
POV Cut...
Sosok Rendra kembali mengganggu pikiranku di saat malam tiba. Setelah bercerita panjang lebar mengenai Rendra pada Mak Cek Siti, ternyata semakin membuatku terus memikirkannya.
Berbagai buku yang kubaca tidak cukup untuk menghilangkan dia dari hati dan pikiran. “Ya Allah, tenangkanlah hati hamba.” hanya itu yang bisaku panjatkan pada yang kuasa. Malam ini aku kembali terbangun di tengah malam. Berbagai doa kupanjatkan setelah salat tahajud termasuk tentang sosok yang masih setia mengganggu hatiku.
Kenapa saat jauh begini justru semakin aku memikirkannya? Apa begini rasanya yang dikatakan Umi tentang rasa jika kita suka sama seseorang? Hampir setengah tahun aku tinggal di kota Banda dengan berbagai kegiatan. Namun, sosoknya masih saja menggangguku.
Saat aku kursus komputer atau les bahasa inggris serta matematika, sosoknya tidak pernah muncul. Bahkan saat aku menjadi guru mengaji di mesjid raya atau ikut kajian bersama para remaja mesjid, sosoknya juga tidak pernah muncul. Kenapa di saat malam dia selalu hadir di pikiranku.
Apakah dia masih di Kabupaten Utara?
Apakah dia baik-baik saja?
Apakah dia masih mengingatku?
Pertanyaan demi pertanyaan datang silih berganti tapi tidak satu pun kutemukan jawabannya.
Mak Cek Siti banyak memberikan nasehat padaku. Berbeda dengan Umi yang menurutku pengalamannya tentang masalah hati tidak terlalu banyak. Kalau Mak Cek Siti bilang, “Umi kamu itu tahu lelaki ya hanya Abi kamu karena di kampung mana ada istilah pacaran. Sedangkan Mak Cek hidup di kota. Istilah pacaran di sini ya biasa saja tidak aneh. Rata-rata semua anak muda di kota pernah mengalaminya. Mak Cek sendiri awalnya juga pacaran sama Pak Cek kamu. Tapi, karena Pak Cek kamu ingin segera menikah dan punya anak, makanya kami 3 bulan pacaran langsung menikah. Pak Cek kamu tidak mau ketinggalan sama Abu kamu yang sudah lebih dulu menikah.”
Aku tertawa kecil, memang benar seperti yang Mak Cek katakan. Apalagi saat aku besar diiringi konflik yang juga semakin parah. Tidak ada lagi pemuda yang tinggal di kampung. Jika masih ada maka pemuda tersebut mengalami masalah mental atau cacat. Karena pemuda yang cacat tidak akan diganggu oleh para tentara maupun pemberontak.
Terkadang aku juga menceritakan pada Mak Cek bila aku terlalu mengingat Rendra. Mak Cek senang kalau aku bercerita tentang masalah pribadi padanya. Saran-sarannya juga sangat bermanfaat serta membuatku lega. Mak Cek juga selalu mengatakan jika ia akan menjadi orang paling depan setelah orang tuaku jika nanti aku bertemu dengan jodohku. Satu hal yang Mak Cek selalu tegaskan kepadaku, “Kamu jangan mau dijodohkan. Menikah itu kamu yang jalani jadi pilihlah laki-laki yang kamu dan hati kamu inginkan agar kamu tenang ketika menjadi istrinya.”
Untuk yang satu ini aku selalu mengatakan pada Mak Cek jika, “Abu dan Umi bukan orang tua yang suka menjodohkan anak-anaknya.” Mak Cek tertawa mendengarnya. Aku sendiri bangga dengan pemikiran yang dimiliki oleh Abu.
“Ya ampun.... masih sesi curhat? Udah sore, Ma. Bentar lagi ayah pulang. Kak Cut keluar yok!” ajak Intan.
“Ke mana?” tanyaku.
__ADS_1
“Makan mi, yok!”
Intan anak yang ramah dan cukup ceria. Hari-hariku bersama mereka cukup menyenangkan. Walaupun sedikit manja tapi dia enggan jika disuruh berdandan seperti perempuan. Padahal dia cukup cantik jika memakai pakaian perempuan.
“Kak Cut, ada yang titip salam.”
“Salam? Siapa?” tanyaku kaget. Selama setengah tahun aku tinggal di kota Banda, baru kali ini yang memberikan salam.
“Bang Wan, nama panjangnya Rizwan. Dia yang bantu ayah di toko.”
“Oh... Bang Wan. Walaikumsalam... salam kembali ya!”
“Jangan! Jangan membalas salamnya jika Kak Cut tidak ingin berlanjut.”
“Maksudnya?” tanyaku bingung.
“Bukannya kita diwajibkan untuk membalas salam? Selama ini Kakak selalu membalas salam dari siapa pun.” Jawaban lugu atau bodoh yang keluar dari mulutku. Tapi dari helaan nafas Intan sepertinya aku yang bodoh karena tidak pernah mengalami masalah seperti ini sebelumnya.
Ah...aku benar-benar anak kampung yang tidak tahu apa-apa.
“Berapa banyak Kak Cut membalas salam orang selama ini?”
“Tidak tahu, Kakak tidak hitung. Bahkan Kakak tidak kenal mereka.”
“Satu pun tidak ada yang Kakak kenal?”
“Ada sih beberapa. Tapi ya sudah, dia kirim salam lalu Kak Cut balas seperti tadi.”
__ADS_1
“Sampai di situ aja? Ada yang ngajak makan gak? Seperti makan mi atau bakso?”
“Ada, kawan di tempat kursus. Di tempat les ada juga tapi Kakak tidak mau. Kakak kan harus bantu Umi jaga Rendra jadi selesai kursus atau les, Kakak langsung pulang. Memangnya kenapa kalau mereka mengajak makan?”
“Jawab dulu pertanyaanku, Kakak mau kalau diajak makan sama teman kursus?”
“Tidak.” jawabku sambil geleng-geleng kepala.
“Bagus, dengar ya Adek bilang. Jangan mau kalau diajak makan sama laki-laki walaupun mereka teman Kak Cut di tempat kursus. Mereka sedang melakukan pendekatan sama Kak Cut, salah satu caranya setelah mengirim salam ya mengajak makan. Pokoknya jangan pernah mau ya!”
“Iya, lagian Kak Cut juga tidak terbiasa pergi makan bersama laki-laki. Lagian mereka bukan mahram. Kak Cut takut pergi-pergi begitu, masih ingat kejadian dulu.”
“Bagus. Kak Cut kalau mau pergi bilang sama kami aja. Nanti kami temani ke mana pun Kak Cut mau.” aku hanya menganggukkan kepala. Sepertinya adik sepupuku ini biarpun masih SMP tapi pengalaman hidupnya soal pergaulan dengan lawan jenis lebih banyak dariku.
Ah...jadi malu. Di umurku yang sudah menginjak dewasa, tapi untuk urusan pergaulan saja aku harus banyak belajar dari anak remaja. Ternyata umur tidak menjamin pengetahuan seseorang justru pengalamanlah yang menentukan.
“Andai kita bukan keluarga, aku pasti akan menjodohkan Kak Cut dengan Bang Razi.”
“Hah... mana bisa. Kita kan sepupu.”
“Iya...iya.... kan aku udah bilang andai kita bukan keluarga. Kak Cut sama Bang Razi itu cocok tahu. Yang satu ganteng dan yang satu cantik. Teman-teman aku mengira jika Kak Cut itu pacar Bang Razi. Aku iyakan saja biar mereka tidak ganggu Bang Razi lagi. Aku capek jadi pak pos mereka.” keluh Intan.
“Pak Pos? Maksudnya?”
“Kalau ada yang suka sama Bang Razi, aku selalu jadi orang yang bertugas menyampaikan titipan mereka. Surat, kado, coklat, salam dan masih banyak lagi.” aku tertawa mendengar keluhan Intan. Ternyata adik sepupuku ini punya masalah juga.
“Kehadiran Kakak telah membantuku mengusir para pencinta Bang Razi.”
__ADS_1
***
LIKE..LIKE...LIKE...