
3 tahun kemudian…
Hari yang cerah untuk pasang suami istri yang sedang bersiap untuk menghadiri acara kelulusan sang putra pertama. Kali ini terasa berbeda dan baru untuk mereka karena selama Iskandar mondok. Barulah kali ini dia kembali ke rumah untuk sementara sebelum akhirnya berangkat ke Yaman seperti yang direncanakan sebelumnya.
“Kak, waktu kamu cuma sebulan di sini. Nikmati sepuasnya ya! Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?” tanya Rendra dalam perjalanan.
“Ketemu teman-teman komplek aja.” Sahut Iskandar.
“Yakin? Tidak ingin jalan-jalan ke mana gitu? Mumpung Anugrah juga libur.”
“Tidak.”
“Kamu mau jenguk keluarga kita di Aceh?” tanya Cut
“Tidak perlu. Mereka juga tidak ingin menemui Is.”
“Is-“ Rendra memegang lengan sang istri lalu menggeleng pelan.
Iskandar memang ingin melanjutkan pendidikannya ke Yaman. Ia seakan enggan untuk kembali ke rumah. Selama berada di pondok, nenek dan kakeknya yang berasal dari Aceh juga sempat menelepon beberapa kali untuk menanyakan kabar. Selama ia besar, tidak pernah sekalipun mereka mengunjunginya dengan berbagai alasan. Hal tersebut semakin menghilangkan rasa peduli Iskandar untuk mereka. Apalagi jika ia mengingat setiap kata yang keluar dari nenek dan kakeknya Anugrah. ia tidak akan pernah bisa menerima mereka.
Setelah melakukan beberapa sesi foto bersama dengan keluarga, para ustad dan pengurus pondok hingga sesama angkatannya. Mereka serentak berpisah. Kali ini, tidak ada tangisan seperti sebelumnya karena mereka akan kembali bertemu saat keberangkatan ke Yaman. Rendra sesekali melirik kedua putranya dalam posisi diam. Iskandar memilih membaca kitab sementara Anugrah yang sudah kelas 6 SD memilih membaca komik. Cut sering kali membuka topik pembicaraan tapi kedua putranya justru menjawab sepatah kata.
“Adek, selesai SD ikut mondok di tempat Kakak juga ya?” tanya Cut.
“Gak, Adek gak mau. Nenek bilang Adek harus masuk SMP tempat Papa sekolah dulu terus masuk SMK habis itu masuk tentara seperti Papa dan Kakek.”
“Adek mau jadi tentara?” tanya Cut kembali. Dulu, Anugrah memang sering sekali mengatakan jika ia akan menjadi tentara seperti ayahnya. Saat itu, Cut belum menanggapi secara serius tapi setelah dia beranjak besar. Cut merasa takut dan cemas dengan cita-cita putranya itu.
__ADS_1
Cut melirik sang suami yang sedang fokus menyetir. Ia tidak mungkin mengatakan segala kegundahan hatinya tentang cita-cita sang putra saat ini apalagi ada Iskandar di dalamnya.
Cut hanya bisa menghela nafasnya. Iskandar kembali berulah saat kembali ke mereka tapi dia bisa bercakap panjang lebar jika bersama teman-temannya. Sedalam itukah kekecewaan Iskandar untuknya? Anugrah tidak berani menatap kakaknya karena dia tidak mengingat sama sekali kenangan manis bersama kakaknya itu. Ditambah dengan wajah Iskandar yang datar dan dingin nan irit bicara semakin membuat Anugrah ketakutan. Dia lebih baik membaca buku dari pada melihat wajah menyeramkan kakaknya.
“Mah, nanti malam kita makan di luar ya? Sekaligus merayakan kelulusan Kakak.” Ucap Rendra ketika mobil sudah memasuki kawasan komplek.”
“Iya, Pa. Kita udah lama tidak makan bersama dalam formasi lengkap ya selain di pondok?”
Begitu mobil berhenti dan semua orang sudah turun. Iskandar langsung menurunkan barang-barangnya terutama kitab-kitab yang selama ini selalu mendampinginya. Hanya pakaian dan kitab yang Iskandar bawa, sedangkan lemari dan kasur adalah milik pondok. Rendra tersenyum melihat sang putra lalu ikut membantu menurunkan barang-barangnya.
“Papa rindu saat kamu bayi. Seperti baru kemarin Papa menggendong kamu.”
Iskandar tidak menjawab, hanya hati kecilnya saja yang bicara. “Papa merindukanku saat bayi setelah bayi lain lahir, Papa membuangku.”
“Ma, tidak usah. Iskandar bisa sendiri.” larang Iskandar pada ibunya.
Setelah magrib mereka sekeluarga kembali berangkat menuju sebuah restoran untuk menikmati makan malam dengan tujuan merayakan kelulusan sang kakak. Cut dan Rendra saling berbincang namun kedua putranya lagi-lagi terlibat perang dingin. Cut dan Rendra masih berusaha membangun pembicaraan tapi usaha mereka tetap tidak berhasil.
“Kak, apa rencana setelah selesai di Yaman?” tanya Cut seraua menunggu pesanan mereka.
“Insya Allah lanjut ke Mesir, Ma.” Jawab Iskandar menatap manik sang ibu yang lembut dan teduh.
Jauh dalam lubuk hatinya, ia sangat merindukan hangatnya pelukan sang ibu tapi kondisi telah mendidiknya menjadi remaja yang mandiri dan tidak mudah cengeng. Dia sudah mengalami bagaimana kerasnya hidup jauh dari keluarga. Kepergiannya ke Yaman merupakan tantangan yang ia buat sendiri untuk mengetahui seberapa mampu ia bertahan di perantauan. Selain itu, ia juga masih enggan bertemu dengan orang-orang yang sudah membuat sudut hatinya menjadi hitam.
Seperti saat ini, ia tidak tahu jika setelah acara makan malam. Papanya akan mengajak mereka ke rumah kakek dan nenek. Sampailah mereka di sana dan lagi-lagi Iskandar harus menahan diri untuk menerima setiap sikap pilih-pilih neneknya. Begitu sampai, nenek dan kakeknya sedikit terkejut tapi tetap berusaha tersenyum.
“Iskandar akan berangkat ke Yaman, Ma. Jadi dia pulang sekitar sebulan hingga dua bulan untuk menunggu jadwal keberangkatan.” Rendra memberi tahu kedua orang tuanya.
__ADS_1
Ibu Yetti menghela nafasnya sesaat seraya menatap sang cucu sambung. “Coba dulu banyak beasiswa pasti Mama juga akan menyekolahkan kamu ke luar negeri, Ren.”
Deg….
“Berapa tahun tinggal di Yaman? Biaya hidup pasti tidak murahkan? Apa semua ditanggung beasiswa” tanya Ibu Yetti kembali.
“Alhamdulillah, Nenek dan Kakek di Aceh kaya. Jadi mereka yang membiayai semua kebutuhan Iskandar.” Jawab Iskandar yang mendapat tatapan tidak suka dari kedua orang tua tersebut.
Cut kembali menghela nafasnya. Mengajak Iskandar kemari kayaknya bukan hal yang tepat. Buktinya, Iskandar jutsru membalas perkataan sang nenek dengan cepat tanpa beban.
“Nak,” litih Cut.
“Begitu caramu berbicara dengan kami? Apa ini yang diajarkan di pondok? Buang-buang uang saja kalau begitu. Kamu masih seperti berandalan.” ucap Ibu Yetti.
“Ma,” Rendra memanggil sang ibu untuk berhenti berkata sinis pada sang anak.
Suasana yang seharusnya tenang malah memicu konflik di antara Iskandar dan neneknya. Raut wajah Bapak Wicaksono ikut berubah setelah mendengar sang cucu sambung berani menyanggah ucapan istrinya.
“Ma, Iskandar tunggu di luar.” Ucap Is ketus lalu keluar dari rumah tersebut.
“Lihat! Di usia segitu saja dia sudah berani menentang kita. Bagaimana kalo dia bertambah besar nantinya? Apa kamu yakin melepasnya pergi ke Yaman? Bisa-bisa dia melengceng lalu bergabung dengan organisasi terlarang.”
“Ma, jangan begitu. Dia masih perlu menyesuaikan diri.” Sela Rendra.
“Mama tidak pernah melihat anak seperti dia. Kamu dulu juga nakal tapi kamu tidak sekasar itu. untung saja Anugrah baik-baik saja tidak ikut-ikut Kakaknya. Bagus juga kalau dia pergi jauh dari kalian. Setidaknya dia tidak akan meracuni Anugrah dengan sikap buruknya.”
“Maaaa”
__ADS_1
***