CUT

CUT
Anugrah Wicaksono...


__ADS_3

Satu hal yang baru mereka rasakan adalah saat berada di rumah Adit. Ibu dari temannya itu ternyata berbeda dengan ibu mereka. Bersama ibu Adit, mereka menceritakan banyak hal tentu saja ada timbal balik yang mereka terima. Setiap keluh kesah selalu mendapat saran dan nasehat yang nyaman di telinga mereka.


Ibu Adit yang lemah lembut serta enak diajak bicara. Ibu Adit tidak mengedepankan egonya hingga tidak terasa sesi curhat anak-anak komplek sudah memakan waktu berjam-jam. Mereka juga senang karena disuguhkan makan siang oleh Ibu Adit. Duduk lesehan sambil bersanda gurau menikmati makan siang bersama teman-temannya membuat Iskandar kembali merasa senang. Emosinya yang sempat meledak-ledak kini mulai berangsur turun.


“Oh iya, Tante lupa cerita sama kalian. Ada kejadian menarik saat Tante kerja di rumah sakit.”


Anak-anak langsung antusias untuk mendengar cerita Ibu Adit. “Saat itu ada pasangan yang akan memeriksa kandungan anak mereka yang kedua. Kenapa Tante tahu itu anak ke 2? Karena anak pertamanya juga ikut. Suami ibu itu juga tentara dan yang menjadi menarik dari cerita ini adalah bapak tentara ini berasal dari Papua. Kalian tahu kan orang Papua rupanya seperti apa?”


“Hitam, Tante.”


“Nah, bapak tentara ini hitam sekali kulitnya. Istrinya berkulit coklat khas orang timur. Nah, bisa kalian bayangin wajah anak pertamanya?” tanya Ibu Adit.


“Mirip bapaknya lah Tante, hitam atau coklat seperti ibunya.” Sahut salah satu teman Adit.


“Salah…”


Semua teman-teman Adit terlihat penasaran, “Anaknya itu putih dan ganteng hanya hidung dan bibirnya yang mirip sama bapaknya.”


“Kok bisa Tante?”


“Menurut cerita, konon saat hamil ibu tersebut selalu makan buah apel berkilo-kilo. Dan hasilnya ya anak itu tadi. Makanya kemiripan yang kalian bicarakan itu kadang-kadang tidak pasti juga. Buktinya anak itu tadi.”


Iskandar diam, dia tidak bercerita tentang siapa dirinya pada mereka. Yang mereka tahu selama ini adalah dia tidak mirip dengan ayahnya.


“Tuh dengar Is, bisa jadi waktu hamil Mama kamu banyak makan jengkol makanya wajah kamu pahit.” Mereka tertawa bersama hanya Ibu Adit yang diam menatap Iskandar. Mereka yang menghuni komplek itu tahu siapa Iskandar dan dari dulu tidak ada yang membahas itu.


Di saat yang sama, para anggota keluarga jadi panik saat tidak menemukan Iskandar di rumah. Setelah para tamu undangan pulang menyisakan anggota keluarga saja barulah mereka menyadari jika Iskandar tidak di sana.


Rendra segera mendatangi rumah depan karena tahu anaknya berteman dengan anak tersebut. “Mereka biasa main di taman, Pak.”

__ADS_1


Setelah mengucapkan terima kasih, Rendra segera melajukan motornya ke taman dan di sana juga tidak ada. Cut yang berada di rumah juga ikut panik dan khawatir karena tidak biasanya Iskandar pergi begitu saja tanpa panik.


“Tenang saja, Rendra sudah mencarinya. Susui saja Anugrah terlebih dahulu. dia terus mengecap-ngecap tanda lapar.”


Cut menyusui sang putra walaupun perasaannya tidak tenang sampai Anugrah tertidur. Motor Rendra berhenti di depan sebuah rumah yang terdapat banyak sepeda di depannya. Setelah memberi salam, benar saja sang putra langsung keluar disusul oleh teman-temannya juga Ibu Adit.


Rendra terkejut mendapati banyak luka di wajah dan lengannya, “Iskandar jatuh saat main sepeda. Tidak ada yang parah dan sudah saya obati, Pak.”


“Terima kasih, Buk. Kalau begitu saya permisi dulu.” Rendra membawa Iskandar pulang. Sepanjang perjalanan tidak ada yang mereka bicarakan. Iskandar masih dalam mode merajuk ini terlihat karena dia tidak mau memeluk pinggang Papanya.


Sesampai di rumah, Iskandar sudah ditunggui oleh setiap anggota keluarga. Kepanikan di wajah mereka jelas terlihat dan dia melewati mereka begitu saja tanpa menjawab apapun yang mereka tanyakan termasuk pertanyaan dari Riko.


“Is, Mama tidak pernah mengajari Is untuk tidak sopan begitu terhadap orang tua. Kenapa Is tidak menjawa pertanyaan dari Om dan Kakek?” tanya Cut yang mengikuti sang putra hingga ke kamarnya.


“Is jawab Mama! Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba begini? Ceritakan apa yang terjadi supaya Mama paham.”


Belum sempat Iskandar menjawab, “Cut, Anugrah bangun. Coba lihat dulu!”


“Apa nenek kasihan padaku?”


“Tentu, nenek kasihan kalau kamu harus melihat Papamu marah. Apalagi sekarang ada Anugrah, nenek tidak mau kamu bertingkah nakal, Iskandar!”


Ibu Yetti keluar dari kamar Iskandar. Sementara sang cucu terisak sendiri di kamarnya. Rendra masuk hendak membangunkan sang putra untuk makan tapi sayangnya Iskandar justru tertidur di balik selimut.  


Rendra menghela nafasnya, dia menyadari jika perannya sebagai orang tua sudah mulai berjalan. Jika selama ini dia hanya mendengar berbagai keluh kesah dari teman-temannya kini dia sudah mulai mengalaminya.


“Jangan merasa iri atau cemburu terhadap adikmu. Tanpa kamu, Mama dan Papa tidak akan bersatu dan adikmu tidak akan lahir ke dunia ini. Kami menyayangimu, jangan pernah meragukan itu.”


Cup…

__ADS_1


Rendra mencium kening sang anak lalu membetulkan selimut Iskandar. Ia matikan lampu lalu keluar meninggalkan sang putra. Dalam tidurnya, tetesan air mata mengalir begitu saja. Pintu kamar terbuka lalu terlihatlah seorang wanita yang sedang tersenyum menatap sang suami. Dadanya terbuka karena sang putra kedua sedang melakukan tugas ayahnya yang selama ini tidak pernah absen.


Rendra berjalan mendekati ranjang lalu mendudukkan diri tepat di depan sang istri. Jarak kedunya cukup dekat, “Dia sama rakusnya denganmu.”


Cup…


Satu kecupan mendarat di bibir sang istri, “Dia membuat Abang ingin melakukan hal yang sama.”


Cup…


“Sekarang giliran dia, Papanya sudah lama menikmati sendiri kini giliran dia.” Bisik Cut mesra.


Anugrah menyesap susu ibunya dalam tidur sementara Papanya menyesap bibir Mamanya dalam keadaan sadar. “Nanti dia lihat bagaimana?” tanya Cut saat keduanya melepaskan pungutan mereka.


“Tidak akan, lampunya cukup temaram bagi mata dia yang masih bayi.”


“Masih lama ya Abang puasa?”


Cut mengangguk lalu keduanya kembali berciuman sementara sang putra mulai tenang dalam gendongan ibunya.


Rendra mengambil Anugrah lalu membaringkannya dalam box bayi di samping ranjang mereka. Senyum nakal Rendra kembali terukir saat dirinya kembali duduk berhadapan dengan sang istri.


“Sekarang giliran Papanya,”


Walaupun tidak bisa makanan makanan utama setidaknya dia bisa merasakan makanan pembuka yang tidak kalah nikmat. Dari perut ke atas dijamah berulang-ulang hingga keduanya melenguh bersama. Percintaan keduanya tidak pernah dingin walaupun usia pernikahan tidak lagi baru. Justru semakin lama hasrat keduanya semakin menggebu ditambah dengan kondisi badannya saat ini yang menurut Rendra begitu menggiurkan.


Wanita menyusui tentu saja memiliki dada yang besar dan bagi Rendra itu sangat seksi serta menggairahkan. Tidak mau kalah dengan sang putra, dia meninggalkan jejak pendakian di sekitar jalan menuju puncak. “Biar dia tahu, ini tetap milik Papanya.”


“Bang, bagaimana Iskandar? Sepertinya dia sedikit berubah?” tanya Cut saat keduanya selesai bekerja sama.

__ADS_1


“Perasaan seorang kakak saat adik bayinya hadir. Iskandar sedang merasa iri pada adiknya. Kita bisa memberikannya pemahaman setelah ini dan lambat laun dia akan menyadari jika semua pikiran buruknya itu tidak benar.”


***


__ADS_2