CUT

CUT
Cerita Faisal...


__ADS_3

“Permisi.”


Semua mata tertuju pada gadis cantik yang memakai kebaya soft pink dengan rambut disanggul manis ke belakang yang menyisakan beberapa helaian di samping teling. Iskandar menghampiri Dita lalu menarik lengan gadis itu ke depan sang ayah.


“Pa,-“


“Mas, jadi ini alasan kamu mengatakan kebohongan agar pernikahan kita batal. Kalau kamu sudah menemukan gadis lain tidak perlu pakai alasan kita sedarah. Itu sangat gak logis. Kalau mau bohong, yang keren dikit dong. Kamu pikir ini sinetron. Aku benci kamu, Mas. Kamu pria menjijikkan yang pernah aku temui. Aku menyesal menyukaimu. Kamu jahat! Aku benci sama kamu!” Aisyah berlalu dari sana lalu keluar meninggalkan rumah sakit. Sementara Dita yang baru sampai langsung bingung dengan kejadian yang baru saja dia lihat. Apa lagi saat ini tangannya masih dipegang oleh Iskandar.


“Ada apa ini sebenarnya?” bisiknya pada Iskandar.


Iskandar tidak menjawab tapi Cut yang melihat kedatangan Dita kini menatap Fais, “Dia Dita. Anak Kak Shinta!”


Deg…


Fais menatap Dita lekat. “Kamu anaknya Shinta?” Dita mengangguk.


“Dita, ini adalah Faisal. Pria yang mungkin adalah ayah kandungmu.” Ucap Cut membuat mata Dita membulat sempurna.


Dita dan Fais saling menatap. Keduanya sama-sama terkejut dan terdiam. “Kamu mirip sekali dengan saya.” Ucap Fais. Memang setiap mata yang melihat mereka akan beranggapan sama.


“Tapi mirip saja tidak cukup untuk membuktikan jika kita memiliki hubungan darah, bukan?” Fais tersenyum kecil. “Ternyata kamu pintar juga. Baiklah, setelah ini kita akan tes DNA untuk mencari tahu jawabannya.”


Fais menghubungi seseorang lalu tidak lama setelah itu dua orang perawat memasuki ruangan tunggu tersebut.


“Duduklah! Perawat akan mengambil darah kita untuk tes DNA.” Hari itu juga darah Dita dan Fais diambil untuk tes DNA.


Seorang perawat keluar dari ruang Ibu Murni, “Dokter, pasien sudah siuman.” Fais langsung bergegas memasuki ruang ICU tempat di mana ibunya berbaring.


“Fais, anak Ibuk.”


Fais menggenggam tangan sang ibu lalu mengecupnya berulang-ulang. “Ibu cepat sehat biar kita bisa berkumpul bersama.” Ibu Murni tersenyum kecil lalu kembali tertidur. Kondisi Ibu Murni semakin membaik dan sehari kemudian beliau langsung dipindahkan ke ruang rawat inap.


Semua tampak berkumpul di dalam ruang rawat Ibu Murni. Jika pada keadaan normal, perawat akan menegur keluarga pasien yang datang dalam jumlah besar tapi kali ini berbeda. Selain status kamar VVIP juga karena status Ibu Murni adalah orang tua dari Dokter Faisal. Dokter senior di rumah sakit itu.


“Bang, jadi Aisyah itu adik Iskandar?” Cut memulai pertanyaan yang sudah dua hari ini ia pendam. Selama dua hari ke belakang, Fais terlalu sibuk hingga belum menjelaskan apa-apa tentang Aisyah. Istri Fais juga ikut-ikutan diam. Bahkan saat mereka berkumpul bersama seperti ini, istri Fais lebih banyak mendengar dari pada berbicara.


Diam-diam, Cut memperhatikan penampilan istri Fais yang sekarang. Penampilannya jauh berbeda dengan wanita itu. Dari cara berpakaiannya terlihat jelas kalau wanita yang menjadi istri Fais sekarang adalah wanita berkelas. “Jangan lihat begitu, Ma! Direktur rumah sakit memang begitu penampilannya. Beda sama istri tentara yang gajinya tidak seberapa. Bisa pakai gaun sekali setahun saja sudah syukur.” Bisikan Rendra membuat Cut tersenyum geli.


“Terima kasih, Pa sudah menerimaku apa adanya bukan karena ada apanya.” Cut membalas bisikan sang suami.


“Terima kasih saja tidak cukup, Ma. Untuk tentara seumur Papa harus lebih dari sekedar terima kasih.”


“Terus maunya apa?” tanya Cut bingung.


“Mama tahu yang Papa mau.” Rendra menaik turunkan alisnya seraya tersenyum penuh arti.


Sebuah cubitan Cut hadiahkan untuk sang suami karena berani mesum saat sedang banyak orang begini. Sadar atau tidak, Fais diam-diam memperhatikan interaksi mereka. Dokter Rendra yang sudah dewasa juga ikut melirik sekilas ke arah Cut dan Rendra. Ia tidak percaya jika pria bernama Rendra tersebut yang memberikan nama itu padanya.


Selama pertemuan keluarga, Aisyah seperti menghilang ditelan bumi tanpa disadari oleh siapapun. Di dalam ruangan itu hanya ada Cut, Rendra, Fais dan Istrinya, Kak Julie dan Bang Adi yang baru tiba setelah mendapat kabar dari sang kakak, Bapak Fahri, Iskandar dan Dita juga Dokter Rendra.


“Nak, ceritakan pada kami apa yang sudah kamu lalui?” pinta Pak Fahri.


 


Flashback on…

__ADS_1


Tepat jam 11 malam setelah diusir dari rumah, Faisal pergi ke terminal bus antar provinsi. Malam itu juga dia berangkat ke Medan dengan tujuan menemui Shinta dan anaknya. Sesampai di terminal bus Medan, Fais dikejutkan dengan berita gempa dan tsunami yang melanda Aceh tadi pagi. Fais syok lalu ia tetap berjalan menuju rumah Wira. Dan di rumah Wira itu lah dia melihat tayangan televisi kembali hingga dirinya ingin segera pulang menemui keluarganya.


“Wira, aku harus pulang! orang tua dan anakku di sana. Rumah mertuaku juga dekat dengan laut.” Fais hendak mengambil tas ransel yang memang belum empat ia buka.


“Tenang! Kita cari tahu dulu situasinya. Lebih baik sekarang kita kembali ke tujuan awal kamu ke sini.” Wira mengetahui jika Fais berniat menemui Shinta dan keluarganya.


“Setelah menemui Shinta dan keluarganya, aku akan mengantarmu ke terminal.” Dengan menaiki motor, keduanya pergi ke rumah keluarga Shinta.


“Permisi!”


“Cari siapa?” tanya salah seorang wanita berdaster dibalik pintu pagar.


“Kami teman satu kampusnya Shinta. Apa dia ada?”


“Siapa, Bik?” suara yang sangat familiar di telinga keduanya.


“Temannya Non Shinta, Nyonya.” Wanita itu berjalan menuju pintu pagar, “Ada apa kalian kemari? Shinta tidak di sini.”


“Boleh kami tahu dia kemana, Tante?” tanya Fais.


“Saya tidak tahu. Bukannya kamu yang sudah membuatnya jadi begini? Seharusnya kamu tahu ke mana dia. Saya memang pantas melarang dia berhubungan dengan kamu. Ternyata kamu memang pria tidak bertanggung jawab.” Ketus Ibu dari Shinta.


“Lalu anaknya bagaimana, Tante? Bukannya anaknya sedang sakit?” Ibu dari Shinta ikut terkejut.


“Shinta punya anak? Oh, saya paham sekarang. Ternyata dia pergi karena hamil anakmu? Lihatlah perilaku mahasiswa kedokteran. Berhubungan di luar nikah, beda agama dan sekarang apa lagi? Kalian berencana membunuh anak itu? Hebat sekali mahasiswa kedokteran ini. Di saat kalian menyembuhkan pasien kalian justru membunuh anak sendiri.” Ibu dari Shinta meluapkan emosi di depan Wira dan Fais.


Dari arah belakang, ayah dari Shinta ikut keluar. “Ada apa, Ma?” tanya sang suami lalu menoleh pada dua pemuda di balik pagar.


“Apa lagi kali ini? Belum puas kamu menghancurkan hubungan kami dengan Shinta dan sekarang kamu kembali ke sini? Mau apa lagi, kamu?” ayah dari Shinta ikut emosi melihat Fais di depan rumahnya.


"Om, saya mau minta maaf kalau saya sudah berbuat banyak kesalahan sama keluarga Om dan Tante. Saya kemari ingin bertanggung jawab pada Shinta dan anaknya. Saya tidak tahu harus mencarinya ke mana lagi. Tolong bantu saya, Om, Tante!”


“Ayo, Shinta mungkin sudah pergi jauh. Dia tidak mungkin masih berada di sini.”  Ucap Wira.


Di saat yang sama, ponsel Wira bergetar. “Hallo,”


“…”


“Baik,”


“…”


“Saya akan mengumpulkan semua teman-teman seangkatan.”


“Terima kasih.”


Fais melihat Wira bicara cukup serius, “Siapa?” tanya Fais yang disambut senyuman oleh Wira.


“Aku tidak perlu mengantarmu ke terminal bus lagi. Pihak kampus menghubungiku, mereka sedang mengumpulkan relawan dokter yang akan dikirim ke Aceh. Kamu juga bisa ikut.” Fais mengangguk lalu keduanya bergegas menuju kampus. Dalam waktu seminggu, Wira dan Faisal sibuk mengumpulkan segala bantuan obat-obatan dan pakaian yang akan mereka bawa ke sana. Teman seangkatan dan adik-adik leting yang baru lulus ikut mendaftar sebagai relawan hingga jumlah mereka mencapai 500 orang. Dengan menaiki kapal yang difasilitasi oleh TNI angkatan laut, mereka berangkat menuju Aceh dan mendarat tepat di Aceh Barat. Selama enam bulan mereka di sana lalu mereka diminta untuk membantu di kabupaten Aceh Jaya yang juga cukup parah terdampak gempa dan tsunami. Di sanalah, Faisal bertemu dengan Teuku Rendra dan wanita yang kelak menjadi istrinya.


Saat kapal berlabuh di Aceh Jaya, Fais dan teman-teman relawan langsung mendapat pengarahan untuk tugas yang akan mereka emban selama sebulan di sana. Fais di tempatkan di salah satu barak darurat di mana banyak menampung anak-anak yang kehilanga orang tuanya. Rendra memperhatikan wajah anak-anak itu dengan saksama. Kondisi mereka sangat memprihatinkan dengan tatapan sayu dan raut wajah yang sulit diartikan.


Tatapan mata Fais tiba-tiba tertuju pada seorang wanita cantik yang sedang menenangkan seorang bayi dalam gendongannya. Sementara di sampingnya ada seorang bocah laki-laki yang sedang memegang ujung kerudungnya. Fais penasaran lalu mendekati wanita itu yang ternyata seorang dokter anak berstatus relawan dari Persatuan Dokter Anak Indonesia.


“Selamat siang,” sapa Fais kala itu.

__ADS_1


“Selamat siang, -“ Wanita itu melihat jas yang Fais ucapkan.


“Dokter Faisal?” Faisal mengangguk pelan lalu tersenyum. “Saya, Ayu Saraswati.” Mereka tidak berjabat tangan karena Ayu sedang menggendong seorang bayi.


“Kenapa dengan bayi itu?” tanya Fais memperhatikan kondisi bayi dalam gendongan Ayu.


“Tidak tahu, sudah diberi susu masih menangis. Badannya juga baik-baik saja tapi tetap saja menangis.” Keluh Ayu.


“Boleh aku menggendongnya?”


Ayu langsung menyerahkan bayi itu dalam gendongan Fais dan detik itu juga bayi itu langsung terdiam. Fais dan Ayu seketika terkejut. “Mungkin dia merindukan ayahnya.” Celutuk Fais lalu mengelus-ngelus pipi bayi itu hingga bayi itu tertawa.


“Dia menyukai Dokter. Aura seorang ayah melekat kuat dari Dokter hingga membuat dia nyaman dalam gendongan Dokter.” Ujar Ayu sementara Fais hanya tersenyum getir. Aura seorang ayah yang Ayu katakan sejujurnya ia tidak percaya. Ayah macam apa yang tega mengkhianati anaknya dengan memiliki anak dengan wanita lain.


“Orang tuanya masih ada?” Ayu menggeleng sedih.


“Ini kakaknya?” tanya Fais melihat bocah laki-laki yang sedang memegang ujung kerudung milik Ayu.


“Bukan. Saya tidak tahu bagaimana awal mulanya. Begitu saya sampai di sini lalu memeriksa anak ini, dia langsung memeluk dan menangis. Setelah itu dia mulai menikuti saya kemanapun seperti ini. Dia juga selalu menjaga bayi ini seperti ini adiknya.”


Fais tiba-tiba menunduk mensejajarkan dirinya dengan bocah itu. “Ini adikmu ya?”


“Dek Iskandar.”


Deg…


Fais terkejut ketika mendengar nama putranya disebutkan oleh bocah itu. Fais memperhatikan wajah bocah itu dengan saksama. Banyak luka di sana yang belum kering, siapa namamu?” tanya Fais kembali. Dalam hati, ia berharap masih ada keajaiban untuknya saat ini.


“Teuku Rendra Muhammad Nur”


Deg…


Fais langsung menarik bocah itu dalam pelukannya. Akhirnya, ia menemukan satu-satunya orang yang berkaitan dengan masa lalunya. Lalu, ia segera memeriksa jenis kelamin bayi itu dan raut wajah kecewa jelas terlihat dari sana. “Ini bukan Dek Iskandar. Dia bayi perempuan. Rendra ingat sama Om?”


Bocah itu mengangguk, tanpa sadar air mata Fais keluar begitu saja. Ia bahagia karena dapat menemukan Rendra walaupun bocah itu hanya keponakan dari mantan istrinya.


“Jauh sekali dia terbawa ombak.” Ucap Fais pada Ayu.


“Ini dekat, masih ada yang terbawa lebih jauh lagi hingga ke Malaysia dan beberapa negara lainnya.” Fais mengangguk membenarkan ucapan Ayu. “Sepertinya dia mengira Dokter adalah tantenya. Tantenya adalah mantan istri saya dan Dek Iskandar yang dia sebutkan adalah anak saya.” Jelas Fais. Entah kenapa dia merasa harus menjelaskan tentang kehidupannya sebelum ini pada Ayu. Hingga kedua bocah itu menjadi perekat hubungan keduanya hingga mereka menikah di salah satu mesjid yang selamat dari musibah besar itu secara agama. Rendra yang tidak bisa jauh dari Ayu dan bayi perempuan itu yang tidak bisa lepas dari Fais. Alhasil, mereka sepakat untuk mengadopsi keduanya.


Mereka meninggalkan jejak berupa foto bayi yang diberi nama Aisyah itu serta nomor yang bisa dihubungi di setiap barak sebelum membawa bayi itu ke Jawa sebulan kemudian. Masa tugas keduanya selesai, Fais langsung menyerahkan laporan pada Wira kala itu lalu dia mengikuti sang istri ke Jawa bersama Rendra. Sesampainya di Jawa, mereka kembali menggelar sidang isbat untuk mengesahkan pernikahan supaya diakui oleh negara. Faisal tidak menyangka jika ia menikahi seorang anak pemilik rumah sakit. Setelah itu, dia kembali melanjutkan pendidikannya untuk mengambil spesialis dengan dukungan penuh dari sang istri. Dan sampai Aisyah dewasa, tidak ada satupun orang yang menghubungi mereka dari Aceh.


 


Flashback off…


 


“Kenapa Abang tidak membawa Rendra ke rumah Mak Cek Siti?” tanya Cut kesal.


“Saat itu, Abang berpikir jika tidak ada yang selamat. Maaf karena Abang tidak mencari tahu tentang keadaan kalian. Selama enam bulan di Aceh Barat, Abang sibuk merawat pasien dan setelah di Aceh Jaya, Abang juga larut dalam pekerjaan. Belum lagi jalan menuju kota putus total. Abang berpikir jika Rendra saja bisa terbawa begitu jauh, apa lagi dengan kalian? Maaf karena Abang terlalu pesimis saat itu lalu Abang juga memutuskan untuk merawat Rendra dengan baik sebagai penebusan rasa bersalah Abang sama kamu, Iskandar serta Abu dan Umi. Maafkan kesalahan Abang, Cut. Abang sudah mendapatkan balasannya sekarang. Rumah tangga yang kami bina nyatanya tidak sesempurna seperti yang orang lihat. Sampai sekarang, kami belum juga memiliki keturunan padahal kami berdua tidak memiliki kendala apa pun.”


“Jadi, Aisyah itu bukan adik kandungku? Kami tidak sedarah?”


***

__ADS_1


Ini 2000 kata ya....


Siapa yang tebakannya benar????


__ADS_2