
Setan selalu mampu menggoda manusia dengan kadar keimanan di bawah rata-rata sehingga dengan mudahnya si manusia tergoda dengan mencari berbagai alasan sebagai pembenaran atas kesalahan yang dibuatnya. Bagi Faisal, kehamilan Shinta adalah sebuah kesalahan tak sengaja yang ia lakukan karena khilaf.
Keraguannya akan sang janin menjadi pelengkap dengan alasan bahwa mereka hanya melakukan itu sekali tanpa pengaman hingga dengan mudahnya Faisal melupakan Shinta dan menjalani hidup seperti tidak terjadi apa-apa di depan Cut. Waktu memang ampuh sebagai obat untuk melupakan suatu hal yang tidak ingin kita kenang apalagi itu sebuah kejadian atau rahasia yang patut dikubur selamanya.
Sedangkan bagi Risma, itu bukan kesalahan melainkan kebutuhan. Ia tidak sanggup ditinggal tugas berbulan-bulan oleh Rendra. Dia butuh haknya sebagai istri yaitu kebutuhan biologis layaknya suami istri pada umumnya. Risma berpikir jika Rendra yang sudah memiliki pangkat tinggi tidak akan dikirim lagi untuk bertugas di daerah konflik.
Faktanya, Rendra tetap bertugas bahkan disaat mereka belum lama menikah.
Risma membutuhkan kehangatan seorang suami, apalagi saat ia lelah bekerja. Sebagai seorang perempuan, dia butuh sandaran dan Rendra tidak ada saat ia butuhkan.
“Bukankah kamu sudah diingatkan waktu pembekalan pranikah?” tanya seorang pria berpakaian loreng didepannya.
Saat ini, Risma tengah menjalani sidang bersama Rendra di kantor kemiliteran. Perselingkuhan Risma terbongkar setelah pengintaian dari pihak militer atas info dari Bapak Edy Wicaksono. Sementara Rendra hanya bisa diam saja. Ia merasa gagal sebagai seorang suami. Egonya sebagai laki-laki hancur di depan para komandan yang menjadi hakim di ruangan tersebut.
Bapak Edy Wicaksono terpaksa harus melakukan itu karena tidak mau anaknya lebih terluka lagi dengan memikirkan jalan keluar yang terbaik untuk mereka dan tentu saja itu akan menyita waktu lebih banyak lagi. Walaupun terkesan cepat tapi Bapak Edy senang karena putranya tidak perlu memikirkan masalah itu lagi. Walaupun resikonya tetap ada bagi sang putra tapi itu lebih baik dari pada berbelit-belit.
Dalam kamus kehidupan Bapak Edy Wicaksono, perselingkuhan tidak dapat diterima. Itulah yang mendasari tindakan beliau untuk sang putra. Persidangan hingga perceraian tidak membutuhkan waktu lama untuk keduanya. Baik Risma maupun Rendra sudah sama-sama setuju untuk mengakhiri pernikahan mereka.
__ADS_1
Kandasnya hubungan Rendra dan Risma ikut berdampak pada hubungan kedua keluarga. Orang tua Risma harus menanggung malu dan meminta maaf pada keluarga Rendra yang notabane adalah sahabat mereka sendiri.
“Sudahlah, itu biar menjadi masalah anak-anak, tidak akan berpengaruh ke hubungan kita sebagai sahabat lama,” ucap Bapa Edy bijak namun tetap saja kedua orang tua Risma merasa bersalah dan tidak enak pada mantan besannya.
Risma yang sudah resmi berstatus janda cerai harus keluar dari rumah setelah kemarahan sang ayah. Ia memilih tinggal satu atap bersama sang kekasih. Sementara Rendra memilih tinggal di mess setelah menjual rumah yang selama ini ia tempati bersama Risma.
Waktu berlalu begitu cepat bagi mereka yang melewatinya dengan penuh suka cita. Seperti yang Cut lalui saat ini. Ia tengah menghadiri acara syukuran rumah baru kedua orang tuanya yang sudah rampung dan siap ditempati. Rumah yang berlokasi tidak jauh dari area pasar itu tampak indah dan ramai karena Abu serta Umi turut mengundang keluarga besar keduanya di kampung. Ia sudah hadir di sana jauh-jauh hari untuk membantu keluarganya.
Rendra kecil yang sudah tidak menjadi bayi lagi terlihat asyik bermain bersama dengan teman-temannya yang merupakan anak tetangga sebelah. Sedangkan Mae terlihat sibuk dibagian memasak. Mae sudah menjadi pengganti anak lelaki bagi Abu dan Umi. Usianya sudah beranjak menuju dewasa. Hasil gaji yang selama ini disimpan oleh Umi dalam bentuk emas sudah lebih dari cukup untuk bekalnya membuka usaha dan menikah. Namun, Abu melarangnya untuk membuka usaha baru. Toko yang semula Abu sewa sudah menjadi hak milik Abu setelah dibantu oleh Pak Cek Amir untuk menambah kekurangan dana untuk membeli ruko tersebut.
Karena Mae berkeinginan untuk memiliki usaha sendiri, Abu meminta Mae untuk meneruskan ruko tersebut. Sebagai gantinya, Mae hanya perlu memberikan uang sewa untuk beliau untuk keperluan sehari-hari karena Abu dan Umi yang memilih tidak berdagang lagi. Dari hasil sewa ruko itulah, Abu, Umi dan Rendra kecil hidup. Ditambah dengan hasil menjual telor ayam dan bebek yang lebih dari cukup bagi ketiganya.
Acara syukuran diawali dengan takziah sebagai bentuk doa dari kedua orang tua tersebut kepada anak, menantu, cucu serta Razi yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka. Air mata itu tetap saja keluar walaupun kejadian itu sudah sangat lama. Bahkan ketika sang cucu yang selamat seorang diri datang lalu duduk dalam pangkuan sang kakek. Hati kedua orang tua tersebut masih saja sakit seperti teriris pisau. Jauh dari lubuk hati keduanya, mereka sangat merindukan sang putra. Ingin memeluknya dengan erat.
Faisal menyeka air mata yang ikut keluar tatkala melihat kesedihan di mata kedua orang tuanya. Ia juga sangat merindukan Ilham dan Razi. Keduanya merupakan sosok yang sangat ia sayangi dan rindukan. Keduanya memiliki arti tersendiri dalam kehidupan Cut.
“Ikhlaskan! Kita hanya bisa berdoa semoga mereka semua mendapat surga Allah.” Faisal menenangkan sang istri.
__ADS_1
Faisal sendiri memiliki banyak kenangan bersama Razi yang merupakan sepupunya. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dan yang paling dia ingat adalah kata-kata terakhir Razi padanya sebelum ia berangkat ke Medan untuk kuliah.
“Medan itu bebas, apa kamu yakin tidak akan aneh-aneh samapai di sana? Di sini aja kamu bandel apalagi di sana.”
“Tenang! Kalau aku bandel, aku akan bilang ke kamu duluan. Tapi, bukan pria namanya jika tidak bandel, ya kan?” sahut Faisal kala itu dengan penuh senyum lalu memeluk sahabat sekaligus sepupunya sebelum ia berangkat.
Mereka yang biasanya bertemu kala lebara, tapi di tahun-tahun terakhir. Faisal memilih tidak pulang karena harus menyelesaikan banyak tugas dari kampus. Penyesalan itu pula yang masih terus membekas dihatinya setelah kepergian Razi. Sampai ia menikahpun, ia masih berharap Razi hadir di hari bahagianya.
Acara takziah berakhir sekitar satu jam kemudian dilanjutkan dengan acara tepung tawari yang dilakukan oleh imam kampung sebagai bentuk rasa syukur dengan memanjatkan doa-doa kebaikan bagi penghuni rumh yang akan mendiami rumah tersebut.
Ditengah hiruk pikuk para tamu, getaran ponsel mengejutkan Faisal yang tengah menikmati makan siang bersama sang istri.
“Bayimu di ICU!”
***
Makasih buat pembaca setia... minta dukungannya juga di novel baru ini ya!!! favoritekan, like dan komen...
__ADS_1