Masjid Baiturrahman menjadi saksi bisu di mana seluruh bangunan di sekitarnya hancur oleh gempa dan tsunami tapi masjid tersebut masih berdiri kokoh.
Seperti ada keajaiban di hari itu, air laut yang hitam dan panas itu seharusnya memasuki masjid namun siapa sangka. Kuasa Allah, air tersebut tidak sedikitpun memasuki masjid. Semua orang yang berada di dalam masjid selamat termasuk para etnis Tiong Hoa.
Semua panik termasuk Mae. Ia terus mencari dan bertanya pada orang-orang yang ia temui di dalam masjid. Beberapa orang yang dia kenal malah memberikan jawaban yang membuatnya hampir gila.
“Sudah tidak ada lagi, Mae. Semuanya rata sama tanah.”
Beberapa jam setelah air benar-benar surut, masih dalam keadaan terkejut, mereka terus berjalan kearah yang tidak terkena tsunami. Disebuah bukit di dekat markas tentara sudah dibangun sebuah tenda besar untuk para pengungsi.
Kini di bawah tenda milik TNI semua orang yang berhasil selamat sedang berkumpul, jangan tanyakan bagaimana penampilan ataupun kondisi fisik mereka. Semua tampak kacau, ada yang terluka, ada yang hanya menggunakan celana pendek, sungguh pemandangan yang menyesakkan dada.
Tidak ada bantuan medis, karena pekerja medis yang tersedia saat itu tidak mampu menangani jumlah korban yang diperkirakan ratusan ribu.
Negara Darurat Bencana…
Bala bantuan belum juga datang hingga matahari mulai meninggi. Air sudah surut hingga yang tersisa di daratan adalah puing dan mayat bahkan kapal nelayan juga ikut terbawa hingga ke atas rumah warga.
__ADS_1
Mae meninggalkan masjid untuk melihat kondisi rukonya. Beberapa pedagang juga melakukan hal yang sama. Ia juga bertemu dengan Pak Cek Amir dan Mak Cek Siti bersama kedua anaknya. Mak Cek Siti dan Intan hanya menggunakan pakaian ala kadar sama seperti Faris dengan celana pendeknya seperti habis bangun tidur.
“Bagaimana tokomu?”
“Saya tidak memikirkan took, Pak Cek. Saya teringat Abu. Saya mau pulang dulu.”
“Gempa….”
Baru selangkah Mae hendak meninggalkan pasar, suasana Kembali riuh oleh gempa susulan. Para warga yang trauma langsung berlari menuju masjid begitu gempa susulan datang. Mereka berlari bersama menuju masjid dan lagi-lagi Mae harus menahan tangisnya saat memikirkan nasib keluarga yang sangat ia cintai.
“Berdoalah! Semoga mereka baik-baik saja.”
Hany aitu yang bisa Pak Cek Amir katakana pada Mae, sementara dia sendiri merasa pesimis melihat bagaimana area di sekitar pasar hancur akibat gempa.
Seorang Wanita tua sedang kesusahan menenangkan seorang bayi yang terus menangis di dalam masjid. Mae yang melihat nenek tersebut lalu mendekat. Ia yang terbiasa dengan Rendra dan Iskandar sedikit banyak mengetahui cara menenangkan bayi ditambah lagi, ia merasa kasihan dengan nenek tua tersebut.
“Sini Nek, biar saya bantu.”
Mae dengan perasaan gelisah dan sedih tapi ia tidak mampu melihat nenek tua tersebut kesusahan. Bencana ini banyak menyadarkan orang bahwa apa yang selama ini mereka sombongkan tidak berarti apa-apa. Bahkan, berapa banyak perhiasan emas berserakan di antara puing-puing. Bahkan, sebagian dari perhiasan tersebut masih berada di tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa.
Sang pencipta telah menunjukkan betapa tidak berharganya harta tersebut di dunia ini. Bahkan tidak bisa kita bawa mati lalu kenapa kita masih sombong dengan itu semua? Andai yang sudah tiada itu bisa bangkit lalu mengatakan itu pada kita. Akankah kita mau berubah atau tetap bebal?
Di saat mereka sudah melihat betapa mengerikannya kiamat kecil itu namun masih ada juga yang belum sadar hingga dengan gampangnya mereka mengambil perhiasan-perhiasan tersebut di tubuh para mayit. Senjata yang kemarin susah di dapat kini berserakan di antara puing-puing. Tidak ada satupun yang menginginkannya lagi. Hanya orang dengan hati hitam dan buta yang akan mengambil barang-barang tersebut.
“Kayak pernah lihat.”
***
__ADS_1