
“Inong Balee? Kenapa mereka datang kemari? Pasti ini menyangkut Bang Wan.” Ucap Leut Man cemas. Setelah menyerahkan ikan, Leut Man kembali bergabung dengan Abu dan bapak-bapak yang lain. Kedua wanita tersebut memantau setiap pergerakan dari orang-orang dalam rumah.
Tidak berapa lama, beberapa tentara datang ke rumah Leut Man dengan senjata lengkap.
“Assalamualaikum.” Ucap para tentara dari arah pintu. Aku mendekap Rendra erat, kedua wanita tadi juga terlihat cemas.
“Walaikumsalam.” Ucap kami serentak.
Mereka langsung masuk ke dalam rumah Leut Man. “Kami melihat ada banyak orang di rumah Bang Man, jadi kami ingin memeriksa.”
Kedua wanita tadi terlihat panik, “Ini warga kampung saya, Pak. Mereka datang untuk menengok kami yang tertimpa musibah.” Ucap Cek Wan, sementara Leut Man sudah terlihat cemas dengan keberadaan kedua wanita yang diketahui adalah ‘Inong Balee’.
“Laki-laki hanya ini saja?” Tanya tentara itu kembali.
“Iya, Pak. Hanya orang tua seperti kami yang masih ada di kampung.” Jawab Abu yang membuat tentara para tentara itu tersenyum.
Kedua wanita tersebut akhirnya pergi ke dapur. Aku melihat kecemasan di wajah mereka dan salah satu dari tentara tersebut seakan memberi kode pada beberapa anak buahnya dan itu jelas terlihat ketika beberapa anak buahnya langsung keluar.
Para ibu-ibu yang sedang memasak ria sambil bercerita penuh tawa seakan tidak menyadari situasi di ruang tamu sampai akhirnya kehadiran kedua wanita tersebut di dapur mengejutkan mereka. “Berikan ini pada Cek Wan!” Lalu kedua wanita itu keluar dari belakang rumah lalu menghilang. Da Maneh ikut mengintip saat kedua wanita tersebut menghilang, dan selang berapa menit.
Dor....dor...
Terdengar dua kali suara letusan senjata api, tanpa aba-aba kami semua langsung menunduk. Suara dari sebuah alat komunikasi yang tergantung di salah satu bahu tentara yang masih duduk bersama kami mengejutkanku. Seolah mereka menyebutkan beberapa angka dan aku tidak mengerti. Tentara tersebut lalu menatap Abu dan bapak-bapak yang ikut kemari.
“Apa Bapak-bapak mengenal kedua wanita tadi?” Tanya tentara itu serius.
__ADS_1
“Tidak, Pak. Mobil yang kami naiki tadi tiba-tiba dihentikan oleh para laki-laki bersenjata di tengah jalan, setelah kedua wanita itu naik, kami disuruh jalan kembali.” Jawab Abu.
“Kami mendapat laporan ada anggota inong balee yang kemari. Dan mereka berhasil kami ringkus di kebun belakang. Ada keperluan apa mereka mengikuti Bapa-bapak?”
“Kami tidak tahu, Pak. Mereka menghentikan mobil kami di tengah jalan lalu kedua perempuan itu naik dan tidak mengatakan sepatah kata pun.” Jawab Bang Yusuf sang sopir angkutan.
Dari arah dapur, istri Cek Wan bersama yang lain memasuki ruang tamu. Istri Cek Wan menyerahkan kertas yang diberikan oleh perempuan tadi. “Boleh saya lihat?” Cek Wan menyerahkan surat tersebut kepada tentara yang masih di sana.
“Kami masih menunggu sumbangan Cek Wan!”
“Sepertinya Bang Wan dan keluarga sudah tidak bisa kembali ke kampung. Mereka menunggu sumbangan dari Bang Wan.”
“Abang tinggal saja di sini, aku takut mereka akan datang lagi.” Ucap Leut Man.
Acara makan siang yang tadi dipenuhi dengan senda gurau berubah menjadi kecemasan karena surat kaleng serta ditangkapnya kedua wanita yang mengikuti mereka.
Daerah pesisir pantai memang tidak terlalu menyeramkan dengan daerah lain. Di kampungnya Leut Man, masyarakat dan tentara hidup berdampingan dan jarang sekali terjadi kontak tembak. Saking dekatnya, para tentara tersebut bahkan diundang untuk sekedar makan siang di rumah warga. Pembakaran ataupun penculikan jarang terjadi karena untuk masuk ke daerah pesisir pantai banyak pos tentara yang dibangun sehingga memudahkan mereka mengidentifikasi siapa saja yang masuk dan keluar.
Daerah pesisir pantai juga tidak ada jalan tikus layaknya daerah pedalaman. Aparat keamanan juga melakukan pendekatan secara persuasif kepada masyarakat sehingga tanpa mereka bertanya, masyarakat sendiri yang mengatakan secara langsung dan tanpa mereka sadari tentunya.
Sebagai contoh, para tentara setiap hari mendatangi satu persatu rumah warga dengan alasan bersilaturahmi. Alasan yang cukup membuat masyarakat menerima tanpa curiga. Mereka akan berada di rumah tersebut untuk beberapa saat sambil mengobservasi rumah dan penghuninya. Mereka akan bertanya tentang anak-anak atau pekerjaan para suami dan tentunya dengan trik yang tidak disadari oleh masyarakat.
Dari pendekatan seperti itulah mereka mengetahui para warga yang menghuni kampung tersebut. Di kampung Leut Man ini juga masih terlihat pemuda-pemuda yang cukup banyak. Pekerjaan mereka sebagai penambak, pembuat garam sampai nelayan membuat mereka jarang terkena ajakan untuk menjadi pemberontak.
Rata-rata penghasilan warga kampung Leut Man adalah dari hasil tambak, garam dan ikan. Jadi, para pemuda yang masih memiliki orang tua akan menolak untuk mengikuti ajakan-ajakan menjadi pejuang. “Maaf Bang, saya tidak bisa ikut. Tidak ada yang bantu mamak di dapur garam.”
__ADS_1
“Maaf Bang, saya harus bantu Bapak melaut.”
“Maaf Bang, saya harus jaga tambak.”
Seperti itulah jawaban dari para pemuda dari pesisir pantai yang menolak untuk diajak berjuang ala para pemberontak. Bahkan para pemuda tersebut bisa menikah dengan gadis dari desa mereka atau desa tetangga dengan aman.
“Man, kami ingin ke laut sebentar. Apa boleh?” Tanya Da Maneh pada adiknya.
Aku tersenyum malu pada Da Maneh, ternyata biar beliau orang yang cerewet dan selalu bicara sesuka hati tapi beliau masih ingat keinginanku. “Ayo, saya antar!” Leut Man akhirnya mengajak kami semua ke laut. Walaupun cuaca cukup panas tapi angin laut yang bertiup cukup menyejukkan kami. Aku adalah manusia paling antusias dari yang lain. Sepanjang perjalanan yang kami tempuh dengan berjalan kaki. Senyumku seakan susah ditahan. Aku terus menatap sekeliling seperti orang yang tidak pernah melihat dunia luar.
Lima menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke bibir pantai. “Mau piknik Bang Man?” Seru seorang tentara dari pos yang terletak di sisi jalan menuju pantai.
“Keluarga saya dari jauh ingin pergi ke laut, Bang.” Jawab Leut Man kemudian kembali berjalan sampai akhirnya suara ombak serta hamparan laut yang luas terbentang di depan mataku saat ini.
“Turunin si Gam! Biar dia merasakan pasir laut.” Ucap Da Maneh padaku. Da Maneh memanggil Rendra kecil dengan panggilan ‘Gam’ yang berarti laki-laki.
***
LIKE...LIKE...LIKE...
__ADS_1