
Sepasang suami istri baru sedang berada di sebuah butik untuk melakukan pengukuran baju yang akan dipakai saat resepsi. Walaupun pesta resepsi ini terkesan mendadak dan sudah kedua kali. Bapak Wicaksono tetap menginginkan pesta yang sebagaimana mestinya. Apalagi ada beberapa undangan yang merupakan sahabatnya dulu termasuk orang tua dari mantan istri pertama Rendra.
Berhubung waktu menuju hari H tidak lama lagi ditambah dengan warna kebaya yang dipakai oleh Cut sama dengan kebaya yang sering dipesan oleh calon-calon istri prajurit. Sehingga pakaian untuk Cut sudah jauh-jauh hari tersedia karena mereka selalu mendesain lebih untuk kebaya pengantin karena sangat sering mereka menerima orderan mendadak seperti saat ini.
Sedangkan untuk Rendra, dia akan memaki seragam hingga tidak ada yang perlu disiapkan karena seragam baru khusus untuk pernikahan juga sudah tersedia.
Setelah mendapatkan apa yang dicari, keduanya langsung menuju ke toko perhiasan. Rendra belum membelikan cincin pernikahan untuk keduanya. Berbeda dengan adat di tempat kelahiran Cut. Suami tidak memakai cincin dan istri juga tidak diharuskan memakai cincin. Bukan suatu keharusan untuk suami istri memakai cincin kawin.
Cut kembali merasa kurang percaya diri saat beberapa pelayan di toko perhiasan melihat cara berjalannya yang pincang. Fisiknya yang cacat sangat kontras terlihat saat berjalan dengan sang suami yang memiliki fisik sempurna ditambah wajah yang tampan. Rendra menyadari perubahan dari raut wajah dari istrinya tapi seakan meangabaikan tatapan orang, dia malah semakin memperlihatkan kemesraan di depan mereka. Rendra memeluk pinggang Cut posesif dan menatapnya penuh cinta dan tidak lupa pula senyum manis yang selalu dia berikan ketika berhadapan dengan Cut.
Senyum manis itu langsung hilang ketika Rendra berhadapan dengan pelayang toko. “Silakan Bapak, Ibu, ini ada model baru dari toko kami.”
Cut merasa risih karena sang suami tidak melepaskan tangan di pinggangnya. “Mau yang mana, Sayang?” tanya Rendra yang kembali tersenyum manis padanya. Tentu saja sikap Rendra pada Cut membuat setiap mata yang melihat menjadi iri.
“Yang mana saja, Bang.” Lirih Cut.
“Tidak bisa begitu. Yang pakai ini kan kamu jadi kamu harus suka apa yang kamu pakai. Jadi, tentukan pilihanmu seperti kamu menentukan aku sebagai suamimu.”
Netra Cut membulat sempurna. Ia tidak menyangka jika sang suami akan berkata seperti itu di depan orang-orang selugas ini.
“Gombal ya, Sayang?” tanyanya lagi dan hanya mendapat gelengan kepala dari sang istri.
Entah kenapa, Rendra senang sekali hari ini. Dia terlihat lepas dan wajahnya selalu tersenyum tapi hanya pada Cut dan orang-orang yang ia kenal. Rendra seperti menjelma menjadi orang lain saat ini.
__ADS_1
“Jadi yang mana, Sayang?” tanyanya lagi.
“Yang sederhana saja, Bang. Karena akan kita pakai selalu jadi yang sederhana saja. Kalau terlalu mewah takutnya malah aneh.”
“Setuju, tapi yang mewah perlu juga sayang. Kalau ada acara-acara formal, kamu bisa memakainya. Kasarnya seperti pamerlah. Setiap istri prajurit pasti akan melakukan hal yang sama. Nanti aku jelaskan di rumah, oke?”
Cut menganguk. Rendra membeli sepasang cincin kawin seperti keinginan sang istri. Sederhana tapi tetap elegan serta tidak norak. Rendra juga memilih sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati dan ditengahnya terdapat berlian. Rendra juga membelikan sebuah cincin lagi dan yang ini seperti yang Rendra katakan sebelumnya. Cincin mewah untuk dipakai saat ada acara resmi.
“Kenapa tidak membeli emas saja?” cicit Cut.
“Emas kan sudah, Sayang. Di sini berbeda dengan di Aceh. Jika di Aceh orang senang memakai emas jika di sini orang suka memakai berlian. Tapi semua sama saja, Sayang. Sama-sama logam mulia berharga.
Jika sepasang suami istri tengah menikmati waktu berdua di luar dengan mengunjungi beberapa tempat. Para muda-mudi yang tadi menghabiskan waktu di toko buku kini beralih ke kebun apel. Kebun apel merupakan tempat yang ingin dikunjungi oleh Intan karena dia pernah mendengar jika di malang terkenal dengan apelnya. Riko pun membawa mereka ke sana. Iskandar masih tertidur saat mobil yang dikendarai Riko sampai di tempat tujuan. Saat yang lain memilih untuk memasuki kebun, Bang Adi memilih untuk beristirahat di sebuah pondok sambil meminum jus dan makanan yang sudah dipesannya.
“Kalian pergilah. Abang ingin istirahat sama Iskandar di sini.”
“Bisa bantu saya lagi?” Bang Adi menahan lengan Reni yang hendak pergi. Apa yang dilakukan Bang Adi tidak luput dari pantauan para muda-mudi yang belum jauh melangkah. Mereka tersenyum penuh makna sambil tetap berjalan.
“Apa itu salah satu trik untuk mendekati Kak Reni?” tanya Intan polos.
“Bisa jadi. Segala cara bisa dilakukan oleh para laki-laki saat menghadapi wanita yang disukainya.” Jawab Riko.
“Lalu apa yang dilakukan Bang Faris tadi juga termasuk ya?”
__ADS_1
Gleg…
Faris menatap tajam pada sang adik. “A-apa maksudmu?” tanya Faris gelagapan.
Ditanya begitu, Intan dengan santainya hanya mengedikkan bahu lalu berjalan melewati abangnya. Sementara Faris menatap bingung pada Riko. Yang ia tahu, ketika ia mendekati gadis bernama Indah, Intan dan Riko sedang terlibat perdebatan sengit tentang isi buku yang Faris sendiri tidak ketahui isinya.
“Kami memang berdebat bukan berarti mata kami juga tertutup saat melihat bagaimana pria bernama Faris merayu seorang gadis dengan memaksakan gadis itu menerima buku yang ia beli dan di dalamnya terdapat alamat serta nomor telepon rumahnya.”
“A-abang tahu dari mana?”
Riko menepuk pundak Faris sambil menggelengkan kepala. “Aku suka caramu!”
Riko meninggalkan Faris sendiri dengan berjuta keterkejutan yang belum usai. Ia tidak menyangka jika kelakuannya tertangkap basah oleh mereka. Faris sangat malu, jika bisa ia ingin mengubur dirinya sendiri saat ini.
Di pondok yang tidak jauh dari posisi mereka. Sepasang anak manusia tengah berbincang kecil mengenai sosok bayi yang sedang tertidur pulas di atas lantai pondok. Udara sejuk membuatnya begitu nyaman hingga enggan untuk bangun. Bang Adi sendiri ikut merebahkan badannya di samping Iskandar setelah menghabiskan satu gelas jus apel yang ia pesan.
“Pergilah berkeliling jika kamu bosan di sini!” pinta Bang Adi.
“Cih, tadi menahanku sekarang malah mengusirku. Dasar!” gerutu Reni tidak terima.
“Jangan setengah-setengah kalau mengumpat supaya hatimu tenang. Dasar apa? Kenapa tidak diteruskan?” Bang Adi berbicara seraya menutup mata. Dirinya sangat lelah hari ini karena tidak menggendong Iskandar yang mulai aktif seorang diri. Intan pernah meminta untuk menggantikan tapi sebagai laki-laki yang lebih tua. Dia tidak mau membiarkan adik perempuannya jika dia masih sanggup untuk melakukannya.
“Sebenarnya apa sih maumu? Kamu sedang tarik ulur denganku?”
__ADS_1
***