
Penjelasan yang Riko berikan cukup masuk akal hingga rasa penasarannya mencuat begitu saja.
“Kamu itu bukan anak Om ya pasti gak akan mirip lah.”
“Aku sama Papa juga tidak mirip.”
Gleg…
“Karena dalam tubuhmu didominasi oleh gen ibumu. Makanya kamu mirip dengan ibumu. Nanti kalau kau sudah belajar pelajaran biologi. Kamu akan mengerti apa itu gen dan bagaimana cara kerjanya. Sekarang cepat makan karena ibumu dari tadi tanya kamu terus.”
Riko menghela nafasnya. Dia tidak menyangka jika anak kelas 1 SD sudah ingin tahu hal semacam ini. Menjelang sore, Iskandar baru tiba di rumah dan dia langsung berteriak saat melihat papanya sudah ada di rumah.
“Apa kabar jagoan? Bagaimana sekolahmu? Apa gurunya baik?” cecar sang ayah.
“Kabarku seperti yang Papa lihat. Sekolah biasa saja. Gurunya baik tapi kakak kelas banyak yang usil. Laporan selesai!”
“Siap Komandan!” balas Rendra diiringi tawa dari keduanya.
“Mama mana?”
“Di kamar, eit… ganti baju, mandi baru ketemu Mama. Oke?”
Iskandar mengangguk, dia segera berlari ke kamarnya. Rendra mendidiknya dengan baik hingga anak itu terbiasa mandiri dan disiplin. Rendra tidak mau menyulitkan Cut saat di mana ia tidak ada di rumah. Dengan didikannya, ia berharap Iskandar bisa sedikit membantu Cut di rumah. Dan sejauh yang dilihat, didikannya memang berhasil.
“Kak, dia mulai bertanya kenapa dia tidak mirip Kakak?”
“Apa? Kenapa bisa dia menanyakan hal itu?” Rendra sedikit panik.
“Sudah aku jelaskan secara ilmu biologi jadi untuk sementara aman. Aku curiga dia dengar itu dari teman-temannya.”
Mereka langsung diam begitu melihat Iskandar keluar dari kamar dan langsung menuju kamar ibunya.
“Kamu jangan terlalu sering mengajaknya berkumpul dengan teman-temanmu. Bisa-bisa, Iskandar dewasa sebelum waktunya.”
Riko pergi meninggalkan sang kakak tanpa menyahut sama sekali. Di dalam kamar, Cut yang sedang berbaring menatap penuh senyum pada sang putra yang ternyata sudah besar.
“Ma, adek Is nanti laki-laki apa perempuan?”
“Belum tahu. Mas Is maunya apa?” panggilan aneh dari ibunya membuat Is mengernyit.
“Kenapa? Sebentar lagi Is akan menjadi seorang kakak. Jadi adeknya nanti akan panggil Is dengan panggilan ‘Mas’”
__ADS_1
“Is tidak mau, Ma. Panggil ‘kakak’ saja jangan yang lain. Lalu kalau nanti adeknya lahir, dia mirip siapa?”
Cut menatap sang putra lekat. “Tergantung gen di dalam tubuh adek bayi. Apa gen Mama atau Papa yang banyak dalam tubuh adek. Nah, nanti baru ketahuan dia mirip siapa?”
Cut tersenyum senang karena sang suami sudah datang membantunya menjawab pertanyaan aneh sang putra. Mereka menikmati sore hari bersama dalam canda tawa bahagia.
Hari berganti hari hingga tidak terasa kehamilan Cut semakin terlihat. Kehamilan Cut sudah menginjak tujuh bulan hingga keluarga Rendra pun mengadakan acara tujuh bulan untuk Cut. Seluruh keluarga hadir dalam acara termasuk keluarga dari sahabat Bapak Wicaksono yang merupakan mantan besannya.
“Akhirnya ya Jeng, bisa nimang cucu sendiri juga.”
“Iya, Jeng. Saya sudah tidak berharap lagi akan punya cucu dari darah daging Rendra sendiri. Sampai akhirnya keajaiban ini terjadi. Cut hamil dan sekarang sudah 7 bulan.”
“Mungkin saja ini karena keikhlasan Rendra dalam merawat anak tirinya makanya tuhan memberi dia hadiah berupa anak kandung sendiri.
“Sekali lagi selamat ya Jeng,”
“Terima kasih banyak untuk doa dan ucapannya. Memang beda ya rasanya kalau punya cucu sendiri. Bahagianya itu beda apalagi dapat melihat setiap moment saat mantu ngidam atau saat memeriksa kehamilan ke dokter. Saya sangat bersemangat dan udah gak sabar menunggu lahirnya. Saya mau lihat, dia mirip siapa?”
“Cucu yang di Aceh apa kabarnya Jeng?”
“Mereka baik dan sudah dua. Besan saya juga sangat ingin cucu makanya Reni sampai tidak bisa kemana-mana. Begitu anak pertama genap 2 tahun langsung dihamili lagi sama suaminya. Untung suaminya memanjakan Reni jadi dia tidak banyak mengeluh saat hamil. Semua keinginannya dituruti.”
“Enak sekali hidup Reni di sana ya?”
“Wah…enak betul hidupnya. Lama-lama, Reni udah seperti juragan tanah ya?”
“Tanah milik si sulung sudah dibangun rumah oleh ayahnya. Rencananya mau disewakan jadi anaknya dari kecil sudah menghidupi diri sendiri.”
“Suaminya pintar berbisnis ternyata. Pantas saja mereka banyak warisan.”
“Lalu, cucunya yang di sini tidak diberikan warisan juga?”
“Eh, itu sudah jauh-jauh hari diberikan. Malah dia yang paling cepat diberikan. Kalau tidak salah Cut cerita saat Iskandar lagi di aqikah. Hari itu juga dia diberikan warisan oleh kakek neneknya.”
Tanpa mereka sadari, sepasang telinga kecil sedang mendengar percakapan mereka dibalik dinding. Dia merekam semuanya tanpa terputus sedikitpun. Merekam dengan jelas sampai gemuruh di dada kecilnya mulai meluap-luap tidak terarah.
Perlahan tapi pasti dia melihat dengan lebih jelas hingga secara perlahan emosi dalam dirinya mulai bergerak keluar. Iskandar yang dulu ceria dan manis kini berubah tantrum. Emosinya mulai meledak-ledak saat dia merasa diabaikan atau kekurangan perhatian dari ayah atau ibunya. Kehamilan Cut yang semakin besar membuat seluruh keluarga tidak terkecuali Rendra sangat antusia dan bersemangat hingga tanpa mereka sadari ada hati yang mulai tersakiti.
Rendra menyadari perubahan dari sang putra namun ia mengabaikannya karena Rendra mengira jika Iskandar sedang dalam tahap bandel mengikuti apa yang dilihat dari teman-temannya. Tantrumnya Iskandar masih dalam tahap wajah bagi Rendra hingga dia hanya mengingatkan. Riko sendiri mulai sibuk dengan bisnisnya hingga tempat untuk Iskandar melarikan diri tidak ada.
Pagi ini kondisi Cut mulai mengalami kontraksi walaupun kata dokter hanya kontraksi palsu namun cukup membuat khawatir Rendra sebagai suami siaga. Belum sempat ia keluar dari rumah sakit, ponselnya tiba-tiba berdering.
__ADS_1
“Hallo…”
Muka Rendra memerah menahan marah. “Ada apa, Bang?” pertanyaan lembut serta usapan telapak tangan di dadanya mampu meredam emosi yang sempat menguasainya saat itu.
“Ada masalah di kantor. Ayo, Abang antar pulang ke rumah Mama ya?”
Rendra meninggalkan sang istri bersama orang tuanya. Setelah itu ia kembali ke luar dengan mengendarai mobil melaju memecahkan padatnya jalanan menjelang siang. Mobil memasuki area parkir sekolah. Langkah tegapnya menyusuri koridor hingga sampailah ia di ruang kepala sekolah di mana beberapa anak dan orang tuanya juga hadir.
Rendra menyusuri setiap wajah anak yang tampak lebam dan luka kecil. Sementara sang objek utama berdiri di pojok sambil menunduk.
“Ada apa, Bapak Kepala Sekolah? Apa yang terjadi?”
“Anak anda memukul kakak kelasnya hingga babak belur begini.”
Anak-anak yang lain terlihat habis menangis tapi Iskandar masih tetap sama. Walaupun pelipis dan bibirnya ada yang luka tapi tidak terlihat bekas air mata di sana. Rendra mendekati putranya lalu berlutut mensejajarkan diri dengan sang putra.
Rendra menepuk pundak Iskandar sekilas, “Papa tahu pasti ada alasan untuk semua ini.”
Rendra menatap para orang tua dan juga kepala sekolah. “Apa penyebabnya, Pak? Tidak mungkin anak saya memukul kakak kelasnya tanpa sebab.”
“Jangan mentang-mentang anda tentara dengan seenaknya membenarkan kelakuannya yang seperti preman itu. kecil-kecil sudah bertingkah seperti itu bagaimana kalau sudah besar. Saya tidak terima dan akan menuntut ganti rugi atas semua yang dia lakukan pada anak saya.”
Seorang ibu mulai menggebu-gebu menyerang Rendra yang hari itu masih menggunakan seragam militernya.
Semalam dia ada acara di kantor sampai pagi lalu baru sampai rumah dia harus mengantar istrinya ke dokter gara-gara kontraksi palsu. Baru selesai di rumah sakit, dia harus kembali berurusan dengan sekolah Iskandar. Maka, pria mana yang akan sanggup menahan emosi belum lagi serangan lidah yang cukup tajam dari ibu-ibu.
“Anak-anak kelas tinggi ini mengerjai teman Iskandar dengan mendoronganya. Lalu bekal makanannya jatuh dan bajunya ikut kotor. Iskandar yang melihat itu mencoba membantu temannya dan dia ikut didorong oleh mereka. Makanya, Iskandar menyerang kakak kelasnya.”
Rendra tertawa kecil, “Cih, anda bilang putra saya seperti preman tapi justru anak anda yang seperti berandalan. Sebelum mengatai anak saya, harusnya anda lihat dulu anak anda. Apakah dia cukup layak untuk anda banggakan? Saya rasa tidak.”
“Karena semuanya sudah jelas. Saya tidak perlu meminta maaf karena anak saya tidak bersalah. Jadi, apa saya bisa melanjutkan kembali kelasnya?”
“Silakan, jika Iskandar mau maka dia tetap bisa melanjutkan pelajarannya sampai usai.”
Rendra menatap Iskandar lalu ia mengangguk kecil. Keduanya pria berbeda usia itu berjalan menyusuri koridor sekolah menuju kelas sang putra.
“Papa senang kamu membantu temanmu yang kesusahan tapi menghajar mereka sampai babak belur begitu juga tidak benar. Kamu menyerap semua ilmu yang Papa ajari dengan baik. Sekarang Papa bingung, harus senang atau kecewa karena ini. Belum lagi jika Mama tahu soal ini. Papa juga akan kena marah sama Mama gara-gara mengajarimu berkelahi. Coba katakan, apa yang harus Papa katakan sama Mama nanti? Kenapa anaknya yang dulu tidak pernah berkelahi sekarang jadi suka berkelahi? Yang dulunya manis sekarang jadi sering marah-marah? Pasti ada penyebabnya kan?”
Iskandar tidak menjawab, ia mencium tangan ayahnya lalu segera menuju kelas. Rendra hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam. Dirinya sudah menjadi sosok ayah yang sesungguhnya. Ayah yang akan menghadapi segala permasalahan yang ditimbulkan oleh Iskandar kelak.
“Lebih mudah menghadapi musuh dari pada anak yang merajuk.”
__ADS_1
***