
Tugas negara membuat Rendra tidak bisa menjenguk Cut sesuka hatinya. Setelah mendengar langsung tentang kondisi Cut dari dokter maupun psikiater kemarin membuat Rendra lebih lega.
Di hari yang sama saat ia kembali dari rumah sakit, salah satu temannya mengabarkan jika pos penjagaannya baru saja diserang oleh para pemberontak. Mereka mengincar salah satu pekerja asing yang berada di pabrik semen tersebut.
Penjagaan yang sangat ketat membuat para pemberontak harus mundur ke dalam hutan karena kalah jumlah dan senjata. Tentara yang bertugas menjaga objek vital memang mendapat perlengkapan senjata lengkap untuk menakutkan lawan.
Kabar dari koran serta televisi hari diwarnai dengan berita pelepasan sandera yang selama ini tertunda oleh banyak hal. Sebulan sebelumnya pelepasan sandera juga hampir terjadi namun, kehadiran aparat TNI di beberapa titik di dekat tempat yang disetujui oleh pihak pemberontak dan PMI serta ICRC kembali dibatalkan oleh pihak pemberontak.
Kali ini, tanpa pemberitahuan secara langsung kepada pihak TNI. Tim dari Palang Merah Indonesia serta ICRC yang berasal dari luar negeri kembali bersepakat dengan para pemberontak untuk membebaskan sandera di tempat yang ditentukan oleh pihak pemberontak.
Fery Santoro yang merupakan kameramen RCTI bersama dua orang istri perwira TNI AU serta seorang jurnalis tabloid KOTRAS bernama Nani. Rekan Fery yang bertugas sebagai wartawan sebelumnya telah meninggal saat penyerangan tentara TNI ke markas para pemberontak di mana, Fery berhasil kabur saat itu. Sementara Bang Ersa meninggal di tempat setelah tertembak peluru tentara.
Pembebasan para sandera yang berada di dalam pedalaman Aceh menjadi kabar berita yang menggembirakan bagi keluarga yang selama ini terus menunggu dalam doa dengan harapan keluarga mereka bisa kembali dengan selamat.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, warga kembali dikejutkan dengan suara tembakan senjata dari kedua belah pihak. Sekelompok orang bersenjata menembak para tentara yang sedang membantu perbaikan jembatan di salah satu perbatasan kampung. Empat tentara tewas di tempat sementara yang lainnya terluka parah. Aksi balas dendam terus berlanjut tanpa ada yang mau mengalah atau berdamai.
Perundingan demi perundingan selalu gagal menemukan titik temu. Perdamaian semakin jauh dari harapan. Keputusan pemerintah pusat dengan mengirim lebih banyak tentara ke Aceh semakin memperjelas keadaan bahwa kata damai mungkin akan menjadi angan belaka.
Seorang pria duduk membaca koran dari balik pagar rumah sakit jiwa. koran terbentang di depan matan namun tatapannya justru mengarah ke halaman rumah sakit. Di mana seorang wanita tengah duduk bersama seorang wanita yang berpakaian rapi.
Cut tengah menjalan terapi bicara dengan psikiaternya dokter Widia atau sering dipanggil Kak Widia oleh Cut.
“Begitu juga dengan Abu dan Umi. Mereka juga sangat senang jika putri cantiknya bisa sembuh lalu kembali bersama dengan mereka.” senyum yang tadi mengembang kini hilang menjadi datar kembali.
“Tidak ada yang salah dalam keadaan ini. Kehadiranmu di hidup mereka bukan sebuah bencana melainkan anugerah. Setiap orang mengalami hal yang sama dengan keluargamu. Hidup di daerah konflik yang setiap hari mendengar suara senjata, bom, jerit orang-orang yang ketakutan. Semua itu kenyataan yang harus kita terima walaupun tidak suka. Orang yang kita cintai meninggal, orang yang kita kasihi jatuh sakit. Apa kita harus bersikap memberontak dengan pergi tanpa peduli atau menyalahkan diri sendiri? Tidak bisa seperti itu.”
“Cerita hidup seseorang mungkin berbeda-beda. Tapi lari dari masalah atau bersembunyi bukan solusi terbaik apalagi sampai menyalahkan diri sendiri. Maut, ajal, takdir semua itu rahasia sang pencipta. Kita tidak diberi kekuasaan untuk memprediksi itu semua. Setiap manusia sudah ditentukan ajalnya seperti apa, rezekinya di mana, jodohnya siapa. Kita hanya diminta bersikap ikhlas, menerima dengan lapang bagaimana jalan hidup kita. Bagaimana keluarga kita menemui ajalnya, kita tidak bisa protes. Kita juga tidak bisa menyalahkan diri sendiri karena kurang hati-hati, mungkin kurang menjaga dan segala kemungkinan lainnya. Segala kata ‘mungkin’ yang timbul di hati menjadi sebab untuk kita menyalahkan diri sendiri. Padahal semua yang terjadi memang sudah jalannya seperti itu.”
__ADS_1
Seperti inilah terapi bicara yang dilakukan dokter Widia selama ini. Saat Cut baru berada di sana, pembicaraan tidak pernah seberat ini. Dokter Widia melihat perubahan dalam beberapa minggu terakhir sehingga memutuskan untuk memulai topik yang sedikit berat dalam kasus pasien depresi.
Cut masih enggan menutup mulutnya seperti biasa saat dokter Widia memulai pembicaraan. Karena seorang psikiater memang harus bisa memancing emosi pasien supaya semua yang ada dalam pikiran ataupun hati pasien bisa dikeluarkan.
“Kematian tidak selalu buruk. Bukankah dalam agama kita diajarkan jika ada kehidupan yang kekal setelah mati? Dunia ini Cuma persinggahan untuk kita mencari bekal menuju kehidupan yang kekal nantinya. Ibarat orang kaya yang mengumpulkan harta untuk membangun rumah besar yang akan ia tempati nanti saat tua. Begitu juga dengan kehidupan di dunia. Kita semua sedang menyiapkan bekal untuk menuju kehidupan akhirat di mana hari pembalasan bagi setiap orang akan mendapat pembalasan setimpal atas perbuatannya selama di dunia. Yang bersalah akan dihukum dengan seadil-adilnya. Tidak seperti hukum saat ini, orang bersalah bisa bebas dengan sogokan uang.”
“Penembak Razi mungkin bisa hidup bebas saat ini tapi apa dia bahagia? Belum tentu. Bisa jadi setiap malam dia tidak bisa tidur karena gelisah atau takut suatu hari akan tertangkap. Sedangkan almarhum Razi, mungkin dia sedang bahagia di alam kuburnya. Dengan semua kebaikan yang pernah ia lakukan semasa hidupnya. Doa-doa dari orang tua yang ia sayangi serta menyayanginya selalu berlimpah setiap saat. ia tidak perlu ketakutan lagi seperti kita. Tidak ada tentara atau pemberontak yang akan memukulnya.”
Air mata Cut mengalir sendiri tanpa terasa mendengar setiap kata demi kata yang diucapkan oleh Dokter Widia.
“Abang kamu juga sudah tenang bersama istri dan anaknya di sana. Terlepas apa yang sudah ia lakukan di masa hidup. Kini ia tidak perlu lagi hidup susah di dalam hutan. Istrinya juga sudah bahagia karena bisa bersama dengan suami dan anaknya sampai ajal menjemput. Allah tahu betapa besar rasa sayang Abu dan Umi untuk Ilham dan keluarga kecilnya. Tidak banyak orang tua yang menampakkan rasa sayang dengan kata-kata. Namun kita tidak pernah tahu bagaimana lapangnya hati mereka yang sanggup memaafkan sebesar apa pun kesalahan sang anak. Mungkin dalam setiap doanya, mereka selalu mendoakan Ilham sampai sekarang. Allah maha tahu apa yang ada di hati manusia, bisa jadi Teuku Rendra sengaja Allah tinggalkan untuk mengobati kerinduan Abu dan Umi terhadap putra mereka. Tidak ada orang tua yang sanggup membenci anaknya seumur hidup. Seperti saat ini, dengan setia mereka mendampingi kamu sambil berdoa dan terus berharap supaya kamu mau berusaha untuk sembuh dan kembali ke pelukan mereka seperti dulu.”
***
LIKE...KOMEN....LIKE....KOMEN...
__ADS_1