
Berita kehamilan Cut menjadi sebuah kabar yang sangat membahagiakan bagi keluarga Rendra. Kedua orang tuanya serta Riko terus menemani Cut selama di rumah sakit. Rendra sendiri baru selesai dinas tiga hari lagi. Dokter menyarankan Cut untuk dirawat selama tiga hari karena kondisinya yang lemah dan dapat terpantau secara rutin oleh petugas kesehatan.
Bagai sebuah keajaiban untuk keluarga mereka karena selama ini keduanya tidak pernah lagi membahas masalah program hamil. Di saat keduanya sudah ikhlas dan memasrahkan semua pada sang pencipta. Mereka justru diberi kejutan yang tidak disangka-sangka. Berita bahagia itu juga telah sampai ke telinga keluarga di Aceh. Tentu saja mereka juga sangat bahagia dan bersyukur akan rezeki yang tidak disangka-sangka itu. Saking bahagianya, Mak Cek Siti sampai mengundang anak yatim lalu menggelar acara syukuran bersama di rumahnya.
Sementara di kamp tempat Rendra melakukan latihan bersama anggotanya juga tidak kalah bahagia setelah mendengar perkataan dokter spesialis saat memeriksa ulang keadaan Cut. Para anggota yang mengetahui bagaimana perjalanan cinta keduanya ikut memberikan selamat serta doa. Senyum Rendra bahkan tidak pernah lekang hingga ia menjadi bahan tertawaan anggotanya saat seharusnya ia bersikap tegas justru tersenyum. Sontak saja membuat anggotanya ikut menahan senyum melihat komandannya seperti orang jatuh cinta.
“Sepertinya sudah tidak sabar ingin pulang.” Goda Wahyu saat mereka membereskan perlengkapan mereka.
Hari ini, mereka akan meninggalkan kamp lalu kembali ke rumah masing-masing. Rendra sudah mendapat kabar jika hari ini Cut juga sudah kembali ke rumah.
Asisten rumah tangga yang sebelumnya bekerja di rumah Bapak Wicaksono kini dialihkan ke rumah Rendra. Kamar utama yang berada di lantai atas juga langsung diturunkan ke bawah oleh Bapak Wicaksono tanpa persetujuan suami istri tersebut. Cut tersenyum getir melihat bagaimana reaksi mertuanya saat tahu dia hamil.
“Ternyata selama ini mereka memang menginginkan ini. Ya Allah, terima kasih sudah memberikan hamba kesempata untuk membahagiakan mertua sekaligus suami hamba.” Batin Cut begitu melihat betapa sibuknya kedua mertuanya dalam mengurus kepulangannya dari rumah sakit.
“Mulai sekarang jangan banyak bergerak dulu sampai kandungan kamu besar dan siap untuk bergerak. Semua pekerjaan akan diurus Bik Asih. Iskandar biar Riko yang urus. Pokoknya kamu fokus pada kesehatan dan kehamilan kamu saja, ya?”
Ibu mertua yang dulunya tidak banyak bicara kini berubah drastis membuat Cut tersenyum senang. Ibu mertuanya telah berubah menjadi wanita paruh baya yang super cerewet. Bik Asih saja sampai kualahan menghadapi berbagai permintaan dari ibu mertuanya.
Cut hanya melihat dan tidak berani membantah. Ia mulai merebahkan dirinya kembali. Rasa lemah terus saja menggrogoti badannya hingga ia tidak mampu untuk bangun. Badannya terus saja memaksa untuk tidur dan bermalas-malasan di kamar.
“Sayang…”
Cup….
“Sayang, bangun sudah siang.”
Cut menggeliat lalu perlahan matanya mulai terbuka dan –
“Abang… kapan sampai?”
__ADS_1
Cut bangkit dibantu Rendra lalu langsung memeluknya. Tangisan itu akhirnya pecah saat ia berada dalam dekapan hangat sang suami yang sangat ia rindukan. Pria yang selalu sabar menanti tanpa pernah berkeluh kesah. Pria dengan semua kesempurnaan yang dimilik membuat Cut semakin erat memeluknya.
Rendra senang bercampur bingung karena ia merasa tangisan Cut sedikit berlebihan namun tetap ia biarkan air mata sang istri membasahi kaos yang baru saja ia pakai setelah mandi. Ya, Rendra sudah pulang dari dua jam yang lalu tapi karena melihat sang istri yang tengah tertidur. Ia pun memilih untuk mandi dan sarapan lalu berkumpul dengan orang tuanyanya.
“Maaf karena kami memindahkan isi kamar kalian ke bawah tanpa izin kamu atau Cut. Kondisinya tidak memungkinkan dia untuk naik turun tangga.” Ucap Bapak Wicaksono.
“Makasih, Pa, Ma.” Hanya itu yang bisa Rendra ucapkan.
Orang tuanya selalu bertindak di luar dugaan. Sama seperti saat iya meminta kedua orang tuanya untuk melamar Cut. Mereka yang tidak terlihat senang justru memberikan mahar lebih dari yang sudah Rendra siapkan. Jika orang lain yang melihat maka, mereka akan menganggap jika kedua orang tuanya tidak menyukai Cut. Kedua orang tuanya memutuskan untuk pulang karena sudah ada Rendra di sana. Sementara Riko sudah pergi menjemput Iskandar ke sekolah dan biasanya mereka akan mampir ke tempat-tempat lain lagi seperti yang sudah-sudah. Setelah menjemput Iskandar, Riko langsung mengajaknya ke café sambil untuk mencicipi minuman baru yang sedang terkenal di kalangan anak muda.
“Is belum pulang, Bang?” tanya Cut sambil menatap sang suami yang hendak menyuapinya.
“Kita harus merubah panggilan lagi kayaknya. Sebentar lagi Is akan menjadi seorang kakak. Jadi lebih baik kita panggil dia dengan sebutan kakak, abang atau mas?”
“Panggil ‘Abang’ saja kalau begitu.”
“Mas? Kurang enak dengarnya, Bang. ‘kakak’ saja sama seperti Reni panggil Abang.” Usul Cut.
“Tapi, kalo di Aceh ‘kakak’ itu panggilan untuk perempuan kan?”
Cut mengangguk, “Ya sudah, panggil ‘Mas’ saja.”
Rendra langsung tersenyum senang. “Papa yakin, dia pasti bingung dan protes nanti.”
Kedua suami istri itupun tertawa bersama. Iskandar emang telah menjelma menjadi anak yang cukup kritis terhadap apapun. Entah karena pergaulannya dengan Riko menyebabkan ia menjadi seperti itu. Semua hal harus ada penjelasan dan harus masuk dalam logikanya. Jika tidak maka dia tidak akan pernah menerima apapun itu.
“Om, arah jam satu sedang melirik-lirik ke sini.”
Riko memantau lalu tersenyum, “Baju pink ya?”
__ADS_1
“Iya. Om mau kenalan?”
“Emm…entah”
Selalu saja seperti itu akhir dari pembicaraan jika mengenai perempuan yang mereka temui di luar. Riko tidak memiliki ketertarikan pada makhluk berjenis kelamin wanita. Dia sudah betah bersama Iskandar padahal umurnya sudah cukup untuk menikah.
Setelah keduanya menghabiskan minuman, mereka langsung meninggalkan café tersebut. Riko sudah seperti duda beranak satu. Waktunya lebih banyak dihabiskan bersama Iskandar apalagi setelah anak itu besar. Iskandar pulang ke rumah Riko sebelum kembali ke rumahnya. Ia masuk seperti biasa lalu mencium tangan nenek dan kakeknya.
“Is jangan bikin Mama capek ya? Kalau ada perlu apa-apa minta sama Papa atau Bibik. Sebentar lagi Is akan punya adik bayi. Jadi, Mama tidak boleh capek-capek dulu.”
“Iya, Nek.”
“Pergi makan dulu sambil tunggu Om Riko.”
“Iya, Nek.”
Iskandar menaruh tasnya di sofa lalu pergi ke meja makan. Ia mengambil piring dan menaruh nasi serta lauk pauk sendiri. Entah kenapa, dengan neneknya ia merasa ada jarak. Walaupun nenek tidak pernah memarahinya tapi Iskandar merasa neneknya itu sangat jauh. Iskandar yang kritis dan juga cerdas dan terkadang dia juga sangat perasa.
“Nasi itu buat dimakan bukan dilihat.”
Riko datang lalu duduk di sampingnya. Ada hal yang sedikit mengganggunya beberapa hari ini namun, ia belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut.
“Om, kenapa kita tidak mirip?”
“Uhuuukk…..”
***
__ADS_1