
Rendra tidak bisa melaporkan kejadian kemarin karena permintaan Anugrah tapi dia berjanji untuk lebih hati-hati. Bukannya tidak mau menghukum Mauren tapi ia merasa kasihan dengan kakak kelasnya itu. Tanpa persetujuan Anugrah, Rendra tidak bisa berbuat banyak. Anugrah sendiri sudah meminta pendapat sang kakak sebelumnya.
“Dek, Papa sudah mengingatkan kamu. Papa gak tahu apa lagi yang bisa dilakukan perempuan itu untuk bisa tidur sama kamu. Dia sangat obsesi sama kamu.”
Keputusan dari pihak sekolah akhirnya keluar dan pihak sekolah akhirnya memutuskan jika Anugrah dan Mauren masih diperbolehkan sekolah di sana dengan segala pertimbangan termasuk posisi Mauren yang hampir lulus pertengahan tahun depan.
Anugrah kembali ke sekolah dan seperti biasa dia akan diantar jemput oleh sang ayah. Bukan sekali dua, Anugrah mendengar teman-temannya selalu memanggilnya ‘Anak Papi’. Anugrah tidak merasa terganggu dengan itu malah dia bersyukur karena ayahnya tidak pernah keberatan untuk mengantarnya ke sekolah.
“Ingat, -“
“Hati-hati! Jangan minum dan makan sembarangan! Jangan ke toilet sendirian! Jangan ke tempat sepi sendirian dan bertemanlah!” Anugrah menyambung kata-kata yang sepanjang perjalanan terus saja keluar dari mulut ayahnya.
Meski tidak melapor ke sekolah tapi dia tetap harus waspada setiadaknya ia sudah tahu jika Mauren terobsesi dengannya.
“Hai, Don!” sapa A yang baru masuk ke kelas.
Doni tidak pernah disapa duluan oleh Anugrah tapi hari ini Anugrah seakan menjelma menjadi orang baru untuk mereka.
“H-hai, A. Selamat bergabung kembali.” ucap Doni lalu menerima buku catatannya dari Anugrah.
Selama beberapa bulan bersekolah, baru kali ini Anugrah menyapa temannya lebih dulu. Selama ini, mereka lah yang menyapa lebih dulu. Setelah mendapat banyak petuah dari sang kakak dan ayahnya. Anugrah mulai berubah. Ia mulai mengakrabkan diri dengan teman-teman kelasnya.
“Bertemanlah! Walaupun mereka gak bisa bantu lawan setidaknya mereka bisa bantu panggilkan guru buat nolong kamu. Hidup gak bisa sendiri, manusia itu makhluk sosial. Apa Papa salah mengajarimu selama ini sampai kamu bersikap angkuh begitu?” cecar Rendra saat mengetahui jika putranya tidak memiliki teman dekat di kelasnya. Bukan hanya itu, belum lama Anugrah masuk ke sana malah sudah mencari musuh dengan menghapus nama teman-temannya dari tugas kelompok mereka. Rendra sengaja bertanya tentang anaknya pada Doni saat mendatangi sekolah sang putra.
Anugrah berjalan bersama Doni dan Tiara menuju kantin saat bel jam istirahat berbunyi. “Kalian pacaran?” tanya Anugrah yang membuat Doni dan Tiara terkejut.
“Tidak, kami tidak pacaran. Aku nyaman berteman dengan Doni.” Ucap Tiara.
“Aku juga sama. Teman-teman yang lain mungkin kurang suka berteman sama kita karena kami kuper. Cuma loe aja yang mau temenan sama kita.” Ucap Doni.
Doni dan Tiara bukannya kuper tapi dilihat dari segi penampilan, keduanya sangat dibawah standar pertemanan anak-anak di sekolah mereka. Sekolah elit seperti sekolah mereka kebanyakan anak-anak orang berada yang sudah pasti encer otak sekaligus encer dompet. Sementara Doni sendiri hanya encer otak tapi seret di dompet. Sementara Tiara, dia encer keduanya-duanya tapi penampilannya seperti anak orang seret dompet.
Mamang sama Bibik tidak mau mendandani Tiara berebih karena kecantikan Tiara sudah alami. Dibesarkan dari bayi oleh mereka, penampilan Tiara juga mengikuti mereka. Sederhana dan apa adanya. Rok yang Tiara pakai juga panjang semata kaki dengan baju seragam longgar yang dibelikan oleh Bibiknya.
“Non, anak gadis itu harus menjaga diri dengan berpakaian sopan dan menutup. Non gak mau kan membiarkan mata laki-laki melihat ini dan ini sesuka mereka?” tanya Bibik saat mereka sedang mengobrol ketika Tiara masih kelas 3 SMP. Saat itu, Bibik juga mengajarkan banyak hal pada Tiara mulai dari cara berteman yang baik dengan lawan jenis hingga cara memilih teman yang baik berdasarkan pengalaman si bibi.
__ADS_1
“Kalau Non mau mencari teman sejati maka lebih baik hidup berpenampilan sederhana dan apa adanya. Karena banyak orang di luar sana yang memilih-milih untuk berteman pada akhirnya saat mereka susah, orang yang mengaku teman malah menjauh seolah tidak kenal. Bibi harap, Non bisa menemukan teman yang benar-benar melihat Non apa adanya bukan karena ada apanya. Non ngerti kan?” Tiara mengangguk.
“Gitu juga nanti, akan ada masa di mana Non suka sama seorang laki-laki sebaliknya. Itu wajar bagi setiap remaja yang baru beranjak dewasa. Perasaan suka itu tidak bisa dihilangkan tapi bisa dikendalikan. Kalau Non menyukai seorang pemuda, cukup simpan rasa itu dalam hati. Karena kalau Non mengatakannya. Hanya ada dua kemungkinan, ditolak atau diterima. Kalau ditolak, Non pasti sedih dan kecewa. Terus kalau diterima belum tentu dia menyukai Non sepenuhnya. Bisa saja, dia hanya mempermainkan Non.” Bibi menatap anak remaja kelas tiga SD tersebut seraya tersenyum. Anak yang sudah dibesarkan dengan penuh kasih sayang kini beranjak remaja.
“Jadi, aku harus gimana?” tanya Tiara.
“Tunggu saja! Kalau dia menyukai Non, dia yang akan mendatangi bukan Non yang mendatangi dia.” Tiara kembali mengangguk.
“Non, boleh Bibi tahu kenapa Non memilih jurusan teknik mesin di SMK itu? Bukannya itu jurusan untuk cowo ya?”
“Aku ingin mempelajari sesuatu yang baru dan menantang.” Jawab Tiara seraya memasukkan kembali lembar formulirnya dalam tas.
Begitulah cara bibi mempersiapkan mental sang nona muda untuk lebih siap menghadapi kerasnya dunia di luar sana mulai dari SMP.
“Makasih udah mau temenan sama kita, A.” ucap Doni tersenyum.
Mereka yang sedang berada di kantin kejutkan dengan kedatangan Mauren cs. Interaksi keduanya selalu menarik perhatian para siswa lain begitu juga saat ini. Setelah pihak sekolah mengumumkan jika mereka tidak dikeluarkan maka setiap mata yang memandangan keduanya tersangka itu seperti kamera pengawas yang siap merekam apa saja yang terjadi antara keduanya.
“Hai, A.” sapa Mauren yang langsung duduk di samping Anugrah menggeser paksa posisi Doni.
Anugrah mengacuhkan Mauren namun tangan nakal sang kakak kelas sudah merayap di pahanya. Tidak ada yang menyadari apa yang Mauren perbuat pada Anugrah di bawah meja. Anugrah menatap Mauren tajam dengan tangan tergepal, “Singkirkan atau kubuat kau malu di depan mereka!”
Aaa…..
Kelabang karet yang sangat menyerupai aslinya itu bergerak indah di lengan Mauren dengan bantuan baterai. Mauren panik hingga berteriak hingga terjungkal ke belakang yang membuat posisinya saat ini sangat memalukan.
Anugrah dengan santainya mengambil kelabang lalu tersenyum penuh kemanangan pada yang sedang menatap tajam padanya.
“Hari ini baru mainan, bisa jadi besok aku bawa yang asli. Jangan pernah membangunkan singa tidur, KAK MAUREN!!!” bisik Anugrah penuh ancaman.
Tiara mengikuti Doni dan Anugrah kembali ke kelas. Sedangkan Mauren cs bergegas menuju toilet untuk merapikan penampilannya.
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang penuh dengan kewaspadaan serta trik dari Anugrah untuk menyelamatkan dirinya dari Mauren. Semua ilmu yang didapatkan dari hasil membaca komik selama ini kini mulai dia praktikkan di dunia nyata. Tapi satu hal yang tidak bisa Anugrah kendalikan, ia semakin sering bermimpi basah dan berakhir di kamar mandi.
Hari-hari yang seharusnya menjadi sangat mudah setelah Mauren berhenti mengejarnya tapi tidak demikian. Bahkan, saat ia tidak sengaja menatap siluet tubuh Tiara yang basah terkena hujan saat mereka hendak menuju parkiran.
__ADS_1
Sopir Tiara yang saat itu tidak membawa payung membuat Tiara harus berlarian menuju mobil jemputannya sedangkan Anugrah yang saat itu sudah berada di dalam mobil bersama sang ayah harus menelan salivanya berkali-kali. Untuk pertama kalinya ia melihat bentuk tubuh teman satu kelasnya yang sering memakai baju sedikit longgar. Derasnya hujan kali ini membuat Anugrah bisa melihat dengan jelas bentuk tubuh Tiara yang selama ini tertutup di balik seragam.
“Bukannya dia teman sekelasmu?” tanya sang ayah yang mengikuti kemana tujuan pandangan sang putra.
“Iya, dia yang pernah ke rumah.” Jawab Anugrah.
“Dia cantik, kamu menyukainya?”
Anugrah menatap tak percaya pada pria bergelar papanya ini. “Jalan, Pa!” ketus Anugrah.
Rendra tersenyum kecil lalu segera melajukan mobilnya. Di dalam perjalanan, bayang-bayang Tiara kembali menghantui Anugrah hingga membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Waktu berlalu begitu cepat hingga acara kelulusan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga bagi Mauren dan Arash.
“Dia sudah datang!”
Mauren tersenyum sumringah saat seorang teman memberitahukannya jika sang target sudah datang. Mauren meminta salah satu temannya untuk membuat pesta perpisahan dan boleh mengundang adik leting mereka karena sifat pesta ini terbuka untuk semua teman tidak mesti satu angkatan. Salah satu teman Mauren tersebut ternyata juga berteman dengan Anugrah. Tanpa curiga sedikitpun, Anugrah datang membawa Doni serta bersamanya.
Lampu reman-remang mulai dihidupkan menggantikan lampu utama yang cukup terang. Anugrah menyapa kakak kelasnya juga selaku pembimbingnya dalam tim basket. Tidak ada hal aneh yang terjadi sampai satu jam kemudian, Anugrah kembali limbung dan pusing. Ia kembali merasakan hal yang sama seperti yang Mauren lakukan dulu. Doni yang tidak pernah jauh dari Anugrah malam ini juga merasa hal aneh karena dua orang kakak kelasnya dengan sengaja membawa Doni untuk menari. Mereka bukanlah teman Mauren hingga Doni tidak curiga.
“Hai, A. Kita bertemu lagi.” sapa Mauren yang sudah bergelayut manja dengan melingkarkan tangannya di leher sang adik kelas.
Anugrah mencoba menjauh dengan menepis berkali-kali tangan Mauren tapi kakak kelasnya ini memang pantang menyerah.
“Apa malam ini kamu membawa kelabang, ular atau kalajengking seperti sebelumnya?” tanya Mauren yang sudah hafal semua mainan karet milik Anugraha.
“Awas, kamu!”
Bukannya takut, Mauren dengan berani mencium bibir Anugrah dengan penuh paksaan. Kilatan-kilatan yang sering mengisi kepalanya membuat Anugrah mendadak menatap Mauren sayu. Mauren tersenyum senang saat ciumannya tiba-tiba terbalaskan. Keduanya larut dalam cumbuan panas dan tidak berhenti di situ saja. Tangan Mauren bahkan sudah mengusap-usap dada sang adik kelas yang cukup membuatnya frustasi.
“Anugrah!!!”
__ADS_1
***
Hai...hai....selamat pagi dan jangan lupa berikan like dan komentar kalian sebanyaknya...makasih...