CUT

CUT
Buka Cadarmu!!!


__ADS_3

Abah menatap tiga pemuda yang sudah melihat ketiga putrinya itu. Iskandar dan Dika yang sudah masuk kembali ke dalam saling melirik.


“Abah tidak memaksa. Kalau setelah melihat mereka lalu hati kalian tidak ada perubahan berarti tidak perlu dilanjutkan. Ini semacam taaruf jika berkenan bisa dilanjutkan begitu juga sebaliknya. Maka tidak ada yang merasa dirugikan di sini.” Ujar Abah.


Ketiga pemuda itu saling melirik kemudian menatap Abah bersamaan. “Abah, saya ingin melanjutkan taaruf ini.” Ucap Reski mantap. Dwi dan Ari terkejut melihat sikap sahabatnya yang begitu mantap penuh keyakinan.


Abah tersenyum lalu menganggukkan kepala. “Dulu, kami pernah bermimpi untuk menikah bersama tapi nyatanya, Iskandar lebih dulu menikah. Abah, ibu saya sudah meninggal dan ayah saya-, Abah sudah tahu bukan bagaimana? Bolehkan saya menikahi putri Abah besok sebelum kami pulang? Saya ingin sahabat-sahabat saya mendampingi pernikahan saya dalam formasi lengkap. Selama ini, hanya mereka yang saya punya.” Pinta Reski menatap teman-temannya.


Ibu Reski sudah lama meninggal lalu ayahnya menikah lagi dan setelah menikah, Reski dikirim ke pesantren oleh ayahnya. Reski tahu jika perbuatan ayahnya hasil bujuk rayu sang ibu tiri untuk menyingkirkannya dari rumah. Bahkan ketika pihak pesantren mengabarkan jika Reski mendapat beasiswa sekolah ke luar negeri. Ayah dan ibu tirinya sangat bahagia karena Reski tidak perlu pulang ke rumah lagi.


Abah menatap Iskandar, “Untuk mengurus pernikahan secara negara butuh waktu dua dua hari. Apa kamu tidak keberatan meninggalkan istrimu?” tanya Abah pada Iskandar.


“Aisyah bisa mengerti. Saya juga berharap untuk bisa menemani saat yang lain menikah.” Petang itu, Abah memutuskan untuk menikahkan Reski dengan putrinya secara agama di depan istri dan sahabat Reski.


Sahabat till jannah tersenyum bahagia saat temannya dengan lantang dan tegas mengucap ijab kabul di depan mereka. Reski memberikan mas kawin berupa uang sebesar satu juta rupiah dan sebuah cincin milik almarhumah ibunya yang selalu ia bawa. Pernikahan itu sangat sederhana tapi khidmat. Reski memasang cincin itu dengan perasaan gugup karena ini pertama kalinya ia memegang tangan perempuan.


Gadis beruntung itu adalah Uswatun Hasanah. Anak bungsu Abah dari istri ketiga. Setelah memasangkan cincin, Ummi membalikkan tubuh putrinya supaya membelakangi para laki-laki.


“Bukalah cadarmu, Sayang!” pinta Ummi lembut.


Ana mengangguk kecil lalu membuka cadarnya di depan Reski. Jantung keduanya berpacu kencang. Lalu cadar itu terbuka sempurna. Ini kedua kalinya Reski melihat wajah Ana dan kali ini sedikit lama. Ana mengambil tangan sang suami lalu mencium takzim kemudian sebelah tangan Reski diletakkan di atas puncak kepalanya. Reski benar-benar hilang kesadaran saat itu sampai membuat para sahabatnya tersenyum geli.


“Apa dia tidak pernah mendekati seorang gadis?” bisik Dika.


“Kami tidak punya waktu untuk itu. Setiap hari kami belajar dan bekerja. Mana sempat melirik wanita apalagi dompet selalu tipis.” Jawab Dwi.


“Lalu kenapa kamu tidak menerima lamaran Abah? Apa putrinya tidak membuatmu jatuh cinta?” bisik Dika kembali.


“Entah.” Jawab Dwi pasrah.


Setelah prosesi pernikahan, Iskandar langsung mengurus berkas Reski untuk proses pernikahan secara negara malam itu juga. Ia yang sudah berpengalaman tentu paham apa saja persyaratan yang dibutuhkan. Untung saja semua dokumen yang dibutuhkan ada dalam ponsel Reski hingga Iskandar tidak terlalu repot.


Makan malan kali ini terasa berbeda karena Reski langsung diminta oleh Abah untuk makan bersama istrinya di kamar. Sementara Abah menikmati makan malam bersama para laki-laki.


Di dalam kamar yang rapi dan bersih serta wangi, untuk pertama kalinya Reski menerima bakti seorang istri. Ana dengan telaten mengambil air untuk cuci tangan lalu mengambil nasi dan lauk pauknya. Tentu saja jantung keduanya sangat tidak beraturan. Reski kerap kali mencuri pandang pada sang istri yang menurutnya sangat cantik dan bersahaja.


“Terima kasih.” Ucap Reski lembut menerima piring dari Ana.


“Kamu tidak makan?” tanya Reski bingung melihat piring Ana yang masih kosong. Ana menggeleng pelan dengan senyum yang tak pernah pudar.


“Kita makan bersama ya?” Ana mengangguk lalu suapan pertama dari tangan Reski langsung mendarat indah di mulutnya.


Ini adalah hal paling romantis yang pernah Reski lakukan. Walaupun agak gugup tapi ia tetap melakukannya dengan baik hingga wajah Ana menampakkan kegugupan yang kentara.


Setelah menghabiskan makan malam, Ana langsung memakai cadarnya lagi lalu membereskan meja. Ia membawa keluar piring kotor dan gelas. Hanya sebuah teko dengan dua gelas ia tinggalkan di sana.


Ana masuk kembali ke kamar dan membuka cadarnya. Ia duduk tidak jauh dari sang suami di sisi ranjang.

__ADS_1


“Kenapa kamu mau sama saya?” tanya Reski. Ia tahu mereka tidak akan bisa menikah jika Ana tidak mau dengannya.


“Saya percaya Abah tidak akan salah memilih suami untuk putrinya.” Jawab Ana lembut kemudian ia juga bertanya hal yang sama pada Reski.


Pria itu tersenyum menatap Ana, “Saya ingin menikah dan kamu juga. Maka kita akan melakukannya dan itu juga berarti di saat kita ingin menikah berarti kita sudah siap dengan segala ujian yang mungkin datang dalam pernikahan kita. Kamu pasti sudah paham kan?”


Ana mengangguk pelan, “Bolehkah saya minta sesuatu?” ucap Ana lembut.


Manik matanya menatap sayu pada pria berstatus suaminya itu. Reski mengangguk menatap Ana, “Saya tidak siap dimadu.” Reski tersenyum lalu membalas perkataan Ana.


“Saya tidak punya kelebihan yang harus saya bagi dengan wanita lain selain kamu!”


Deg....


Wajah Ana bersemu dan langsung menunduk. Sebuah senyum menyungging indah di bawah sana hingga tangan Reski mengangkat dagunya.


“Tersenyumlah di depan saya supaya kamu dapat pahala.” Ana mengangguk lalu tersenyum lebih merekah hingga jarak Reski yang mulai mendekat membuat senyum Ana tiba-tiba memudar berganti ketegangan dengan jantung berdebar kencang.


Cup...


Sebuah kecupan manis dan lama. Keduanya meresapi perasaan masing-masing dalam jarak yang sangat dekat. Reski tahu ia ingin lebih tapi logikanya masih berjalan saat ini hingga hanya sebatas itu yang ia lakukan.


Suara azan berkumandang, “Ayo, kita salat di mesjid!” Ana mengangguk lalu terkejut saat Reski tiba-tiba menahan tangannya. Reski mengambil cadar di tangan Ana lalu memasangkan di wajah sang istri.


Wajah berseri Reski saat tiba di mesjid membuat keempat teman-temannya saling sikut.


Tawa itu akhirnya pecah juga, “Iskandar tidak baru lagi karena sudah sering bertemu dan lain-lainnya. Beda kasus sama kamu.”  Jelas Dwi membuat Reski mencibirnya sementara Iskandar justru mendelik menatap Dwi. “Lain-lainnya itu maksudnya apa ya?” kesal Iskandar namun hanya disambut tawa oleh teman-temannya.


“Yang menikah lebih dulu Iskandar tapi yang menikmati malam pertama justru Reski.” Celutuk Dika membuat mereka kembali tertawa bersama.


Setelah salat isya berjamaah lalu berbincang sesaat dengan Abah. Reski kembali ke kamarnya sementara para pria langsung menuju salah satu pondok tempat mereka tinggal dulu.


Mereka merebahkan badan di sana setelah seharian lelah. Sampai sebuah pertanyaan membuat Ari dan Dwi terjaga kembali.


“Kenapa kalian tidak mengikuti jejak Reski?” tanya Dika.


Iskandar yang sedang memeriksa ulang berkas-berkas Reski tergerak untuk melihat kembali foto istri Reski.


“Pantas saja Reski langsung minta dinikahi, istrinya secantik ini.” Ucap Iskandar dan tanpa sadar keempat temannya sudah berada di belakangnya.


“Cantik!” ucap Dika.


“Pantas!” sahut Ari.


“Hooh.” Balas Dwi.


“Bagaimana wajah gadis yang kalian lihat?” tanya Dika penasaran.

__ADS_1


“Cantik juga tapi entah kenapa aku tidak sreg saat melihatnya.” Jawab Ari jujur.


“Sama.” Sahut Dwi.


“Aku mencari gadis yang saat aku tatap matanya, aku merasa ada yang di hati dan jantungku. Tapi saat aku lihat gadis itu, jangankan rasa itu, gadis itu malah tidak tersenyum sama sekali padaku. Gadis itu seolah melotot padaku. Bagaimana bisa suka?” ujar Ari.


“Aneh,” celutuk Iskandar.


“Iya. Aku juga merasa begitu. Biasanya mereka akan membuat kesan pertama yang baik tapi ini kok lain.” Ujar Dika.


“Jangan-jangan mereka sudah menyukai pria lain.” Ucapan Iskandar membuat ketiga sahabatnya mengangguk kecil.


“Ya sudah lah. Mungkin memang belum jodoh kami.” Ari tampak santai lalu merebahkan badannya kembali.


“Hari ini rezeki Reski.” Sahut Dika.


“Kamu tidak menelepon Aisyah, Is?” tanya Dwi melihat sahabatnya terlihat santai.


“Iya Is. Reski saja sudah berbulan madu. Masa kamu tidak ingin melihat wajah istrimu? Jangan bilang kamu bosan, Is?” selidik Ari dengan mata terpejam.


“Kalian tidur saja. Aku akan menghubunginya setelah ini.” Jawab Iskandar lalu meninggalkan para sahabatnya.


Setelah Iskandar keluar, Dika kembali membuka ponselnya. Ia terkejut melihat ribuan komentar masuk di akun media sosialnya. Isi komentar mereka kebanyakan ucapan selamat dan kenapa tidak mengundang mereka. Yang lainnya banyak juga yang memuji mereka sebagai pengantin paling cantik dan tampan.


Sebuah pesan masuk, “Selamat malam. Saya adik dari Kak Dita. Ini nomor ponsel saya 08××××××××××. Apa kita bisa bicara tentang ini karena sejak Kakak saya mengunggah foto-foto pernikahannya ponselnya belum aktif sampai sekarang. Terima kasih!”


Dika menghela nafasnya lalu ia mencoba menghubungi Dita namun benar yang Tiara katakan jika ponsel Dita dalam keadaan mati. Sementara di kliniknya, Shinta yang baru saja beristirahat setelah menyelesaikan jadwal praktiknya iseng membuka akun media sosial. Ia melihat foto-foto pasangan menikah yang tengah heboh di jagat maya. Shinta tidak terlalu peduli dengan foto-foto tersebut sampai keterangan-keterangan yang muncul dari si pengunggah ulang membuat Shinta penasaran.


“Dia melepaskan keyakinannya lalu memilih mengikuti keyakinan suaminya dengan penuh cinta. Semoga mereka bahagia!”


“Aku juga akan melakukan hal yang sama jika menemukan laki-laki seperti pria itu.”


“Keluarga mempelai wanita itu sangat berpegang teguh pada keyakinannya. Aku tidak yakin jika wanita ini mendapatkan restu dari orang tuanya. Adiknya saja tidak mau meninggalkan keyakinannya saat pacarnya datang melamar.”


Kening Shinta semakin berkerut lalu ia tersadar saat menelisik wajah si pria dalam foto tersebut.


“Ini?” Shinta langsung membuka galeri ponselnya dan matanya langsung melebar saat melihat kemiripan antara pria itu dengan foto pria yang ada di ponselnya.


“Tidak mungkin!”


 


 


 


***

__ADS_1


Emmm.....LIKE DAN KOMEN AJA YA...


__ADS_2