CUT

CUT
Da Maneh...


__ADS_3

Pertama kali melangkah, Rendra sedikit ketakutan melihat ombak dan suara gemuruhnya. Dia langsung memelukku. Kemudian aku menunjukkan Da Maneh yang berjalan ke arah air serta menunjukkan pada Rendra sambil bermain air berhasil membuat Rendra tertawa dan berjalan menuju Da Maneh. Rendra terlihat nyaman berjalan karena aku tidak memakaikan lapisan penahan pipis. Saat tahu bahwa kami bisa ke laut, aku sudah berencana untuk memandikannya di sana.


Rendra akhirnya berhasil mandi dan bukan bersamaku melainkan bersama Da Maneh. Abu bersama Umi hanya duduk di bawah pohon di bibir pantai melihat kami. Aku sendiri tidak mandi karena tidak ada baju ganti.


“Alhamdulillah.”


Untuk sejenak aku merasa bahagia. Aku seperti keluar dari penjara tak berpagar yang selama ini membelenggu kehidupanku. Aku bahagia melihat tawa Rendra, keponakanku yang menjadi yatim piatu saat umurnya masih 3 bulan.


“Ya Rabbi, apa yang akan aku ceritakan padanya jika dia besar nanti? Apa aku dan kedua orang tuaku memiliki umur panjang untuk merawatnya? Seperti apa kehidupan anak ini nanti?”


“Ya Rabbi, andai hamba boleh serakah. Izinkan hamba dan kedua orang tua hamba hidup lebih lama supaya bisa mendidiknya dengan benar. Ya Rabbi, izinkan kami merasakan ketenangan dan kedamaian di daerah tercinta ini. Panjangkan umur kami serta jaga kami dari mara bahaya serta orang-orang yang berniat jahat pada kami.


“Ya Rabbi, seperti luasnya laut yang engkau ciptakan maka luaskanlah hati kedua orang tua hamba dalam menerima segala cobaan. Ya Rabbi, bantulah kami.” Permintaan demi permintaan terus mengalir dalam batinku seraya menatap Rendra yang sedang bermain di pinggir laut.


Aku menyeka air mata yang tumpah dengan sendirinya seiring dengan permintaan yang ikut hadir di benakku. Doaku tidak berlebihan, semua masyarakat juga menginginkan hal serupa.


Setelah puas bermain selama satu jam, kami kembali ke rumah Leut Man. Kami bersiap-siap untuk pulang. Leut Man memberikan kami oleh-oleh berupa ikan bandeng yang sudah di keringkan agar tidak busuk serta pliek ue khas kampung pesisir. Kami juga mendapatkan tikar anyaman dari daun yang banyak tumbuh di dekat pantai.


Istri Leut Man ternyata pandang menganyam tikar. Umi sangat senang mendapat tikar tersebut. Saat kami hendak menaiki mobil tiba-tiba beberapa tentara menghampiri kami. “Pak, Buk, sebaiknya jangan pulang dulu karena di kecamatan sedang terjadi baku tembak dengan anggota pemberontak!” Kami semua terkejut dan yang pasti kami ketakutan.


“Ya sudah, Abu, Umi sama yang lain kita masuk kembali saja.” Mau tidak mau kami kembali masuk ke rumah Leut Man.


Abu, Bang Suf, Cek Wan dan Leut Man masih berbicara dengan para tentara itu. Aku menatap Rendra yang sudah terlelap dalam gendonganku. Dia sangat lelah setelah puas bermain di laut. Aku senang bisa membawanya melihat laut. Istri Cek Wan membawakan bantal untuk kami supaya bisa beristirahat.

__ADS_1


Benar saja, aku benar-benar tertidur di dekat Rendra sampai suara Umi berhasil membangunkanku. “Sudah Ashar, cepat bangun!” Pelan-pelan aku menurunkan tangan Rendra di atas dadaku. Dia masih terlelap dalam mimpi indahnya. Setelah melaksanakan salat ashar, aku menemui Umi yang tengah berada di depan rumah bersama Da Maneh dan juga istri dari Cek Wan serta istri Leut Man.


“Abu sama yang lain mana, Umi?”


“Abu tadi ke mesjid sama yang lain, mungkin sekarang lagi minum kopi di kedai.”


“Kita tidak jadi pulang?” Tanyaku kembali.


“Tentara tadi mengatakan berbahaya kalau kita pulang, karena mereka lagi menyisir seluruh jalan untuk mengejar para pemberontak yang sudah menyerang aparat keamanan di kecamatan. Bisa jadi para pemberontak yang lari itu ketemu dengan mobil kita dan meminta ikut atau bisa saja terjadi kontak senjata lagi saat mobil kita memasuki jalan pinggir bukit.” Jelas Da Maneh.


Aku tidak lagi bertanya, penjelasan Da Maneh sudah cukup membuatku mengerti. Aku kembali menatap daerah sekeliling rumah Leut Man. Empat orang anak laki-laki berlarian memasuki pekarangan rumah Leut Man lalu menghampiri kami. “Eh, jangan teriak-teriak! Ada adek bayi lagi tidur di dalam.” Istri Leut Man memperingati mereka saat keempat anak laki-laki tersebut mencium tangan kami.


“Kalian dari mana?” Tanya Da Maneh.


“Tadi ada suara tembak-tembak, kalian tidak takut?” Tanya Da Maneh kembali.


“Ouh, kami sudah diajari sama Om-om tentara. Kalau ada suara tembak-tembak kami langsung disuruh tiarap dan tidak boleh panik. Kalo kami lari justru bisa terkena peluru. Begitu kata Om tentara.” Jelas anak tersebut.


“Anak-anak di sini memang suka bergaul dengan aparat keamanan. Mereka juga diajari cara untuk menyelamatkan diri jika terjadi kontak tembak. Anak-anak di sini juga ada yang jadi tukang pos dadakan.” Ucap istri Leut Man.


“Tukang pos dadakan?” Da Maneh ternyata sefrekuensi. Aku mendadak ingin tahu lebih banyak situasi di daerah pesisir pantai ini.


“Kalau ada tentara yang suka sama gadis di desa ini, mereka akan meminta anak-anak kampung untuk mengirim surat. Bahkan, beberapa gadis di sini ada yang sudah menikah dengan tentara yang bertugas sebelumnya dan sekarang sudah ditinggal di Jawa.”

__ADS_1


“Apa keluarga gadis-gadis itu tidak apa-apa?” Akhirnya meluncur juga pertanyaan dari mulutku yang sudah kucoba tahan dari tadi. Da Maneh menelisikku dengan tatapan curiga.


“Apa tentara di dekat rumahmu juga ada yang mengirim surat cinta padamu, Cut?” Da Maneh ternyata sangat peka dengan pertanyaanku. Aku menatap Umi yang enggan menatapku.


“Bukan begitu, Da. Cut hanya ingat kejadian yang menimpa Miftah.” Kilahku dan ternyata sukses membuat Da Maneh berhenti mencurigaiku.


“Alhamdulillah keluarga mereka baik-baik saja sampai sekarang. Karena daerah sini tidak serawan kampung kamu, Cut. Anak-anak di sini juga bisa bersekolah dengan aman, mereka juga masih bisa pergi mengaji di malam hari.” Terbesit iri di hatiku mendengar penjelasan istri Leut Man. Mereka bisa hidup dengan aman di sini sementara di kampungku selalu diliputi ketakutan.


“Andai Miftah tinggal di sini mungkin sekarang dia masih hidup.”


“Jangan bicara begitu, Cut. Sudah ajalnya Miftah sampai di situ. Cuma caranya saja yang membuat kita belum menerima dengan ikhlas. Tapi itu semua sudah kehendak yang kuasa. Kita tidak mampu menolak takdir hidup yang sudah digariskan.” Aku menganggukkan mengiyakan perkataan Da Maneh.


Takdir hidup seseorang yang sudah tertulis semenjak ruh diciptakan memang tidak bisa di rubah. Hidup, mati, rezeki dan jodoh semua sudah tertulis. Kita hanya menjalani semua yang memang sudah Allah skenariokan dalam hidup kita masing-masing. Tetapi, sebagai manusia yang tidak luput akan salah dan dosa, aku masih belum menerima kematian sahabatku dengan cara mengenaskan seperti itu. Tak jarang aku berharap agar para pelaku mendapatkan balasan yang setimpal.


Sekali lagi aku manusia yang punya rasa marah dan sedih ketika melihat jasad sahabatku yang mengenaskan. Ditambah dengan kematian Pak Keuchik dan warga kampung yang lain. Terkadang aku berpikir, apa semudah itu merenggut nyawa orang?


Apa mereka tidak dihantui arwah para korban yang sudah mereka bunuh?


***


LIKE....LIKE...LIKE...


 

__ADS_1


 


__ADS_2