
Perjalanan menuju kampung halaman itu akhirnya sampai juga. Faris menemput mereka bersama Pak Cek Amir yang sudah terlihat berbeda. Rambutnya sudah mulai beruban dengan perut yang mulai membuncit. Cut tersenyum lalu mencium telapan tangan pria yang menjadi wali nikahnya dulu. Pak Cek Amir sampai tidak percaya menatap takjub pada dua pemuda yang sudah beranjak dewasa di depannya.
“Ini Kakek kalian, adik dari ayahnya Mama.” Cut memperkenalkan dua putranya dengan Pak Cek Amir. Merek mencium tangan lalu dengan cepat Pak Cek Amir memeluk dua pemuda itu penuh haru.
“Sehat, Pak Cek?” tanya Rendra sambil memeluknya sekilas.
“Alhamdulillah. Kamu sudah kelihatan tua juga ya!” seloroh Pak Cek Amir.
“Ini kenalkan, Om Faris. Anak laki-laki dari Kakek Amir.”
Mereka berjabat tangan bergantian dengan Faris. Pulang kampung menjadi plihan yang tepat untuk ke dua putranya. Mereka seperti mendapat berjuta kasih dan kemuliaan saat menginjakkan kaki di bumi Serambi Mekkah untuk pertama kalinya.
“Pak Cek, Cut minta maaf karena tidak bisa pulang saat Faris dan Intan menikah.” Ucap Cut dalam perjalan pulang mereka.
“Sudahlah, kami semua mengerti.”
Mereka bercerita banyak hal dalam perjalanan menuju rumah. Cut bertanya ini dan itu serta pemandangan kota Banda yang lebih baik dari sebelumnya. Banyak bangunan-bangunan baru berdiri kokoh bahkan jalan-jalan sudah kembali mulus serta kawasan perumahan yang semakin padat.
“Kita pulang ke rumah Pak Cek aja ya, kalian menginap di sana. Kalau ke rumah Mae, kalian akan susah istirahat. Anak Mae banyak dan rewel.” Ucap Pak Cek.
“Istrinya juga, Kak Cut.” Faris yang sedang menyetir ikut menimpali.
“Sudah berapa anak Mae, Pak Cek?” tanya Cut.
“Lima. Jaraknya dekat-dekat. Tanah tempat Mae membangun rumah itu suratnya masih atas nama kamu. Rumah itu juga milik kamu, cuma karena kamu bilang biar Mae saja yang tinggal. Pak Cek tidak mempermasalahkan. Tapi Pak Cek sudah bicara sama Mae untuk segera membeli tanah supaya dia bisa membangun rumah sendiri. Ruko itu juga masih hak kamu karena Abu dulu hanya memberikan hak pakai bukan hak milik. Kepulangan kamu ini sudah sepatutnya menjadi ajang untuk kamu bicara lebih jelas dengan Mae. Pak Cek tidak bermaksud apa-apa, hanya saja semua harus jelas. Kamu punya anak dan dia juga punya anak. Abumu juga tidak mengambil Mae sebagai anak melainkan mengajaknya untuk membantu Abu di ruko. Jangan sampai istri dan anak Mae berpikir jika tanah, rumah dan ruko itu milik mereka. Anak-anakmu lebih berhak dan kalau seandainya Rendra masih ada, dia juga berhak untuk warisan itu.”
“Papa masih hidup, Kek.” Celutuk Anugrah yang membuat Pak Cek Amir tertawa kecil.
“Itu mesjidnya ajaib waktu tsunami itu ya?” tanya Anugrah melihat melalui kaca mobil. Dia merasa takjub melihat kemegahan mesjid itu. Setelah mendengar cerita dari ibunya, Anugrah diam-diam mencari tentang kejadian itu di kanal youtube. Dari sanalah dia melihat bagaimana kuasa Allah menyelamatkan mesjid itu dari hantaman ombak tsunami.
“Nanti kalian bisa salat berjamaah ke situ. Rumah Kakek dekat dengan mesjid cukup jalan kaki sekitar dua menit.” Ujar sang ibu. Makin berserilah wajah Anugrah dan Iskandar. Ia sudah mendengar banyak cerita tentang kemegahan dan keajaiban mesjid raya Biturrahman dari teman-teman kuliahnya yang berasal dari Aceh.
“Nanti kita juga bisa pergi ke kapal apung sama meseum tsunami, Dek.” Ucap Faris yang sedikit bingung memanggil mereka. Akhirnya, mereka sampai di rumah Mak Cek Siti dan langsung disambut oleh Mak Cek Siti dengan senyum mengembang di wajahnya. Di samping Mak Cek sudah berdiri seorang wanita berpakaian gamis serta dua orang anak kecil berumur laki-laki dan perempuan.
__ADS_1
Para tetangga ikut berdatangan begitu mendengar Cut pulang setelah sekian lama merantau. “Mama terkenal juga ya?” bisik Anugrah pada sang kakak. Ia takjub melihat banyaknya orang yang berkumpul menatap penuh senyum pada mereka yang baru turun dari mobil.
“Assalamualaikum,”
“Walaikumsalam,” jawab semua orang yang sudah berkumpul.
“Wah, Cut kamu beda kali lah sekarang. Makin cantik habis kena air sumur Jawa ya?”
“Itu anak-anakmu Cut? Ganteng-ganteng ya? Udah punya calon belum? Anak ibu ada yang belum nikah ini.”
“Cut, bawa pulang oleh-oleh apa dari Jawa?”
Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh para tetangga untuk Cut. Mereka sangat senang melihat Cut kembali setelah sekian lama meninggalkan tanah kelahiran. Anugrah dan Iskandar harus rela saat tangan-tangan nakal nenek-nenek tetangga mencubit gemas pipi mereka sampai kulit mereka yang putih menjadi kemerahan.
“Kalau dituntut kena pasal apa nih, Pa?” tanya Anugrah pada sang ayah yang terlihat menahan tawa melihat kekesalan ke dua putra mereka.
“Kak, setelah ini yakin mau pulang lagi?” Iskandar tidak menanggapi. Dia sendiri tidak menyangka jika orang-orang akan menyambut kepulangan mereka dengan heboh begini.
Istri Farris datang membawa nampan berisi minuman hangat untuk kami di ruang tamu. Anak-anak Faris ternyata cukup dekat dengan kakeknya. Setelah Pak Cek Amir duduk, ke dua anak-anak itu langsung merangkak ke atas paha sang kakek.
“Mak Cek sehat?” tanya Cut melihat Mak Cek Siti yang kelihatan kurus dari tarakhir Cut lihat.
“Mak Cek kena diabetes, Cut. Jadi ya begini kondisinya. Tidak boleh makan sembarangan sama suntik insulin.” Ujar Mak Cek Siti.
“Faris, istri dan anak-anaknya yang meramaikan rumah saat ini. Intan sudah pindah ke Turki ikut suami. Rumah segini besar kalau tinggal kami berdua apa jadinya, Cut? Nanti kamu juga akan merasa hal yang sama dengan yang kami rasa sekarang. Apalagi anak-anakmu sudah mandiri dan tinggal jauh dari kalian. Pasti kamu akan kesepian makanya kami minta Faris untuk tetap tinggal di sini. Kalau kami sudah meninggal, rumah ini juga jadi milik dia. Intan, mana mau pulang ke sini meninggalkan suaminya. Apalagi dia juga sudah punya rumah di sana.” jelas Mak Cek Siti panjang lebar. Matanya terus menatap Iskandar.
“Bayi yang dulu kami timang-timang sudah gagah menjadi pemuda ya? Nenek dan kakekmu pasti senang saat tahu kamu pulang. Andai Faisal masih ada, dia juga pasti bahagia melihat putranya tumbuh dengan gagah serta tampan sepertinya.” Ucap Mak Cek Siti berurai air mata.
“Kami ikut berduka cita ya, Ren. Maaf karena tidak bisa berkunjung ke tempat kalian.” Ucap Pak Cek Siti pada Rendra.
“Terima kasih, Pak Cek. Kami semua mengerti kok. Doakan saja semoga almarhum Mama mendapat tempat di sisi-Nya.”
“Amin.”
__ADS_1
“Ayo kita makan dulu! Nenek sudah memasak banyak makanan kesukaan ibumu tapi Nenek tidak tahu kalian suka apa?” ucap Mak Cek Siti pada kedua cucu besarnya itu.
“Mereka pemakan segala, Mak Cek.” Sahut Rendra.
Mak Cek memanjakan Cut sekeluarga dengan berbagai hidangan khas yang sudah jarang Cut makan di Jawa sana. Mulai dari asam keueng, lambai hingga payeh. Mereka makan dengan lahap, tidak ada satupun dari mereka yang mampu menolak nikmatnya makanan khas Aceh tersebut.
“Jadi ingat masa tugas dulu, Papa sering sekali makan makanan ini.” Ucap Rendra setelah dua kali menambah nasi.
“Aku bisa mengajukan pindah kemari saja, tidak?” tanya Anugrah. Sepertinya baik bapak maupun anak sama-sama jatuh cinta makanan khas daerah wanita yang paling mereka cintai itu.
Selesai makan, suara azan dari masjid raya Baiturrahma berkumandang. Sesuai keinginan semua, mereka segera menuju masjid tersebut untuk melaksanakan salat berjamaah setelah pertama kali menginjakkan kaki di Aceh.
“Ya Allah, hamba ini manusia paling tidak tahu diri. Hamba tidak pernah bersyukur dengan semua nikmat yang sudah engkau berikan. Sekarang, hamba lagi sedih, kecewa karena cinta hamba tidak kesampaian. Ya Allah, tolong ubah pendirian Tiara supaya dia mau mengikuti keyakinan hamba. Ya Allah, hamba tidak bisa mencintai gadis lain, hamba hanya menyayangi Tiara. Hamba hanya mau Tiara, ya Allah.” Anugrah memanjatkan doa dengan khusuk dalam hatinya. Ia mencurahkan semua kegundahan hatinya di depan sang khalik.
“Ya Allah ya rabbi, ampunilah dosa ayah kandung hamba. Pertemukanlah kami jika beliau masih hidup. Ya Allah, hanya padamu hamba memohon. Ampuni dosa hamba, ibu dan ke dua ayah hamba. Pertemukanlah adik hamba dengan jodoh terbaik yang engkau pilihkan untuknya. Jangan biarkan hatinya larut dalam kesedihan karena cinta. Berikan kebahagiannya untuk kami, ya Allah.” Iskandar turut mendoakan sang adik untuk segera menemukan kebahagiaanya.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah karena engkau telah menginzinkan hamba untuk kembali ketanah kelahiran hamba bersama dengan suami dan anak-anaka hamba. Ya Allah, ampunilah dosa kedua orang tua hamba, dosa ibu mertua hamba serta dosa ayah dari anak-anak hamba. Terima kasih karena engkau telah mempersatukan hamba dengan pria terbaik yang engkau pilihkan. Ya Allah, pertemukanlah ke dua putra hamba dengan jodohnya masing-masing. Jodoh terbaik yang engkau pilihkan. Berikan kesehatan dan keselamatan kepada kami serta keluarga kami.” Cut ikut larut dalam doanya.
“Terima kasih ya Allah, lindungi keluarga kami serta anak-anak kami di manapun mereka bekerja. Berikan kesehatan kepada kami sehingga kami bisa melihat cucu-cucu kami nanti, ya Allah.” Rendra juga ikut berdoa setelah salat mereka usai. Setelah menunaikan salat zuhur berjamaah, mereka sempat melakukan foto-foto bersama selama setengah jam. Setelah itu mereka kembali melakukan perjalanan dipandu oleh Faris menuju kuburan massal di daerah pesisir laut.
“Assalamualaikum ya ahlil kubur,” ucap Cut dan Rendra bersamaan begitu mereka sampai di sana. Anugrah dan Iskandar memperhatikan tanah kosong yang sudah ditumbuhii rumput itu.
“Ini tidak ada batu nisannya?” celutuk Anugrah seperti lupa dengan bencana besar itu.
Farris tersenyum kecil, “Saat itu kafan saja tidak ada, Dek. Apalagi batu nisan.” Anugrah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Is yang pimpin doa ya! Pasti kakek dan nenek akan senang sekali saat tahu cucunya sudah menjadi ustad yang mengerti agama dengan baik.”
“Jadi kakek dan nenek gak suka sama aku karena aku tentara?” celutuk Anugrah merasa cemburu pada kakaknya.
“Kalau mereka tidak suka, kamu tidak akan lahir.” Cibir Rendra.”
***
Up jam 11.13. kita lihat jam brpa lolosnya...
__ADS_1