
Hai...sorry ya baru update...
Happy reading...
***
“Cepat, cari dia sampai dapat! Wanita itu pasti belum jauh dari desa ini. Dia tidak bisa berlari cepat apalagi sambil membawa bayi.” Teriakan berisi perintah penuh amarah terus saja terdengar dari luar rumah Halimah dan aku mendengar teriakan Khalid dengan harap-harap cemas. “Semoga mereka tidak menemukanku dan Rendra.” Batinku menatap Rendra yang terlelap dalam bungkusan kain. Anak ini selalu berhasil membuatku kagum dengan sikapnya yang tenang.
Aku tidak lari, aku menyandarkan diri di dinding tanah di dalam gua kecil yang tersedia untuk melindungi Abu Kak Limah jika para tentara masuk. “Tenang saja, tidak ada yang tahu tentang gua ini. Tinggallah di sini untuk beberapa hari!” setelah menutup lubang gua dengan papan lalu di timbun dengan tanah kembali di atasnya, Umi kembali masuk ke dalam dapur secara sembunyi-sembunyi.
Dan malam ini adalah malam pertamaku di dalam gua ini. Semua kebutuhan sudah disiapkan termasuk air minum serta pisang satu tandan untuk beberapa hari ke depan. “Berdoalah! Semoga tidak turun hujan.” Kalimat terakhir yang Umi Halimah ucapkan padaku.
“Umi, Abu, bagaimana mungkin Cut bisa kabur dari sini? Ini sangat aneh. Jika dia kabur pasti Fikri akan menangis karena tidurnya terganggu. Dan kita pasti akan mendengarnya. Tapi, kenapa tidak terdengar suara sama sekali?” Khalid tentu marah tapi dia juga tidak bisa meluapkan emosinya pada sang mertua. Yang seharusnya menjaga Cut adalah dia sendiri bukan orang lain.
__ADS_1
Aku tersenyum senang tatkala mendengar Khalid berusaha menahan marah pada Umi dan Abu Kak Limah. Suara-suara itu lama-lama mulai menghilang sampai aku ikut terlelap bersama Rendra di dalam gua. “Semoga tidak ada binatang berbisa yang akan menggigit kami.” hanya itu yang kuharapkan saat ini.
“Cheche...” suara kecil dan menggemaskan itu membuatku terbangun ditambah dengan tangan kecilnya yang menggerayangi wajahku. Ada sebuah lubang yang membuat gua tersebut sedikit bercahaya. Aku menduga lubang kecil yang berada di atas kepalaku berfungsi sebagai penyalur cahaya dari luar jika pagi sudah datang. Aku mengganti pakaian Rendra yang basah terkena pipisnya. Setelah itu dia langsung mengambil pisang yang sudah kuning tersebut lalu menyerahkannya padaku. “Rendra lapar?” dia mengangguk seraya tersenyum. Anak ini sangat mirip dengan ayahnya. Wajah keduanya ibarat pinang dibelah dua.
Waktu berlalu begitu cepat, dari lubang kecil itu aku bisa mendengar tatkala ayam berkokok yang menandakan waktu pagi sudah tiba dan cahaya redup yang menandakan matahari hampir terbenam. Bagaimana dengan Rendra? Anak ini menikmati suasana saat ini seperti biasa. Asalkan bisa bermain denganku sudah cukup membuatnya senang. Namun, aku memikirkan Abu dan Umi. Apa kabar mereka? Aku sudah lama pergi dan mereka pasti sangat sedih kehilanganku. “Ya Allah, lindungilah orang tuaku. Berikan kesehatan kepada keduanya sampai aku kembali.” Hanya itu yang bisa aku pinta saat ini selain berdoa semoga ada jalan keluar dari sini.
Pisang satu tandan sudah hampir habis. Air minum juga tinggal lima botol lagi. Sudah berapa hari aku di sini dan jangan tanya bagaimana aku dan Rendra bertahan. Yang aku pikirkan hanya Rendra. Makan dan minumnya tidak boleh kurang supaya dia tetap tenang walaupun aku harus mengurangi porsi makan dan minumku sendiri. Pada titik ini aku menyadari satu hal, ternyata tinggal di dalam tanah sungguh panas. Bagaimana rasanya menjadi mayat? Apalagi jika amalannya tidak banyak? Ah...tiba-tiba aku merasa takut untuk mati saat ini. “Ya Allah, jangan cabut nyawa hamba jika amalan hamba masih kurang. Hamba tidak akan sanggup berada di alam kubur yang lebih mengerikan dari ini.” Doa itu tanpa terasa terucap di bibirku.
Aku menghitung hari demi hari dalam gua ini. Aku semakin gelisah tatkala melihat pisang yang tinggal satu sisir itu pun sudah mulai membusuk serta air minum yang tersisa sebotol lagi. Menjelang magrib, tiba-tiba ada telur menggelinding ke dalam gua dari arah lubang. Tidak hanya satu melainkan sepuluh. Satu persatu telur itu masuk dalam gua melalui lubang cahaya. “Telur rebus.” Ucapku saat memegang telur yang ternyata masih hangat.
Gua kembali bercahaya. Itu pertanda hari sudah siang karena letak matahari tepat di atas gua jadi aku bisa memastikan jika ini adalah waktu siang. Hampir seminggu aku berada di dalam gua ini bersama Rendra. Aku tidak bisa mendengar suara azan dari dalam sini tapi setiap waktu salat Umi Kak Limah selalu berteriak seperti ingin memberitahuku waktu jika waktu salat sudah tiba.
“Abu, Umi salat zuhur dulu ya.”
__ADS_1
“Abu jadi salat magrib ke surau?”
Kata-kata itu selalu saja diperdengarkan padaku. Jika masuk waktu subuh, Umi tidak perlu berteriak karena suara ayam berkokok sudah cukup nyaring terdengar sampai ke dalam gua karena letak kandang ayam yang sangat dekat dengan tempat persembunyian kami. Jangan tanya bagaimana aku salat dan berwudu. Dalam hal ini aku merasa sangat bersyukur karena Teungku Zul banyak memberikan ilmunya bagaimana kita berwudu meski tanpa air atau bagaimana kita salat walau tidak bisa berdiri. Aku bertayamum pada dinding tanah lalu salat dalam keadaan duduk karena gua ini tidak bisa membuatku berdiri untuk salat.
Badanku sudah mulai letih, gua ini sudah terasa sempit. Aku takut jika sampai keluar dari sini aku akan sulit untuk berdiri. Aku melaksanakan kewajiban lima waktu dengan berbekal ilmu yang aku pelajari di pengajian. Masalah sah atau tidaknya salatku sepenuhnya aku serahkan pada sang maha melihat lagi maha mengetahui. Aku hanya berdoa dan berharap semoga ibadahku diterima. Dan doa yang tidak pernah aku lupakan adalah berdoa untuk bisa kembali ke rumah dengan selamat bersama Rendra.
Subuh ini aku dikagetkan dengan benda yang kembali jatuh dalam gua melalui lubang cahaya. Aku tersenyum tatkala mendapati bungkusan es lilin yang berisi air. Aku tahu, Umi Kak Limah pasti punya cara lain untuk memberikanku dan Rendra air minum. Lubang gua ini tidak cukup besar jika harus dimasukkan botol sirop. Tapi, untuk ukuran es lilin, lubang ini cukup muat. Aku mengusap salah satu sudut bungkusan yang terkena tanah lalu menggigit ujungnya. Air yang terpancar dalam mulutku rasanya sangat menyegarkan. Tenggorokanku yang sempat mengering kini sudah kembali basah.
“Alhamdulillah.”
***
__ADS_1
LIKE...LIKE...LIKE...