
Iskandar memasuki kamarnya yang masih meninggalkan sisa-sisa riasan kemarin. Ketika pintu dibuka, kamar itu dalam kondisi rapi tak tersentuh manusia. Dia menghela nafasnya setelah memasuki kamar. “Sepertinya lebih mudah mengajakmu menikah dari pada mengajakmu sekamar.” Gumam Iskandar melepas pakaiannya.
Setelah pesta pernikahan, Aisyah yang masih memendam kesal pada keluarganya kembali melakukan pemberontakan dengan tidak tidur di kamar Iskandar. Ia memilih tetap tidur di kamarnya walaupun barang-barangnya sudah dipindahkan semua ke kamar Iskandar oleh sang ibu. Protes Aisyah tidak sampai di situ, ia melakukan mogok bicara dengan keluarganya termasuk dengan kakek dan nenek serta tidak makan bersama mereka.
Sudah dua hari, ia menghabiskan waktunya di kamar tanpa bicara dengan siapa pun. Saat perutnya lapar, ia akan mengambil makanan lalu makan di tempat terpisah bahkan ia memilih membawa makanannya ke kamar untuk menghindari para anggota keluarga.
Ceklek…
Suara pintu terbuka sesaat setelah Iskandar mematikan kran air di kamar mandi. Aisyah kembali ke mode anak-anak lagi ketika ia berada di kamarnya, ia kembali menggunakan pakaian kesayangannya seperti celana pendek sepaha dengan kaos ketat. Tapi ketika ia turun ke bawah, Aisyah akan memakai baju terusan yang menutupi tubuhnya sampai ke betis. Saat ini dia hendak mengambil baju ganti dari kamar Iskandar dan dengan santainya ia masuk lalu berjalan menuju lemari. Iskandar mengintip dari balik pintu lalu dengan perlahan ia keluar dari sana.
“Kelinci itu tertangkap juga.” Batin Iskandar.
Tanpa sepengetahuan Aisyah, Iskandar berjalan menuju pintu lalu menguncinya.
Klik…
Mendengar suara pintu terkunci, Aisyah langsung menoleh dan seketika menjerit saat melihat pria di depannya sedang bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk di pinggangnya.
“Bukain pintunya!” pinta Aisyah dengan nada tegas. Matanya sudah menatap tajam ke arah Iskandar.
“Kita perlu bicara!”
“Ya sudah bicara saja sekarang! Sebelum itu, pakai dulu bajumu!” Iskandar baru tersadar jika saat itu dia belum menggunakan baju. Aisyah lngsung mundur beberapa langkah saat Iskandar berjalan ke arahnya.
“Mau apa, kamu?”
Deg…
Iskandar berdiri tepat di depan Aisyah. Matanya menatap Aisyah lekat sementara Aisyah dengan sekuat iman berusaha untuk tidak tergoda untuk menatap tubuh sang suami yang pertama kalinya ia lihat.
Aisyah tersadar saat sebelah tangan Iskandar berhasil menarik sebuah kaos dalam lemari namun tatapannya tidak lekang pada Aisyah. Saat Iskandar sudah berganti baju lalu tangannya hendak membuka handuk, Aisyah langsung membalikkan badannya hingga menghadap dinding.
“Tidak sopan! Kalau pun sudah menikah tapi setiap tindakan harusnya memakai tata krama dan sopan santun.” Gerutu Aisyah namun masih sampai di telinga Aisyah.
“Berbaliklah dan ayo bicara!”
Aisyah memperhatikan penampilan Iskandar yang ternyata sudah memakai celana longgarnya. Ia mengambil tempat di sebuah bangku dekat jendela sementara Iskandar duduk di sisi tempat tidur. “Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Aisyah ketus.
“Kamu marah sama saya”
“Tidak! Lalu kenapa kamu menatap saya seperti itu?”
“Aku biasa saja! Buka pintunya!”
“Aisyah, bisa kita bicara baik-baik?”
“Ini sudah baik.”
__ADS_1
Iskandar menghela nafasnya, ia mendudukkan diri di sisi ranjang sementara Aisyah masih berdiri menatap kesal padanya. “Kamu sudah tahu kalau kita bukan saudara kandung kan?”
“Hem,”
“Maaf kalau saya mengerjaimu. Saya hanya ingin membuat kenangan yang berbeda di hari pernikahan kita.”
“Ya memang tidak akan pernah dilupakan sampai orang-orang yang hadir di sana innalillah.”
“Aisyah!”
“Kenapa? Mau marah?” Aisyah semakin menantang Iskandar.
“Saya ingin mengajakmu pulang ke tanah kelahiran kita saat libur semester ini.”
Deg…
Aisyah menatap Iskandar dengan tatapan berbeda. “K-ke Aceh?” Iskandar mengangguk pelan. “Kamu belum pernah ke sana, kan? Kita akan pergi ke sana. Kita pergi akhir bulan ini karena setiap tanggal 26 orang Aceh akan memperingati musibah tersebut. Kita bisa mengunjungi beberapa kuburan massal di sana. Saya juga ingin membawamu ke makam orang tua dan kakak saya.” Ada gurat kesedihan yang terpancar di mata Iskandar dan Aisyah menyadari itu.
“Maaf, karena saya telah membuat kamu malu di hari pernikahanmu. Kita akan membuat resepsi lagi untuk membuat kenangan baru, bagaimana?” kini mata Aisyah seutuhnya tertuju pada Iskandar. Mata keduanya bersitatap dalam diam. Iskandar berdiri lalu menghampiri Aisyah, “Maafkan saya, Sayang.”
Deg…
Perempuan mana yang tidak akan luluh dengan panggilan manis dan lembut dari pria yang dicintai. Walaupun sebelumnya sudah menyusun rencana sedemikian rupa untuk membalaskan dendam tapi nyatanya dengan satu kata ‘Sayang’ saja sudah menggugurkan semua kemarahan di hati Aisyah.
“Boleh saya memelukmu?”
Deg…
Iskandar tersenyum kecil saat menatap gelegat aneh dari istrinya. Perlahan tapi pasti, Aisyah akhirnya masuk dalam pelukannya. Pelukan yang sangat lama untuk mereka yang terpisah beberapa saat sebelum menikah.
“Saya sangat merindukanmu. Benar kata Dilan, rindu itu berat dan saya hampir tidak sanggup menahannya.”
“Terima kasih sudah menerima saya jadi suamimu. Saya tidak berjanji tapi saya akan berusaha menjadi suami yang terbaik untukmu.” Lanjut Iskandar sementara Aisyah masih terdiam menikmati pelukan hangat pertama kalinya bersama Iskandar. Mereka berpelukan cukup lama dalam sampai celutukan Aisyah membuat Iskandar mengurai pelukannya.
“Memangnya aku diberi pilihan untuk menolak?” Iskandar tersenyum menatap Aisyah. Wanita yang selama ini dia harapkan untuk menjadi istri dan ibu untuk anak-anaknya.
“Bismillahirrahmanirrahim,”
Cup…
Sebuah kecupan manis berhasih mendarat di bibir Aisyah. Untuk sesaat, wanita itu terdiam dengan tubuh kaku menatap wajah pria di depannya. Iskandar tersenyum sangat manis sampai membuat Aisyah tidak berkedip beberapa detik. Ini pertama kalinya mereka berdua dalam jarak yang sangat dekat. Kening Iskandar tiba-tiba berkerut, “Kenapa manatap begitu?” kedua tangan Iskandar masih menangkup wajah sang istri hingga membuat Aisyah tidak bisa memalingkan wajahnya.
Cup…
Iskandar kembali tersenyum dan lucunya, Aisyah masih bergeming. Dia seperti kehilangan roh dalam raganya.
Cup…
__ADS_1
Cup…
Cup…
“Kamu cantik kalau begini.” Ucapan Iskandar masih terasa bagai angin sepoi-sepoi di telinga Aisyah. Wanita ini begitu terpesona dengan suaminya hingga membuat tubuhnya mendadak kaku. Tanpa ia sadari, kedua tangannya sudah meremas kaos Iskandar.
“Saya tampan ya?” Aisyah mengangguk pelan tanpa sadar dan itu sukses membuat Iskandar tersenyum kembali lalu lagi dan lagi, ia memberikan kecupan di bibir, pipi kiri dan kanan Aisyah.
“Sayang, saya lapar! Ternyata perut tidak cukup dengan cinta. Dia minta makan, Ai.” Iskandar mengusap perutnya seraya tersenyum.
“Ai, kamu kenapa?” Iskandar menepuk pipi Aisyah beberapa kali hingga wanita itu seolah sudah kembali ke dunia nyata.
“Kenapa?” tanyanya bingung.
“Saya lapar. Temani saya makan ya!” Aisyah mengangguk cepat dan saat kakinya baru melangkah, pinggangnya kembali ditarik oleh Iskandar.
“Ganti bajunya ya!” bisik Iskandar tepat di telinga sang istri dan dalam seketika tubuh Aisyah kembali menegang. Iskandar mengusap pelan punggung Aisyah lalu membiarkan istrinya keluar dari kamar. Aisyah segera memakai pakaian gamisnya lalu turun ke bawah. Jangan ditanya bagaimana wajahnya saat itu. Dia seperti orang linglung karena ulah Iskandar. Bahkan asisten rumah tangga keluarga Faisal sampai terheran-heran melihat tingkah Aisyah yang lain dari biasanya.
“Non, mau buat apa?” tanyanya pada Aisyah.
“Eh, em, Bik, Mas Iskandar mau makan. Tapi makan apa ya? Aku lupa tanya.”
“Makan nasi, Non. Den Iskandar kan baru pulang jauh. Pasti lapar dan perlu makanan berat. Sebentar biar Bibik siapkan.”
“Den Iskandar suka lauk apa, Non.” Tanya Bibik lagi.
“Eh, tidak tahu. Aku tidak tanya, Bik.”
Sementara di ruang keluarga, Dita hanya menggeleng pelan melihat tingkah iparnya itu. “Pesona Kakakku mampu membuat wanita hilang akal.” Ucapnya tanpa sadar.
“Kamu tidak ingin menyusul? Sepertinya teman Iskandar yang bernama Dika itu punya perasaan sama kamu.” Tanya Kak Juli ikut memperhatikan tingkah Aisyah. Dita menatap tantenya, “Tan, aku boleh tanya?”
“Kenapa saya masih sendiri? Itu kan yan mau kamu tanya?” Dita tersenyum imut pada sang tante.
“Pria yang saya cintai hilang saat tsunami. Dan setelah itu kondisi kakek dan nenek kamu juga ikut memburuk hingga saya memutuskan untuk menjaga mereka. Menikah bukan tujuan akhir kehidupan jadi kalau saya memutuskan untuk tidak menikah maka itu hak saya dan tidak dapat diganggu gugat kan?”
“Tante cinta mati sama Om itu ya?”
“Cinta ditinggal mati, iya. Kamu sendiri bagaimana? Pemuda bernama Dika itu baik, tampan dan menurut Tante, dia cocok sama kamu.”
“Jangan membahas itu, Tante sudah tahu sendiri apa kendalanya.” Kak Julie mengangguk pelan lalu kembali menatap Dita, “Kamu tidak mau pindah agama demi cintamu?”
***
Maaf ya telat...happy reading dan jangan lupa LIKE...
__ADS_1
Makasih