CUT

CUT
Geger...


__ADS_3

Pesta pernikahan sudah selesai. Para tamu undangan juga sudah hadir. Aisyah dan Dita sudah kembali ke rumah Faisal sementara Iskandar bersama sahabat till jannah sudah berangkat ke pondok untuk mengantar Abah. Mereka ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama bersama Abah.


“Berasa istri pertama dan kedua.” Celutuk Dita saat mereka tiba di rumah masih lengkap dengan pakaian pengantin.


“Kamu pacaran sama teman Iskandar?” Tanya Papa Faisal pada Dita.


“Maunya sih gitu tapi Papa tahu sendiri kan halangannya?” Faisal mengangguk lemah. Ia sangat tahu bahkan ikut merasakan bagaimana perbedaan keyakinan mampu memisahkan dua hati.


“Bukan hanya Papa, Tiara dan Anugrah juga mengalami hal serupa tapi mereka saling melepaskan tidak seperti kalian.” Sindir Dita pada ayahnya. Yang disindir hanya bisa menghela nafas karena kesalahan di masa lalu memang akan selalu menghantuinya.


“Ai, gak brasa pulang ke rumah orang tua ya?” tanya Dita melihat Aisyah sudah turun dari kamarnya dan langsung menuju kulkas.


“Itulah enaknya menikah dengan jodoh serumah.” Dita mencibir perkataan Aisyah lalu ia bangkit menuju kamarnya untuk berganti baju.


“Iskandar akan menginap di sana ya?” tanya Mama Ayu melihat anaknya sangat santai dengan baju kaos dan celana panjang.


Aisyah mengedikkan bahu. “Kamu masih marah sama Iskandar? Tidak boleh marah-marah sama suami. Apalagi suamimu itu tampan. Digaet orang baru tahu.”


“Papa nyumpahin aku? Papa tahu tidak, aku malu banget tadi. Semua teman-teman meledekku di pernikahanku sendiri. Sumpah, itu gak lucu.”


“Ya sudah, lebih baik kamu istirahat. Papa sama Mama mau ke kamar dulu.” Faisal segera menarik tangan istrinya menuju kamar.


“Paaaa...” Ayu merengek tapi Faisal tidak melepaskan apa yang sudah dimulainya.

__ADS_1


“Harusnya yang malam pertama itu anak-anak bukan orang tuanya.” Sindir Ayu menahan geli karena serangan dari sang suami.


“Orang tuanya juga butuh bahkan lebih butuh karena sudah berpengalaman.” Ucap Faisal dengan nafas memburu. Usia boleh bertambah tapi semangat untuk bereproduksi juga tidak boleh kendur.


Di kamarnya, Dita yang sudah gatal dari tadi menahan diri kini dengan santainya mengunggah foto dirinya yang sudah dihias memakai pakaian pengantin dengan keterangan “SAH” tidak cukup foto dirinya seorang, ia juga mengunggah foto dirinya bersama Dika serta tidak lupa membuat keterangan “Bersamamu hingga akhir” lalu ia kembali mengunggah foto mereka yang sedang memamerkan buku nikah dan foto saat Dika memberikan mas kawin pada Dita. Semua foto itu ia dapatkan setelah acara selesai. Dita dengan sengaja meminta Anugrah untuk memotretnya bersama Dika dengan alasan kenang-kenangan. Padahal tujuan Dita sebenarnya untuk mengerjai sang ibu dan adiknya.


Setelah puas mengunggah, Dita langsung mematikan ponselnya dan tidak berselang lama, gadis itu tertidur nyenyak dalam ketenangan. Sementara di sebuah rumah sederhana, Dika yang sedang melihat ponselnya tersenyum kecil saat foto-foto dirinya bersama Dita muncul di media sosialnya karena Dita menyebut namanya di sana. Sontak, foto tersebut langsung diserbu teman-teman Dika yang kebanyakan bekerja di hotel yang sama. Begitu juga dengan Tiara yang sedang hamil besar.


Dia langsung menghubungi Doni dan memintanya membuka akun media sosial milik Dita. Mata Doni membulat sempurna dengan mulut menganga saat melihat kakak iparnya menikah. Ia langsung membuka akun sosial media pria yang namanya ikut diseret oleh Dita.


“Sayang, sudah hubungi Kak Dita?” tanya Doni melalui saluran telepon.


“Sudah, Yank. Tapi ponselnya mati.”


“Sayang, tenang ya! Mama terlalu sibuk untuk melihat media sosial.” Doni mencoba menenangkan istrinya. Tiara sedang hamil besar hingga ia sudah mulai di rumah menikmati cuti menjelang melahirkan.


“Kamu yang tenang jangan pikir yang aneh-aneh. Aku selesaikan pekerjaanku secepatnya supaya bisa segera pulang.”


“Iya, Yank.”


Setelah memutuskan panggilannya, Doni kembali melihat-lihat foto-foto Dita bersama Dika yang kelihatan sangat serasi di mata Doni.


Di sebuah rumah sederhana milik Abah, kelima pria muda sedang duduk menikmati hidangan yang disediakan oleh tuan rumah. Tidak ada satu pun yang menyadari kehebohan yang dibuat oleh Dita bahkan Dika. Ia memilih memperhatikan gurunya berbicara dari pada melihat akun sosial media.

__ADS_1


“Iskandar sudah menikah lalu bagaimana dengan kalian? Abah rasa umur kalian sudah tepat untuk membina sebuah rumah tangga. Apakah di antara kalian ada yang sudah memiliki calon?” Abah menatap satu per satu ke empat pria muda di depannya. Untuk Iskandar, ia sudah dicoreng dari kandidat setelah tadi pagi melepas masa lajangnya.


Ari, Dwi dan Reski masih betah sendiri. Entah apa yang mereka pikirkan tapi selama ini tidak ada satu mahasiswa pun yang berhasil mengambil perhatian mereka. Iskandar selaku sahabat juga pernah menanyakan itu tapi jawaban mereka selalu sama. “Jodoh akan datang dengan sendirinya, Is. Yakini saja itu!”


“Iskandar mengulang kalimat itu di depan Abah membuat mereka langsung memberikan tatapan tajam ke arahnya. Sementara Dika memilih diam karena dia belum yakin dengan keinginan hatinya.


“Jujur saja, Abah memiliki tiga orang putri dari istri pertama, kedua dan ketiga. Abah ingin melamar kalian untuk putri-putri Abah tersebut. Mereka tidak ahli dalam ilmu sekolah tapi insya Allah, mereka mampu menjadi istri yang saleh dan ibu yang baik untuk anak keturunan kalian kelak.” Mata ketiganya terbelalak. Setelah melihat sahabatnya menikah, hari ini mereka justru dilamar untuk menjadi suami dari putri-putri anak Abah.


Iskandar tersenyum menatap sahabatnya yang sedang kebingungan sementara Dika hanya menggelengkan kepala kecil. Ia belum berkeinginan untuk menikah saat ini dan wanita yang dia sukai adalah Dita bukan yang lain.


Reski, Dwi dan Ari saling melirik satu sama lain. “Abah tahu yang kalian pikirkan. Oleh sebab itu, Abah akan meminta ketiga putri Abah untuk datang ke sini. Iskandar, kamu bisa keluar dulu karena kamu sudah tidak lajang lagi jadi tidak perlu melihat wajah putri Abah kecuali kamu berniat poligami.” Ucap Abah lalu terkekeh pelan.


“Abah, Dika mohon maaf. Dika juga keluar sama Iskandar. Dika tidak bisa menerima putri Abah yang saleh sementara Dika bejat begini.” Ucap Dika lemah lalu mengikuti Iskandar untuk keluar. Dia tidak berhak melihat wajah gadis-gadis itu.


Sebelum ketiga anaknya masuk, Abah meminta ketiga muridnya untuk duduk menjauh satu sama lain. Sebagai seorang yang sudah lama mengenyam asam garam kehidupan, Abah tahu pasti apa yang akan terjadi jika ketiga putrinya dilihat oleh mereka bersamaan.


Setelah berdiri di posisi yang sudah ditentukan, Abah mengajak putrinya untuk masuk dan langsung berhadapan dengan ketiga pria di tempat masing-masing. Posisi ketiga gadis itu tidak bisa dijangkau oleh mata yang lain. Hingga yang terlihat hanya gadis yang berdiri di depan mata para pria.


“Perhatikan baik-baik wajah putri Abah di depan kalian. Waktu kalian tidak banyak!” ucap Abah lalu memberi kode supaya ketiga putrinya untuk membuka cadar mereka di depan para pria yang akan jadi calon suami mereka kelak.


“Subhanallah!”


***

__ADS_1


Ehemmm...


__ADS_2