CUT

CUT
Lamaran Kedua...


__ADS_3

Para prajurit bersorak heboh di depan panggung saat suara musik mengalun indah ditambah dengan goyangan penyanyi dari atas sana. Malam ini adalah pesta penyambutan untuk mereka yang sudah bertugas lama di negeri orang. Ini hanya pengghargaan kecil untuk mereka dari pemerintah.


“Kenapa ada dia? Bukankah seharusnya penyanyi dangdut semua?” seorang pria membatin dari jauh. Dia tidak berjoget seperti teman-temannya yang lain. Hingga setengah jam kemudian, matanya menangkap satu sosok yang sudah lama mengisi hatinya. Gadis itu dengan pakaian tertutupnya sedang berada di atas panggung. Dia menyapa para prajurit dengan senyum semringah.


“Lagu ini aku persembahkan untuk seseorang yang selama ini mengisi hatiku. Mas, apa kabar?” ucap Wulan lalu mulai mengikuti alunan musik hingga suara merduanya seakan menghipnotis Anugrah untuk terus berjalan mendekati panggung. Mata Anugrah tidak sedikitpun teralihkan dari diri Wulan. Mantan istri yang sudah mengambil semua hatinya bahkan di saat bunga lain muncul di saat ia sedang bertugas dan kesepian menanggung rindu akan kampung halaman, Wulan masih saja bertahan lekat di hatinya. Seorang Dokter Merlyn saja tidak mampu menggoyahkan posisi Wulan di dalam sana.


“Selama jantung ini berdetak ku akan selalu menjagamu hingga akhir waktu.” Wulan tidak menyangka jika Anugrah akan naik ke atas panggung seraya menyanyikan lagu yang sedang dinyanyikan Wulan untuknya. Gadis itu terpaku di tempat menatap Anugrah yang sedang bernyanyi sambil terus berjalan hingga berdiri tepat di depannya.


Anugrah terus bernyanyi penuh penghayatan menatap manik mata wanita yang sangat dirindukan itu. sorak-sorak yang tadinya riuh mendadak hening seakan mereka hanya berdua di atas panggung. “Mas!” lirih Wulan dengan mata berembung.


“Aku tidak ingin membuang waktu lagi. Apakah kamu mau menjadi istriku lagi?” suara tepukan tangan terdengar memecah keheningan yang sempat terjadi. Sementara di belakang layar, Danu tersenyum bahagia lalu, “Terima kasih, Pak atas bantuannya.” Ucapnya pada seseorang berseragam loreng.


“Kalau bantuan saya bisa menyatukan mereka, kenapa tidak. Saya juga ikut bahagia melihat mereka kembali bersatu.” Ucap sang Komandan.


Wulan langsung memeluk mantan suaminya, “Aku mau Mas!” ia sudah lama menyadari perasaannya pada Anugrah hanya saja dia belum berani dan takut akan ditolak sampai akhirnya Danu sang manajer sekaligus teman Anugrah mendorongnya untuk mau berusaha menggaet Anugrah saat ia kembali dari tugas. Danu juga yang meminta nomor kontak pihak penyelenggara dari manajer penyanyi dangdut yang akan mereka undang untuk acara malam ini.


“Ayo turun!” bisik Anugrah tapi justru mendapat gelengan kepala dari Wulan. “Temani aku nyanyi satu lagi ya!” pintanya lembut yang langsung disetuji oleh Anugrah.


Setelah satu lagu selesai, Anugrah langsung mengajak Wulan untuk turun. Danu sudah berdiri di belakang panggung menjemput mereka. Para pria itu berpelukan sekilas, “Selamat ya!” ucap Danu pada teman SMAnya.


“Terima kasih sudah menjaganya untukku!” balas Anugrah.


“Aku tidak berani macam-macam dengan ancamanmu.” Kening Wulan berkerut namun sayangnya para pria itu tidak satu pun memberikan penjelasan. Sebelum melepas Wulan pergi bersama Danu, “Ingat Nu, jaga dia dan jangan macam-macam! Nyawa keluargamu taruhannya!” ucap Anugrah saat melepas kepergian mereka di bandara waktu itu.


Niat Anugrah untuk membawa Wulan dari sana nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Ia harus menghadapi para petinggi dan rekan prajuritnya yang memberika ucapan dan ingin berfoto bersama hingga membuat wajah Anugrah mengeram kesal.


“Sabar! Kedepannya kamu akan sering melalui kondisi seperti ini.” Ucap Danu merangkul bahu temannya.


“Jaga dia baik-baik, A karena di luar sana sangat banyak laki-laki yang ingin menikahinya.” Danu memberi peringatan.


“Aku tahu, bukankah selama ini kamu selalu melaporkan apa saja tentang dia padaku. Terima kasih untuk semua bantuanmu, Nu. Aku tidak ingin kehilangan dia lagi.”

__ADS_1


“Ngomong-ngomong, kemana kamu akan membawanya malam-malam?” Danu menatap Anugrah penuh selidik.


“Ke KUA!” seloroh Anugrah.


“Aku tidak akan melewati batas, Nu. Aku hanya ingin mengajak dia makan dan bicara lalu membawanya pulang ke rumah orang tuaku. Malam ini dia akan menginap di sana.” Danu menggeleng pelan seraya menarik nafas dalam-dalam sampai Wulan menghampiri mereka.


“Ayo!” ajak Anugrah lembut menggenggam tangannya.


“Ke mana, Mas?”


“Makan mie instan tengah malam di dapur Mama, bagaimana?” wajah Wulan langsung berubah semringah. “Kalau begitu aku juga pulang!” ucap Danu lalu mereka berjalan bersama menuju area parkir. Dan sepanjang perjalanan, baik Wulan maupun Anugrah terlihat sangat bahagia. Sebelum pulang, Anugrah membelokkan mobilnya ke salah satu minimarket. “Kamu jangan turun ya!” ucapnya pada Wulan.


“Nanti ada yang minta foto!” Wulan langsung mengangguk paham. Tingkah Anugrah yang tergesa-gesa saat membeli membuat penjaga toko curiga hingga memperhatikan gerak-geriknya dengan saksama. Tapi saat Anugrah membayar di kasir, si penjaga toko bisa bernafas lega karena Anugrah membayar dengan kartu kredit yang menandakan jika dia bukan pencuri atau perampok.


Sesampainya di rumah, semua penghuni sudah terlelap. Orang tuanya dengan si Bibik lebih cepat tertidur seiring bertambahnya usia. Si Bibik yang belum menemukan jodohnya di usia yang tidak muda lagi memilih tidur sedikit awal. Kakek dan kedua orang tuanya juga sama. Anugrah menaruh tas Wulan di kamar yang dulu pernah Wulan tinggali.


“Kamu mau ganti baju dulu atau langsung ke dapur?”


Mereka menikmati mie instan bersama di kamar tamu karena mereka akan bercerita banyak hal. Kalau di dapur, takutnya akan ada yang bangun jadi lebih baik makan di kamar.


“Terima kasih ya sudah mau kembali bersamaku.” Ucap Anugrah menatap lekat manik mata Wulan.


“Terima kasih juga karena Mas sudah menungguku selama ini.” Anugrah tersenyum lalu sebelah tangannya mengusap lembut kepala Wulan.


“Mas,” lirih Wulan.


“Maaf!” Anugrah menghentikan aksinya. Ia tahu saat dalam kondisi sepi begini sangat rentan akan godaan hingga Anugrah memilih untuk ke luar dari kamar tersebut.


“Tidurlah! Besok kita bicara lagi. Aku takut tidak bisa menahan diri.” Ujar Anugrah membuat Wulan tersipu.


“Kalau belum bisa tidur, kita berbalas pesan saja ya!” ucap Wulan memberi angin segar pada Anugrah. Pria itu memang sulit tidur malam ini apalagi gadis impiannya ada di rumahnya saat ini. Jiwa kelaki-lakiannya tentu mengharapkan lebih dari sekedar bicara.

__ADS_1


Saat Anugrah berbalik ingin memeluk Wulan, ia harus menelan rasa kecewa karena Wulan sudah menutup pintu kamarnya.


“Aku tidak bisa tidur, Sayang!” tulis Anugrah di ponselnya. Diam-diam, Anugrah sudah menyimpan nomor Wulan hasil pemberian Danu kala itu. Tapi Anugrah tidak pernah menghubungi Wulan.


“Siapa ya?” balas Wulan kesal.


“Pria yang sudah memasak mie instan buatmu.” Wulan terkikik di kamarnya.


“Kalau punya nomorku kenapa tidak pernah menghubungiku selama ini?”


“Takut kamu tolak. Setelah Danu memberitahukan isi hatimu padaku, barulah aku berani menaiki panggung lalu melamarmu sekali lagi.”


“Tega kamu Mas membuat aku galau tingkat akut karena memikirkan perasaanku padamu.”


“Siapa suruh tidak tanya langsung padaku. Danu menyimpan nomorku.”


“Aku kan sama sepertimu, Mas. Takut kamu tolak. Siapa tahu banyak gadis cantik yang naksir kamu di luar sana.”


“Memang ada yang naksir aku cuma hatiku udah penuh sama kamu.”


“Gombal!”


“Jujur dibilang gombal. Tidak jujur dibilang bohong. Yang betul yang mana?”


“Aneh tahu dengar kamu gombal. Selama kita menikah jangankan mendengar gombalan kamu, bicara sebanyak ini saja tidak pernah.”


“Itu kan karena kita menikah hasil MBA (Married By Accident)”


***


Jalan menuju ending nih ya....

__ADS_1


__ADS_2