
Perdebatan panjang terjadi saat Cut sampai di markas militer provinsi. Satu-satunya dokter yang berani melakukannya tidak lain adalah Dokter Widia.
“Siapa pun tidak berhak menghalangi kami melakukan tugas negara termasuk Dokter!” ucap salah satu tentara di kantor markas tersebut.
“Saya tidak bermaksud menghalangi tapi pasien saya butuh pemeriksaan terlebih dahulu. Bapak-bapak tidak bisa memperlakukannya seperti ini.” jawab Dokter Widia tegas.
Seorang perwira dengan pangkat lebih besar datang melerai perdebatan bawahan mereka.
“Kami minta kerja samanya, Dokter. Semakin cepat kami mendapatkan informasi maka semakin cepat juga kami menangkap mereka.” ucap perwira tersebut.
“Bapak-bapak bisa menangkap mereka tapi bagaimana dengan pasien saya? Dia akan merasa tertekan hingga berakibat fatal pada kondisinya. Apa Bapak-bapak mau menanggung risikonya?” jawab Dokter Widia tak mau kalah.
“Jadi maunya Dokter apa?”
“Saya minta waktu untuk berbicara dengan Cut. Saya harus memastikan lebih dulu bagaimana kondisinya saat ini.”
“Baiklah! Silakan ikuti bawahan kami!”
Dokter Widia memegang tangan Cut erat lalu berjalan mengikuti seorang tentara menuju ruangan yang sudah disediakan.
Keduanya memasuki ruangan yang hanya terdapat satu meja dan dua kursi. “Silakan!” ucap perwira tersebut lalu pergi meninggalkan mereka.
“Bagaimana perasaanmu Cut?” tanya Dokter Widia seraya mendudukkan Cut di salah satu bangku.
“Apa ada bagian tubuhmu yang luka?”
“Tidak, Dokter.” Jawaban Cut membuat Dokter Widia terkejut sekaligus bahagia.
“Apa kamu takut? Atau kamu susah bernafas saat ini?”
“Iya, Dokter. Tapi saya bisa bernafas dengan baik.” lagi-lagi Dokter Widia tersenyum.
“Alhamdulillah,”
Dokter Widia menarik Cut dalam pelukannya. “Saya sangat senang kamu kembali dengan kesembuhan.” ucap Dokter Widia.
“Lupakan semua ingatan saat kamu hilang, mengerti?” bisik Dokter Widia lalu mengurai pelukannya kemudian menatap Cut dengan tatapan lekat seakan mengisyaratkan sesuatu.
“Waktunya sudah habis, Dokter!” seorang perwira datang lalu di susul perwira lainnya.
“Jangan takut! Saya akan menunggu kamu di sini.” ucap Dokter Widia lalu keluar dari ruangan tersebut.
Pintu ruangan tertutup. Kini hanya tinggal Cut bersama seorang perwira di sana.
“Tenanglah! Saya tidak akan menyakitimu. Kami hanya butuh beberapa informasi tentang Muhammad Khalid. Seorang petinggi pemberontak yang berhasil menculik kamu. Apa kamu bisa menggambarkan wajahnya untuk kami? Bagaimana ciri-cirinya?”
Cut menunduk seraya meremas jari-jari tangannya. Ia ketakutan serta bimbang. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan mereka sementara ia juga tahu dampak dari informasi yang ia berikan akan seperti apa? Ditambah dengan bisikan dari Dokter Widia tadi.
“Selama ini kamu tinggal di mana?”
Cut mengangkat kepalanya menatap sang perwira. “Hutan.”
“Hutan? Di darah mana? Apa nama kampungnya?”
“Saya tidak tahu. Tidak ada orang di sana. Hanya para pemberontak.”
“Bisa kamu jelaskan bagaimana ciri-ciri atau wajah dari Khalid? Kamu pasti tahu karena dia berteman baik dengan abang kamu, bukan?”
Cut kembali menatap perwira tersebut. “Kulitnya hitam, rambutnya bergelombang, hidungnya mancung dan memiliki jambang.”
“Hanya itu?” Cut mengangguk pelan.
__ADS_1
“Berapa banyak mereka?”
“Saya tidak menghitung.”
“Berapa orang yang menculikmu?”
“Saya tidak ingat.”
“Sebelum dibawa ke hutan, kamu dibawa ke mana?”
“Saya tidak ingat.”
“Kalian pergi naik kendaraan apa?”
“Saya tidak ingat.”
“Kamu pulang kemarin naik apa?”
“Becak.”
“Di mana kalian menjumpai becak?”
“Di jalan.”
“Jalan apa?”
“Saya tidak tahu.”
“Dari hutan ke kota kamu naik apa?”
“Jalan kaki.”
“Saya tidak tahu.”
“Berapa lama waktu kamu berangkat sampai ke sini.”
“Saya tidak menghitung.”
“Kamu sampai ke sini jam 7 pagi. Berarti kamu berangkat dari hutan saat azan subuh?”
“Tidak ada suara azan saat saya berangkat.”
“Bagaimana dengan suara ayam berkokok?”
“Saya juga tidak mendengarnya.”
“Bisa kamu ceritakan tempat kamu berada selama ini?”
“Tempatnya jauh dari kota, banyak pohon-pohon besar di sana. Ada perbukitan, jalannya naik turun.”
“Berapa banyak rumah penduduk di sana?”
“Tidak ada?”
“Apa kalian tidak menjumpai pos tentara saat ke sini?”
“Iya, pos mereka hampir di setiap kampung ada. Bahkan di pinggir jalan.”
“Apa kakimu tidak luka?”
“Tidak, hanya terasa sakit sedikit.”
__ADS_1
“Apa yang kalian makan selama di sana?”
“Pisang, ubi, sayur-sayuran yang ada di sana.”
Jawaban demi jawaban yang Cut berikan terasa tidak memuaskan bagi si perwira sehingga waktu yang berlalu selama hampir dua jam tersebut terasa sia-sia. Mereka mengakhiri penyelidikan lalu membiarkan Cut pulang bersama keluarnya.
“Bagaimana, Dan?”
“Tetap awasi! Sepertinya ada yang ia sembunyikan.”
“Kenapa tidak dipaksa saja?”
“Kita tidak bisa melakukan itu. Dia pasien rumah sakit jiwa. Keterangannya bersifat abu-abu. Tidak semuanya benar atau salah. Tidak ada yang mempercayai perkataan orang gila. Kita bisa berurusan dengan hukum jika sampai memaksanya. Apalagi suami dokter itu seorang provos.”
“Awasi saja! Saya yakin dia mengenali wajah Khalid.”
“Siap, Dan. Apa mungkin dia sendiri berada dalam ancaman Khalid?”
“Bisa jadi. Kita tidak tahu pasti apa yang dia alami selama diculik.”
“Sepertinya keputusan saya untuk mengizinkan dia bicara dengan Dokter itu sebuah kesalahan.”
“Kenapa, Dan.”
“Entah. Firasat saya mengatakan seperti itu.”
Sementara itu, Umi memeluk sang putri yang baru tiba. “Sudah, Umi. Cut baik-baik saja.”
“Umi, biarkan Cut istirahat dulu.” saran Dokter Widia.
“Jadi bagaimana selanjutnya ini Dokter?”
“Besok, saya akan kemari lagi untuk memastikan kondisinya. Untuk sekarang lebih baik dia di ruko saja. Saya yakin kedua belah pihak sedang mengawasinya.” ujar Dokter Widia.
“Iya, Abu. Lebih baik Cut tidak keluar Ruko dulu. Untuk keamanan, Insya Allah akan ada yang mengawasi. Pihak militer pasti tidak puas dengan jawaban Cut. Mereka tidak akan melepas Cut begitu saja.” Lanjut suami Dokter Widia.
“Kalau begitu kami permisi dulu, nanti sore saya kemari lagi.” ucap Dokter Widia kembali.
Setelah mengantar sepasang suami istri serta adiknya, Abu kembali menutup toko. Hari ini cukup melelahkan untuk keluarga mereka. Abu memilih beristirahat di atas, sementara Mae bermain dengan Rendra.
Sesekali, Umi yang sedang memasak berusaha untuk menjenguk sang putri yang sedang berbaring di kamarnya. Sekelebat ingatan tentang Khalid bermunculan di pikirannya.
“Apa aku sudah melakukan hal yang benar?” batin Cut.
Berbagai perkataan Khalid yang bisa jadi benar terus bermunculan serta janjinya pada Ilham.
“Cut... kita makan dulu ya?” tanya Umi menghampiri sang putri.
Tangannya mengelus lembut kepala sang putri yang amat ia rindukan selama ini. “Apa dia memperlakukanmu dengan baik?” tanya Umi ragu.
“Baik, Umi. Dia hanya menunaikan janjinya pada Bang Ilham untuk menjaga Cut dari Rendra. Bang Ilham tidak menyukai tentara, Umi. Jadi, dia tidak mau kalau Cut menikah dengan Rendra.”
“Janji tidak selalu harus ditepati jika itu mengakibatkan keburukan bagi orang lain. Berjanjilah dengan sewajarnya jangan seperti mereka. Rendra sudah pulang ke Jawa. Sebelum pulang, dia bertemu dengan Abu untuk meminta maaf karena gagal menjaga kamu.”
“Istirahatlah yang tenang! Insya Allah segala kesedihan serta kesusahan ini akan segera berakhir dari keluarga kita.” lanjut Umi kembali.
“Amin...
***
__ADS_1
LIKE...KOMEN...LIKE...KOMEN...